When The Night Come

When The Night Come
Malam Yang Tenang



Briallen menggandeng tangan Noxita dan mengajaknya ke tengah alun-alun. Noxita seketika takjub, saat melihat pohon natal raksasa di hadapannya itu. Pohon Cemara yang memang tumbuh di tengah alun-alun kota itu, dibiarkan berada di situ. Hingga ia besar. Pohon itu dihias dengan berbagai ornamen khas Natal, serta lampu yang berkelap-kelip.


Saat Noxita mengagumi keindahan pohon tersebut, Briallen ternyata sedang berbicara dengan salah satu prajurit yang berasal dari kediaman Vangelis.


“Sesuai dengan dugaan Anda, Tuan. Dan pelaku sudah kami tangkap serta kami tahan di penjara,” ucap sang ksatria.


“Baik. Kerja bagus. Terus selidiki dan bereskan masalah korupsi serta dugaan kekerasan di Panti itu!” perintah Briallen pada ksatria tersebut. Sang ksatria hanya mengangguk dan undur diri.


“Bagaimana menurutmu sayang?” tanya Briallen saat mendekat ke Noxita. Dia berdiri di samping kekasihnya dan ikut memandang bangga pada pohon di hadapan mereka.


“Sangat indah dan menakjubkan sayang. Pohon ini tingginya, setinggi rumah,” tak habis rasa takjub Noxita, melihat kemegahan pohon Cemara ini.


“Oh, iya! Aku sudah menyiapkan hadiah Natal untuk Allen,” ucap sang gadis sembari mengeluarkan sebuah hadiah yang terbungkus kertas berwarna putih dengan dibalut pita hitam yang elegan, dari dalam tas kecil yang dibawanya. Briallen tersenyum menerima hadiah tersebut.


“Terima kasih sayang,” ucap Briallen seraya membuka hadiah dari Noxita. Noxita menundukkan kepalanya saat Briallen mengambil isi hadiah tersebut.


Sebuah saputangan putih, yang telah disulam di salah satu ujungnya dengan Inisial nama Noxita. Serta simbol mawar merah, nampak menghiasinya.


“Maaf, Karena tak bisa memberikan hadiah yang lebih bagus lagi untukmu sayang,” Noxita menundukkan kepalanya dan menyembunyikan raut sedihnya dari Briallen. Malam Natal pertama yang ia lalui bersama seorang kekasih sekaligus cinta pertamanya. Membuat Noxita tak banyak mempunyai ide, hadiah apa yang harus diberikan kepada seorang laki-laki.


“Xita ... Hadirmu di hidupku adalah hadiah terindah sayang. Terima kasih karena telah mau menjadi kekasihku,” Briallen memegang dagu Noxita dan mendongakkan wajahnya perlahan supaya menatap matanya. Ucapan sang pemuda, membuat manik merah itu berkaca-kaca.


“Terima kasih juga. Karena telah menemukanku Allen, bersamamu aku merasakan kebahagiaan yang belum pernah kurasakan. Dan tanpamu hidupku serasa gelap,” balas Noxita saat menatap manik biru saphire indah milik Briallen.


“Xita, sampai kapanpun aku akan tetap bersamamu. Selamanya,” Briallen mengucapkan sebuah janji, Noxita semakin merasa jika dia adalah wanita paling bahagia di dunia.


“Bersamamu selamanya, takkan ada yang pernah bisa memisahkan kita sayang. Noxita de Devile Rosaceae milik Briallen de Roosevelt Vangelis,” balas Noxita setelah mendengar perkataan sang kekasih.


“Briallen de Roosevelt Vangelis milik Noxita de Devile Rosaceae selamanya,” balas sang pemuda atas ucapan gadis yang ada di hadapannya itu.


Mereka berdua saling mengikrarkan sumpah di hadapan pohon Natal. Kelip lampu hias menyaksikan dua insan itu berciuman, mereka yang larut dalam dunianya tak mengingat sekitarnya lagi. Butiran putih turun dengan anggun dari langit, saat mereka selesai berciuman. Noxita melihat salju yang turun dan mengajak Briallen untuk pulang.


“Allen ... Mari kita pulang ... Sudah larut pun,” suara lembut sang gadis memanggil sang pemuda, menariknya kembali kepada dunia nyata. Allen mengerjapkan matanya setelah terpesona dengan salju yang turun.


“Mari sayang,” ucap Briallen sembari mengulurkan tangannya pada Noxita. Sang gadis tersenyum manis dengan rona merah yang menghiasi pipinya, saat menerima uluran tangan kekasihnya.


Mereka berdua berjalan berdampingan, menyusuri jalanan yang tertutup salju. Sambil bergandengan tangan, Briallen pun bercerita.


“Konon, saat ada yang berjanji di hadapan pohon natal alun-alun kota. Maka peri-peri yang mendiami pohon akan memberikan karunia pada mereka yang mengikrarkan janji dengan tulus,” ucap Briallen seraya menciumi tangan Noxita yang ia genggam. Pipi Noxita yang memerah, semakin membuat Briallen gemas dan ingin memakan pipi Noxita.


“Auch?!” pekik sang gadis, saat kekasihnya mencubit pipinya dengan gemas. Manik merah itu seketika berkaca-kaca, menatap manik biru milik lawannya. Tak kuasa melihat tatapan Noxita yang memelas, Briallen melepas cubitannya dan memberikan kecupan di keningnya.


“Allen?!” teriak sang gadis dengan nada manja serta malu. Briallen tertawa saat menerima respon Noxita yang menggemaskan. Mereka terus berjalan, menuju Vangelis Mansion.


Ketika mereka sampai di kediaman Vangelis. Terlihat sebuah kereta kencana dengan lambang


Keluarga Vangelis di pintunya, sudah menunggu mereka berdua. Briallen langsung membukakan pintu dan mengulurkan tangannya untuk Noxita berpegangan saat naik ke kereta kencana. Merasa kekasihnya sudah masuk dan duduk dengan nyaman. Briallen lalu naik ke dalam kereta kencana juga. Dia duduk di samping Noxita.


“Terima kasih sudah mengajakku jalan-jalan sayang,” senyum bahagia terlihat jelas saat Noxita berbicara. Briallen menggenggam tangan Noxita dan mengecupnya.


“Apapun demi Tuan Putri bahagia,” senyum lembut diberikan Briallen pada sang gadis.


Kereta kencana melaju dengan kencang menembus malam, menuju kota Blood Rosaceae.


Noxita merasa mengantuk dan menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih. Briallen merangkul sang gadis hingga membuat tubuh mereka saling menempel.


Briallen tak mau jika kekasihnya sampai membentur dinding kereta, akibat guncangan yang terjadi. Ia lalu memposisikan kepala sang gadis di pangkuannya. Manik biru itu memandang wajah tidur Noxita dengan tatapan penuh kasih.


Hingga tak terasa jika kereta mereka sudah sampai di depan Mansion Rosaceae.


Briallen yang tersadar saat kendaraannya berhenti, lalu mencoba untuk membangunkan Noxita.


“Xita ... Bangun sayang! Kita sudah sampai,” ucap lembut Briallen malah semakin membuat sang gadis pulas.


Ia tersenyum dan mencium bibir Noxita. Manik merah terlihat, saat Noxita membuka matanya. Setelah merasakan ciuman lembut Briallen. Manik biru membalas tatapannya dan menyudahi ciuman yang ia lakukan. Wajah Noxita tampak merah padam, sedangkan Briallen hanya tersenyum lembut dan beranjak turun dari kereta.


“Mari Xita,” ucap Briallen saat mengulurkan tangannya untuk membantu Noxita turun. Dengan wajah yang masih memerah, Noxita menggenggam tangannya dan turun dari kereta.


“Terima kasih sayang,” ucap sang gadis lirih selepas menapakkan kakinya di tanah.


“Istirahatlah sayang! Tidur yang nyenyak ya,” ucap Briallen yang tak lupa memberikan kecupan di kening sang gadis. Noxita tersenyum dengan pipi yang dihiasi rona merah, menambah cantik parasnya.


“Sampai jumpa lagi sayang,” Briallen beranjak dan melambaikan tangannya pada kekasihnya. Noxita membalas lambaian tangan sang pemuda dan masuk ke dalam Mansion. Keretanya kembali melaju menembus dinginnya malam menuju Tanzanite.


Keesokan paginya, Noxita menerima sebuah buket bunga mawar hitam yang merupakan ciri khas wilayah Tanzanite. Sudah dipastikan dari siapa bunga itu berasal. Selain bunga, Noxita juga mendapatkan sebuah surat. Dengan cap Keluarga Vangelis yang menempel.


Ia duduk di atas ranjangnya dan membuka surat dari kekasihnya. Dalam hati, ia mulai membaca suratnya....


Dear Xita tersayang....


Untukmu wahai Xitaku yang tercinta


Ku ucapkan selamat Natal untukmu


Semoga kau selalu sehat dan panjang umur


Agar kita bisa selalu bersama.


Untukmu wahai Xitaku yang tersayang


Ku ucapkan selamat Natal untukmu


Semoga sabarmu selalu setangguh karang di lautan


Sehingga kau bisa tabah menjalani hidup yang penuh ujian.


Untukmu wahai Xitaku yang selalu nomor satu


Ku ucapkan selamat Natal untukmu


Semoga tabahmu selalu menghikat hatimu


Sehingga kau tidak pernah rapuh.


Untukmu Xita yang merajai hatiku


Ku ucapkan selamat Natal untukmu


Semoga doa-doamu selalu tuhan kabulkan


Sehingga semua mimpimu bisa terwujud.


Untukmu wahai Xitaku yang selalu ada untuk ku


Ku ucapkan selamat Natal untukmu


Kau kan selalu menjadi tempatku berlindung


Ketika semua membenciku, kau berdiri di depanku.


Selamat Natal kekasih tercinta.


Tiada kata yang bisa menggambarkan cintaku padamu.


Karena yang ku tahu cintaku untukmu sangat besar.


I love you Xita


Mencintaimu sekarang


Mencintaimu besok


Mencintaimu selamanya, meski takdir tak menyatukan kita.


Merry Christmas ya sayangku.


Briallen


Noxita terharu setelah membaca surat dari kekasihnya. Iapun menyuruh seorang maid untuk meletakkan bunga tersebut ke dalam vas. Pagi itu sudah diawali dengan kebahagiaan bagi Noxita. Ia langsung mendudukkan dirinya di kursi meja kerjanya dan mulai menulis surat balasan.


Dear Allen yang kucintai ....


Hariku indah, hanya karena memikirkan dirimu. Tiada kata selain syukur, telah bertemu denganmu.


Hadirmu di hidupku, menjadi pertanda bahwa diriku tidak ditakdirkan sendirian.


Walaupun kau selalu dan senang menggodaku, tapi tak apa.


Selama itu aku dan bukan perempuan lain.


*Denganmu, aku merasa menjadi orang yang sempurna di dunia ini.


Aku kan selalu menjadi yang terdepan untuk menyelamatkanmu.


Melindungimu serta menemanimu, hingga akhir waktu.


Selamanya aku kan selalu mencintaimu.


Hari ini, esok dan seterusnya*.


Selamat Natal sayang.


Dirimu pun adalah hadiah terindah, melebihi yang telah kuharap kan pada Tuhan.


Dan terima kasih untuk bunga yang indah ini. Memandangnya, mengingatkanku pada dirimu.


Noxita


Setelah selesai menulis surat, segera ia menyuruh kepala pelayan untuk mengirimkannya. Noxita kembali menikmati bunga mawar hitam yang ada di vas. Aroma mawar menyerbak memenuhi kamar Noxita. Warna hitam yang elegan, membuatnya tak bisa memalingkan pandangan darinya.


“Melihat mawar ini, seperti sedang melihat Allen. Ah ... Mawar hitamku yang kucintai,” gumamnya yang kemudian beranjak untuk bersiap menjalani hari ini.


Ares memandang Nea yang sedang menikmati gendongan ala Bridal style itu. Memecah keheningan.


“Sudah 10 menit Xita, jika kita berlama-lama dibawah guyuran salju Xita bisa sakit nanti,” ucap Ares dengan senyuman lembut. Dilihatnya sang gadis yang berpikir dan seperti tak rela untuk menyudahi apa yang sedang ia nikmati.


“Um ... Baiklah sayang,” balasnya. Ares langsung membuka pintu mobil dan menurunkan Nea di kursi depan. Nea agak murung, karena harus segera pulang. Sebenarnya dia tak mau pulang, namun apa daya. Nea masih harus menghabiskan Natal bersama keluarganya.


Ares yang melihat hal itu, mengecup kening Nea dan berkata.


“Tenang sayang, masih ada hari esok dan lain hari yang bisa kita lalui bersama. Nea pun masih punya keluarga kan,” ucap Ares menenangkan Nea. Sang gadis tersenyum dan mengangguk seraya menatap Ares.


Ares segera menutup pintu tempat Nea berada dan beralih ke pintu satunya. Dibukanya pintu itu dan duduklah Ares ke kursi pengemudi. Setelah memastikan seatbelt-nya dan Nea sudah terpasang, Ares lalu melajukan mobilnya menembus gelapnya malam.


30 menit berlalu, mereka akhirnya sampai di rumah Nea. Sebelum mereka turun, Nea menarik tangan Ares dan membuat tubuh Ares mendekat pada tubuhnya. Diciumnya leher sang pemuda, saat Ares terkesiap karena serangan mendadak sang gadis. Nea malah menggigit perlahan bagian pundak Ares, hingga meninggalkan kissmark di sana.


Setelah memberi tanda pada sang kekasih, ia melepaskan genggaman tangannya dan turun dari mobil. Terlihat Ella yang sudah menunggu di depan pintu. Ares yang tersadar, segera turun dan mengikuti Nea. Untuk mengantarkannya ke rumah.


Sarah yang muncul dari dalam rumah, saat Ares hendak pergi, berkata.


“Nak Ares, mari masuk! Pasti lelah sudah mengantarkan Nea pulang. Ikut makan malam ya atau setidaknya minum secangkir teh hangat.


Untuk menghangatkan tubuh,” ajak Sarah pada sang pemuda berambut hitam keunguan itu.


Belum sempat menjawab, Nea sudah menarik tangan Ares dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


“Um ... Baiklah,” ucap Ares dengan pasrah. Nea menggandeng tangan Ares hingga sampai di ruang makan.


Dilihatnya meja makan yang minimalis itu diisi dengan beberapa makanan, tak sebanyak yang biasa ada di meja makannya. Tapi suasana yang terlihat, yang sudah lama tak ada di kediamannya.


Ares memandang satu persatu wajah anggota keluarga Nea. Ada Sarah, Ibu Nea. Lalu Nathan sang Ayah. Ada gadis kecil berusia sekitar 18 tahun, serta si Kembar yang terlihat berusia 8 tahun. Saat ia sampai di satu orang terakhir, yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Wajah orang itu menunduk, karena sedang membaca buku.


Namun ada suatu perasaan yang aneh bergejolak saat ia melihatnya.


“Nah, Silahkan nak Ares diminum tehnya!” ucap Sarah setelah memberikan secangkir teh hangat di hadapan Ares. Ares terkesiap dan menganggukkan kepalanya.


“Ah? Kakak! Ini meja makan. Bukan tempat belajar,” pekik Nea merebut buku dari tangan lelaki tersebut. Dia terkejut saat bukunya diambil dan hanya bisa menatap ke depan. Dilihatnya Ares dan bertanya.


“Kita kedatangan tamu rupanya. Siapa dia?” ucap lembut lelaki dengan manik merah muda yang agak gelap itu.


Seketika Ares merasakan perasaan marah, benci dan dendam setelah mendengar suaranya. Masih jelas diingatannya suara serta wajah itu.


...~ ☽ ☾ ~...


Hai hai hai~


Kembali lagi bersama kami di sini. Di WTNC~ ♥


Wah wah. Allen kenapa itu? Apakah Allen ada rasa sama Theo?


Briallen : ....


VR : Diem aja dah dia. Padahal banyak fans yang selalu menanti kehadiran kita.


Noxita : *hanya tersenyum


Briallen : Huufft...


Terima kasih pada fans kami atas like, comment serta vote kalian. Share pun tak lupa.


VR : Datar amat Bang?


Briallen : *glare


VR : Okay, sekian dari kami. Jangan lupa tinggalkan jejak kehidupan kalian di like, kolom komentar dan juga vote. Share juga ya, biar Allen nggak seperti gunung es lagi.


Nah, saatnya kabur >


Briallen : Mari Xita, kita pulang!


Noxita : Sampai jumpa di chapter selanjutnya


VR : Intip mereka di IG @rirymocha1


...VR. Stylo


...