
Clarissa baru saja memasukkan laptopnya ke dalam tas ranselnya. Ia bangun dari duduknya, mengangkat kedua tangannya berniat meregangkan tubuhnya. Setelah shalat subuh tadi ia langsung mengemas beberapa barang yang akan dibawanya pulang ke rumah selama liburan. Liburan semester ganjil memang tak begitu lama hanya kurang lebih sebulan. Tapi, cukup untuk mengobati rindu berkumpul bersama keluarga.
Clarissa mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu kamarnya, bersiap untuk mandi. Rencananya jam 11 siang nanti ia akan diantar Rena ke terminal bus. Rena dan Feni akan berangkat keesokan harinya, setelah urusan Feni hari ini selesai.
Clarissa keluar dari kamarnya dan berpapasan dengan Feni yang baru selesai masak sarapan untuk mereka.
"Rissa, ayok sarapan bareng." ajak Feni yang sudah duduk bersama Rena di depan televisi.
"Aku mandi dulu, Fen. Kalian sarapan saja duluan." Clarissa langsung menuju kamar mandi untuk mandi.
Clarissa baru selesai berpakaian dan hendak keluar dari kamar. Saat Hpnya bunyi tanda ada pesan masuk. Ia meraih Hpnya dari atas tempat tidur dan memeriksa pesan yang masuk.
*Mbak Rissa, pulang hari ini?* pesan dari Bella, adiknya. Clarissa menepuk jidatnya, baru ingat dengan pesanan Bella yang belum sempat ia beli.
'Bisa ngamuk ini anak kalau tahu aku lupa.' batin Clarissa dengan wajah panik. Ia melihat jam dinding masih jam 8 lewat 25 menit. Mall belum ada yang buka. Paling tidak ia harus ke mall jam 10 tapi jam 11 ia sudah harus di terminal. Ia tak ingin terlalu sore sampai rumahnya.
*Iya, Bel. Hari ini mbak pulang. Pesanan mu ya? hehe mbak lupa Bel.* Clarissa memilih jujur pada Bella daripada ia memaksakan diri mencari pesanan Bella dan ketinggalan bus.
Clarissa duduk di atas tempat tidurnya menunggu balasan dari Bella. Otaknya masih mencoba berpikir mencari ide agar pesanan Bella tetap bisa ia beli.
"Aduh! Riana udah pulang kemarin." keluhnya pada dirinya sendiri.
Sebenarnya ada satu nama yang terpikirkan olehnya. Tapi, segera ia tepis bahkan ia sampai menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menolak ide yang muncul di otaknya. Ia tak ingin meminta bantuan pada orang yang ia pikirkan saat ini.
Sibuk dengan pikirannya. Hpnya berbunyi lagi tanda pesan masuk. Clarissa segera membukanya, sudah siap jika mendapat makian dari Bella.
*Aman mbak. Aku sudah nitip sama orang lain kok. Aku tahu mbak pasti sibuk hehe* Clarissa mengernyit, tidak paham dengan isi pesan Bella.
Masih dengan kebingungannya. Tiba-tiba tanpa aba-aba pintu Clarissa di buka oleh Rena. Wajahnya terlihat kaget. Clarissa bahkan sampai terperanjat kaget, matanya sampai mengerjap berkali-kali melihat ekspresi wajah Rena saat ini.
"Kenapa mak?" Clarissa mendekati Rena yang masih berdiri di depan pintunya dengan posisi yang sama, memegang gagang pintu.
"Didepan, Sa... " Rena menggantung kalimatnya membuat Clarissa menatapnya penuh tanda tanya "Ada Mukti." sekarang wajah Rena berubah kesal.
"Ha!" Clarissa mengambil jilbab instan yang bergantung di gantungan jilbabnya, dengan cepat memakainya dan berlari keluar.
Rena menyingkir, memberi jalan pada Clarissa untuk lewat. Feni bahkan sampai menggerakkan kepalanya mengikuti arah lari Clarissa dari kamarnya sampai ke ruang tamu. Lalu memandang Rena dengan tatapan penasaran. Sementara Rena menutup kembali pintu kamar Clarissa dan mengangkat bahunya.
Clarissa berhenti di depan pintu sebelum membukanya, mengatur napasnya yang memburu akibat berlari dan panik. Setelah ia merasa tenang, ia memilih mengintip dahulu dari jendela memastikan yang di katakan Rena. Ternyata benar, Mukti sedang berdiri di luar mobilnya sedang sibuk dengan Hpnya.
'Mau apa dia?' tanya Clarissa pada dirinya sendiri, berharap mendapat jawaban tapi tentunya ia tak mendapatkan apa-apa.
Akhirnya Clarissa membuka pintu dan mengenakan sandalnya. Mukti masih dengan posisi yang sama tidak bergeming sedikit pun. Sedang sibuk dengan Hpnya. Mengetik pesan sepertinya. Clarissa melangkah dengan pelan bahkan nyaris tak bersuara. Begitu sampai di depan pagar, ia membuka kunci pagar saat itu barulah Mukti mengangkat kepalanya menatap lembut ke arah Clarissa bahkan senyum terlihat di bibirnya.
"Kamu pulang hari ini kan?" tanya Mukti terlihat ceria dan bersemangat, seolah tak ada masalah apapun antara ia dan Clarissa.
Pandangan Clarissa masih tampak sinis, tapi sepertinya tidak mempengaruhi Mukti sama sekali.
"Kenapa memangnya?" ucap Clarissa ketus.
"Sama aku saja. Pesanan Bella juga sudah aku beli kemarin." sekarang Mukti sudah tersenyum lebar, sementara Clarissa tampak terkejut.
"Kok kamu bisa belikan pesanan Bella?" tanya Clarissa penasaran "Eh, tunggu dulu. Sejak kapan kamu komunikasi sama Bella?" Clarissa sudah maju selangkah lebih dekat dengan Mukti.
Mukti terlihat menahan senyumnya sekarang. Ia senang melihat Clarissa mulai bicara banyak dengannya.
"Jangan bercanda!" Clarissa memukul lengan Mukti cukup keras sampai-sampai Mukti meringis namun ia malah tertawa.
"Dari awal kenal kamu." jawabnya masih memegang lengannya yang meninggalkan rasa sakit akibat di pukul Clarissa.
Clarissa mengernyit, masih tidak mengerti. Ia masih penasaran darimana Mukti dapat nomor telepon Bella. Mukti dapat membaca pertanyaan yang muncul di otak Clarissa.
"Aku sempat pulang di awal-awal kita kuliah. Sebentar, hanya sehari semalam. Jadi, aku sempatkan berkunjung ke rumahmu. Ternyata orang tuamu masih ingat sama aku." kenang Mukti saat ia berkunjung ke rumah Clarissa beberapa bulan lalu "Saat itu aku minta nomornya Bella. Sering komunikasi juga. Bahkan beberapa kali aku pulang dan membelikan pesanannya." Clarissa tampak benar-benar terkejut bahkan mulutnya sudah sedikit terbuka.
Ia merasa tak enak pada Mukti dengan sikap adiknya yang suka seenaknya. Pantas saja Bella tidak pernah protes jika ia tidak pernah pulang selama kuliah selain beberapa minggu yang lalu.
"Jadi, kamu mau pulang jam berapa?" tanya Mukti lagi dengan senyum sumringah.
Clarissa menghela napas, ia tidak ingin merepotkan Mukti. Apalagi situasi mereka saat ini sangat canggung.
"Jangan menolak, Sa. Toh, aku juga mau ke rumahmu ngantar pesanan Bella. Lumayan, Sa. Menghemat uang. Gimana?" Mukti sudah membungkukkan tubuhnya mensejajarkan wajahnya dengan Clarissa membuat Clarissa mundur beberapa langkah.
Clarissa sadar jantungnya berdetak lebih kencang saat ini. Ia bahkan menelan ludahnya dan memalingkan pandangannya. Ia tak berani menatap mata Mukti.
"Gimana?" tanya Mukti makin mendesaknya untuk menjawab.
Clarissa hanya menganggukkan kepalanya. Membuat Mukti bersorak di dalam hatinya. Usahanya tidak sia-sia kali ini.
"Aku siap-siap dulu. Seharusnya aku berangkat jam 11. Tapi, karena kamu sudah disini aku akan siap-siap sekarang." Clarissa beranjak ingin kembali kedalam rumah, ia bahkan tak memandang Mukti sama sekali.
"Santai saja, Sa. Aku bakal nunggu di sini." Mukti agak berteriak saat Clarissa berjalan masuk ke pekarangan rumah Rena.
Clarissa agak berlari kembali ke kamarnya. Rena dan Feni saling berpandangan saat melihat Clarissa tampak terburu-buru. Rena bangun dari duduknya dan menuju kamar Clarissa yang pintunya di biarkan terbuka.
"Kenapa, Sa?" tanya Rena yang sudah duduk di atas tempat tidur Clarissa.
"Aku pulang bareng Mukti, mak." jawab Clarissa sibuk memakai sun screen di wajahnya.
"Sudah baikan?" Rena bertanya sedikit ketus. Clarissa menangkap ketidaksukaan Rena. Ia menatap Rena sedikit takut. Benar saja wajah Rena terlihat tidak suka.
Clarissa mengangguk menjawab pertanyaan Rena. Padahal ia tidak merasa sudah baikan dengan Mukti. Tapi, daripada ia dicerca dengan omelan dari Rena. Ia memilih mengiyakan. Sekarang wajah Rena sudah tampak datar. Hanya helaan napas panjang yang terdengar dari Rena.
Rena memang tidak menyukai Mukti, tapi baginya itu hanya pendapat pribadinya. Jika memang Clarissa pada akhirnya memilih berhubungan baik dengan Mukti, apapun itu hubungannya. Rena hanya memilih mendukungnya tapi tetap ia akan melindungi Clarissa jika pria playboy macam Mukti itu sampai menyakiti Clarissa.
Clarissa sudah siap dengan tas ransel yang dipegangnya. Setelah memastikan semua yang ingin di bawanya pulang sudah ia kemas, Clarissa keluar dari kamarnya. Feni sudah berpamitan tadi untuk pergi ke kampus, Rena sudah siap dengan jilbabnya bahkan ditangannya ada kotak bekal.
"Ini bawalah. Kamu belum sempat sarapan. Aku siapkan roti bakar saja. Biar gampang kamu makan di perjalanan." Rena menyerahkan kotak bekal pada Clarissa.
Clarissa memperlihatkan wajah terharunya dan memeluk Rena erat. Rena mengantarkan Clarissa ke depan. Mukti sudah menunggu diluar mobilnya. Setelah berpamitan dengan Rena, Clarissa berjalan menghampiri Mukti. Mukti meraih tas ransel yang di bawa Clarissa dan meletakkan di bangku bagian belakang. Clarissa sekali lagi melihat Rena yang masih berdiri di teras rumahnya, ia melambai pada Rena yang di balas senyuman ramah oleh Rena.
Clarissa sudah di dalam mobil dengan seat belt yang sudah terpasang. Mukti menyalakan mesin mobilnya.
"Oke! kita berangkat." ucap Mukti setelah mengenakan seat belt nya, Clarissa sekali lagi berpamitan pada Rena sebelum Mukti memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menembus jalanan kota yang mulai ramai.
Clarissa memasang earphone di telinganya untuk mendengarkan musik. Mukti yang melihat hal itu tidak keberatan. Ia tahu dengan perjalanan yang hampir tiga jam pasti cukup canggung bagi mereka yang masih belum sepenuhnya berbaikan.
Clarissa memalingkan wajahnya, menatap pemandangan di luar jendela mobil. Ia memilih untuk menikmati lagu dari Hpnya atau tidur. Ia tak tahu harus membahas apa dengan Mukti selama tiga jam ke depan. Maka pilihan terbaik adalah tidur atau berpura-pura menikmati pemandangan diluar sana meskipun tampak tidak sopan tapi ini lebih baik daripada menjadi canggung sepanjang perjalanan.