
Warna jingga mulai menghiasi langit senja. Suara lantunan ayat-ayat al-qur'an mulai terdengar bersahut-sahutan menunggu waktu magrib tiba. Clarissa baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya di depan kipas angin yang ada di ruang tengah. Rena yang baru keluar dari kamar ikut duduk bersila di dekat Clarissa yang masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Rissa, sudah baikan?" tanya Rena pelan. Clarissa menghentikan aktivitasnya dan membalik badannya yang membelakangi Rena.
Rena terlihat sudah menyalakan televisi dan mengganti-ganti saluran televisi mencari yang menarik untuk di tonton.
"Aku sudah lebih baik, mak." Rissa melanjutkan aktivitas mengeringkan rambutnya tapi matanya ikut menatap layar televisi yang masih berganti-ganti channel.
Rena berhenti mengganti saluran televisi. Ia meletakkan remote tv di sampingnya. Menatap Clarissa yang sedang menatap layar televisi. Terlihat menikmati apapun yang ada di sana. Padahal Rena berhenti secara random saja. Tujuannya agar tidak sepi. Karena hanya mereka berdua yang di rumah. Sedangkan Feni masih belum pulang.
"Jangan bohong!" Rena seolah bisa melihat isi hati Clarissa yang sebenarnya.
Helaan napas lolos dari mulut Clarissa. Ia sudah meletakan handuk kecil yang digunakannya untuk mengeringkan rambutnya di atas pangkuannya. Dengan tangannya ia merapikan rambutnya yang berantakan.
"Aku masih nggak percaya, mak. Izria bisa melakukan hal yang jahat. Selama aku tinggal sama dia, dia itu baik banget, mak." suara Clarissa tampak tercekat berusaha menahan emosinya. Matanya bahkan mulai berkaca-kaca.
"Sa, maaf ya kalau aku ngomongnya terlalu kasar. Tapi, jujur dari awal aku melihat Izria. Aku nggak pernah suka sama anak itu. Gimana ya, Sa? bisa kerasa aja gitu kalau orangnya nggak baik. Tapi, aku nggak mau ikut campur urusanmu dengan Izria. Karena itu pendapat pribadiku aja. Makanya aku selama ini diam aja. Tapi, saat malam itu aku tahu gimana dia memperlakukan kamu. Aku malah makin yakin dia cewek nggak bener. Ya, bukan berarti aku sudah bener ya." Clarissa tampak tertunduk, masih menahan sedihnya yang mulai memuncak. Bukan hanya Rena yang berkata seperti ini padanya hampir semua temannya terutama yang mengetahui masa lalu antara Clarissa dan Izria. Semua orang sudah mengingatkannya. Tapi memang dasarnya Clarissa keras kepala jadi ia mengabaikan semua peringatan orang-orang.
Adzan magrib terdengar berkumandang. Rena berdiri lebih dulu dan menepuk bahu Clarissa. Memberi semangat pada temannya ini. Lalu mengajak Clarissa untuk sholat berjamaah. Clarissa hanya mengangguk dan bangun dari duduknya lalu menuju keran air yang ada di depan kamar mandi untuk wudhu.
Lama Clarissa duduk bersimpuh dan berdoa. Entah apa saja yang di sampaikannya pada Allah. Rena yang lebih dulu selesai pergi ke dapur menyiapkan makan malam.
Selesai berdoa yang cukup panjang. Clarissa masuk ke kamarnya untuk mengecek Hpnya yang masih tersambung dengan charger . Cukup lama ia membiarkan Hpnya yang sudah penuh dari tadi sepertinya. Bukan kebiasaan yang baik. Ternyata banyak pesan masuk. Ia buka dan baca satu-satu. Hingga sampai pada pesan dari Riana.
*Rissa, Mukti datang menemui ku. Ia bertanya tentang kamu dan Izria. Aku menceritakan apa yang aku tahu. Kuharap kamu tidak marah ya?* Clarissa tampak tidak terkejut dengan pesan dari Riana. Menurutnya wajar Mukti mencari tahu setelah ia melihat bagaimana hubungannya dengan Izria yang berubah drastis tadi siang.
*Nggak apa-apa, Na. Makasih sudah mengabari ku tentang ini :)* Clarissa mengirim pesan tersebut pada Riana. Ia kembali mengecek pesan-pesan yang masuk. Sebenarnya saat membuka kotak pesan ia sudah melihat nama Mukti. Tapi, ia memilih membukanya belakangan.
Setelah semua pesan sudah dibuka dan dibalasnya. Ia akhirnya beralih ke satu-satunya pesan yang masih ia tinggalkan. Cukup lama Clarissa menatap nama Mukti. Sedikit pesannya pun sudah terlihat. Hingga suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Rena sudah memanggilnya untuk makan malam bersama.
"Iya, mak. Aku keluar sebentar lagi." jawab Clarissa agak berteriak.
Ia kembali menatap layar Hpnya dan membuka pesan dari Mukti.
*Clarissa, ayo bertemu malam ini. Ada yang harus aku ceritakan. Aku tak ingin kamu salah paham.* Clarissa membaca pesan itu tanpa ekspresi. Ia tak berniat membalasnya. Lagipula Mukti juga tak tahu dimana ia tinggal sekarang. Jadi, ia memilih mengabaikannya. Kembali meletakkan Hpnya di atas meja belajarnya dan keluar dari kamar. Perutnya sudah meminta hak untuk di isi.
Tidak ada acara yang menarik di televisi membuat Clarissa dan Rena memilih menonton drama korea di laptop. Entah sudah berapa kali mereka tertawa lalu ikut menangis terhanyut dalam cerita hingga terdengar suara pintu terbuka. Feni baru saja pulang. Ia membawa kantong plastik di tangannya. Mencium aroma lezat dari kantong plastik yang di bawa Feni membuat Rena menoleh ke arah Feni yang sudah nyengir dan mengangkat kantong plastik yang di bawanya.
"Martabak telor buat kalian" Rena langsung berdiri dan berlari menghampiri Feni lalu mengambil kantong plastik berisi martabak telor dari tangan Feni. Clarissa pun tampak antusias.
Feni baru membuka pintu kamarnya tapi teringat sesuatu ia lalu kembali menatap Clarissa dan Rena yang dengan semangat sudah mengeluarkan kotak putih berisi martabak telor dari kantong plastik.
"Rissa, di depan ada cowok yang nunggu kamu" ucap Feni mencoba mengingat-ingat nama pria yang ditemuinya di luar tadi "Aahh.. namanya Mukti" lanjutnya sambil menepuk kedua tangannya saat berhasil mengingat nama pria tersebut.
"Darimana dia tahu alamat mu, mak? " Clarissa masih dengan posisi yang sama
"Aku juga nggak tahu, Sa" Clarissa segera tersadar dan meletakkan martabak telor yang sudah hampir di makannya ke dalam kotak.
"Maaf mak, biarkan saja ya. Nanti aku makan." Clarissa sudah ngacir ke kamarnya mencari sweater rajut dan jilbab untuk di pakainya. Sekitar 5 menit Clarissa sudah keluar dari kamarnya masih dengan berlari membuat Rena hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Clarissa dan melanjutkan menonton drama dan makan martabak telor dari Feni.
Clarissa sempat mematung di depan pintu rumah. Melihat seorang pria tengah duduk di atas motornya di luar pagar yang setengah terbuka. Ia menatap sisi lain jalanan. Dalam otak Clarissa masih muncul pertanyaan bagaimana Mukti tahu alamat rumah Rena. Hingga satu nama muncul di otaknya, Riana.
Ia masih berdiri di tempat yang sama saat Mukti sudah mengalihkan pandangannya ke arahnya. Pria itu tersenyum ceria dan melambaikan tangannya. Clarissa melangkah dengan lambat masih menganalisa apa yang mau di sampaikan Mukti.
"Hai!" sapa Mukti terdengar canggung
"Hai!" balas Clarissa sama canggungnya
Cukup lama kesunyian menyelimuti mereka. Hanya suara hewan malam dan beberapa kendaraan yang lewat terdengar mengisi kesunyian di antara mereka.
"Mau ngomong apa? " akhirnya Clarissa buka suara, ia merasa tidak nyaman terus-menerus diam saja.
"Begini, Sa. Aku nggak mau kamu salah paham dengan omongan Izria siang tadi." Mukti mencoba berbicara dengan sangat hati-hati tidak seperti dirinya yang biasanya.
"Apanya yang salah paham? " Clarissa mengernyit, mencoba meminta penjelasan yang lebih akurat.
"Soal kamu sama Indra." Wajah Clarissa tampak tidak suka dan Mukti bisa melihat itu dengan jelas "Begini, Sa. Aku beneran nggak tahu apa-apa. Aku akui, aku banyak dapat informasi dari Izria tapi aku sama sekali tidak pernah ikut campur." Clarissa masih menunjukkan wajah yang sama membuat Mukti mulai panik.
"Aku tahu, Sa. Aku salah. Aku dekatin kamu saat kamu masih sama Indra. Tapi, aku tidak pernah punya niat menghancurkan hubunganmu dengan Indra." Clarissa bisa menangkap wajah panik Mukti.
"Kalau kamu tidak ingin menghancurkan hubunganku dengan Indra. Kenapa kamu mengatakan hal tidak masuk akal saat itu? " terdengar helaan napas dari Mukti, ia terjebak.
"Sekarang kutanya padamu, bagian mana yang salah paham? " Clarissa terlihat menahan amarahnya.
"Aku minta maaf, Sa. Kalau perasaanku membebani dirimu. Tapi, aku benar-benar tidak tahu-menahu tentang masalahmu dengan Indra. Aku juga tidak pernah meminta bantuan Izria. Selain mencari informasi tentang kamu." Mukti terdengar putus asa.
"Sudah malam. Lebih baik kamu pulang." Clarissa menuju pagar yang masih terbuka setengah dan menutupnya. Mukti hanya menatap Clarissa nanar. Ia tak tahu lagi harus berkata apa.
Clarissa berjalan menuju pintu rumah. Berhenti sejenak di sana. Manarik napas panjang lalu menghembuskannya mencoba mengatur emosinya. Lalu masuk ke dalam rumah dan menguncinya.
Mukti yang sudah melihat Clarissa hilang di balik pintu rumah hanya bisa mendengus kasar. Marah dengan dirinya sendiri. Bahkan ia telah mengacak-acak rambutnya kasar. Sekali lagi ia menatap pintu rumah yang sudah tertutup. Mencoba mengatur strategi baru di otaknya. Ia masih tak mau menyerah. Meskipun kesempatannya sudah hilang saat ini, ia akan membuat kesempatan lain untuknya.
Setelah mengenakan helm, Mukti memacu motornya dengan kecepatan lumayan tinggi. Menembus jalanan kota yang masih ramai dan sibuk dengan aktivitas manusia.