YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Arisan Keluarga (2)



Seketika semua yang ada di ruang tengah terdiam hanya terdengar suara anak-anak kecil yang asyik bermain, mereka tak peduli dengan apa yang terjadi. Rika memandang sekelilingnya ia baru menyadari semua mata menatapnya. Rika langsung menggigit bibir bawahnya saat bertatapan dengan ibunya, tante Murni. Tante Murni terlihat menatap Rika kecewa dan marah.


Bella sudah ingin melangkah mendatangi Rika, wajahnya sudah menahan marah. Tapi, Clarissa menahan lengan Bella. Bella mengalihkan pandangannya kearah Clarissa yang menggeleng padanya. Rico, Faris dan Nandar yang baru dari ruang tamu dan hendak mengambil makan menghentikan langkah mereka saat menyadari ada suasana yang berbeda dari sebelumnya di ruang tengah. Tidak seperti sebelumya ramai oleh suara berbincang. Tapi, kali ini hanya suara beberapa anak kecil yang asyik bermain dan berinteraksi satu sama lain.


Rico memberanikan diri mendekati Bella yang terlihat tengah membuang mukanya dari Clarissa. Clarissa yang melihat Rico menghampirinya dan Bella, segera menyuruh Rico membawa Bella ke ruang tamu atau ke kamar Bella.


"Mbak!!" Bella terlihat tidak setuju dengan permintaan Clarissa pada Rico.


"Sudah, dek. Kamu ikut Rico dulu." Clarissa mengangguk pada Rico yang langsung paham untuk membawa Bella ke kamarnya sesuai permintaan Bella.


Sementara Faris dan Nandar saling pandang karena tak mengerti apa yang terjadi. Faris bahkan menatap tante Laila, ibunya, mencari tahu apa yang terjadi tapi tante Laila hanya menggeleng dan menyuruh mereka untuk kembali ke ruang tamu dulu.


"Aduh, kayaknya kita harus ambilkan makanan untuk suami kita." tante Ita akhirnya buka suara, berusaha mencairkan suasana.


Tante Ita langsung berdiri yang di ikuti tante Laila menuju meja makan. Tante Murni melangkah mendekati Clarissa yang masih berdiri di tempat yang sama memandangi Rika tajam. Tante Murni memegang bahu Clarissa membuat Clarissa menoleh ke arah tantenya ini. Terlihat tatapan bersalah di mata tante Murni.


"Rissa, maafkan Rika ya." ucap tante Murni pelan dan lirih.


Clarissa dengan berat berusaha tersenyum. Ia tidak ingin melampiaskan kemarahannya pada orang lain. Clarissa menepuk punggung tangan tante Murni yang masih berada di bahunya dan mengangguk.


"Sekali lagi maaf ya, Rissa." tante Murni mengatakan dengan tulus.


"Iya, tante." jawab Clarissa pelan.


Clarissa akhirnya beranjak menuju kamar Bella. Ia tahu yang saat ini perlu ditenangkan bukanlah dia tapi Bella. Bella sangat menyayangi Clarissa, meskipun ia terlihat lemah dan rapuh Bella slalu jadi orang pertama yang pasang badan untuk Clarissa jika ada yang menyakiti Clarissa. Kalau kata Bella, orang-orang bisa melihat betapa lemah dan rapuhnya dia karena kondisi fisiknya tapi orang-orang tidak pernah bisa melihat betapa lemah dan rapuh kondisi mental dan hati Clarissa. Karena Bella bisa melihat itu maka ia yang harus berdiri untuk Clarissa.


Clarissa mengetuk pintu kamar Bella lalu membukanya perlahan. Terlihat Bella sedang duduk di atas tempat tidurnya. Wajahnya masih terlihat sama kesalnya seperti tadi. Rico sedang duduk di kursi rias Bella. Saat Bella sedang dalam kondisi seperti ini hanya Clarissa atau mamanya yang bisa menenangkan.


"Dek!" panggil Clarissa lembut, Rico sudah berdiri lalu pergi meninggalkan Clarissa dan Bella berdua.


"Mbak tahu kamu marah." lanjut Clarissa, Bella masih diam seribu bahasa "Mbak nggak mau kita punya masalah sama keluarga. Mbak juga marah. Tapi, kita harus pikirkan bapak sama ibu. Bentar lagi juga acara mu. Kita harus lebih hati-hati, dek." Clarissa duduk di samping Bella yang sudah menunduk.


Tak lama terdengar isak tangis dari Bella. Clarissa langsung memeluk Bella. Menepuk pelan bahunya untuk menenangkan Bella. Menunggu sampai Bella mau berbicara.


"Aku benar-benar kesal, mbak. Mereka yang suka seenaknya berbicara tanpa tahu bagaimana perjuangan mbak melewati semuanya." ucap Bella di tengah tangisnya. Clarissa mempererat pelukannya. Ia paham dengan kekhawatiran Bella.


Cukup lama mereka terdiam. Clarissa memberi kesempatan pada Bella untuk menenangkan diri. Saat tangis Bella sudah berhenti, Clarissa mengajak Bella kembali ke ruang tengah. Bella hanya mengangguk samar. Clarissa berjalan lebih dulu dan Bella mengekor dibelakang Clarissa. Suasana diruang tengah sudah kembali normal tapi Clarissa tak melihat Rika sama sekali.


Mamanya menghampiri Clarissa dan Bella lalu menepuk lembut bahu kedua anak gadisnya bergantian. Clarissa hanya mengangguk sedangkan Bella masih diam. Rico menghampiri Bella dan mengajaknya makan bersama. Awalnya Bella menolak tapi setelah mamanya menyuruhnya maka Bella akhirnya mengikuti Rico yang sudah mengambilkan Bella makan.


"Mbak Rika mana, ma?" tanya Clarissa sedikit berbisik pada mamanya.


"Dikamar mama sama tante Murni." Clarissa menatap pintu kamar orang tuanya yang tertutup rapat.


"Sudah, sana kamu makan." ucap mamanya lembut.


"Iya, ma." Clarissa melangkah ke meja makan, sejujurnya selera makannya sudah hilang tapi ia tak ingin membuat mamanya khawatir.


Clarissa memilih duduk di dekat Lusi yang sedang menikmati kue. Lusi tersenyum menyambut Clarissa yang duduk disampingnya.


"Mbak Rissa, sabar ya." ucap Lusi tiba-tiba membuat Clarissa mengernyit. Seingatnya Lusi tadi diruang tamu bersama ayahnya dan kakaknya.


"Itu ucapannya mbak Rika. Tadi kedengaran sampai ruang tamu mbak." kata Lusi polos.


"Ah? yang bener?" Clarissa benar-benar terkejut karena saat Rico, Faris dan Nandar tadi masuk ke ruang tengah mereka tampak tak mengerti apa-apa "Tapi tadi mas Faris, Nandar sama Rico masuk kesini kok kayak orang **** gitu?" lanjut Clarissa.


"Mereka tadi diluar mbak. Di teras." Jelas Lusi, Clarissa takjub meskipun Lusi baru 11 tahun entah kenapa ia terlihat sangat dewasa atau memang anak-anak jaman sekarang yang tumbuh dewasanya kecepatan.


"Jadi tadi bapakku dengar dong, Si?" Clarissa mulai panik, Lusi mengangguk.


"Makanya om Ahmad tadi sempat diam gitu, mbak. Tapi, ayah aku langsung ngajak ngobrol soal mobil." Clarissa kembali takjub mendengar penjelasan Lusi yang sepertinya sangat paham situasi.


Clarissa memilih tidak melanjutkan pembicaraannya dengan Lusi dan memakan makanan di piringnya yang semakin tidak bisa ia nikmati.


Tidak seperti biasanya setelah sholat dzuhur semua anggota keluarganya memilih pamit pulang. Sepertinya mereka mengerti situasinya sudah tidak nyaman. Rika bahkan langsung pulang setelah berbicara dengan tante Murni. Tidak ada ucapan permintaan maaf dari Rika pada Clarissa. Melihat Clarissa saja tidak. Rika hanya pamit ke mamanya dan tante-tantenya yang lain. Bahkan ia tidak peduli saat anaknya menangis masih ingin bermain dengan anak-anak yang lain dan tetap menggendong anaknya yang menangis untuk dibawa pulang.


Sebelum pulang tante Murni dan om Faiz meminta maaf untuk perkataan anaknya. Clarissa tidak ingin membuat om dan tantenya yang merasa bersalah atas ulah anak mereka jadi Clarissa hanya bisa tersenyum dan terus mengatakan ia tidak apa-apa meskipun berbeda dengan Bella yang masih terlihat kesal.


"Bella, sudah ya kesalnya." ucap Clarissa lembut "Mbak saja sudah tidak kesal." lanjut Clarissa saat melihat wajah Bella yang tidak tersenyum sama sekali.


"Mbak bukannya tidak kesal tapi mbak pendam." Bella menjawab sedikit sinis, ia tidak marah dengan Clarissa hanya saja melihat sikap Clarissa yang sok kuat membuat Bella sedikit kesal.


"Sudah, sudah, nggak enak sama nak Rico kalau kamu cemberut terus." ucap mamanya mencoba menenangkan Bella. Rico hanya tersenyum melihat tingkah Bella, ini salah satu sifat Bella yang menarik untuk Rico. Kasih sayang dan kepedulian Bella terhadap Clarissa.


"Bawa jalan sana, Bro, calon istrimu." Clarissa langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu antara ruang tamu dan ruang tengah.


Mukti terlihat sudah berdiri dengan senyum khasnya di sana. Ia langsung menghampiri orang tua Clarissa untuk salim. Kemudian melangkah menuju meja makan dimana Clarissa sedang duduk bersama Bella dan Rico.


"Loh, kok baru datang? sudah bubar ini acaranya?" canda Rico yang disambut tawa oleh Mukti.


"Yang penting makanannya masih ada." balas Mukti membuat Rico tertawa dan menyuruh Mukti mengambil makan.


"Rissa." sapa Mukti pada Clarissa yang terlihat tersenyum canggung ke arahnya.


Rico berhasil mengajak Bella untuk keluar dulu, refreshing katanya. Mukti sudah duduk di meja makan tepat bersebrangan dengan tempat Clarissa duduk.


"Makan, Sa." ucap Mukti basa-basi.


"Iya, sudah tadi." jawab Clarissa terdengar canggung.


"Biasa saja, Sa. Masih nggak nyaman ada aku ya?" Mukti menatap Clarissa, menyelidik. Clarissa terlihat salah tingkah.


Mukti melihat ke arah tempat orang tua Clarissa duduk tadi. Sepertinya mereka sudah pergi entah ke kamar atau ke ruang tamu. Ia kembali menatap Clarissa.


"Clarissa, aku masih akan berjuang. Jadi, kamu harus mulai terbiasa lagi dengan kehadiranku." ucap Mukti serius membuat Clarissa makin salah tingkah.


"Sudah makan saja. Jangan bicara yang tidak-tidak." ucap Clarissa akhirnya, Mukti menunjukkan senyumnya dan melanjutkan makannya sepeti kata Clarissa.


Pikiran Clarissa sedang kacau saat ini. Ia tidak bisa menanggapi kata-kata Mukti dengan pikirannya yang seperti ini. Jadi, untuk sekarang Clarissa hanya ingin bersikap bodoh dan polos daripada ia harus salah mengambil sikap.