
Suara alarm akhirnya membangunkan Clarissa dari tidurnya. Di layar Hpnya jelas tertulis waktunya sholat subuh. Tanpa melihat Hpnya, tangan Clarissa dengan cekatan mematikan alarmnya.
Dengan susah payah ia mengubah posisinya untuk duduk dan mengumpulkan kesadarannya yang belum sepenuhnya kembali. Rasanya ia ingin kembali berbaring dan menarik selimutnya untuk kembali tidur. Diluar terdengar suara rintik-rintik sisa hujan semalam. Hujan yang turun dengan derasnya seolah memberikan suasana yang sempurna untuk tidur nyenyak.
Pintu kamar Clarissa terbuka pelan, mamanya sudah berdiri di sana lengkap dengan mukenahnya. Clarissa tersenyum dengan mata yang setengah terbuka menahan kantuk, mamanya dengan lembut menyuruhnya untuk segera mengambil wudhu dan sholat berjama'ah.
Air wudhu sangat ampuh membuatnya sadar. Ia sudah berjalan menuju ruang tengah. Mamanya dan Bella sudah menunggu. Sementara bapaknya pergi sholat di masjid yang letaknya tak jauh dari rumah mereka.
Selesai sholat subuh, Clarissa langsung membantu mamanya di dapur. Menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Sementara Bella, sudah kabur kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidur. Memanfaatkan weekend dengan tidur sampai siang begitu kalimat Bella saat Clarissa menanyainya yang setelah sholat tadi dengan semangat melepas mukenahnya.
"Ma, tidak ada yang ingin mama tanyakan?" Clarissa melirik mamanya yang sedang mencuci beras.
Sejak terakhir ia pulang dan kembali ke kota rantauannya penuh drama. Clarissa sengaja tidak cerita banyak kepada keluarganya selain meminta mereka untuk tidak khawatir. Ia juga baru ingat kalau ia belum cerita apapun soal Indra.
"Mama tidak ingin membuatmu tidak nyaman, sebagai orang tua jelas banyak yang ingin mama tanyakan tapi mama akan menunggu kapanpun kamu siap cerita, Sa." ucap mamanya lembut, Clarissa bisa melihat senyum tipis muncul diujung bibir mamanya.
"Ma, Rissa dan Indra putus." Clarissa memilih memulai bercerita tentang hubungannya dengan Indra.
Tidak ada tanggapan dari mamanya, wanita paruh baya itu terlihat siap memasak nasi di dalam rice cooker tapi Clarissa tahu mamanya sedang mendengarkannya. Mamanya ingin mendengar semua ceritanya sebelum ia berpendapat.
"Ada kesalahpahaman tapi juga ada kesalahan Rissa. Kami bertengkar. Jadi, Rissa putuskan untuk mengakhiri hubungan Rissa dengan Indra." Clarissa berjalan ke samping mamanya yang sudah menyalakan kompor bersiap untuk memasak bahan-bahan yang sudah di potong-potong Clarissa.
"Sekarang kami sudah baik-baik saja. Rissa minta pada Indra untuk kembali berteman seperti yang dulu." sekarang ia menunggu tanggapan mamanya yang sudah sibuk menumis potongan bawang.
"Mama senang kalian sudah menjadi lebih dewasa. Kalian bisa menyelesaikan masalah kalian sendiri. Itu yang terpenting." Clarissa tersenyum mendengar ucapan mamanya. Sekarang ia merasa lega sudah memberitahu hal ini pada mamanya.
Semua menu sarapan sudah tersaji di atas meja makan. Clarissa melihat jam dinding yang tergantung di ruang tengah rumahnya. Sebentar lagi jam 7 pagi. Bapaknya sudah sibuk di luar rumah memanaskan mobil dan juga motor.
Clarissa teringat sesuatu yang sangat mengganggunya sejak ia sampai rumah tiga hari lalu tapi tidak pernah sempat ia tuntaskan. Ia berjalan menuju kamar Bella tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Clarissa langsung masuk ke kamar Bella. Kamar Bella cukup gelap hanya lampu tidur yang cahayanya tak seberapa di meja samping tempat tidur Bella yang menyala. Hal yang sangat berbeda antara Clarissa dan Bella. Clarissa tidak suka tidur dalam keadaan gelap sementara Bella tidak bisa tidur dalam keadaan terang. Hal yang membuat mereka tidak pernah mau tidur bersama.
Clarissa membuka gorden jendela kamar Bella. Membuat sinar matahari pagi yang baru menyapa langsung masuk ke dalam kamar Bella dan menyinari tepat di wajah gadis yang tertidur nyenyak tersebut. Bella langsung menggeliat dan terdengar suara kesal darinya karena tidurnya yang terganggu.
Clarissa tersenyum jahil, ia berjalan tanpa suara ke arah tempat tidur Bella yang sudah menarik selimut menutupi kepalanya.
"BAAAA!!!" teriak Clarissa sambil menarik selimut Bella seketika itu juga Bella terbangun dan memegangi dada sebelah kirinya karena jantungnya yang berdetak sangat cepat.
Bella menatap Clarissa tajam dan penuh amarah sementara Clarissa hanya menahan tawanya di sana.
"MBAAKKK!!!!" Bella melempar bantalnya ke arah Clarissa sekuat tenaga membuat Clarissa mengaduh terkena hantaman bantal dari Bella.
Tawa Clarissa langsung pecah sementara Bella masih menatapnya sinis. Kepalanya bahkan masih berdenyut karena kaget. Setelah puas tertawa Clarissa mengambil bantal yang jatuh di ujung kakinya dan duduk di tempat tidur Bella yang masih terlihat sangat kesal.
"Mbak ini loh iseng banget! kalau ada apa-apa sama jantungku gimana?" ucap Bella kesal, ia masih memegangi dadanya dan mengatur napasnya yang memburu.
"Ya Allah dek!! maaf dek, mbak lupa. Kamu nggak apa-apa kan? aduh, beneran mbak lupa." Clarissa menjadi panik ia baru ingat tentang kondisi tubuh Bella yang lemah terutama jantungnya.
Wajah Clarissa berubah khawatir ia menatap Bella dengan rasa bersalah. Melihat Bella yang masih mengatur napas, Clarissa langsung memeluk lembut Bella dan berkali-kali meminta maaf.
"Kamu beneran nggak apa-apakan? mbak minta maaf ya?" Clarissa mengelus lembut punggung Bella.
Bella tersenyum mendapat perhatian dari Clarissa. Ia tahu Clarissa hanya bercanda. Ia menepuk punggung Clarissa untuk melepaskan pelukannya.
"Aku nggak apa-apa mbak. Badanku sudah lebih kuat sekarang. Aku juga rajin olahraga biar jantungku makin kuat." Bella sudah memamerkan senyumnya dan terlihat wajah lega dari Clarissa.
"Oh iya mbak mau nanya soal Mukti." Clarissa akhirnya ingat tujuannya ke kamar Bella.
"Mas Mukti?" Bella mengernyit, bingung kenapa Clarissa ingin bertanya soal Mukti.
"Mas? sejak kapan kamu manggil teman-teman mbak, mas? perasaan teman-teman mbak yang cowok kamu panggilnya kakak. " Clarissa menatap curiga pada Bella yang bahkan punya panggilan khusus ke Mukti.
"Mas Mukti yang minta. Awalnya aku panggil kakak tapi dia minta di panggil mas." jawab Bella ringan.
"Sebenarnya kalian berdua itu sedekat apa sih?" Clarissa mulai mengintrogasi Bella.
"Hmm, sedekat apa ya? Biasa aja sih mbak. Tapi, mas Mukti emang baik. Setiap dia pulang ke sini, dia selalu nanya aku mau nitip di belikan apa. Rejeki jangan di tolak dong!" Bella sudah tersenyum lebar membuat Clarissa menyipitkan matanya ia bahkan sudah melipat tangannya di depan dadanya.
"Kamu ganti nggak uangnya?" tanya Clarissa lagi.
"Nggak." jawab Bella tanpa rasa bersalah "Mas Mukti sendiri yang nawarin jadi ya nggak aku ganti. Lagian aku belum punya uang juga kak." lanjut Bella
Terdengar Clarissa menghela napas panjang. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Mbak, bapak sama mama kayaknya senang sama mas Mukti. Sayangnya mbak sudah punya pacar." ucap Bella dengan wajah kecewa, membuat Clarissa makin kaget bahkan sekarang mulutnya sudah sedikit terbuka.
"Dengar ya, Bel. Bapak dan mama itu memang ramah orangnya. Nggak cuma sama Mukti." Clarissa mulai kesal melihat sikap Bella yang terang-terangan.
"Iya memang, mbak. Aku cuma bilang bapak dan mama senang sama mas Mukti. Nggak ada maksud lain." sekarang Bella tersenyum tanpa rasa bersalah membuat Clarissa makin kesal.
"Mbak sama kak Indra gimana?" tanya Bella penasaran sudah lama Clarissa tidak bercerita tentang Indra.
Clarissa tampak terkejut mendengar Bella tiba-tiba bertanya tentang Indra. Bella yang menangkap wajah terkejut Clarissa langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa kamu?" Clarissa mulai takut dengan apa yang di pikirkan Bella sekarang.
"Mbak sama kak Indra baik-baik saja kan?" nada bicara Bella terdengar penuh selidik, seolah-olah meyakinkan sesuatu yang ada di kepalanya sendiri.
Deg!!
Clarissa membuang pandangannya ke arah lain. Tak ingin menatap Bella yang terlihat sedang menyelidikinya.
Suara tawa terdengar dari Bella bahkan ia sampai menepuk tangannya. Seolah berhasil mendapat jawaban dari pertanyaannya yang bahkan tak di jawab Clarissa.
"Mbak putus sama kak Indra!!" ucapnya terdengar antusias sekaligus kaget tapi tak lama terdengar gelak tawanya lagi.
"Apa sih orang mbaknya lagi patah hati malah diketawain?!" Clarissa mencubit lengan Bella yang membuat Bella meringis kesakitan tapi ia kembali tertawa.
"Mbak patah hati? sejak kapan mbak? paling yang buat mbak sedih dan nangis karena masalahnya bukan karena hubungan mbak berakhir." Clarissa merasa tersadarkan dengan kata-kata Bella. Ia memang tidak merasa sedih karena hubungannya berakhir tapi karena masalah yang terjadi.
"Mbak putus kenapa?" Bella bertanya lagi tanpa rasa bersalah, ia benar-benar penasaran alasan Clarissa dan Indra putus.
"Pokoknya masalah klasik lah, klise." Clarissa enggan menceritakan detailnya pada Bella saat ini. Sekarang ia merasa terjebak, tadinya ia yang ingin mengintrogasi Bella tapi sekarang justru dia yang diintrogasi.
Clarissa memilih pergi dari kamar Bella sebelum ia makin terpojokkan dengan pertanyaan-pertanyaan Bella. Bella yang melihat Clarissa berusaha menghindarinya makin bersemangat. Ia segera turun dari tempat tidurnya dan berlari kecil mengejar Clarissa yang sudah membuka pintu kamarnya untuk keluar. Ia tidak akan menyerah sampai mendapatkan jawaban dari Clarissa.