YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Hari Pertunangan, Patah Hati yang Terhebat (1)



Mama Clarissa sudah sibuk di dapur. Hari ini idul adha dan rencananya keluarganya akan datang hari ini. Clarissa yang baru ganti baju langsung menuju dapur dan membantu mamanya menyiapkan makanan yang akan dihidangkan nanti saat keluarganya datang. Sementara Bella belum pulang, ia tadi ikut sholat bersama keluarga Rico. Clarissa dengan sigap menyusun makanan di atas meja makan.


Selesai menyusun makanan di meja makan sambil menunggu mamanya yang sedang menyiapkan bahan-bahan untuk sop buah, Clarissa menyempatkan melihat-lihat sosial media miliknya dan membalas ucapan selamat idul adha dari teman-temannya. Hingga ia melihat instastory milik Dikta. Clarissa mengernyit membaca pertanyaan yang diajukan Dikta. Ia mencari tukang cukur rambut yang buka pagi ini. Entah kenapa jantung Clarissa berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Entah ini tanda atau apa. Tapi, seperti ada yang berbisik padanya untuk mempersiapkan hatinya.


Clarissa menggelengkan kepalanya berusaha membuang semua pikiran negatif yang mulai datang. Ia ingin menjaga moodnya hari ini terlebih keluarganya akan berkumpul. Jangan sampai moodnya rusak duluan.


Clarissa bersyukur keluarganya yang datang tidak terlalu banyak kali ini karena beberapa ada yang keluar kota. Meskipun tetap saja pertanyaan serta pernyataan menyebalkan tetap saja ada. Seperti yang dilakukan tante Ita tadi yang membuat Clarissa harus terus meminta dirinya sabar.


"Rissa, kamu usia berapa sih sekarang?" tanya tante Ita tiba-tiba ditengah obrolannya dengan mama Clarissa.


"Iya, tante." ucap Clarissa terkejut "Anu.. 25 tante." jawabnya setelah menguasai dirinya.


"Ya ampun, sudah 25? mana pacarmu? masa kalah sama Bella, nanti diduluin Bella loh nikahnya." Clarissa yang mendengar ucapan tante Ita hanya bisa tertawa kecut.


"Rissa emang nggak pacaran-pacaran lagi, tante." jawab Clarissa berusaha mempertahankan senyumnya.


"Iihh.. jadi perawan tua loh nanti. Padahal kamu cantik gini. Sana cari cowok." ucap tante Ita yang semakin menjadi, Clarissa hanya tertawa terpaksa matanya melirik mamanya yang terlihat tersenyum tapi dari mata mamanya terlihat jelas ia tidak suka dengan ucapan tante Ita padanya.


"Masih muda juga dia, Ta. Biarkan kerja dulu." ucap mama Clarissa lembut.


"Eehh, jangan gitu, tante. Nanti Rissa lupa sama umur. Tahu-tahu sudah 30 lebih." sahut Rika yang dari yang baru keluar dari kamar Bella setelah menidurkan anaknya, Silva.


Clarissa pasrah saat Rika ikut nimbrung. Kolaborasi antara tante Ita dan Rika benar-benar berhasil membuat kepala dan hati Clarissa memanas. Kalau bukan karena Bella yang duduk di sampingnya dan selalu membalas ucapan Rika atau tante Ita. Mungkin Clarissa sudah mengamuk karena tidak tahan.


Setelah weekend yang penuh cobaan, kini Clarissa sudah duduk di depan laptopnya sibuk dengan pekerjaannya. Hingga Tiwi tiba-tiba datang dan meletakkan cukup banyak cemilan di mejanya. Clarissa mendongakkan kepalanya melihat Tiwi yang sudah tersenyum lebar berdiri di depan mejanya.


"Cemilan, mbak. Serius banget kelihatannya." ucap Tiwi masih dengan senyumnya.


"Alhamdulillah. Aku sudah butuh asupan gula." Clarissa mengambil salah satu biskuit coklat dan membukanya.


Clarissa menatap jam dinding di ruangannya sudah jam 10 pagi. Mbak Dinar dan Citra sedang menghadiri rapat menggantikan atasannya yang sedang dinas keluar kota sehingga ia hanya sendirian diruangannya.


Ingin istirahat sejenak dan menikmati cemilan yang di berikan Tiwi padanya, Clarissa menyempatkan melihat-lihat instagram. Hingga ia melihat postingan di instastory milik Dikta. Beberapa video dan foto yang dia repost dari keluarga dan teman-teman dekatnya.


'Jadi ini alasan dia nyari tukang cukur kemarin.' batin Clarissa, matanya mulai berkaca-kaca ia bahkan meletakkan kembali cemilan yang sempat ia buka.


Foto dan video dari lamaran Dikta tadi malam. Dada Clarissa tiba-tiba serasa ditekan oleh beban yang sangat berat. Sulit sekali rasanya ia bernapas. Tidak tahan lagi menahan tangisnya, Clarissa dengan cepat berlari menuju toilet. Untungnya toilet sedang sepi, ia memilih masuk ke bilik yang paling ujung mengunci dirinya disana lalu menangis tertahan. Ia tak ingin orang mendengarnya.


Entah berapa kali Clarissa bolak-balik toilet hanya untuk menangis. Ia bahkan sampai tidak konsen menyelesaikan tugasnya. Selama perjalan pulang pun ia hanya diam, saat ditanya teman-temannya yang satu mobil dengannya Clarissa hanya tersenyum tipis dan menggeleng.


Sampai di rumah pun Clarissa juga hanya berbicara seperlunya. Lalu mengurung diri dikamar. Hal ini membuat orang tuanya dan juga Bella khawatir. Namun saat ditanya Clarissa hanya mengatakan bahwa dia baik-baik saja.


Sampai setelah sholat maghrib. Bella yang baru saja menaruh mukenanya di kamarnya dan langsung sibuk dengan hpnya mendengar suara isak tangis samar-samar. Bella keluar dari kamarnya mencoba mencari suara isak tangis yang masih terdengar. Tapi, tidak ada siapa-siapa di ruang tengah ataupun di dapur. Ia mendekati pintu kamar Clarissa mengetuknya beberapa kali lalu membukanya tapi ia tak menemukan Clarissa.


Hingga matanya tertuju ke kamar orang taunya. Bella berjalan perlahan menuju kamar orang tuanya dan mengetuknya beberapa kali sebelum ia masuk. Benar saja ia melihat Clarissa yang tengah menangis di pelukan mamanya. Bella tidak pernah melihat Clarissa menangis seperti ini. Tangisan benar-benar terdengar pilu. Bella akhirnya melangkah masuk ke kamar orang tuanya dan duduk di samping Clarissa yang menangis sesenggukan.


Lama mereka tidak berkata apapun. Hanya membiarkan Clarissa puas menumpahkan air matanya dan mengeluarkan semua hal yang membuat dadanya sesak. Sampai tangis Clarissa tak lagi terdengar, mamanya baru berani membuka suara.


"Kamu kenapa, nak?" ucap mamanya lirih, mendengar pertanyaan mamanya Clarissa kembali terisak tapi tak separah tadi.


Bella menepuk-nepuk pelan punggung Clarissa yang terguncang pelan akibat tangisnya. Hingga terdengar suara serak dari Clarissa.


"Dikta..." ucap Clarissa tertahan "tadi malam.. dia sudah.. lamaran" tangis Clarissa kembali pecah, kali ini Bella ikut memeluk Clarissa sangat erat.


Bahkan air mata Bella pun ikut mengalir. Ia ikut merasa sakit hati. Setelah beberapa tahun Clarissa tidak pernah membicarakan seorang pria hingga Clarissa akhirnya bercerita tentang seorang pria bernama Dikta. Meskipun hubungan Clarissa dan Dikta tidak seperti yang terjalin antara Bella dan Rico. Tapi, entah kenapa Bella bisa melihat cara Clarissa menyukai Dikta berbeda dari orang-orang yang pernah disukai Clarissa. Alasan Clarissa ragu untuk maju karena ia masih mencoba mencari cara agar ia tak perlu pacaran dengan Dikta tapi Dikta bisa mempertimbangkan dia. Meskipun mungkin dari awal ini sudah tidak bisa terwujud karena prinsip yang mereka pegang berbeda. Clarissa yang tidak ingin pacaran sedangkan Dikta yang sepertinya harus pacaran untuk saing mengenal.


"Mbak, menangislah sepuasnya. Setelah itu mari kita pelan-pelan melangkah." bisik Bella dari balik punggung Clarissa.