
Mobil yang di kendarai paman Clarissa yang membawanya ke kosannya, baru saja parkir dengan sempurna di dekat pintu pagar kosannya. Clarissa sudah sadar sepenuhnya dari tidurnya. Ia pikir ia tak akan bisa tidur nyenyak tapi ternyata ia justru tertidur di hampir dua jam lebih perjalanan.
Ia segera merogoh kantong tasnya mencari Hpnya dan segera menelpon bapak kosnya untuk memberitahukan kedatangannya. Ia tahu ini tampak tak sopan karena sekarang sudah lewat tengah malam. Tapi, karena sebelum berangkat ia sudah memberitahu bapak kosnya bahwa ia akan balik malam ini dan perkiraan jam ia tiba maka tak lama setelah di hubungi seorang pria paruh baya berjalan keluar dari rumahnya yang berada tepat di belakang bangunan kos.
"Maaf pak, karena mengganggu tidur bapak" Clarissa menghampiri bapak kosnya yang sedang membuka kunci pagar.
"Iya, tidak apa-apa. Saya memang menunggu karena sudah kamu beritahu" jawab bapak kos Clarissa sambil mendorong pintu pagar mempersilakan Clarissa dan bapaknya serta pamannya masuk.
"Maaf ya pak, saya ikut masuk biar bisa bantu anak saya beberes." ucap bapak Clarissa ramah meskipun ada sedikit perasaan marah dalam dirinya karena memperlakukan anaknya seperti ini. Tapi bapak Clarissa tak ingin mencari masalah dan ingin anaknya keluar dari kosan ini dengan tenang tanpa masalah.
"Oh, iya pak tidak apa-apa." bapak kos tersenyum ramah pada bapak dan paman Clarissa yang mengikuti Clarissa dari belakang menuju kamar kos Clarissa.
Sedikit gambaran tentang kos Clarissa. Ia tinggal di sebuah kamar yang bisa di bilang seperti bangsalan atau kontrakan dimana ada ruang tamu dan dapur di dalamnya. Ada sekitar 4 kamar yang serupa dan letaknya paling ujung. Sementara bagian depannya merupakan kamar kos biasa terdiri dari dua lantai saling berhadapan. Bukan tipe kosan yang berada dalam satu rumah dengan kamar-kamar tapi kosan yang begitu keluar pintu kamar langsung teras luar namun masih dalam satu kompleks dengan satu jalan keluar menuju parkiran kosan. (note: semoga kalian bisa bayangin ya. Aku terinspirasi dari kosanku saat masih kuliah hehee gampangnya mirip kayak rumah susun gitu kali ya 😂 bingung juga aku #author)
Saat Clarissa sampai didepan kamar kosannya ternyata sudah banyak tumpukan pasir di sana. Kamar-kamar yang lain pun sudah gelap dengan gorden jendela yang terbuka menandakan penghuninya sudah pindah. Clarissa menghela napas panjang. Ia membuka kamarnya lalu menyalakan lampu. Ia bisa melihat barang-barang milik Izria sudah tidak ada hanya tinggal miliknya. Ada rasa marah dan sedih di dalam hatinya saat ini. Tapi, ia tak ingin bersedih sekarang. Ia harus membereskan semua barangnya dan membawanya ke rumah Rena.
Bapak dan pamannya ikut membantu Clarissa untuk packing barang-barangnya yang belum sempat ia packing sebelumnya memasukkannya ke dalam kardus yang sudah mereka bawa dan juga tas.
"Rissa!" Rena sudah berdiri di depan kamar kos Clarissa bersama Feni, sepupunya.
"Mamak!!!" Clarissa menghambur ke pelukan Rena dan mulai menangis.
Melihat anaknya menangis membuat bapak Clarissa ikut sedih tapi ia memilih tak berkata apa-apa dan hanya meneruskan kegiatannya memasukkan barang-barang Clarissa ke dalam kardus.
"Ya, ampun tega benar sih orang ini!!!" Rena sangat geram tapi tangannya dengan lembut menepuk punggung Clarissa.
"Maaf ya, mak, Fen, kalian ku ganggu malam-malam gini" Clarissa melepaskan pelukannya pada Rena dan menghapus air matanya.
"Nggak apa-apa, Sa. Ayo, kami bantu bawa barang-barangnya ke mobil." Feni menepuk lembut lengan Clarissa dan mulai membantu membawa barang-barang Clarissa ke teras depan.
Dengan bantuan Rena dan Feni serta bapak dan pamannya semua barang Clarissa bisa di packing dan siap dibawa dalam waktu singkat. Beberapa barang di bawa dengan mobil pamannya dan sisanya di mobil Rena.
"Pak, ini kunci kamar saya. Mohon maaf ya pak kalau saya selama di sini merepotkan dan ada salah. Saya permisi pak" pamit Clarissa pada bapak kosnya yang dari tadi menunggu di teras depan.
"Iya, sama-sama. Maaf juga saya mendadak meminta kalian pindah." Clarissa hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setelah bapak Clarissa juga berpamitan dengan bapak kos, mereka sama-sama pergi ke rumah Rena.
Clarissa ikut di mobil Rena karena mobil pamannya sudah penuh dengan barang-barangnya. Mata Clarissa hanya memandang jalanan di luar jendela mobil. Helaan napasnya sudah berkali-kali lolos dari mulutnya.
"Sudah, Sa. Jangan di pikirkan dulu. Malam ini kamu istirahat aja dulu. Besok-besok baru kita urus masalah ini." Rena berusaha menahan emosinya, ia benar-benar tak habis pikir dengan Izria yang begitu tega pada Clarissa. Rasanya saat ini juga jika ia tahu di mana Izria tinggal ia akan melabrak wanita itu.
"Kamu nggak buat aku repot kok, Sa. Ini memang seharusnya yang di lakukan teman" Rena menekankan kata teman pada kalimatnya seolah ingin menyindir perlakuan Izria pada Clarissa.
Suasana kembali hening hingga sampai di rumah Rena. Rumah Rena memang tidak besar tapi lumayan luas dan nyaman karena memang sebelum Rena tinggal di sini. Kakaknya yang lebih dulu tinggal di sini sampai ia lulus dan Rena masuk kuliah. Karena Rena tidak berani tinggal sendirian ia mengajak sepupunya yang setahun di atasnya untuk pindah bersamanya daripada ngekos.
Barang-barang Clarissa sudah di letakkan di ruang tamu dan ruang tengah rumah Rena. Rena pun menghidangkan teh untuk bapak dan juga paman Clarissa.
"Terima kasih ya nak Rena. Anak saya sudah di bolehkan tinggal di sini." ucap bapak Clarissa lembut ia sangat bersyukur anaknya punya teman yang sangat baik di kota orang.
"Iya, om. Sama-sama. Saya senang Clarissa bisa tinggal di sini. Jadi, rumah saya rame. " Rena menjawab ramah dengan senyum lembutnya.
Setelah menghabiskan teh yang sudah di hidangkan Rena bapak dan paman Clarissa memutuskan untuk kembali.
"Apa nggak nunggu pagi aja, pak. Baru pulang. Paman pasti capek." Clarissa merasa tidak enak dengan bapak dan pamannya. Sekarang sudah jam tiga subuh. Bapak dan pamannya pasti lelah. Apalagi pamannya yang mengemudikan mobilnya
"Nggak apa-apa, Sa. Paman sudah biasa begini. Kemarin dan hari ini juga paman nggak ada penumpang ke luar kota kok. Jadi bisa istirahat nanti di rumah." ucap pamannya meyakinkan Clarissa
"Iya, Sa. Di perjalanan pulang juga paling bapak sama pamanmu bakal banyak berhenti buat istirahat, kan nggak buru-buru." bapak Clarissa menepuk lembut lengan anak gadisnya.
"Hati-hati pak, paman. Maaf karena Rissa sudah merepotkan dan makasih sudah bantu Rissa" bapak Clarissa memeluk anak gadisnya dan mengelus punggung anaknya berharap bisa memberikan ketenangan pada Clarissa.
"Sudah, sana istirahat. Rena, Feni, terima kasih ya. Om pamit pulang. Titip Clarissa ya" pamit bapak Clarissa pada Rena dan Feni yang berdiri di belakang Clarissa.
"Iya, om. Hati-hati. insya Allah Clarissa aman sama kami" Rena tersenyum meyakinkan membuat bapak Clarissa tenang.
Clarissa mengantarkan bapak dan pamannya sampai naik ke mobil dan bapaknya pun sekali lagi berpamitan serta menyuruh Clarissa masuk tapi ia memilih menunggu mobil pergi dan melaju hingga menghilang dari pandangannya. Rena merangkul tangan Clarissa dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Sudah jangan sedih." Rena melihat mata Clarissa berkaca-kaca.
"Iya, Sa. Jangan sedih. Ada kami disini" Feni menghampiri Clarissa dan Rena setelah mengunci pintu.
"Kamu tidur di kamarku dulu ya. Kamarmu kita bersihkan besok, oke! " Rena menarik Clarissa menuju kamarnya sedangkan Feni menuju kamarnya sendiri.
"Makasih ya, mak" ucap Clarissa lirih saat sudah duduk di tempat tidur.
"Sudah cukup terima kasihnya. Sekarang saatnya kita tidur. Bentar lagi sholat subuh." Rena sudah menarik selimut menutupi tubuhnya sebatas perut. Clarissa tersenyum melihat Rena yang sudah memejamkan matanya.
Clarissa merasa sangat bersyukur memiliki teman seperti Rena yang sangat peduli padanya. Padahal mereka baru saling kenal selama enam bulan tapi rasanya sudah kenal sangat lama. Clarissa membaringkan tubuhnya yang terasa sangat lelah lalu menarik selimut sampai dadanya. Matanya menatap langit-langit kamar Rena. Pikirannya sudah berlarian kemana-mana, ia mencoba mencari jawaban dari apa yang terjadi padanya. Mencari alasan yang paling logis kenapa Izria melakukan hal ini padanya. Alasan yang tidak akan merusak pertemanannya dengan Izria. Ia benar-benar berharap ada alasan yang tidak akan membuat ia dan Izria berakhir menjadi canggung.