
Clarissa baru saja selesai membereskan kamarnya. Entah kenapa saat mengingat semakin dekatnya hari pernikahan Bella membuat pikiran dan mood Clarissa sedikit resah. Untuk menghilangkan aura yang sebagian negatif ia memilih membersihkan kamarnya secara keseluruhan sekaligus makeover kamarnya untuk mengganti suasana.
Sekarang ia duduk di depan tumpukan barang-barangnya yang sudah tidak terpakai ia berniat memilah-milih mana yang masih layak pakai sehingga bisa di berikan pada yang membutuhkan dan mana yang harus dibuang.
"Mbak, sibuk nih? " ucap Bella yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Clarissa.
"Ya Allah, Bella. Sampai kaget mbak!" Clarissa memegang dadanya akibat detak jantungnya yang lebih cepat karena Bella yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Ya maaf, mbak." Bella menahan senyumnya kini ia duduk di samping Clarissa "Mau dibantu, mbak?" tanya Bella saat melihat barang-barang yang menumpuk di hadapannya dan Clarissa.
"Boleh. Ini kamu masukkan ke kardus itu ya. Tolong tuliskan barang yang layak pakai." ucap Clarissa sambil menunjuk kardus besar yang tak jauh dari tempat mereka duduk.
Bella mengambil kardus yang di tunjuk Clarissa dan mengikuti instruksi dari Clarissa tadi. Sambil memasukan barang-barang ke dalam kardus sesekali Bella memeriksa barang-barang tersebut dan mengangguk atau mengangkat bahu seolah tahu sejarah di balik barang-barang tersebut.
"Mbak, ini mau mbak kasih orang juga?" tanya Bella menunjukkan kotak persegi panjang berwarna toska dengan pita kecil berwarna merah sebagai hiasannya.
Clarissa mengernyit mengingat kotak itu di dapatnya darimana dan siapa. Hingga matanya membulat dan mengambil kotak tersebut dari tangan Bella yang kebingungan.
Clarissa membuka kotak tersebut yang ternyata isinya adalah kalung dengan model simple namun terlihat elegan berbahan dasar emas putih dan bandul kecil berbentuk tetesan air dengan permata berwarna merah muda ditengahnya.
"Mbak, ini hadiah dari mas Mukti kan?" tanya Bella memastikan meskipun ia tak ingat kotaknya tapi ia ingat dengan kalung tersebut.
Clarissa mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Bella. Ini kalung yang di berikan Mukti padanya sebagai hadiah wisuda. Itupun Clarissa tidak tahu bahwa Mukti memberikannya hadiah kalung karena saat datang Mukti hanya membawakan bucket bunga yang cukup besar hingga membuat Clarissa tak bisa berkata-kata saat itu.
"Terus... mau mbak kasihkan ke orang?" tanya Bella hati-hati.
Clarissa hanya diam tidak menjawab pertanyaan Bella kali ini. Ia meletakkan kotak tersebut di atas meja di sampingnya dan kembali memilah-milih barang-barang yang masih menumpuk di hadapannya. Bella yang melihat Clarissa tidak merespon pertanyaannya juga memilih kembali mengerjakan tugasnya.
Sekitar 30 menit akhirnya dua kardus besar sudah terisi. Bella meregangkan tubuhnya akibat terlalu lama duduk sedangkan Clarissa meluruskan kedua kakinya karena sudah mulai mati rasa.
"Padahal yang mau nikah aku tapi malah mbak yang bersih-bersih kamar." Bella menatap kardus-kardus besar di hadapannya.
"Aku bakal rindu suasana kamar mbak yang dulu. Tapi, aku menyukai suasana kamar yang sekarang." Bella melempar pandangannya menatap setiap sudut kamar Clarissa.
"Nggak banyak berubah kok, Bel. Lagian kamu aneh. Harusnya kamu rindu suasana kamarmu bukan kamarnya mbak."
"Iya juga sih, mbak. Tapi, aku bakal rindu suasana rumah ini." ucap Bella sedikit merengek ia lalu memeluk lengan Clarissa erat membuat Clarissa menatap Bella bingung.
"Kamu kan nanti masih bisa main ke rumah ini. Rumahmu juga nggak jauh dari sini." Bella mengangguk menyetujui kata-kata Clarissa.
"Mbak, soal.." Bella menggantung kalimatnya, ia ragu untuk melanjutkan.
"Apa, Bel?" tanya Clarissa penasaran.
"Soal... itu kalung.. " Bella terdengar ragu.
"Ooohh.. mbak kirain apa. Mau mbak kembalikan." ucap Clarissa ringan membuat Bella melepaskan pelukannya pada lengan Clarissa.
"Kok dikembalikan?" tanya Bella kaget.
"Iya, sebenarnya dari awal mbak sudah mau balikin tapi selalu nggak jadi atau nggak sempat. Jadi, rencananya nanti saat dia main ke rumah atau mungkin pas hari nikahan mu mau mbak kembalikan." Bella menatap tak percaya dengan apa yang keluar dari mulut Clarissa.
"Mbak, kan bisa di simpan saja? Bukannya nggak sopan kalau hadiahnya mbak kembalikan ya?" Bella masih berusaha merubah keputusan Clarissa, bukan karena Bella membela Mukti tapi Bella tidak ingin Mukti berpendapat negatif tentang Clarissa.
"Mbak bisa simpan hadiahnya yang lain, Bel. Tapi, yang ini mbak nggak bisa." Clarissa terdengar lirih membuat Bella merasa bersalah "Ini punya mbaknya, Bel. Mbak dengar ini dibelikan mbaknya dengan gaji pertama mbaknya untuk diberikan ke orang yang spesial untuk Mukti. Sekarangkan mbak bukan siapa-siapanya Mukti lagi." lanjut Clarissa.
"Maaf, mbak. Kalau pertanyaanku bikin mbak sedih." ucap Bella terdengar tulus.
Clarissa menggeleng, ia mengerti maksud Bella tapi bagaimanapun ini adalah keputusan terbaik untuk dirinya dan juga Mukti.