
Terdengar teriakan Vartan menggema di seluruh penjuru mansion ketika pagi tiba. Pemuda itu sedang berada di luar bangunan, entah apa yang sedang ia lakukan.
"Abaaaaang … tolong akuuu …." rengek Vartan sembari berlari, dia sudah mengitari mansion sebanyak lima kali.
Ares yang sudah tidak sanggup untuk mendengar teriakan serta rengekan Vartan, akhirnya muncul dari dalam mansion. Dengan mengenakan celana panjang dan jubah tidur yang tidak ia ikat.
"Berisik kau, Llan! Masih pagi juga," protes Ares ketika dia diluar.
"Abaaang …."
Vartan masih tetap merengek kemudian berlari di belakang Ares dan bersembunyi.
"Hm …." jawab Ares dengan dingin.
"Dia Bang! Dia ngejar aku …." ucap Vartan sambil menunjuk ke arah dia datang tadi.
Pemuda bersurai hitam keunguan menatap tajam arah yang ditunjuk oleh adiknya itu. Nampak sesuatu seperti sedang berlari, hingga membuat jalan yang dilaluinya hancur.
"Huh?!"
Ares menyipitkan matanya, makin lama makhluk yang mengejar Vartan makin terlihat membesar.
"Haissh …."
Ares menghela nafas dan makhluk besar berwarna biru laut dengan surai lembut putih di kepala hingga tengkuknya itu terlihat. Si biru mengarah pada pemuda bersurai hitam keunguan itu.
Ares yang menatapnya dengan datar, hanya tenang ketika dia hampir mendekat. Hingga ….
"Berhenti Azure!" perintah sang pemuda kepada makhluk itu.
Seketika makhluk biru besar itu berhenti berlari dan berdiri di hadapan Ares, nampak gembira. Ditatapnya si biru yang dipanggil Azure tadi dengan tajam.
"Kenapa dia bisa ada disini?" tanyanya pada Vartan.
"D–dia bersama Kakak Ipar waktu itu Bang …." jawab Vartan sambil meringsut karena takut dengan Ares.
"Hh … sekarang apa maumu, Azure?"
"Master, aku berhasil menemukan Nona untuk Anda."
"Lalu?"
"Sesuai perkataan Master. Aku bisa kembali, jika aku telah menemukan dan membawa Nona."
Naga tersebut berkata dengan gembira. Namun Ares terlihat marah. Mendengar perkataan Azure, pemuda itu merasa jika semua ini adalah kesalahan makhluk itu.
"Jika kau memang bisa membawanya kembali, maka bawa dia sekarang kembali!" hardik Ares yang merasa marah.
"Kalau kau tidak membawanya kesana, dia tidak akan seperti itu sekarang!" ucapnya dengan kesal.
Azure yang tadinya terlihat bahagia, sekarang dia nampak lemas dan tak lagi mempunyai tenaga.
"Maaf Master … aku tak bermaksud untuk membuat Nona seperti itu … a–aku … aku diajak Nona untuk menemui Master. Jadi tanpa sadar aku jadi sangat senang dan mengiyakan ajakan Nona." ucap Azure merasa bersalah.
"...."
Tanpa banyak kata, Ares kembali masuk ke dalam mansion dan meninggalkan Vartan beserta Azure. Naga tersebut nampak sangat sedih.
"Sudah … sudah … Abang sekarang sedang bingung, sedih dan juga frustasi. Jadi tenang ya Azure …."
"Hum …."
***
Ares kembali dalam kamarnya, ia kemudian pergi mandi. Terlihat beberapa bekas luka menghiasi tubuhnya. Di bawah guyuran shower, dia memegang dinding kamar mandi dan menundukkan kepalanya.
"Kenapa aku merasa tidak tenang? Seperti ada yang mengganggu …." benak Ares berkecamuk.
Tiga hari telah berlalu, semenjak ia melihat asap hitam di tempat Nea. Hal tersebut sangat mengganggunya beberapa hari terakhir. Dan setiap ia menjenguk kekasihnya, sama sekali tidak nampak lagi asap hitam tersebut.
Sebenarnya apa itu?
Ia memikirkan hal itu sendirian, hingga pusing. Tiba-tiba pandangan mata Ares menghitam, gelap ia rasakan. Kepalanya terasa berdenyut, iapun jatuh terduduk dengan kaki kanan masih berpijak.
"Aaah?!"
Erangnya sembari memegangi kepala dengan tangan kanan, sedangkan tangan satunya bertumpu pada dinding.
"Abang?!" teriak Vartan yang menyelonong tiba-tiba.
Vartan menemukan Ares yang kesakitan, pemuda bersurai hitam keunguan itu melirik sang adik dan berkata.
"Be … risik kau … Llan …." ucapnya yang kemudian ambruk tak sadarkan diri.
"Ab– ah iya. Tidak boleh berisik,"
Seusai berkata begitu, Vartan segera membopong abangnya keluar dari kamar mandi.
Dengan sigap, Vartan mendudukkan abangnya lalu mengelap badannya yang basah. Saat selesai ia segera memakaikan baju dan segera membaringkannya di tempat tidur.
Buru-buru Vartan keluar kamar untuk menghubungi Ferdinand.
"Ferdi! Tolong! Abangku …." rengek Vartan yang terdengar panik.
"Aku akan segera datang." jawab Ferdinand bingung.
Tak lama Ferdinand sudah berada di depan kamar Ares, ia mengetuk pintunya terlebih dahulu kemudian masuk.
"Kenapa harus ketuk dulu sih, Ferdy?" protes Vartan.
"Tapi kan keadaan Abang gawat!"
"Dah sana. Kau tenangkan si Azure!"
Ferdinand mengusir Vartan, karena ia terlalu berisik. Pemuda itu lalu menemui si biru yang nampak gelisah. Ia mondar-mandir terbang, mengelilingi mansion. Hingga Vartan pusing melihatnya.
"Azu!" panggil Vartan pada si biru.
Azure langsung mendarat sambil menginjak Vartan dengan kesal.
"Sudah kubilang berulang kali, kalau kau harus memanggil namaku dengan lengkap!" Azure terdengar kesal, ia merasa gelisah karena merasakan apa yang dirasakan oleh Ares.
Azure sebenarnya adalah sebuah pedang, lebih tepatnya dia ini jiwa dari sebuah pedang berwarna biru laut. Jiwa yang mendiami pedang hitam milik Ares. Yaaa, dia memang bisa pergi jauh dari inangnya, selama pedangnya tidak patah. Maka ia bisa kembali kapanpun ia diizinkan oleh sang pemilik.
Pedang hitam Ares keluar dari tubuhnya. Ia adalah salah satu bagian dari pemuda bersurai hitam keunguan itu. Jadi ia bisa merasakan apapun yang dirasakan oleh Masternya itu.
"Baik! Baik … maafkan aku Azure …." ucap Vartan saat ia sudah babak belur.
"Huh!?" dengusan kesal sang naga sembari mengangkat kakinya dari badan pemuda tersebut.
"Hahaha! Kasian sekali kau, Bocah!" ucap Erebos dalam tubuh Vartan.
Vartan mengabaikan ejekan dewa naga itu. Ia duduk di tanah sambil menatap ke depan.
"Tenanglah Azure … kau bisa merasakan keadaan Abang kan? Jadi jangan terlalu khawatir … karena yang tidak bisa merasakannya pasti akan sangat khawatir." ucapnya sambil menerawang jauh.
Azure melihat pemuda tersebut, ia memikirkan perkataannya dan kemudian duduk di samping pemuda tersebut.
"Yaah … kau benar juga. Jadi mari kita tenang ya …." ucap sang naga berwarna biru laut itu sembari meletakkan sayapnya perlahan di kepala pemuda itu. Air hangat mengalir di pipi Vartan.
"Jika kau ingin menangis, menangislah! Aku tidak melihat kok." ucap Azure mencoba untuk menghiburnya.
Vartan tersenyum tipis, ia membiarkan kepalanya menunduk. Lama-kelamaan ….
"Hei Azu! Sayapmu berat …." celetuk Vartan yang memancing keributan.
Azure yang terpancing langsung menjatuhkan sayapnya pada Vartan, tanpa menahannya lagi.
"Hup?! Hei? Azure ~ berat …." protes Vartan sambil merengek.
Azure menepuk-nepuk kepala Vartan menggunakan sayapnya, pemuda itu tertawa dengan setitik air mata di pelupuknya. Pertanda dia habis menangis.
Ferdinand muncul, seketika Vartan berhenti bermain bersama Azure. Ia menghampiri lelaki itu, sang naga biru mengikutinya.
"Ferdi! Bagaimana keadaan Abang?" tanya Vartan saat ia sampai di hadapannya.
"Allen hanya terkena efek penyatuannya. Istirahat beberapa hari akan membuatnya baik. Jangan biarkan dia terkena sinar matahari dulu, walau sudah mengenakan alat itu." ucap Ferdinand mewanti-wanti pemuda di hadapannya itu.
"Baik!" jawabnya bersamaan dengan Azure.
Ferdinand pun kembali ke RS Rozelle, ia menggunakan teleportasi dan dalam sekejap menghilang.
~ ☽ ☾ ~
Catatan VR.
Pedang hitam milik Briallen aslinya berwarna biru kehitaman. Namun karena jiwa si pedang itu keluar, maka hanya berwarna hitam.
Selama pedang utuh, jiwa pedang tidak akan terancam bahaya. Walaupun ia pergi jauh dari pedang yang didiaminya.
Pedang jiwa adalah pedang yang lahir dari tubuh seorang terpilih dan telah dibawa sejak lahir. Biasanya pedang ini muncul ketika pemilik merasa terancam pada suatu serangan yang mengancam nyawa.
Namun saat pemilik terkena racun, kemampuan yang dimiliki oleh pedang jiwa bisa menjaga pemilik untuk selamat.
...♪♪♪...
Kembali lagi bersama VR NA disini di WTNC tercinta kalian. ><)/
Na : Kakak jangan berisik
VR. : Eh? 'x'
Na : Allen sedang sakit kepala tuh Kak
VR. : Nggak ketemu Xita bentar aja kayak gitu. Gimana dia pas 200 tahun sebelumnya?
🤔
Allen: Berisik kau Paus. Lama-lama kugoreng kau!
VR. : Jangan digoreng, minyak mahal. Dipanggang aja. 🙂
Allen : Sesuai permintaanmu ~
Na : Selamat ting– Eh?
Sampai berjumpa di Chapter selanjutnya ~
Jangan lupa like, subscribe, vote, Comment serta share ya....
Terima kasih banyak. ♥
...VR.Stylo♪...