When The Night Come

When The Night Come
Cemburu



Pagi yang indah, butiran putih menumpuk di mana-mana. Menambah kesan dingin pada keadaan di luar. Namun hal itu tak menyurutkan aktivitas semua orang. Nea yang ikut Ares, tapi tak tau kemana mereka akan pergi. Akhirnya bertanya.


“Kemana kita akan pergi, Allen?” tanya Nea penasaran.


“Ke tempat yang indah,” jawab Ares sambil tetap fokus ke jalanan.


“Hm ... Baiklah sayang.”


Nea yang tak sabar untuk segera sampai, akhirnya memilih untuk melihat pemandangan di kanan kiri jalan. Jalanan tampak ramai lalu lalang orang-orang, seutas senyuman nampak di wajah mereka. Di tangan mereka, terlihat kantong belanjaan dengan bermacam barang. Nea mengingat sesuatu.


“Allen?” panggilnya pada pemuda yang sedang fokus menyetir.


“Hm?” sahut Ares yang sedang fokus ke jalanan.


“Apa yang kalian bicarakan kemarin?” tanya Nea yang penasaran.


“Oh itu ...., Kemarin pemuda asing itu menyebutmu dengan “My Master”. Dia juga mengira bahwa aku menangkap Xita dan hendak menculiknya.” Allen menjelaskan semuanya pada Nea. Nea mendengarkan penjelasan Ares dengan seksama, walau beberapa fakta sudah ia ketahui dari mimpi semalam.


“Dia mengaku sebagai Fammiliar Xita. Dan mempunyai ikatan dengan Xita,” imbuhnya tanpa mengalihkan perhatian dari jalanan.


“Begitu ...” Nea menimpali penjelasan Ares.


“Dan setelah itu, aku mengajarinya tentang abad ini,” jelasnya lagi.


“Allen ku sudah bekerja keras dong,” puji Nea pada sang pemuda. Pipinya yang putih pucat terlihat merona. Mereka terdiam kembali.


“Allen ...” Suara lembut Nea memecahkan keheningan.


“Hm? Apa Xita?” jawabnya.


“Sekarang tanggal berapa?” Nea bertanya sambil menatap Ares. Ares yang merasa dipandangi oleh Nea, menghentikan mobilnya tepat saat lampu merah.


“24 Desember Sayang,” jawab Ares sambil balas memandangi wajah Nea. Nea merasa tak bosan memandang wajah pria yang dicintainya itu. Hingga ....


“Tiin! Tiin!” bunyi klakson mobil yang ada di belakang mereka mengagetkan Ares dan Nea. Ares dengan segera kembali melajukan mobilnya. Nea tertawa, sedangkan Ares hanya tersenyum.


“Dasar manusia, mengganggu saja,” ucap Ares mencoba untuk becanda.


“Akupun manusia,” sahut Nea yang menyandarkan tubuhnya ke kursi. Diliriknya Ares yang tetap fokus pada jalan raya.


“Xita adalah Xita dan dia milikku,” ucap Ares dengan serius tanpa mengalihkan pandangan dari jalan raya. Nea hanya tersenyum bahagia, karena merasa puas mendengar pernyataan Ares. Dan menjawab perkataan Ares ....


“Allen milikku, mawar hitamku yang tiada duanya. Tak ada yang bisa menggantikannya. Apapun yang terjadi, aku kan selalu mencintainya.”


Ares juga merasakan bahagia, setelah mendengar pernyataan Nea barusan. Dia lalu melajukan mobilnya ke tempat tujuan. Ares mengambil jalan yang dikelilingi pepohonan.


Seluruh pepohonan yang terlihat, berhiaskan salju di atasnya. Pemandangan indah dan nyaman, membuat Nea merasa sedikit mengantuk.


“Tidurlah Sayang ... Kalau sudah sampai, akan kubangunkan.” Nea yang mendengar ucapan Ares, semakin tak kuasa menahan kelopak matanya yang terasa berat. Akhirnya Nea dikalahkan oleh rasa kantuk. Ares tersenyum tipis, melihat kekasihnya tertidur.


Dari kejauhan, terlihat sebuah bangunan megah berhiaskan gunung bersalju yang menjadi latar belakangnya. Dengan segera Ares melajukan mobilnya ke tempat tersebut. Sesampainya di sana, Ares lalu membangunkan Nea. Ares membuka seatbelt yang melingkari badannya dan mulai mendekatkan diri ke Nea.


“Xita, bangun ..., Kita sudah sampai sayang.”


“Hum ...” Nea hanya membalikkan badannya dan menghadap ke arah Ares. Ares yang melihat hal tersebut mulai menyeringai dan mendekatkan wajahnya ke wajah Nea.


“Ada mangsa nikmat dihadapanku, apa yang harus kulakukan ya?” Ucap Ares dengan lirih yang membuat Nea langsung membuka matanya dan bangun. Terlihat Nea sedang cemberut menatap Ares.


“Ppfft ... Pagi Xita,” sapa Ares yang kemudian memberikan kecupan di kening Nea. Nea masih cemberut saat Ares mengajaknya turun dari mobil.


“Ayo turun sayang, kita sudah sampai.” Ares membukakan pintu mobil tempat Nea berada. Ares mengulurkan tangannya untuk Nea berpegangan. Nea turun, tanpa menerima uluran tangan Ares. Ares hanya bisa mendengus perlahan.


Nea membelalakkan matanya ketika melihat bangunan megah di hadapannya itu. Ia ingat betul, bahwa itu adalah Mansion Keluarga Vangelis. Bangunan yang masih tetap sama, seperti waktu Noxita berkunjung dulu. Membuat Nea tak bisa berkata apa-apa.


“Allen ...?” Nea menatap Ares yang sedang berada di belakangnya. Ares hanya tersenyum.


“Tempat yang indah kan, Xita?” ucap Ares pada Nea. Sang gadis hanya menganggukkan kepalanya sekali dan kembali memandang Mansion di hadapannya itu.


Bangunan megah yang dibangun 2 abad lalu. Masih kokoh tanpa ada perubahan. Kecuali wilayah sekitarnya, yang dulu merupakan wilayah makmur ramai penduduk. Sekarang hanya terlihat hamparan mawar hitam dan putih di sekelilingnya.


“Mari Xita.” Ares mengulurkan tangannya pada Nea, berniat untuk mengajaknya masuk ke dalam mansion. Digenggamnya tangan Ares, Nea pun mulai berjalan bergandengan tangan dengan Ares saat memasuki Mansion. Nea seketika lupa karena apa dia cemberut tadi, saat ia melihat bangunan penuh kenangan ini.


Wilayah tempat Mansion ini berada dikenal dengan tempat penghasil batu permata. Tak heran jika nama wilayah ini adalah Tanzanite. Karena penghasilan utama wilayahnya berasal dari pertambangan batu permata yang berada di beberapa pegunungan di wilayah tersebut.


Rasa nostalgia mendadak memenuhi ingatan Nea. Ia melihat lukisan yang terpasang di dinding. Nampak pasangan Duke dan Duchess Vangelis di sana. Nea yang merasakan perasaan rindu, seketika menitikkan air mata.


“Xita kenapa?” ucap Ares khawatir saat melihat kekasihnya meneteskan air mata. Seketika Ares langsung mengeluarkan sapu tangan dan mengusap air mata Nea.


“Aku tak apa sayang, aku cuma mengingat Ayah dan Ibumu. Seraya berterima kasih, karena telah menghadirkan dirimu ke dunia ini,” ucap Nea seraya menggenggam tangan Ares dan menempelkannya di pipinya.


“Akupun bersyukur, karena sudah menemukanmu kembali Xita.” Ares mencium kening Nea dengan lembut. Interaksi mereka terganggu saat terdengar suara batuk.


Mereka berdua menatap asal suara batuk tersebut. Terlihat Vartan yang lehernya sedang dicengkeram oleh Rios, hingga terbatuk-batuk. Ares menatapnya tajam, sedangkan Nea dengan segera menghampiri mereka. Ares makin kesal melihatnya.


“Rios! Apa yang kau lakukan? Lepaskan dia!” perintah Nea yang panik saat melihat Vartan semakin pucat. Tanpa banyak bicara, Rios segera melepas cengkraman tangannya dari leher Vartan.


Tangan Rios yang tadinya berubah menjadi tangan serigala, kini kembali menjadi tangan manusia. Dengan secepat kilat, Rios sudah berada di hadapan Nea. Nea tersentak kaget dan hampir terjatuh, namun Rios dengan sigap menangkap dan menarik tubuh Nea mendekat ke arahnya.


Ares semakin kesal saat melihat yang sedang terjadi di hadapannya itu. Namun ia tak memperlihatkan semua itu di wajahnya. Dia hanya diam dan menyaksikan. Vartan yang juga menyaksikan itu, hanya bisa melirik Ares sekilas dan diam membisu.


“Terima kasih Rios, sekarang lepaskan aku!” Nea memerintahkan Rios untuk melepaskan dirinya.


“My Master, akhirnya aku bisa bertemu kembali denganmu.” Rios dengan riang mengelilingi Nea. Bagaikan puppy yang bertemu majikannya lagi.


“Iya ... iya, Rios tenanglah!” perintah Nea dengan suara lembut pada Fammiliar-nya itu. Dengan patuh Rios berdiri tegap di hadapan Nea.


Ares yang sudah memberitahu Nea tentang jati diri Rios, merasa bahwa sekarang dirinya seperti tak berarti lagi. Nea yang terlihat sedang sibuk memperhatikan Rios, membuatnya merasa dianaktirikan. Aura gelap terasa memenuhi sekeliling tempat Ares berada. Vartan semakin tak berani menggerakkan dirinya. Ia mematung dalam tekanan yang berat ini.


“Um ... Kakak ipar?” Vartan memanggil Nea, Nea yang tadinya sibuk dengan Rios. Sekarang beralih memperhatikan Vartan.


“Allan? Kau, kah itu?” tanya Nea dengan tak percaya. Diperhatikannya Vartan dengan seksama. Vartan hanya mengangguk.


“Allan juga menjadi Vampire? Apa kabarnya Allan sekarang? ...” Tanya Nea secara bertubi-tubi. Vartan hanya bisa menelan ludahnya dan membatin “Mati aku.”


“Sudah waktunya makan malam, Xita pasti sudah sangat lapar. Mari kita makan malam dahulu,” Ares yang kesal, akhirnya membuka mulutnya dan mengajak Nea untuk makan malam. Nea hanya menjawab dengan anggukan.


Nea menghampiri Ares dan meraih tangan yang ia ulurkan. Bersama mereka menuju ke ruang makan, diikuti oleh Vartan dan Rios yang mengekor dibelakangnya. Sesampainya di ruang makan, Ares dengan sigap menarik salah satu kursi dan mempersilahkan Nea untuk duduk.


Segala macam hidangan telah tersaji di meja makan dengan uap yang masih mengepul, menandakan jika makanan ini baru matang. Nea yang takjub melihat banyak makanan yang tersedia, terkesiap saat Ares meletakkan sepiring daging steak yang sudah ia potong di hadapannya.


“Terima kasih banyak Allen,” ucap Nea dengan senyuman manisnya.


“Makanlah Xita,” ucap Ares dengan penuh perhatian.


Nea mulai memakan steak yang diberikan oleh Ares. Saat potongan daging yang juicy itu Nea makan, sebuah senyuman melengkung di bibirnya. Ia membuka matanya dan melihat Rios yang juga memakan beef steak menggunakan garpu dan pisau.


“Rios benar-benar belajar dalam semalam,” batin Nea yang kembali memakan steak-nya. Saat steak di piring telah habis, Nea menolehkan kepalanya ke Ares dan melihat sang pemuda yang sedari tadi menatapnya sambil tersenyum.


“Allen tidak makan?” tanya Nea dengan bingung. Ares hanya menggelengkan kepalanya perlahan.


“Melihatmu yang sedang makan saja sudah membuatku kenyang sayang,” ucap Ares yang kemudian membersihkan saos yang ada di tepi bibir Nea dengan jempolnya.


“Manis,” goda Ares yang melihat Nea tersipu malu saat dirinya menjilat saos tersebut.


Setelah Nea selesai makan malam, Ares mengajaknya untuk mengelilingi Mansion. Namun mereka tak hanya berdua, Rios mengekor kemanapun mereka pergi. Lebih tepatnya mengikuti Nea dan menjaganya. Dan sesekali menarik perhatian Nea dengan ulahnya.


Malam kian larut, Rios tak mau melepaskan diri dari Nea dan terus mengikutinya. Ares yang merasa semakin kesal, karena terganggu hanya diam membisu. Nea pun bingung.


“Allen kenapa? Apa ada yang sakit?” tanya Nea dengan khawatir. Ditatapnya manik biru saphire itu dengan cemas.


Melihat manik merah muda Nea yang penuh kecemasan, Ares hanya diam tak menjawab pertanyaan khawatir Nea.


“Ayo Xita, kuantarkan kamu pulang.” Ares berlalu dengan cepat. Nea yang melihat tingkah Ares semakin bingung.


“Rios harus tetap tinggal di sini ya!, Aku nggak mungkin membawa seorang laki-laki untuk tinggal di rumahku. Karena kehidupan sekarang berbeda dengan kehidupan kita lalu,” jelas Nea pada Fammiliar-nya. Rios melihat Nea dengan sedih, karena akan ditinggal pulang Nonanya. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya.


“Aku janji, akan berkunjung kesini lagi kapan-kapan. Jadi Rios tenang ya,” imbuh Nea yang membuat Rios gembira kembali. Setelah berpamitan dengan Vartan dan Rios, Nea segera mengejar langkah Ares yang sudah mendahuluinya.


Dengan sekuat tenaga Nea mengejar langkah Ares. Ares pun mengurangi kecepatan langkahnya, saat mengetahui Nea di belakangnya.


Dalam hening, mereka berjalan keluar Mansion.


Sesampainya di dekat mobil, Nea menarik tangan Ares. Seketika Ares menghentikan langkahnya dan menatap Nea. Manik biru itu tersentak saat melihat manik merah kekasihnya yang sembab.


“Allen kenapa?” tanya Nea mengulangi pertanyaannya tadi. Ares hanya menundukkan kepalanya dan menjawab.


“Aku kesal, karena Xita hanya memperhatikan mereka berdua. Tanpa menghiraukan ku sama sekali.”


Nea tertegun sejenak dan memperhatikan pemuda yang ada di hadapannya itu. Dia berpikir “mungkinkah Allen cemburu? Dan sekarang dia sedang merajuk.”


Ares tersentak saat Nea mendorong tubuhnya ke kap mobil hingga terduduk. Nea langsung menempatkan dirinya di atas pangkuan Ares.


“Pegangi aku!” perintah Nea yang membuat Ares dengan segera melingkarkan tangannya di pinggang Nea. Nea memegang kedua pipi Ares dan mendekatkan wajahnya. Ares yang masih bingung, akhirnya mendapat kecupan di keningnya.


“Noxita de Devile Rosaceae alias Nea Rozenweits hanya milik Briallen de Roosevelt Vangelis alias Ares Centifolia,” ucap Nea yang memberikan kecupan lagi di kening Ares.


“Walau aku memperhatikan yang lain, itu Cuma ungkapan kasih sayang. Karena cintaku hanya untukmu,” imbuhnya lagi yang kemudian mencium pipi Ares.


“Seperti janji kita di waktu malam natal 2 Abad lalu. Bahwa Allen dan Xita akan selalu bersama selamanya. Begitupun dengan Ares dan Nea.


”Saat Nea hendak mencium pipi Ares lagi, ia merasakan tangan kokoh yang merangkulnya itu memegang punggungnya dan menarik dirinya.


Ares dengan segera mencium bibir Nea dengan lembut. Nea yang sempat terkejut, akhirnya membalas ciuman lembut Ares. Mereka saling menautkan bibir dan menikmati manisnya ciuman itu.


Saat Ares melepas ciumannya, Nea kembali berucap ....


“Apapun yang terjadi, aku akan kembali padamu sayang. Karena kau adalah jiwaku.”


“Terima kasih Xita, maafkan aku karena sudah marah dan terbakar api cemburu.” Ares dengan posisi duduk, menundukkan kepalanya dan membenamkan wajahnya di pundak kanan Nea. Nea yang merasa bahagia karena melihat ekspresi cemburu Ares, hanya bisa memakluminya sambil tersenyum.


“Maafkan aku Allen, aku tak menyiapkan hadiah Natal untukmu.” Ucap Nea yang tiba-tiba teringat jika sekarang adalah malam natal. Ares seketika mendongakkan kepalanya dan menatap manik merah muda milik Nea.


“Kau adalah hadiah Natal terindah yang tak pernah bisa aku bayangkan, Xita. Menemukanmu kembali adalah keinginanku selama ini,” ucap Ares yang membuat manik merah muda Nea berkaca-kaca. Nea pun membenamkan wajahnya di dada Ares.


Ares memeluk Nea dengan erat, memastikan bahwa Nea aman ketika bersamanya. Mereka berdua menikmati suasana malam itu, di atas kap mobil. Hingga butiran-butiran putih turun dari langit. Nea yang mulai menggigil kedinginan, membuat Ares tersadar dan segera bangun sambil menggendong Nea ala Princess.


“Xita ... Jika kedinginan bilanglah sayang,” ucap Ares dengan lembut. Ares menekan tombol dan membuka pintu mobil. Lalu ia menurunkan Nea di kursi penumpang, namun Nea tak mau melepaskan pelukannya.


“Xita ...” Ares yang heran dengan tingkah kekasihnya itu, menggendongnya lagi dan bertanya. “Xita mau apa?”


“Sebentar ... 5 menit lagi!” ujar Nea dengan manja, Ia merasa bahagia telah bertemu kembali dengan orang yang dicintainya.


“Hm ... Baiklah Xita,” ucap Ares mengalah dan menuruti Nea. Ares berdiri tegak menggendong


Nea ala Princess, Butiran-butiran putih turun dengan anggun, membuat mereka terlihat bak


Pangeran dan Putri yang sedang berdansa di bawah lantunan salju. Bedanya sang Putri sedang digendong oleh Pangeran.


“Cinta memang bisa membuat orang jadi bodoh, ya.” Ucap Vartan yang sedang di dalam Mansion dan melihat Ares dan Nea yang diguyur salju. Rios hanya menatap tajam Vartan dan memberikan aura membunuh padanya.


...~ ☽ ☾ ~


...


Hai hai....


Kembali bersama saya dan juga Allen dan Xita tercinta ♥


Gimana menurut kalian Chapter kali ini? Allen yang kesal, karena cemburu. Xita yang manja ....


Berikan pendapat kalian di kolom komentar ya.


Intip rupa Allen, Xita, Allan, Rios dan yang lain hanya di IG @rirymocha1.


Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote kalian. (/OwO)/


Share juga ya. >w<


Sampai jumpa di Chapter selanjutnya. °^°/


...~VR. Stylo~


...