YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Kunjungan Mukti



Tok. Tok. Tok.


Bella dengan semangat berlari ke pintu depan rumahnya begitu mendengar suara ketukan pintu. Begitu membuka pintu, Bella menunjukkan senyum sumringahnya kepada tamu yang sudah berdiri di hadapannya. Bella langsung menyuruh tamu tersebut masuk dan duduk di ruang tamu.


Bella dengan cepat sudah berlari kecil melewati ruang tengah dimana orang tuanya sedang bersantai sambil menonton televisi. Mamanya hanya melihat tingkah anak bungsunya yang tengah bersemangat menuju kamar Clarissa.


Tanpa mengetuk lebih dulu, Bella langsung membuka pintu kamar Clarissa. Membuat Clarissa yang sedang asyik teleponan dengan Rena terperanjat kaget.


"Mbak, ada tamu." ucap Bella dengan senyum di wajahnya tidak peduli Clarissa yang sudah melotot ke arahnya.


"Ketuk dulu kenapa sih, Bel!!" ucap Clarissa kesal.


Bella sudah ingin bicara tapi di hentikan oleh tangan Clarissa yang menyuruhnya diam lalu menunjuk Hp di telinganya. Bella langsung mengulum bibirnya dan menyuruh Clarissa melanjutkan pembicaraannya di telepon dengan Rena.


"Mak, maaf nanti kita lanjutkan ya. Infokan saja kapan kamu balik. oke, Assalamu'alaikum." Clarissa memutuskan panggilan teleponnya dengan Rena.


Clarissa kembali melihat ke arah Bella yang membuatnya refleks memundurkan badannya karena Bella ternyata sudah ada di dekatnya, membungkukkan tubuhnya membuat wajah mereka sangat dekat.


Senyuman Bella saat ini juga menambah kesan horor yang di rasakan Clarissa. Dengan jarinya Clarissa mendorong kepala Bella agar menjauh darinya. Bella akhirnya memilih duduk di samping Clarissa di atas tempat tidur Clarissa.


"Mbak, ada mas Mukti." Clarissa hanya memasang wajah penuh tanya. Tapi, sepertinya Bella tidak peduli. Ia menyuruh Clarissa siap-siap menemui Mukti di ruang tamu.


"Ya sudah. Sana keluar. Mbak mau pakai jilbab dulu." usir Clarissa yang sudah melangkah ke lemari bajunya untuk mengambil jilbabnya.


Bella sudah ngacir keluar kamar Clarissa tidak lupa sebelum Clarissa berteriak padanya untuk menutup pintunya lagi, Bella menutup pintu Clarissa dengan hati-hati. Dari luar terdengar suara Bella yang memberitahu orang tuanya kalau Mukti datang bertamu.


Clarissa sedang memakai baju tidur dengan celana panjang, jadi ia hanya mengambil kardigan dan jilbabnya untuk dipakai. Clarissa masih tidak habis pikir betapa setianya Bella mendukung Mukti. Bukannya Clarissa tidak tahu apa alasannya. Mengambil hati Bella itu sangat mudah tinggal belikan saja apa yang sedang ia mau. Maka ia akan menjadi pendukung setia.


Clarissa keluar dari kamarnya, ia melihat orang tuanya sedang tertawa menonton acara di televisi. Begitu sampai di ruang tamu, Clarissa bisa melihat betapa akrabnya Mukti dan juga Bella. Entah apa yang mereka bicarakan.


Mukti yang melihat Clarissa datang langsung menunjukkan senyum manisnya dan melambai ke arah Clarissa. Bella pun mengalihkan pandangannya melihat ke arah Clarissa. Ia langsung berdiri dan tersenyum lebar di depan Clarissa sebelum berlari masuk ke dalam.


"Seru ya punya adik perempuan?" ucap Mukti saat Clarissa sudah duduk di tempat yang sama dengan Bella tadi.


"Kalau kamu tumbuh bersamanya. Mungkin kamu tidak akan bilang seru." terdengar suara tawa Mukti yang membuat Clarissa hanya mengernyit.


Tiba-tiba Hp Mukti berbunyi tanda ada panggilan masuk. Mukti melihat layar Hpnya sejenak lalu melihat Clarissa seolah mengatakan aku angkat teleponnya dulu. Clarissa hanya mengangguk mempersilakan Mukti menerima telepon.


Mukti tidak berpindah tempat, ia hanya memiringkan badannya sedikit untuk berbicara dengan orang yang meneleponnya.


Clarissa melihat Mukti yang sesekali terlihat tersenyum dan tertawa menanggapi lawan bicaranya di telepon.


'Dia sebenarnya good looking. Banget. Dia juga pintar. Dan aku tahu dia baik. Kenapa nggak cari wanita yang selevel dengannya?' batin Clarissa yang tanpa sadar memberikan pujian pada Mukti.


"Rissa.." Mukti sudah melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Clarissa yang sedang melamun.


"Eh, iya!" ucap Clarissa tersadar.


"Lihatin apa?" senyum di wajah Mukti membuat Clarissa merasa tertangkap basah sudah mengamati Mukti.


"Lihatin aku ya.." goda Mukti yang membuat Clarissa salah tingkah "Hmm, aku tahu kamu pasti lagi muji aku." lanjut Mukti dengan wajah percaya diri.


"Apaan sih? Nggak ada yang muji kamu." Clarissa membuang mukanya tak mau menatap mata Mukti, membuat Mukti semakin bersemangat menggodanya.


"Aku tahu, Sa. aku tahu." Mukti sudah manggut-manggut seolah-olah tidak masalah jika Clarissa ingin memujinya di dalam hati.


"Ngapain kamu kesini?" Clarissa mencoba mencari bahan pembicaraan yang lain.


"Ya, mau ketemu kamu. Pengennya sih bilang ngapelin kamu. Tapi, status kita belum jelas." ucap Mukti ringan.


Membuat Clarissa menghela napasnya, kesal. Ia tidak habis pikir betapa narsisnya pria di depannya ini. Ia tahu tak salah memang Mukti percaya diri dengan penampilannya dan otaknya yang cukup encer. Seolah perpaduan yang sempurna. Tapi, bagi Clarissa itu tidak membenarkan kenarsisannya saat ini.


"Status?" Clarissa menekankan kata-katanya.


Mukti mengangguk lalu memamerkan senyumnya lagi. Membuat Clarissa makin bertanya-tanya.


"Jangan ge'er." ucap Clarissa acuh.


"Bukan ge'er, Sa. Kamu pasti mikir aku ganteng dan pintar." Clarissa menatap Mukti tak percaya. Karena Mukti bisa dengan santainya berbicara seperti itu.


Clarissa tersenyum membuat Mukti menatapnya bingung dengan makna senyuman di wajah Clarissa.


"Memang iya sih." Clarissa setuju dengan perkataan Mukti membuat pria di depannya ini tercekat kehabisan kata-kata ia bahkan sampai terbatuk-batuk.


Clarissa tersenyum menang. Ia tahu memanfaatkan situasi untuk membalikkan keadaan.


"Aku ambilkan minum dulu." Clarissa sudah berdiri dan melangkah menuju dapur meninggalkan Mukti yang tersipu malu.


Clarissa kembali dengan segala air hangat untuk Mukti dan beberapa cemilan yang di suruh mamanya untuk membawanya juga.


"Kok tahu aku minumnya air hangat?" Mukti sudah mengambil gelas dan meminum air hangat yang di bawa Clarissa.


"Seingatku kamu tidak pernah minum yang dingin. Kecuali saat kita lari pagi waktu itu. Itu pun karena aku yang minta tukar." Mukti menatap Clarissa merasa terharu ternyata Clarissa memperhatikannya.


"Kapan kamu mau balik?" tanya Mukti mencoba mencari bahan pembicaraan.


"Hari minggu atau senin. Kenapa?"


"Oke. Bareng aku saja lagi."


"Memangnya kamu nggak apa-apa balik di hari itu?" tanya Clarissa tidak enak bila harus merepotkan Mukti lagi.


"Aku aman, Sa." Mukti sudah mengambil cemilan didepannya dan memakannya.


"Kamu kesini nggak ngabarin aku. Tapi, ngabarin Bella?" tanya Clarissa penasaran.


"Aku sama Bella sudah jadi sekutu, Sa." jawab Mukti dengan wajah sombong.


"Ya, kamu sogok. Makanya dia setia jadi sekutu mu." ucap Clarissa sedikit ketus.


Tawa Mukti pecah saat melihat wajah bete Clarissa. Bagi Mukti ekspresi apapun yang diperlihatkan Clarissa sangat menggemaskan untuknya.


"Sa?" panggil Mukti membuat Clarissa akhirnya menatap Mukti "Kenapa semua ekspresi mu menggemaskan?" Clarissa yang mendengar pertanyaan Mukti hanya bisa tertegun.


"Itu karena kamu suka sama aku." jawab Clarissa akhirnya membuat Mukti tertawa dan mengaku kalah.


"Aduh, Sa. Aku nggak tahu ini jantungku bakal sehat apa sakit kalau begini terus." ucap Mukti disela tawanya.


"Setidaknya kamu tahu jantungmu bekerja dengan baik." Clarissa berkata tanpa ekspresi. Membuat Mukti ingin mengibarkan bendera putih yang menyatakan bahwa dia telah kalah telak.


Sisa malam yang mereka habiskan hanyalah berisi lelucon dari Mukti yang tetap berakhir dengan Mukti yang mengaku kalah. Saat jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, Mukti akhirnya pamit untuk pulang. Orang tua Clarissa dan juga Bella yang masih terjaga sejak tadi asyik menonton televisi juga ikut mengantarkan Mukti yang akan pulang.


"Loh, mas bawa mobil toh?" ucap Bella saat melihat Mukti berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di depan rumahnya.


"Iya, Bel. Kenapa?" tanya Mukti namun belum sempat Bella menjawab Clarissa sudah lebih dulu menjawab.


"Dia pasti tadi mau ngajak keluar." Bella langsung tersipu malu karena niatnya ketahuan.


Mukti tersenyum ramah dan menawarkan Bella lain kali saat berkunjung lagi ia akan bawa mobil sehingga bisa keluar jalan-jalan bersama. Bella yang mendengar itu langsung menunjukkan ekspresi bahagianya membuat Clarissa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mukti sekali lagi berpamitan saat sudah berada di dalam mobilnya lalu memacu mobilnya keluar dari gang rumah Clarissa menuju jalanan besar. Saat akan masuk ke dalam rumah Clarissa menahan Bella dan membiarkan orang tua mereka masuk duluan.


"Ada apa mbak?" tanya Bella berlagak polos.


"Kamu jangan terlalu terang-terangan. Mbak nggak mau Mukti berharap." Clarissa memperingatkan Bella. Sementara Bella hanya mengangguk mengiyakan.


Clarissa saat ini sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun. Meskipun ia tidak mengalami patah hati yang buruk tapi setidaknya ia ingin memberi kesempatan hatinya untuk beristirahat dan tentunya menghargai apa yang pernah ada antara ia dan Indra.