
Briallan pun menyaksikan ketika kristal tajam tersebut menghujam jantung sang gadis, ia terperanjat dan membeku. Karena tak bisa menghentikan apalagi, menyelamatkan gadis tersebut.
“Tidak ... Apa yang kalian lakukan?!” teriaknya putus asa.
Didekatinya tempat gadis itu berada, Fay dan makhluk lain hanya mengamati setiap langkah sang bocah. Dilihatnya dengan seksama baju yang dikenakan sang gadis, gaun berwarna hijau muda polos. Dipandangnya bagian jantung sang gadis.
“Tidak ada bercak darah?” gumam Briallan dengan heran, iapun kebingungan.
“Tenanglah hai anak manusia, kami hanya sedang melakukan pengobatan padanya.” ucap Fay tersebut.
“Syukurlah. Kalau tidak Kak Noxita akan sedih,” ucap sang bocah dengan polosnya.
Walau dia belum pernah bertemu dengan Lily, tapi Briallan tahu. Jika yang ada di hadapannya itu adalah Lily, karena sesuai dengan yang diceritakan oleh kakaknya Briallen.
Gadis seumur dirinya, dengan rambut hitam panjang yang berkilau. Mata besar yang cerah dengan bola mata berwarna merah ruby, namun Briallan belum bisa menatapnya. Karena kelopak matanya masih terpejam. Kulit putih bersih, terlihat sedikit bercahaya.
“Noxita gadis yang terpilih itu?” tanya sang Fay, mengganggu Briallan yang mengagumi sosok gadis di hadapannya.
“Saya tak tau tentang yang terpilih. Tapi Kak Noxita adalah Kakak dari gadis ini,” jelasnya.
“Ternyata dia belum terbangun,” ucap Fay perlahan, hingga Briallan tak bisa mendengarnya.
“Seperti kata Kak Allen, Lily gadis yang cantik.
Walau dia kemudian bilang tak secantik Noxita-nya,” ucap Briallan sembari memutar bola matanya.
“Apa yang akan kau lakukan anak manusia?” hardik Fay, saat Briallan mencoba mengangkat tubuh sang gadis.
“Membawanya pulang. Memang mau apalagi?” jawab sang bocah dengan entengnya.
“Jangan bodoh! Pengobatan kami belum selesai, jika kau bawa dia seenakmu sendiri. Malah akan jadi gagal,” bentak Fay.
“Baiklah. Maaf,” Briallan berhenti melakukan niatannya semula dan kembali memandang sang gadis.
“Pengobatan apa yang kalian lakukan?” tanya Briallan sambil tetap fokus pada Lily yang masih tertidur.
“Untuk menghilangkan segala kelemahan serta kekurangan yang ada dalam dirinya.” jelasnya.
“Kenapa harus begitu? Manusia kan memang mempunyai segala kekurangan yang membuat dirinya itu manusia,” sahut Briallan.
“Karena gadis itu juga adalah yang terpilih. Dan yang terpilih tidak boleh memiliki kelemahan,” ucapnya tanpa ragu.
“Sang terpilih, sang terpilih saja daritadi!? Memang apa hebatnya jadi sang terpilih itu?” bentak Briallan dengan frustasi.
“Hm ... Dasar anak manusia, tidak punya sopan santun. Kau tau. Sedari tadi kau bicara dengan siapa?” olok seorang Fay lain.
“Mana kutahu! Kan dia belum memperkenalkan dirinya,” sahut Briallen dengan kasar.
Saat Fay yang terlihat seperti pengawal itu hendak menerjang sang bocah, Fay yang nampak berkedudukan tinggi itu menghentikannya.
“Alangkah lebih baik, jika tamu yang memperkenalkan dirinya terlebih dahulu,” ucapnya dengan tenang.
“Maafkan atas ketidaksopanan saya. Perkenalkan saya Briallan de Roosevelt Vangelis, saya kemari ingin menyelamatkan gadis ini.” Ujar Briallan dengan tenang.
“Yang sedari tadi kau tanggapi dengan kasar, adalah Ratu para Fay. Ratu Tiana,” ucap Fay pengawal dengan penuh hormat dan bangga.
“Maafkan atas kekasaran hamba tadi Yang Mulia,” ujar Briallan sembari memberi hormat yang lalu mengejek pengawal itu.
“Kau?!” pekiknya yang dihentikan oleh Tiana, sebelum dia menyerang sang bocah.
“Sudah hentikan Frei!” ucap sang Ratu. Pengawal yang bernama Frei pun mematuhi perintah Tiana, Briallan menyeringai merasa dirinya menang.
Merekapun berbincang-bincang dengan akrab, banyak yang Briallan tanyakan pada sang Ratu. Hingga dia sedikit kewalahan untuk menjawabnya.
“Kalian suka membantu manusia, tapi kenapa kalian membuat aku tenggelam seperti itu?” salah satu pertanyaan yang ditanyakan oleh sang bocah.
“Karena di hutan ini hanya ada Fay, kami sangat senang. Karena ada manusia yang mampir,” jawab sang Ratu.
“Yaa ... Tapi kenapa harus dipermainkan seperti itu?’ tanya Briallan lagi dengan agak kesal.
“Yah, karena kami sangat suka dengan keusilan. Apalagi kalian yang bisa menembus pelindung yang kami buat.” Tiana menjawab dengan enteng.
“Tidak bisa begitu juga?! Aku pikir tadi aku mati, saat tenggelam dan bangun di surga gitu.
Ternyata bayanganku salah. Aku masih hidup dan belum keluar dari hutan ini,” protes sang bocah yang sedikit membentak di awal.
“Eh? Tunggu. Kalian?” ujar Briallan yang kemudian memberikan pertanyaan bingung.
“Iya. K.A.L.I.A.N,” ucap sang Ratu sembari menyebut satu persatu huruf dari kata kalian.
Sedikit lelah, karena pertanyaan bocah tersebut.
“Siapa saja mereka?” tanya Briallan dengan penasaran.
“Gadis yang kau sebut Noxita, seorang pemuda, laki-laki, wanita serta seekor serigala. Ah? Maksudku si makhluk pilihan,” ucap Tiana dengan cepat meralat perkataan sebelumnya.
“Makhluk pilihan lagi ....” gumam Briallan yang kemudian berkata.
“Kalau pemuda, pasti Kak Allen. Tapi wanita dan laki-laki? Ya sudahlah,” ucap bocah itu dengan tak terlalu memikirkannya.
Di tempat Kelompok Noxita berada ....
“Hacing?!” suara bersin Briallen mengagetkan yang lain.
“Tuhan memberkatimu Allen,” ucap Noxita sembari memberikan saputangannya ke sang pemuda.
“Terima kasih Xita, Sayang.”
Briallen menerima saputangan tersebut dan membersihkan hidungnya dengan perlahan.
Merasakan suatu perasaan aneh, seperti dirinya sedang dijadikan bahan omongan orang lain.
Kembali ke tempat Briallan berada
“Jadi Ratu Fay. Kapan selesainya pengobatan kalian?” Briallan kembali menanyakan suatu pertanyaan yang lain.
“Saat bunga-bunga bermekaran dengan indah,” jawab Tiana.
“Ya saat mereka bermekaran,” Tiana menjawab sambil mengurut keningnya.
“Sudah. Silakan dinikmati hidangan yang sudah kami persiapkan, duduklah dengan nyaman di kursi itu,” ucap sang Ratu sembari menunjuk ke tempat yang disebutkan.
Terlihat sebuah meja yang berisi beberapa kue-kue yang terlihat sangat lezat. Briallan pun dengan senang hati menuju meja tersebut dan duduk di kursinya. Ia mulai menyantap kue-kue tersebut.
“Akhirnya dia berhenti bertanya.” Ujar Tiana dengan lega. Ia melihat bocah tersebut menyantap kue-kue dengan senang.
Tiana melihat sekeliling, ditatapnya bunga-bunga kuncup yang ada di sekitar tempat Lily tertidur.
Sang Ratu merasakan perasaan yang tidak mengenakkan, seperti sesuatu akan terjadi. Iapun memanggil para penjaga yang lain, untuk memberikan perintah.
“Perkuat penjagaan! Jangan sampai upacara kita gagal,” perintah sang Ratu pada para Fay yang lain. Merekapun segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Tiana.
Beberapa Fay penjaga, termasuk Frei bergegas untuk bersiap menghadapi segala apapun yang muncul. Briallan yang asyik makan, tidak menghiraukan apa yang dilakukan oleh para Fay penjaga itu.
Tiba-tiba terasa guncangan hebat di tempat mereka berpijak, Briallan langsung beranjak dari tempat duduknya dan berlindung di bawah meja. Namun mendadak getaran itu menghilang, tak terasa lagi. Hingga ....
“Blarrr! Duarrr!”
Terdengar bunyi dentuman keras menghantam gendang telinga mereka. Debu-debu berterbangan, menutupi pandangan mata mereka dari sekelilingnya. Hingga tak sadar jika ada makhluk besar yang menembus pertahanan mereka.
“Roaarrr!” raungan mengerikan terdengar menggema di seluruh penjuru hutan tersebut.
Beberapa Fay penjaga terpental karena diserang oleh makhluk yang meraung sebelumnya. Ketika debu sudah berkurang dan pandangan mata kembali seperti semula, terlihat makhluk mengerikan yang mempunyai sisik di sekujur tubuhnya. Sisik berwarna biru gelap, dengan mata yang merah menyala.
Tubuhnya yang besar, membuat para Fay terlihat sangat kecil. Makhluk tersebut berjalan menuju ke tempat Lily, Tiana yang mengetahui hal itu segera memerintahkan para Fay penjaga untuk menyerang makhluk tersebut dan menyuruh Briallan untuk menyelamatkan sang gadis.
“Hai anak manusia ... Maaf, maksudku Briallan. Segera selamatkan dan bawa pergi gadis itu dari sini!” ucap sang Ratu sedikit memerintah.
“Ah?! Baik,” Briallan yang sebelumnya terperanjat karena melihat makhluk raksasa tersebut, segera berdiri dan berlari menuju tempat Lily tertidur.
Sesampainya di sana, Briallan langsung mengangkat dan menggendong Lily yang belum terbangun. Dengan susah payah, ia berusaha menghindari setiap efek serangan yang berterbangan ke segala arah.
“Ck! Kalau bertarung yang rapi dong!” umpatnya saat hampir terjatuh.
Saat semua Fay penjaga telah tumbang, makhluk tersebut segera mengejar Briallan yang menggendong Lily. Hingga sang bocah tersandung sebuah batu dan akhirnya terjatuh. Lily yang hampir jatuh ke tanah, diselamatkan oleh Briallan dengan menjadikan dirinya sebagai alas sang gadis.
“Auch? Hampir saja,” eluh Briallan.
Terlihat makhluk tersebut yang semakin mendekat, Briallan membaringkan Lily dengan perlahan di tanah. Dan berdiri, berniat menghadapi makhluk raksasa itu. Makhluk tersebut berlari dan menerjang ke arah sang bocah.
... ~ ☽ ☾ ~
...
VR. : Hai hai...
I'm back. ><
Na : Ini untuk Kakak.
*memberi VR. sebuah coklat
VR. : Makasih Na kuuu.
*terharu
Kalian nggak ada yang pengen beri aku sesuatu?
*menatap anak-anak WTNC
Briallen : *tak peduli
Briallan : *sibuk main game
Noxita : *memberikan coklat ke Briallen
VR. : Memang anak-anak yang tidak sayang orang tuanya. 😒
Ferdinand : Ini VR. Silakan. 🙂
*memberikan sebuah toples berisi cookies ke VR.
VR. : Terima kasih Dinand
*Menerima dan langsung mengambil isinya
Hm ....
*Menggigit cookies tersebut
Pahit .... 😭
Ini gosong, bukan coklat .... 😭😭😭😭
Na : Terima kasih sudah mendukung WTNC
Dukung kami terus ya, dengan cara
Like
Comment
Vote
Tiana : Maukah kalian memasuki dunia ilusi kami? Jika berkenan, maka follow dulu @rirymocha1
Kami tunggu~ ♥
All : Happy Valentine's Day
...VR. Stylo
...