YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Semester Genap Dimulai



Rian berdiri dari tempat duduknya maju ke depan meja laborannya. Melihat jam yang melingkar di tangannya. Memastikan waktu praktikum yang sudah berakhir.


"Baiklah. Praktikum hari ini selesai. Sama seperti semester lalu. Laporan harus sudah dikumpul paling lambat lima hari dari sekarang. Ingat semakin cepat kalian mengumpulkan laporan maka semakin tinggi point yang kalian dapatkan." Rian tersenyum formal kepada para praktikan di hadapannya.


Clarissa dan teman sekelompoknya merapikan alat-alat praktikum yang mereka gunakan. Meletakkannya di tengah meja praktikum untuk di gunakan kelas selanjutnya.


Clarissa melirik Indri yang tengah berkonsultasi dengan Sukma tentang hasil praktikum mereka tadi kalau-kalau ada yang harus di perbaiki.


"Oke. Semuanya sudah benar. Nanti sebelum dikumpul, ketua kelompok dan satu anggota bisa membawa dulu hasil pembahasan kalian. Kalau sudah benar baru yang lain ikutin pembahasan yang benar. Jadi, tidak seperti semester kemarin kalian harus bolak-balik berkali-kali." semua teman satu kelompok Clarissa mengangguk paham.


"Tumben baik." senggol Carla salah satu asisten praktikum yang mejanya tepat bersebrangan dengan meja praktikum Sukma.


"Males. Ngoreksi salah mulu." jawabnya sedikit ketus membuat para praktikan yang lain saling pandang merasa di singgung.


'Keluar sifat aslinya.' batin Clarissa.


Carla yang mendengar itu hanya tertawa seolah Sukma sedang bercanda atau mungkin begitu juga termasuk cara bercandanya. Clarissa menuju lemari tempat para praktikan menaruh tas mereka.


Rena menepuk bahu Clarissa membuat Clarissa menoleh kearahnya. Rena sudah bersama teman-temannya yang lain.


"Kita tunggu diluar ya." ucapnya sambil menunjuk pintu laboratorium yang sudah dibuka, Clarissa hanya mengangguk.


Setelah memasukkan semua alat tulisnya di dalam tasnya, Clarissa keluar dari laboratorium menuju rak sepatu mengambil flatshoes miliknya dan memakainya sedikit terburu-buru.


Nurul yang melihat Clarissa kehilangan keseimbangan akibat memakai sepatu dengan terburu-buru langsung menangkap lengan Clarissa.


"Hati-hati, mbak Rissa. Kita nggak ninggalin kok." ucap Nurul sedangkan Clarissa hanya menahan senyumnya, malu.


"Rissa.." panggil Anggi membuat Clarissa mengalihkan pandangannya mengikuti pandangan Anggi dan juga Rena.


Laboratorium fisika berseberangan dengan laboratorium matematika. Didepan laboratorium matematika ada beberapa mahasiswa yang berkumpul salah satunya Mukti yang sudah memandang ke arah Clarissa dan teman-temannya dengan senyum ramahnya.


Terlihat Mukti berdiri dan menunjuk kearah Clarissa. Terdengar teman-temannya menggoda Mukti yang sudah melangkah. Clarissa yang mulai panik sedikit berlari menghampiri Mukti sehingga mereka akhirnya bertemu di depan tangga.


"Masih ada kuliah?" tanya Mukti.


"Nggak ada. Ini yang terakhir." jawab Clarissa matanya menatap teman-teman Mukti yang menonton mereka berdua untuk yang laki-laki mereka terlihat senyum-senyum seolah menggoda Mukti dan Clarissa tapi tidak dengan yang perempuan, Clarissa bisa menangkap tatapan tidak suka.


"Kalau gitu biar aku antar pulang." tawar Mukti, Clarissa menoleh ke arah Rena yang sudah mendekati tempatnya berdiri dengan Mukti.


"Nggak apa-apa, Sa. Kalau mau pulang bereng Mukti." Rena tersenyum lembut kearah Clarissa, Rena memilih mendukung apapun keputusan Clarissa. Baginya perasaan tidak sukanya pada Mukti adalah urusan pribadinya lagipula selama ini sebenarnya Rena melihat Mukti cukup bisa dipercaya.


Rena dan teman-temannya pamit untuk duluan pulang. Rena bahkan menyapa Mukti lebih ramah dari biasanya. Membuat Mukti cukup kaget dan melirik Clarissa seolah mempertanyakan sikap Rena yang berubah terhadapnya. Anggi menepuk bahu Clarissa pelan lalu menunjuk jas lab yang masih digunakan Clarissa.


Clarissa mengucapkan terima kasih tanpa suara dan melambai pada teman-temannya. Mukti menyuruh Clarissa menunggu sebentar karena ia harus mengambil tasnya di dalam laboratorium matematika. Clarissa hanya mengangguk, setelah Mukti berjalan menuju laboratorium matematika Clarissa melepas tas yang digunakannya.


"Sini, biar saya pegangkan." Sukma sudah meraih tas dari tangan Clarissa.


Wajah Clarissa tampak bingung dan tak enak merepotkan Sukma yang mana adalah asisten pendamping kelompoknya.


"Kotor, Sa." sambung Sukma paham dengan pikiran Clarissa.


"Maaf kak merepotkan." Clarissa segera melepas jas labnya dan melipatnya. Tak ingin Sukma terlalu lama memegangi tasnya.


"Makasih kak." Ucap Clarissa saat jas labnya sudah terlipat dengan rapi.


"Rissa!" suara Mukti memanggil Clarissa membuat Sukma menoleh ke arah Mukti yang baru keluar dari laboratorium matematika begitu juga Clarissa.


Dengan cepat Clarissa mengambil tasnya dari tangan Sukma dan mengucapkan terima kasih lagi pada Sukma. Sukma hanya tersenyum dan langsung menuruni anak tangga. Clarissa sudah memasukkan jas labnya ke dalam tas. Saat Mukti sudah berada di sampingnya, Mukti menatap punggung Sukma yang menuruni anak tangga.


"Ayo!" Clarissa susah mengenakan tasnya saat melihat Mukti yang masih melihat tangga.


"Mukti!!" panggil Clarissa membuat Mukti tersadar dan mengajak Clarissa turun.


Selama berjalan menuju parkiran, Mukti tidak mengatakan apapun. Ia benar-benar diam seribu bahasa. Benar-benar berbeda dengan dia yang biasanya bahkan ia berjalan didepan Clarissa. Clarissa hanya menatap punggung lebar Mukti yang berjalan di depannya tidak mengerti ada apa dengan pria didepannya ini.


Bahkan sampai di dalam mobil, Mukti pun masih diam. Clarissa tidak ingin ambil pusing atau bertanya. Mukti sudah menyalakan mesin mobilnya. Tapi tidak juga menginjak pedal gas. Clarissa menatap Mukti yang terlihat berpikir.


"Clarissa" panggil Mukti pelan namun Clarissa dapat mendengarnya dengan sangat jelas.


"Kamu masih belum mau pacaran?" pertanyaan Mukti membuat Clarissa tersedak oleh napasnya sendiri.


"Kamu ngomong apa sih?" Clarissa tidak percaya dengan yang ia dengar.


"Mau mastikan saja." Jawab Mukti yang sudah memundurkan mobilnya untuk keluar dari tempat parkir.


Clarissa tidak menjawab. Ia membuang pandangannya keluar jendela. Mobil sudah melaju dengan kecepatan sedang keluar dari area kampus. Hening menyelimuti mereka berdua. Clarissa sibuk dengan pikirannya begitu juga Mukti.


"Aku nggak berani bilang apapun saat ini. Takut, takabur." akhirnya Clarissa membuka pembicaraan tanpa memandang Mukti.


"Hmm.." Mukti juga fokus ke jalanan di depannya "Baguslah." lanjutnya meninggalkan kata-kata yang ambigu, setidaknya untuk Clarissa.


Mobil Mukti sudah berhenti didepan rumah Rena. Didalam garasi sudah terlihat mobil Rena terparkir. Clarissa melepaskan seat belt yang di pakainya. Ia menatap Mukti sebelum turun dari mobil mencoba menganalisa mengapa Mukti tiba-tiba menjadi pendiam.


Tidak melihat ada respon dari Mukti, Clarissa pamit dan turut dari mobil. Saat membuka pintu pagar, terdengar namanya dipanggil oleh Mukti. Clarissa menoleh ke arah mobil Mukti yang kaca jendelanya sudah diturun sehingga ia bisa melihat Mukti di kursi pengemudi.


"Terima kasih untuk jawabannya." ucap Mukti dengan senyum misterius di wajahnya membuat Clarissa hanya mengernyit, bingung.


Mukti melambai pada Clarissa sebelum memacu mobilnya meninggalkan Clarissa yang masih berdiri di tempat yang sama dengan banyak pertanyaan dikepalanya. Clarissa bahkan meyakinkan dirinya bahwa semester genap baru dimulai beberapa minggu yang lalu tapi entah kenapa cerita miliknya justru berjalan lebih cepat menuju pertengahan cerita.