
Begitu Rico berhenti tepat di depan cafe Daisy Bella dengan segera turun dan berlari menghampiri Clarissa yang sudah duduk di atas motornya ditemani Mukti disampingnya yang tampak khawatir.
"Mbak?" panggil Bella pelan.
Clarissa menatap Bella, lirih. Bella bisa melihat kesedihan dimata Clarissa yang sudah cukup lama tak ia lihat.
"Dek, kaki mbak lemes." ucap Clarissa lemah.
"Ya sudah. Mbak pulang bareng Rico saja ya. Biar aku yang bawa motor mbak." Clarissa mengangguk setuju. Bella lalu membantu Clarissa menuju mobil Rico. Saat turun dari mobil tadi Bella sengaja tidak menutup pintu mobil. Begitu Clarissa sudah duduk di kursi penumpang Bella meminta kunci motor Clarissa.
"Maaf ya, Bel. Mbak nyusahin kamu. Padahal kamu lagi jalan sama Rico." Bella tersenyum dan menggenggam tangan Clarissa lembut.
"Nggak apa-apa, mbak. Rico, kamu duluan saja ya, antar mbak Rissa." ucap Bella pada Rico.
"Kita sama-sama saja, Bel. Nanti aku ngikutin kamu dari belakang." ucap Rico.
"Iya, Bel. Sama-sama saja. Kaki mbak cuma lemes saja." Clarissa tersenyum getir ke arah Bella.
Bella akhirnya setuju. Ia segera menuju motor Clarissa dan langsung menggunakan helm. Mukti yang masih berdiri di dekat motor Clarissa hanya menatap Bella yang sudah memundurkan motor Clarissa.
Bella menatap Mukti yang terlihat khawatir dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tukang parkir yang sedari tadi duduk tak jauh dari tempat parkir sudah berdiri di dekat mereka bersiap melaksanakan tugasnya.
"Pergi saja, Bel. Nanti biar mas yang bayar." ucap Mukti, Bella hanya mengangguk lalu mengendarai motornya keluar dari halaman cafe yang diikuti mobil Rico.
Mukti memberikan uang pada tukang parkir. Lalu segera menuju motornya yang terparkir sembarangan tadi. Ia langsung memacu motornya menuju rumah Clarissa.
Dalam perjalanan pulang Clarissa hanya menatap jalanan. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Rico menatap Clarissa, ia akhirnya memberanikan diri mengajak Clarissa berbicara.
"Mbak Rissa, aku memang nggak pernah ada di posisi mbak. Jadi, aku nggak tahu seberat apa beban mbak selama ini. Tapi, aku percaya mbak Rissa pasti bisa melewatinya dengan baik." ucap Rico sambil sesekali menatap Clarissa yang tidak bergeming.
"Maaf ya, Co. Aku jadi ganggu kamu sana Bella. Padahal kalian pasti lagi sibuk ngurusin persiapan pernikahan kalian." Clarissa masih menatap jalanan di depannya.
"Nggak apa-apa, mbak. Tadi sudah pas mau pulang juga kok." Rico berusaha agar ia tidak sampai keceplosan karena tadi ia dan Bella sudah sampai di gang rumah Clarissa dan Bella. Rico takut Clarissa akan merasa bersalah dan ia akan di marahi Bella.
Begitu sampai didepan rumah Clarissa, Bella yang sampai duluan langsung berlari menghampiri mobil Rico dan membuka pintu mobil. Clarissa sudah membuka seat belt yang dipakainya. Bella membantu Clarissa turun dari mobil.
"Makasih, Bel. Mbak bisa sendiri kok." ucap Clarissa saat Bella akan memapahnya masuk ke dalam rumah.
Bella dan Rico akhirnya mengikuti Clarissa dari belakang. Clarissa berjalan perlahan, kakinya masih terasa lemas. Memang rasanya terlalu berlebihan. Clarissa pun berpikir begitu, ia pikir ia sudah lebih baik. Ia pikir ia akan baik-baik saja saat bertemu dengan Dikta lagi. Sudah lebih setahun ia menghindar dari Dikta. Bahkan ia mencari-cari alasan agar tidak hadir di pernikahan Dikta.
Saat melewati ruang tengah dan menuju kamarnya. Orang tuanya yang sedang menonton televisi di ruang tengah merasa heran karena belum sampai setengah jam Clarissa izin keluar rumah. Saat melihat Bella dan Rico, mamanya langsung menghampiri Bella.
"Ada apa dengan mbak mu, Bel?" tanya mamanya bingung dan khawatir "Mbak mu nggak kecelakaankan?" bapaknya yang mendengar istrinya berkata seperti itu langsung ikut menghampiri Bella.
"Mbak mu kecelakaan?" tanya bapaknya khawatir.
"Nggak,ma, pak. Bella ke kamar mbak dulu ya." Bella tersenyum berusaha menenangkan kedua orang tuanya. Mamanya pun mengikuti ke kamar Clarissa.
Rico menatap bapak calon istrinya yang masih tampak khawatir menatap pintu kamar Clarissa yang sudah tertutup rapat.
"Tenang saja, pak. Mbak Rissa nggak kecelakaan. Cuma.." Rico menggantung kalimatnya, bapak Clarissa menatapnya menunggu lanjutan kalimat dari calon menantunya ini.
"Sepertinya mbak Rissa ketemu sama temannya itu, pak." ucap Rico hati-hati.
Mukti sudah berdiri di depan pintu ruang tengah. Ia menatap Rico penuh tanda tanya. Ia penasaran apa maksud ucapan Rico pada bapak Clarissa. Rico yang melihat Mukti menatapnya dengan penuh pertanyaan di matanya akhirnya mengajak Mukti keluar.
"Aku pasti berlebihan sekali ya hari ini?" ucap Clarissa pelan, matanya masih menatap dinding kamarnya.
Bella dan mamanya masih diam, mereka menatap Clarissa.
"Selama ini aku selalu berusaha menghindari pertemuan dengan dia." Clarissa mulai menerawang, semua ingatannya tentang Dikta seolah berputar di kepala seperti potongan-potongan adegan film.
"Kamu ketemu sama temanmu itu, Rissa?" tanya mamanya setelah paham apa yang terjadi. Clarissa mengangguk. Terdengar helaan napas panjang keluar dari mulut mamanya.
"Dia masih baik. Sangat. Tidak ada yang berbeda saat dia menyapa Rissa, ma. Senyumnya pun masih terasa sama saat Rissa melihat. Meskipun kali ini senyum itu meninggalkan rasa sakit buat Clarissa. Tapi.." Clarissa berhenti bicara, suaranya mulai bergetar, ia menangis "Tapi.. ternyata Rissa sangat merindukan senyumnya, ma." Clarissa menghambur di pelukan mamanya, menangis sejadi-jadinya.
Bella hanya menepuk-nepuk pundak Clarissa pelan, ia mulai meneteskan air matanya. Sudah lama ia tak mendengar Clarissa menangis sepilu ini. Bahkan mamanya pun terlihat mulai berkaca-kaca.
"Rissa sudah berusaha. Rissa pikir sudah bisa ikhlas. Tapi, Rissa masih belum ikhlas ma. Harusnya dia menghindari Clarissa, harusnya dia mengacuhkan Clarissa saja, ma." ucap Clarissa lirih dan bergetar, tangisnya makin kencang.
"Dari awal.. dari awal Clarissa suka sama Dikta. Kenapa Rissa selalu nangis, ma? Kenapa rasanya menyukai orang ini sangat menyakitkan. Sampai akhir. Rasanya sangat menyakitkan." ingatan Clarissa kembali ke hari saat ia pertama kali melihat Dikta dengan pandangan yang berbeda bukan sebagai seorang teman tapi seorang pria.
_ Flashback _
Bulan puasa tahun 2017, saat itu sekitar seminggu sebelum bulan puasa berakhir. Teman-teman sekelas Clarissa saat SMA seperti biasa mengadakan acara buka puasa. Hari yang biasa saja sebenarnya, sama seperti hari-hari sebelumnya bagi Clarissa. Sore hari sekitar jam 4 sore ia menemani mamanya belanja takjil sebelum pergi ke acara buka puasa bersama. Seperti yang sudah di katakan di grup mereka janjian jam 5 sore di salah satu rumah makan gudeg yang cukup besar dan terkenal di kotanya.
Sekitar jam 5 lebih sedikit Clarissa berangkat dari rumahnya karena rumah makan tersebut tidak terlalu jauh hanya sekitar lima menit dari rumah Clarissa jadi Clarissa sengaja berangkat sedikit lebih lambat. Ditambah seperti biasa kebiasaan orang Indonesia, ngaret.
Begitu sampai di rumah makan dan memarkirkan motornya bersamaan dengan kedatangan Gina dan Rahma. Mereka bertiga langsung menuju meja yang sudah dipesan oleh Dila. Di meja tersebut sudah ada Dila dan Riana.
"Selalu kita duluan!" ucap Gina begitu duduk di kursi. Semuanya langsung mengangguk setuju. Bahkan Dila menjawab dengan sangat bersemangat.
Setelah menunggu hampir 30 menit hampir semua yang konfirmasi bisa datang sudah datang. Hanya tinggal Dikta dan Gian yang belum hadir.
"Mana nih Dikta sama Gian? Sumpah ya itu dua orang nggak pernah berubah urusan ngaret." ucap Dila sudah marah-marah, Riana yang duduk di samping Dila hanya bisa tertawa sambil menenangkan.
Tidak lama terlihat Gian yang datang dengan wajah tanpa dosa. Ia langsung duduk di kursi yang masih kosong. Masih dengan senyum polosnya ia melihat bingung dengan tatapan tajam Dila.
"Kenapa kamu, Dil?" tanya Gian cengengesan, Anton yang ada di sampingnya langsung memukul bahu Gian.
"Kamu itu, datangnya telat." bukannya merasa bersalah Gian malah tambah cengengesan.
"Sudah mau buka puasa loh ini, Gian." ucap Dila kesal "Ini mana lagi si Dikta?!" lanjut Dila masih kesal.
Pelayan datang ke meja mereka dan bertanya apakah makanan beratnya mau di antar sekarang atau nanti saja setelah sholat maghrib.
"Habis sholat maghrib aja ya mas." Jawab Rahma lalu pelayan itu pamit dan kembali menuju dapur.
Sekitar lima menit sebelum adzan magrib Dikta datang. Dila yang melihat Dikta berjalan dengan santainya langsung menunjuk Dikta dan menyuruhnya berjalan lebih dekat. Dikta yang melihat hal tersebut langsung berlari kecil sambil tersenyum.
Clarissa yang melihat Dikta datang dengan kemeja putih andalannya dan celana jeans hitam tanpa sadar tersenyum mengagumi. Saat Dikta sudah duduk di kursi tepat di depan Dila yang mana itu berada di seberang Clarissa sebelah kiri. Saat itu Clarissa menyadari ada yang tidak beres. Jantungnya berdebar tidak seperti biasanya ia melihat Dikta.
'Apa ini? ' pikir Clarissa saat perutnya mulai terasa geli, seperti ada banyak kupu-kupu yang berterbangan didalamnya.
Tapi dengan cepat Clarissa menepis pikirannya dan kembali ikut dalam obrolan dengan teman-temannya sampai akhirnya adzan maghrib berkumandang dan saatnya buka puasa.
_ Flashback selesai _
Masih di pelukan mamanya Clarissa terus menangis. Dari luar bapaknya bisa mendengar samar tangisan anak gadisnya. Bapaknya hanya. bisa menghela napas, perih di hatinya kembali lagi. Ia ingat saat pertama kali Clarissa menghampirinya dan menangis di pelukannya karena seorang pria. Tepat di hari pria tersebut mengucapkan ijab kabul untuk mempersunting wanita pilihannya. Bapaknya saat itu tahu Clarissa yang tidak pernah menangis di hadapannya hanya karena seorang pria dan hari itu Clarissa menangis di pelukannya membuatnya juga merasa sakit di hatinya.