
Clarissa mengangkat piring-piring kotor dari meja makan lalu merapikan meja makan serta menyusun lauk-pauk untuk bapaknya nanti makan malam setelah pulang sholat isya dari masjid.
Kali ini Bella yang bertugas mencuci piring pekerjaan yang paling ia hindari tapi entah kenapa beberapa hari belakangan Bella selalu mengajukan diri untuk mencuci piring. Sepertinya efek hari pernikahannya yang semakin dekat. Bahkan ia makin rajin melakukan pekerjaan rumah tangga yang membuat Clarissa bisa sampai geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, Bella yang selama ini paling jarang melakukan pekerjaan rumah tangga karena emang tidak bisa dipungkiri Bella jauh lebih dimanja daripada Clarissa. Karena memang kondisi fisiknya yang lebih lemah dari Clarissa. Dulu Clarissa memang pernah cemburu dengan cara orang tuanya memperlakukan dirinya dan Bella tapi seiring bertambahnya usia Carissa mulai paham dan bisa menerima perlakuan tersebut.
"Assalamu'alaikum" terdengar suara pintu yang dibuka menandakan bapaknya baru pulang dari mesjid.
"Wa'alaikumussalam" sahut Clarissa dan mamanya yang ada di ruang tengah serempak.
"Makan dulu pak." Mama Clarissa mengambil sajadah dari tangan Bapak Clarissa.
"Iya, Ma. Tolong siapkan nasinya bapak ya, Ma. Bapak mau ganti baju dulu." pinta Bapak Clarissa pada istrinya.
Tok. Tok. Tok.
"Assalamu'alaikum" suara seseorang terdengar dari pintu depan rumah Clarissa, suara yang tidak asing.
Bapak Clarissa menatap istri dan anaknya seolah berkata biar dia saja yang membuka pintu biar Clarissa dan Mamanya bisa mengenakan jilbab terlebih dahulu.
Bella yang baru selesai mencuci piring pun segera mengikuti Clarissa yang masuk ke kamar untuk mengenakan jilbab.
"Wa'alaikumussalam.." Bapak Clarissa membuka pintu dan tersenyum ramah pada pria yang berdiri di hadapannya "Silahkan masuk, nak Mukti."
"Iya, pak." Mukti menyalami Bapak Clarissa sebelum masuk kedalam rumah "Gimana pak sehat?" tanya Mukti saat duduk di sofa ruang tamu.
"Alhamdulillah, nak. Bapak sehat. Kamu kok lama nggak ada kesini?"
"Ada urusan pak di kantor. Jadi baru sempat main-main kesini lagi." Mukti menjawab dengan ramah.
"Eh, bapak makan dulu ya. Bentar.. Rissa!!" Clarissa yang mendengar namanya di panggil segera menuju ruang tamu.
"Iya pak." jawab Clarissa sopan begitu sampai diruang tamu.
"Ini temanin dulu Mukti ya" perintah Bapaknya yang lalu masuk kedalam untuk makan malam.
"Loh.. bapak belum makan, Sa?" tanya Mukti setelah Bapak Clarissa masuk kedalam.
"Iya, tadi habis sholat maghrib langsung lanjut pengajian sampai sholat isya jadi baru pulang." Clarissa menjelaskan.
"Oh gitu. Eh, gimana kerjaan kamu?" tanya Mukti terdengar canggung, Clarissa tahu ini cuma cara Mukti agar mereka tidak berakhir dengan kesunyian.
"Yah, sama saja seperti biasa." Clarissa melirik Mukti yang terlihat mengerutkan keningnya.
"Sama sajanya seperti apa?" tanya Mukti lagi.
"Buat laporan, mengarsipkan berkas, ya seperti itulah kerjaan kantor pada umumnya." Clarissa sendiri juga bingung harus menjabarkan pekerjaannya seperti apa.
"Kenapa?" Clarissa merasa curiga dengan pertanyaan Mukti yang barusan.
"Kamukan tahu yayasan lagi mencari pengajar buat sekolah. Ada lowongan untuk pengajar biologi kamu bisa coba masukan kalau mau." Mukti tersenyum tipis setelah mengakhiri kalimat penawarannya pada Clarissa.
"Aku sudah senang dengan pekerjaanku sekarang kok. Aku juga masih belum ada minat untuk kembali menjadi pengajar. Sekolah milik keluargamu ini kan juga mulai banyak peminatnya jadi saranku kalian bisa mencari yang lebih profesional dari aku." Clarissa tahu kalimat Mukti memang terdengar seperti dia hanya memberi informasi tapi bukannya Clarissa merasa percaya diri bahwa ia akan dibantu untuk masuk tapi ia tahu sifat Mukti dan tujuannya.
"Aku janji nggak bakal ikut campur kalau kamu mendaftar jadi kalau kamu lulus itu murni karena usahamu." Clarissa menatap Mukti yang menunjukkan senyum ramahnya pada Clarissa.
"Mukti, ini usaha keluargamu. Sebagian besar yang ada di sana kenalan mu yang juga tahu aku dan hubungan kita. Aku merasa nggak nyaman harus mendaftar kesana." Mukti mengernyit mendengar perkataan Clarissa "Orang-orang pasti akan menjadikan kita bahan pembicaraan entah aku lolos atau tidak."
"Oke. Aku hanya memberi pilihan, Sa." Mukti memilih tidak mendebat Clarissa kali ini karena ia tidak ingin mood Clarissa berubah.
"Oh!!" Clarissa ingat tentang kalung yang ia temukan saat bersih-bersih kamarnya.
"Kenapa?" tanya Mukti bingung.
"Tunggu sebentar. Ada yang mau aku kasih ke kamu." Clarissa langsung beranjak menuju kamarnya meninggalkan Mukti yang terlihat penasaran.
Clarissa kembali dengan kotak persegi panjang yang berwarna tosca ditangannya. Mukti tahu kotak tersebut. Itu kotak kalung yang diberikannya pada Clarissa saat Clarissa wisuda.
Clarissa meletakkan kotak tersebut dihadapan Mukti. Mukti menatap Clarissa dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada banyak perasaan yang ditangkap Clarissa dari tatapan Mukti kepadanya.
"Apa ini?" suara Mukti terdengar sinis. Mendengar nada bicara Mukti yang seperti itu membuat Clarissa bisa dengan jelas mengkonfirmasi tatapan Mukti padanya.
"Aku yakin kamu tahu ini apa." Clarissa mencoba menjawab setegar mungkin ia tidak boleh terintimidasi dengan tatapan Mukti padanya.
"Apa ini, Sa?" Mukti menekan setiap kata dalam pertanyaannya.
"Kalung yang kamu kasih ke aku saat aku wisuda." akhirnya Clarissa memilih mengatakannya meskipun ia yakin Mukti tahu apa ini.
"Buat apa kamu kasih ini ke aku? Yang aku tahu, aku nggak pake kalung, Sa." Clarissa memberanikan diri melirik Mukti yang terlihat sangat serius menatapnya.
"Mukti, aku nggak bisa menerima kalung ini. Aku tahu alasan kamu memberikan kalung ini." kali ini Clarissa memberanikan diri menatap mata Mukti "Ini kalung milik mbakmu. Mbakmu cerita ke aku, kalung ini akan kamu kasih ke wanita yang nantinya akan jadi pendamping kamu. Tapi, sekarang kamu sendiri tahi kita sudah nggak ada hubungan apapun. Jadi, aku ingin mengembalikan kalung ini ke kamu." Mukti kini menatap kotak dihadapannya ini pita di sana terlihat sudah beberapa kali dibuka dan diikat kembali tapu tidak sering.
"Simpan saja, Sa." ucap Mukti pelan namun Clarissa masih bisa mendengarnya.
"Tapi, Mukti.." Mukti menatap Clarissa dengan tatapan lirih yang membuat Clarissa tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Kita belum tahu kedepannya, Sa. Aku masih belum menyerah dengan hubungan kita, Sa. Aku masih akan berjuang. Dan aku pastikan kamu akan pakai kalung ini nanti." Clarissa bisa menangkap apa yang disampaikan Mukti saat ini bukan main-main.
"Rissa, aku hanya berhenti sebentar. Aku ingin kembali sebagai Mukti yang lebih baik. Jadi, tolong lihat aku yang sekarang bukan aku yang dulu pernah jadi pacarmu saat kita masih kuliah. Tapi, lihat aku sebagai Mukti yang sudah jauh lebih dewasa." jantung Clarissa berdegup lebih kencang dari biasanya membuatnya memalingkan wajahnya dari Mukti.
Clarissa bisa melihat keseriusan Mukti dari tatapan matanya dan ucapannya barusan. Clarissa menghela napas panjang, ia tahu tidak adil jika ia tidak memberi Mukti kesempatan untuk menunjukkan dirinya yang sekarang. Jadi, Clarissa memutuskan untuk memberi kesempatan pada Mukti dan melihat sejauh apa perbedaan antara Mukti yang dulu dengan yang ada dihadapan Clarissa saat ini.