YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Dikta (4)



Clarissa menunggu pesanannya yang sedang di siapkan pelayan restoran ayam cepat saji. Sedangkan Riana sedang menunggu di salah satu meja yang berhasil ia dapatkan setelah beradu cepat dengan beberapa pengunjung karena mereka datang saat jam makan siang dan saat akhir pekan.


Clarissa berjalan perlahan membawa baki berisi pesanannya dengan Riana. Begitu sampai dimeja tempat Riana duduk dengan sigap Riana membantu mengambil baki dari tangan Clarissa dan meletakkan di atas meja.


"Jadi mau cerita apa?" tanya Riana pada Clarissa yang sibuk meletakkan pesanan mereka di hadapan masing-masing.


"Soal Dikta, Na." Clarissa sudah menatap Riana yang terlihat sibuk membuka kertas yang membungkus nasi "Aku ngerasa seperti orang bodoh." Riana langsung menghentikan aktivitasnya dengan makanan di depannya dan menatap sahabatnya.


"Kenapa?" Riana mencoba membaca apa yang dipikirkan Clarissa meskipun hasilnya nihil, dia tidak bisa membaca pikiran orang.


"Aku pikir awalnya aku nggak benar-benar suka sama Dikta..."


"Jatuh cinta." koreksi Riana di tengah-tengah ucapan Clarissa membuat Clarissa menghela napas.


"Oke, jatuh cinta. Karena cepat banget, Na. Cuma karena aku lihat dia datang waktu itu terus di otakku muncul kalimat, aku mau dia yang jadi suamiku, yang mana baru aku sadari beberapa hari setelahnya karena aku sangat senang dia ngantar pulang." ucap Clarissa menggebu-gebu hingga ia kehabisan napas.


Riana menahan senyumnya meskipun Clarissa tetap bisa melihatnya dengan jelas. Clarissa membuka kertas yang membungkus nasi dan bersiap untuk makan.


"Kamu serius, Sa?" tanya Riana memastikan, Clarissa yang mendengar pertanyaan dari Riana hanya mengangguk tidak menjawab karena mulutnya sedang sibuk mengunyah.


"Sekarang kamu maunya apa?" tanya Riana lagi. Clarissa mulai berpikir, ia ragu mengatakan apa yang sudah ia putuskan sejak beberapa hari lalu sampai ia mengajak Riana bertemu langsung.


"Kamu ingat ceritanya Nisa kan, Na? Aku pikir nggak ada salahnya aku sampaikan apa yang aku rasakan. Setidaknya dia tahu. Meskipun aku takut ini bisa mempengaruhi pertemananku dengan Dikta. Tapi, mungkin dengan dia tahu akan ada kesempatan buat aku." Riana terlihat serius mendengar ucapan Clarissa "Aku ingin kamu bantu aku menyampaikan ini ke Dikta, Na." pinta Clarissa dengan senyum getir di wajahnya.


"Rissa, aku bakal bantu. Tapi, kamu serius mau menyampaikan perasaanmu ke Dikta?" Riana memastikan sekali lagi, ia tak ingin Clarissa menyesal nantinya.


"Iya, Na. Aku serius." jawab Clarissa mantap yang membuat Riana semakin yakin bahwa Clarissa tidak main-main.


"Oke. Aku bakal chat Dikta nanti. Sekarang kamu banyak-banyak berdoa saja ya, Sa. Ini kan bagian dari usaha juga." Clarissa tersenyum menyetujui perkataan Riana. Mereka kembali menikmati pesanan mereka dan seperti biasa Riana kembali mengupdate ceritanya padahal mereka baru tidak bertemu tiga hari dan itupun mereka masih sering saling kirim pesan whatsapp.


Seminggu lebih setelah perbincangan Clarissa dan Riana tapi belum ada kabar apapun dari Riana. Clarissa juga tidak menuntut Riana segera menghubungi Dikta jadi ia mulai kembali menjalani aktivitasnya mengajar di salah satu bimbingan belajar terkemuka di Indonesia tanpa beban pikiran tentang Dikta lagi.


Seperti biasa Clarissa baru pulang hampir jam sebelas malam. Beberapa siswanya yang akan ulangan harian besok sangat bersemangat untuk belajar padahal waktu jam tambahan belajar mereka sudah lewat. Tapi, dengan keahlian membujuk mereka membuat Clarissa akhirnya mengalah dan menemani mereka belajar. Mungkin kalau lampu di koridor tidak di matikan mereka akan menginap.


"Ya ampun, mbak. Lepas dulu helmnya." Clarissa tidak menjawab ia hanya melakukan apa yang di katakan Bella lalu meletakkan helm di sampingnya.


Bella yang melihat tingkah Clarissa hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia akhirnya ikut duduk di samping Clarissa. Mereka berdua sama-sama diam hanya memandang langit-langit ruang tamu.


Hingga Hp Clarissa berbunyi dengan malas Clarissa mengambil Hpnya dari dalam tasnya lalu melihat layar Hpnya. Nama Riana tertera di sana. Clarissa mengernyit, bingung. Tidak biasanya Riana meneleponnya jam segini.


Clarissa menjawab panggilan telepon tersebut hingga terdengar teriakan histeris dari Riana memanggil namanya. Membuat Clarissa harus menjauhkan Hp dari telinganya bahkan Bella pun dapat mendengar suara Riana.


"Kenapa, Na?" tanya Clarissa setelah suasana kembali kondusif.


"Rissa, tanggapannya Dikta positif banget." Riana terdengar sangat senang sedangkan Clarissa langsung menegakkan posisi duduknya begitu juga dengan Bella yang sudah terlihat tersenyum lebar.


"Maksudnya, Na?" tanya Clarissa lagi, jantungnya saat ini berdetak lebih cepat dari sebelumnya.


"Iya, dia bilang kita harus ngumpul bareng lagi." Clarissa kali ini tidak bisa menyembunyikan senyumannya, ia merasa ada kesempatan untuknya yang mulai terbuka.


"Nanti kita ketemu ya? Aku ceritakan versi lengkapnya." Riana masih terdengar sangat antusias bahkan Bella sudah memeluk Clarissa.


Setelah panggilan teleponnya dengan Riana berakhir Bella langsung memeluk Clarissa lebih erat dari sebelumnya. Membuat Clarissa sulit bernapas.


"Ad.. duuhh, Bel. Ngg.. nggak bisa napas!" ucap Clarissa yang membuat Bella melepaskan pelukannya dari Clarissa dan mengulum senyumnya.


"Aku senang dengarnya, mbak." ucap Bella tulus membuat Clarissa terharu "Aku doain kali ini lancar Jaya sama kak Dikta." lanjut Bella sambil tersenyum lebar.


"Apa sih, Bel. Kita masih belum tahu. Kata Riana kan tanggapannya positif. Bukan berarti perasaan mbak bakal terbalas." Clarissa berusaha menahan rasa bahagianya, ia tak ingin terlalu berharap.


"Tapi setidaknya kak Dikta sedang berusaha, mbak." Bella menepuk bahu Clarissa lembut memberi semangat padanya.


Clarissa mengangguk setuju dengan ucapan Bella. Sekali lagi Bella memeluk Clarissa lalu mengajak Clarissa untuk tidur sebelum bapak mereka keluar kamar dan mulai mengomel. Clarissa mengikuti langkah Bella dan masuk ke kamar mereka masing-masing. Setelah menutup pintu kamar Clarissa tidak bisa menyembunyikan senyumnya lagi. Jantungnya masih berdetak kencang dan perutnya terasa geli, ia merasa sangat bahagia. Clarissa bersyukur ia memberanikan diri menyampaikan perasaannya pada Dikta meskipun melalui perantara Riana. Setidaknya Dikta yang kini tahu bagaimana perasaannya bisa mempertimbangkan dirinya. Memikirkan hal tersebut membuat Clarissa malu sendiri, ia sampai menutup wajahnya yang memerah dengan kedua telapak tangannya.


'Apa yang aku pikirkan? Sadar, Sa. Ini baru awal.' batin Clarissa mengingatkan dirinya sendiri. Tapi, tetap saja otaknya tidak bisa berhenti memikirkan apa yang di katakan Riana. Tanpa Clarissa sadari perlahan namun pasti harapan mulai tumbuh di hatinya.