
Clarissa sudah selesai menata meja makan dengan hidangan untuk panitia pernikahan Bella dan Rico. Rumah Clarissa sudah ramai oleh beberapa anggota keluarganya dan anggota keluarga Rico. Setelah dirasa semua sudah berkumpul rapat pun dimulai yang di buka oleh om Faiz selaku yang di tunjuk sebagai ketua panitia. Clarissa duduk di samping Bella tanpa banyak bicara. Seperti dua rapat sebelumnya, selalu ada konsep baru yang masuk dari keluarga besarnya hal yang membuat Clarissa bisa mendengar Bella menghela napas. Untungnya sebelum rapat panitia Bella dan Rico sudah mendiskusikan semuanya dengan keluarga inti. Sehingga ketika ada beberapa saran yang menyimpang dari rencana calon pengantin akan di sanggah oleh orang tuanya atau orang tua Rico.
Rapat berlangsung hampir dua jam itu pun kalu bukan karena ibuku menyuruh untuk menyantap hidangan yang sudah di sediakan mungkin suasananya akan makin memanas. Karena perdebatan justru muncul diluar dari keluarga inti. Bahkan sambil menikmati hidangan makanan pun mereka masih sesekali membahas hal-hal yang masih menjadi keinginan mereka untuk di wujudkan di pernikahan Bella dan Rico.
Clarissa membawa dua piring makanan ke kamarnya. Bella sudah duduk di lantai bersandar pada tempat tidur Clarissa. Mukanya jelas tidak senang.
"Dek. Ini makan dulu." Clarissa memberikan piring berisi makanan pada Bella.
"Mbak, kenapa sih tante Ita sama tante Laila itu? Yang mau nikah aku. Mama saja nggak repot maksain maunya ke aku, ini malah mereka yang maksa-maksa." ucap Bella kesal.
"Mbak Rissa, Bella di dalam?" terdengar suara Rico memanggil dari luar kamar Clarissa.
"Masuk, Rico." panggil Clarissa yang tak lama Rico masuk ke kamar Clarissa.
Setelah menutup pintu kamar Clarissa, Rico berjalan dan duduk di samping Bella. Rico tahu Bella sedang dalam mood yang buruk.
"Makan dulu, Bel. Kamu seharian ini makannya nggak bener loh. Cuma dikit-dikit. Nanti kamu sakit." ucap Rico lembut.
"Kamu sudah makan, Ko? Ini makan ini. Belum aku sentuh kok." Clarissa menyerahkan piring yang di pegangnya pada Rico.
"Nggak apa-apa, mbak. Mbak saja yang makan." ucap Rico sopan dengan senyum diwajahnya.
"Jangan sungkan gitu, Ko. Aku tahu kamu juga belum makan pasti seharian. Ini makan." perintah Clarissa ia tahu hari ini Bella dan Rico sangat sibuk jadi mereka pasti lupa untuk makan dengan benar.
"Tadi makan kok mbak." Tolak Rico yang membuat Clarissa mulai kesal.
"Makan apa? Makan pentol pinggir jalan." Bella dan Rico sama-sama terkejut dengan kata-kata Clarissa.
"Tuh kan bener!!!" Clarissa memaksa Rico menerima piring berisi makanan ke tangannya "Makan ya kalian berdua. Nggak lucu kalau calon pengantinnya dua-duanya sakit." Clarissa berdiri dari duduknya dan keluar kamar. Ia tersenyum kecil, lucu melihat ekspresi Bella dan Rico yang terkejut.
Clarissa menemui mamanya yang sibuk di dapur bersama calon besannya dan tante Maya. Ia meminta mamanya beristirahat dan menggantikan mamanya untuk mencuci piring kotor.
"Aduuh.. Kalau saya ada anak laki-laki lagi saya jodohnya sama Clarissa loh, Bu." ucap ibunya Rico.
Clarissa hanya tersenyum tipis begitu juga dengan mamanya hanya menanggapinya dengan tertawa.
"Nak Rissa, jangan tersinggung ya. Ibu jujur kok ngomong begitu. Insya Allah, nanti kalau sudah tepat waktunya bakal datang kok jodohnya." ucap ibunya Rico lagi tak ingin perkataannya barusan menyinggung perasaan Clarissa.
"Nggak apa-apa, tante. Aamiin. Terimakasih doanya tante." ucap Clarissa jujur. Ia memang tak merasa tersinggung karena ia pernah mendapati ucapan yang lebih menyinggung daripada itu.
"Jangan panggil tante, Ris. Panggil ibu saja ya?" pinta ibunya Rico lembut.
"Hehehe.. kan calon mantu tante Bella." ucap Clarissa sopan.
"Looh.. kamu ya anak ibu kalo gitu." Clarissa terharu mendengar ucapan dari ibunya Rico.
"Aduh jadi senang saya, bu." mendengar jawaban Clarissa membuat orang-orang yang ada di dapur ikut tertawa.
Selesai dengan cucian piring, Clarissa mengantarkan kopi untuk bapaknya dan juga ayahnya Rico. Sementara beberapa anggota keluarganya yang lain sudah pulang satu per satu. Saat memasuki ruang tengah Clarissa sempat berhenti sejenak karena mendengar suara seseorang yang tidak asing di telinganya. Clarissa melanjutkan langkahnya perlahan hingga sampai di ruang tamu ternyata benar saja ada Mukti yang sedang ikut ngobrol dengan bapaknya dan ayahnya Rico.
"Nak Mukti, mau kopi juga?" tanya bapaknya pada Mukti yang tersenyum ramah.
"Nggak usah, pak. Nanti saya nggak bisa tidur semalaman." jawabnya sopan.
Clarissa membawa kembali nampan ke dapur, ia tak ingin terlalu lama di ruang tamu. Ia merasa tak nyaman dengan tatapan Mukti padanya. Melihat mamanya dan ibunya Rico masih bercerita di ruang tengah Clarissa memutuskan untuk menikmati puding yang tak sempat ia cicipi tadi.
"Rico sama Bella kemana?" tanya Mukti yang tiba-tiba duduk di hadapan Clarissa.
"Ada di kamarku." jawab Clarissa seadanya.
"Berdua saja?" pekik Mukti.
Clarissa menatap Mukti tajam "Pikiranmu yang aneh-aneh." Mukti nyengir dan mengambil puding lalu meletakkannya di piring kecil.
"Tuh, pintunya terbuka sedikit. Aku bisa lihat mereka dari sini." ucap Clarissa sambil menunjuk pintu kamarnya.
"Iya, aku tahu. Rico juga anak baik-baik apalagi orang tuanya ada di sini." Mukti terlihat sangat menikmati puding yang ia makan.
"Mukti, lain kali meskipun Bella minta kamu jemput aku, kamu nggak perlu melakukannya." ucap Clarissa terdengar serius. Mukti mengangguk paham.
"Bener ya?" Clarissa meyakinkan arti anggukan Mukti.
"Iya, kalau Bella yang minta. Tapi kalau orang tuamu atau aku sendiri yang mau. Aku bakal tetap jemput kamu." Mukti tersenyum misterius membuat Clarissa jengah.
Rico akhirnya keluar dari kamar Clarissa dengan membawa dua piring yang sudah kosong. Ia menyapa Mukti saat melihat Mukti tengah duduk di meja makan menikmati puding yang entah sudah potongan yang keberapa.
"Kapan nyampe? kok nggak ngabarin aku?" tanya Rico setelah meletakkan piring kotor di dapur.
"Aku datang pas sudah mulai makan-makan." ucap Mukti yang membuat Rico tertawa.
Clarissa menatap Rico dan Mukti bergantian. Merasa kagum, dua orang anak manusia yang punya penampilan visual di atas rata-rata. Rico lebih muda setahun dari Clarissa dan Mukti. Clarissa mengenal Rico karena ia adalah sahabat Mukti sejak kecil. Jadi secara tidak langsung hubungan Bella dan Rico bisa terwujud berkat Mukti.
"Kalian berdua bisa nyanyi kan?" tanya Clarissa tiba-tiba membuat kedua pria di hadapannya menatapnya bingung.
"Bisa mba tapi standar. Mukti nih yang bagus suaranya." jawab Rico masih bingung dengan pertanyaan Clarissa.
"Nggak mau buat youtube ? siapa tahu terkenal." ucap Clarissa terdengar serius.
Melihat wajah Clarissa yang serius membuat Mukti tak bisa menahan tawanya. Clarissa mengernyit melihat Mukti yang tertawa.
"Nanti kalau aku terkenal kamu nggak rela lagi." ucap Mukti di tengah-tengah tawanya.
"Cih!!" Clarissa yang mulai kesal mendengar tawa Mukti memilih pergi ke kamarnya menemui Bella yang sudah terbaring di atas tempat tidurnya.
"Mau tidur disini malam ini?" tanya Clarissa pada Bella yang di jawab anggukan pelan oleh Bella.
Clarissa tersenyum tipis dan meminta Bella menghapus make up nya terlebih dahulu dan mengganti pakaiannya. Dengan malas Bella mengikuti perintah Clarissa. Clarissa menatap Bella yang sudah duduk di depan meja riasnya menghapus make up nya. Clarissa paham meskipun baginya apa yang terjadi saat rapat tadi sepele tapi bagi Bella ini untuk hal yang paling terpenting dalam hidupnya. Itu sebabnya ia lebih sensitif daripada biasanya.