
Entah sudah berapa kali Clarissa menghela nafasnya. Ia sedang menatap lapangan parkir dari lantai dua bangunan kelasnya. Matahari tampak sangat bersemangat menyinari bumi siang ini. Bahkan Clarissa harus menyipitkan matanya saat melihat mahasiswa yang sedang sibuk dengan aktivitas mereka. Ia mulai merasa bosan sampai-sampai ia meletakkan kepalanya bertumpu pada pagar tembok di hadapannya. Ya, Clarissa dari tadi duduk di depan pagar tembok didepan kelasnya. Kebiasaan mahasiswa yang suka meletakkan kursi di pinggir-pinggir pagar untuk mereka duduk-duduk menikmati pemandangan saat mereka sudah suntuk menunggu atau sekedar bersantai menunggu jam masuk kuliah.
Tentunya Clarissa tak sendirian beberapa teman sekelasnya juga melakukan hal yang sama. Bukan meletakkan wajahnya di pagar tembok tapi duduk di sekitar pagar tembok dengan kelompok mereka masing-masing.
"Sa, ngapain sih kamu?" Rena datang bersama Nurul dan Anggi yang baru selesai melaksanakan shalat dzuhur.
"Bosan!!" Clarissa menjawab masih dengan posisi yang sama. Membuat Rena menggelengkan kepalanya melihat tingkah Clarissa saat ini.
"Oh, iya. Gimana perkembangan mencari kosannya?" Anggi sudah menarik kursi ke samping Clarissa. Diikuti Rena dan Nurul.
Clarissa merubah posisi duduknya menyandar di sandaran kursi. Tangannya sudah melipat di depan dadanya sedangkan matanya menerawang menyusun memori di otaknya. Mengingat yang dia lakukan hampir seminggu ini.
Lama teman-temannya menunggu. Sampai Clarissa menggelengkan kepalanya. Membuat teman-temannya menghela nafas dan berdecak sedikit sebal.
"Sudah tinggal di rumahku saja dulu" Rena memaksa, ia merasa kesal sendiri dengan penolakan Clarissa.
"Nanti dulu mak. Aku mau cari dulu." Clarissa tetap Teguh pada pendiriannya tak ingin menyusahkan teman-temannya terutama Rena.
"Izria gimana?" Rena bertanya dengan sedikit ketus, masih kesal dengan sifat keras kepala Clarissa.
"Hmm.. setauku dia sudah dapat mak" Clarissa menjawab santai. Wajah Rena sudah mulai tak bisa menyembunyikan kekesalannya.
"kok dia nggak nawarin kamu?! " Rena mulai emosi membuat Nurul menepuk-nepuk punggung Rena agar bisa tenang karena teman-teman sekelas mereka yang juga duduk di dekat mereka dan orang yang lewat di sekitar mereka mulai menatap ke arah mereka berempat.
"Katanya yang kosong cuma satu mak. Itu juga dia di bantu sama May, soalnya ibunya May punya kenalan orang yang punya kosan" Clarissa mencoba menjelaskan. Entah kenapa Rena merasa tidak suka.
"Kalau gitu kamu terima tawaranku saja, Sa. Izria saja di bantu May" Rena masih berusaha membujuk Clarissa.
"Iya, mbak. Bener kata Rena. Udah nggak usah maksa mbak. Minggu depan selama minggu tenang mbak mau pulang kampung kan? Terus, habis itu harus fokus UAS." Nurul membantu membujuk Clarissa.
"Tapi, aku nggak enak sama sepupumu mak" Clarissa masih berusaha agar ia bisa berusaha sendiri mencari kosan.
"Feni juga nggak keberatan. Aku udah bilang kok. Kamu juga bukannya gak kenal sama Feni, Ra" Rena masih kekeh membantu Clarissa.
Clarissa merasa terharu mempunyai teman-teman yang peduli padanya. Ia memeluk lengan Rena yang duduk di sampingnya.
"Makasih mak. Aku bakal usaha dulu ya sampai hari minggu aja kok. Kalian bisa nemanin aku. Kalau aku nggak dapat juga. Aku bakal pindah ke rumah mamak" tawar Clarissa membuat Rena menyerah.
"Ya udah. Tapi, janji ya kalau kamu nggak dapat kosan. Kamu tinggal di rumah Rena aja dulu. " Anggi menepuk pelan lengan Clarissa yang di jawab anggukan oleh Clarissa.
_Kosan_
Izria sedang bersantai di atas tempat tidurnya. Saat nada pesan masuk dari Hp milik Clarissa berbunyi. Entah kenapa Izria tergelitik ingin melihat siapa yang mengirim pesan pada Clarissa. Matanya memandang ke pintu kamar. Memastikan Clarissa yang sedang keluar ke kamar mandi tidak akan tiba-tiba masuk.
Bahkan ia sudah berjalan mengendap-endap seperti maling. Menuju pintu kamar dan menengok keluar memastikan aman. Setelah ia merasa aman. Izria dengan cepat menuju Hp Clarissa yang tergeletak begitu saja di atas bantalnya.
Ia membalas pesan Indra dengan cepat lalu mengirimnya. Saat itu ia mendengar langkah kaki mendekat ke pintu kamar. Di lihatnya lagi pesan yang sudah sukses terkirim. Dengan cepat ia hapus pesan yang sudah ia kirim dan juga pesan Indra yang baru masuk tadi. Lalu dengan cepat ia kembali ke atas tempat tidurnya. Memainkan Hpnya seperti sebelumnya tanpa rasa bersalah.
Clarissa membuka pintu kamar. Terlihat sangat segar dan senang setelah mandi. Rasanya semua beban hari ini menghilang meninggalkan tubuhnya. Ia menggantung handuknya dan duduk dipinggir tempat tidurnya.
"Senangnya setelah mandi" ucapnya sambil mengangkat kedua tangannya meregangkan tubuhnya.
Izria terlihat tersenyum mengiyakan pernyataan Clarissa yang sekarang sibuk mengikat rapi rambutnya.
Tiba-tiba suara deringan telfon mengagetkan Clarissa. Tangannya berhenti masih dengan posisi mengikat rambutnya dan melihat layar Hpnya. Mengernyit, bingung kenapa nama itu bisa muncul di layar Hpnya.
'Kok Indra bisa menelfonku? bukannya dia belum boleh pegang Hp' Clarissa dengan cepat meraih Hpnya dan menerima panggilan telfon dari Indra.
"Hallo, Assalamu'alaikum." tak terdengar jawaban di seberang sana, hanya suara nafas yang terdengar.
Izria melirik Clarissa yang nampak bingung. Tapi, ia bisa menebak siapa yang menelfon Clarissa. Senyuman tipis muncul di bibir Izria.
"Indra, kok diam. Kenapa? " tanya Clarissa lagi khawatir
"Rissa, benar yang kamu tulis dipesan barusan? " Clarissa makin bingung yang ia ingat ia barusan kembali dari mandi dan tidak pernah mengirim pesan apapun pada Indra.
"Apa maksudmu, dra?" Clarissa bertanya dengan nada bingung, tapi hal itu membuat Indra makin geram di seberang sana.
"Jangan bercanda, Sa! " bentak Indra membuat Clarissa menjauhkan Hp dari telinganya.
"Aku nggak bercanda, dra. Kamu ini ngomong apa sih? Aku nggak ngirim pesan apa-apa ke kamu" Clarissa masih berusaha menahan suaranya agar tak ikutan meninggi. Ia tak ingin Izria yang ada di kamar mengetahui apa yang terjadi.
Tampaknya Izria cukup peka. Ia memilih keluar kamar. Ia tak ingin mengganggu pembicaraan Clarissa dengan Indra yang terlihat memanas.
"Kamu masih berhubungan sama Mukti, Sa. " Indra terdengar lebih tenang tapi nada bicaranya masih terdengar sama seperti sebelumnya.
Deg!
Entah kenapa Clarissa merasa tertangkap basah. Hampir seminggu ini ia memang tak bertemu Mukti tapi ingatannya kembali ke malam saat Mukti menyatakan perasaannya.
"Mukti bilang apa ke kamu Sa? " nada bicara Indra mulai emosi, ia mulai tak bisa menahan amarahnya.
"Dia tidak bilang apa-apa, dra" Clarissa berbohong ia tak ingin membuat keadaan semakin memanas. Ini bukan waktu yang tepat baginya memberitahu Indra. Setidaknya itu yang ada di pikiran Clarissa saat ini.
"Clarissa !!" akhirnya emosi Indra tak tertahankan juga "aku tahu dia menyatakan perasaannya padamu kan?! " ucap Indra dengan nada tinggi membuat Clarissa tertegun ia tak percaya setelah sekian lama ia mengenal Indra untuk pertama kalinya Indra membentaknya seperti ini.
Dada Clarissa terasa sesak. Matanya mulai berkaca-kaca dan nafasnya mulai berat. Ia berusaha menahan tangisnya. Ia tak ingin bertengkar dengan Indra saat ini. Ia ingin hubungannya tetap baik-baik saja. Ia bahkan meremas ujung bajunya berusaha menahan diri semampu yang ia bisa.
"Clarissa!! jawab aku!! " amarah dan rasa cemburu sepertinya benar-benar sudah menguasai Indra. Ia bahkan tak peduli saat mendengar Clarissa yang mulai terisak tak bisa menahan tangisnya lagi.