
Suasana canggung menyelimuti Clarissa saat ini. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya menghindari tatapan Mukti yang berdiri di depannya. Sedari tadi yang bisa ia lakukan adalah memaki di dalam hati. Memaki dirinya dan kebodohannya. Harusnya tadi ia berlari saja terus ke kamar kosnya tak usah berbalik. Maka ia bisa kabur dari keadaan seperti ini.
Sementara Mukti sangat menikmati situasi saat ini. Melihat wanita di hadapannya tak bisa berkata-kata dan hanya bisa menunduk menatap lantai keramik yang kosong. Mukti membungkukkan badannya, ia ingin melihat wajah Clarissa lebih dekat. Memastikan bahwa ia tak salah lihat.
Senyumnya makin terlihat jelas saat ia yakin bahwa wajah Clarissa sedang bersemu merah entah karena malu atau gugup.
"Clarissa" panggil Mukti dengan suara lembut membuat jantung Clarissa berdegup makin kencang
'Aduh!! ada apa dengan jantung ini ya Allah. Ayo berhenti berdegup sekencang ini. Eehh, tunggu jangan berhenti kalau berhenti aku mati. Aku bahkan belum menggali lubang ku. Kembalilah normal. Ku mohon!!! ' batin Clarissa semakin panik karena mendengar Mukti memanggilnya Clarissa.
Mukti berusaha menahan tawanya melihat semu merah di wajah Clarissa.
'Kenapa dia sangat menggemaskan' pikir Mukti yang sudah kembali menegakkan badannya.
"Ya udah. Masuk sana. Aku pulang dulu sudah mau jam malam kosanmukan?" Clarissa memberanikan diri menatap Mukti.
Ia bisa melihat wajah Mukti sangat bahagia sekarang. Tapi saat matanya saling bertatapan dengan Mukti, ia kembali menundukkan kepalanya.
'Ada apa denganku?! kenapa aku menghindari tatapannya.Ah! aku harus memberitahunya tentang pernyataannya tadi. Tapi, dia tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak mengatakan bahwa ia menyukaiku. Tapi, pasti itukan maksudnya. Aaahhhh!!! gimana ini??!! ' Clarissa sedang berperang melawan pikirannya sendiri membuat Mukti yang melihat hal itu makin merasa gemas. Rasanya ia ingin mencubit pipi chubby wanita di hadapannya ini. Tapi, ia harus menahan diri bahkan ia harus menahan tangannya sendiri sekarang dengan memasukkannya ke dalam saku celana jeans nya.
"Kamu nggak perlu merasa terbebani. Aku hanya bilang bahwa jika hubunganmu dengan Indra tidak baik-baik saja maka kamu bisa datang padaku" Mukti seolah-olah bisa membaca kegelisahan Clarissa saat ini.
Clarissa mengangkat kepalanya menatap pria yang sudah tersenyum lebar di hadapannya. Tapi, entah kenapa ia merasa tidak nyaman dengan senyuman itu.
"Aku pulang ya. Assalamu'alaikum" Mukti menepuk lembut kepala Clarissa lalu melangkah meninggalkan Clarissa yang masih tertegun dengan perlakuan Mukti barusan.
"Wa'alaikumussalam" refleks Clarissa menjawab pelan bahkan mungkin hanya telinganya yang mendengar.
Mukti sudah berada di atas motornya. Ia merasa lega sudah menyampaikan perasaannya meskipun tidak secara terang-terangan. Ia bahkan harus menahan debaran jantungnya saat berada di depan Clarissa tadi. Ia ingin terlihat keren meskipun rasanya kakinya juga sangat lemas dan harus bersusah payah menopang badannya.
Setelah menyalakan mesin motornya, Mukti segera memacu motornya menuju jalanan kota yang masih tampak cukup ramai. Sepanjang jalan pulang bahkan senyum tak pernah hilang dari wajahnya.
Sementara Clarissa baru saja menutup pintu kamarnya lalu terjatuh di atas lantai membuat Izria yang sedang asyik menonton film di laptopnya kaget dan segera berlari menuju Clarissa.
"Rissa, kamu kenapa? Sakit? " tanyanya khawatir bahkan tangannya langsung memeriksa dahi Clarissa memastikan bahwa teman satu kamarnya ini tidak sedang sakit.
"Eehh, kenapa? kamu nggak sakit kok. Berantem sama teman-temanmu? " Izria mulai panik melihat air mata Clarissa mengalir di pipinya.
"Bagaimana ini?" Clarissa mulai terisak, Izria langsung memeluk Clarissa dan menepuk-nepuk punggungnya.
"Ada apa? jangan buat aku khawatir dong, Sa" Izria mulai kebingungan dengan keadaan Clarissa yang baru pulang langsung menangis seperti ini.
Dengan sesenggukan Clarissa menjelaskan apa yang terjadi barusan di teras kosannya dengan Mukti. Izria bernafas lega saat mendengar penjelasan Clarissa dan melepaskan pelukannya.
"Ya Allah, Sa. Aku kira apaan" Izria sudah duduk bersila di depan Clarissa dan tertawa.
"Kok ketawa sih!! " Clarissa memukul paha Izria kesal
"Aduh! Sakit Sa." Izria menyentuh pahanya yang di pukul Clarissa lumayan keras "Kan Mukti nggak bilang suka kamu secara terang-terangan kan?" Clarissa mengangguk sekarang tangisannya sudah berhenti hanya meninggalkan mata yang sembab.
"Ya, udah. Berarti aman. Kamu nggak perlu mikirin apa-apa. Kamu juga gak bersalah sama Indra, Sa." Izria mencoba menenangkan Clarissa.
"Tapi, harusnya aku bisa tegas Ra! " Clarissa terdengar putus asa. Rasa bersalah menyelimuti Clarissa saat ini. Ia merasa sudah melanggar janjinya pada Indra. Padahal sudah seminggu ia berhasil menghindari Mukti. Tapi, kenapa malam ini ia harus mengalami hal yang paling di khawatirkan oleh Indra.
"Sudah, sudah, jangan dipikirkan lagi. Lebih baik sekarang kamu ganti baju sekarang dan cuci muka lalu tidur. " Izria sudah berdiri dan mengulurkan tangannya membantu Clarissa bangun.
Clarissa hanya mengangguk dan meraih uluran tangan Izria untuk berdiri. Sekali lagi Izria menepuk bahu Clarissa memberi semangat pada Clarissa.
'Aku butuh membasuh mukaku dengan air dingin sepertinya' batin Clarissa yang baru selesai mengganti bajunya dengan baju tidur.
Izria melihat Clarissa yang mulai melangkah keluar menuju kamar mandi. Senyum tipis muncul di wajahnya. Setelah mematikan laptopnya ia meraih Hp di samping bantalnya lalu mengetikkan pesan pada seseorang dan mengirimnya. Tidak perlu menunggu lama ia mendapatkan jawaban dari pesannya.
'Ini akan semakin menarik' pikir Izria saat membaca pesan yang masuk.
Clarissa sudah selesai mencuci mukanya dan merasa segar. Ia naik ke atas tempat tidurnya dan melihat Izria yang sedang fokus dengan Hpnya. Clarissa tak begitu peduli dan langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya yang nyaman. Ia ingin melupakan hal yang baru saja terjadi.
'Aahhh!! kenapa malah kepikiran lagi!! ' Clarissa menarik kasar selimut hingga menutupi kepalanya. Membuat Izria yang sedang sibuk dengan Hpnya melihatnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tingkah teman sekamarnya ini. Ia benar-benar merasa kasihan tapi juga senang dengan kepolosan Clarissa.
'Tetaplah seperti ini, Sa' batin Izria.