When The Night Come

When The Night Come
RIOS



Kedua pasang mata itu saling menatap dengan lekat tanpa melepaskan satu sama lain. Ares yang tetap waspada, mengamati setiap gerakan yang lawannya buat. Nea yang disuruh masuk ke dalam mobil oleh Ares, hanya bisa berdoa. Agar kekasihnya tak mendapat luka parah.


Tiba-tiba pemuda berambut putih itu menghilang dari pandangan Ares. Ares langsung panik dan melihat sekitarnya. Namun, saat ia mencari keberadaan sosok yang Ares anggap musuh itu. Terdengar suara Nea yang berteriak.


“ARES!! AWAS DI BELAKANGMU!!” Teriak Nea sambil menggedor-gedor pintu mobil. Belum sempat Ares menolehkan kepalanya dan bereaksi. Ia merasa dirinya terdorong dengan keras oleh suatu hantaman, menjauh dari mobil.


“Cih?!” Ucap Ares, saat berhasil menghentikan tubuhnya dengan posisi badan condong ke depan dan tangan di tanah. Dilihatnya sosok itu hanya melirik Nea yang ada di dalam mobil.


Melihat tatapan mata lelaki itu, Nea serasa pernah melihatnya. Namun ia kaget, saat Ares yang menyerang orang itu secara mendadak. Malah ditepisnya. Ares pun terpental kembali.


“Sialan, jangan kau dekati Nea!” Teriak Ares. Lelaki berambut putih itu hanya menatap Ares dengan manik merahnya sembari memiringkan kepalanya.


Ares kembali bangkit dan menerjang lelaki itu dengan sekuat tenaganya. Lelaki itu yang sedari tadi diam, sekarang menyambut serangan Ares dengan sebuah pukulan yang diarahkan ke perut Ares. Namun Ares dengan sigap menahan pukulannya menggunakan lengannya. Mereka berdua saling beradu pukulan.


Pukulan demi pukulan mereka daratkan ke lawannya. Nea dengan panik, mencoba membuka pintu mobil. Namun tak bisa, seperti ada yang menahannya. Tanpa henti mereka terus saling beradu pukulan serta tendangan. Hingga langit berganti gelap, malam pun datang. Menampakkan sang Dewi malam yang anggun.


Hingga salah satu pukulan mendarat di pipi kiri Ares, sampai membuatnya jatuh tersungkur. Dengan cepat lelaki berambut putih itu mengunci badan Ares dengan cara menduduki badannya yang terbaring tak berdaya. Ares hanya bisa bertahan dan melindungi dirinya dari setiap pukulan yang dilancarkan lelaki tersebut.


Nea yang terus berusaha membuka pintu, akhirnya berhasil membukanya. Dan dengan segera berlari mendekati tempat Ares dan pemuda asing itu berada.


“HENTIKAN!!!” Nea memerintah sambil berteriak, berharap pemuda asing itu menghentikan serangannya.


Seketika pemuda asing tersebut menghentikan serangannya pada Ares dan menolehkan kepalanya untuk menatap Nea. Ares dengan sigap memiting tangan pemuda itu dan membekuknya. Nea terperanjat saat menyaksikan aksi cepat Ares. Ia seketika bicara.


“Ares hentikan! Lepaskan dia sayang.” Ucap Nea saat Ares berhasil membekuknya.


“Tapi sayang?” Ares terheran dengan ucapan Nea. Nea hanya tersenyum dan Ares menurutinya.


Saat Ares melepaskan pemuda itu, dia tak bisa berkutik dan hanya terduduk lemas seraya menundukkan kepalanya. Terlihat Nea mendekati pemuda tersebut.


“Xita?” Ares tersentak, namun Nea hanya tersenyum seolah bilang 'tak apa kok'.


Mendengar nama itu disebut, pemuda asing merasakan ikatannya yang bergejolak. Menandakan bahwa ia adalah orang yang dicari dan ditunggunya.


“Rios.” Suara lembut terdengar saat namanya dipanggil. Pemuda asing itu langsung menengadahkan kepalanya dan menatap wajah Nea.


“Ο αφέντης μου.” Ucap pemuda berambut putih tersebut. Nea mengecup puncak kepala Rios.


“Tenanglah Rios, jangan lepas kendali lagi.” Ucap Nea yang membuat Rios tenang. Ares merasa kesal dan marah dengan apa yang ia lihat.


“Xita?!” Teriak Ares setelah melihat semua itu. Nea seketika mengerjapkan matanya dengan bingung.


“Eh?” Ucap Nea saat melihat Rios memegang tangan Nea dan mengusapkannya ke pipinya.


“EEEEEHHHH???!!!” Teriakan Nea hanya membuat Rios memiringkan kepalanya.


“Ο αφέντης μου.” Rios hanya mengucapkan O aféntis mou berulang kali dengan bahagia. Ares yang hilang kesabaran, segera merebut tangan Nea dan menarik Nea dalam pelukannya.


“Xita, apa yang tadi kau lakukan?” Tanya Ares dengan nada agak marah. Nea hanya bisa menatap Ares dengan bingung.


“Aku tidak tahu sayang, tadi aku seperti hilang kesadaran dan saat sadar ... aku sudah di sini.” Nea menjawab lalu menundukkan kepalanya, merasa seperti sudah melakukan kesalahan.


“Huufft ... baiklah, aku akan mengurus dia.” Ucap Ares saat melihat pemuda berambut putih yang menatap dengan puppy eyes. Manik merah itu menatap manik biru Ares dengan berkaca-kaca. Membuat Ares seperti melihat seekor puppy.


“Masuklah ke dalam sana, dan akan kubawa kau ke rumahku.” Ujar Ares kepada Rios.


“Kau sudah lihat kan? Ikutlah denganku, akan kujelaskan semuanya. Dia mungkin memang Nonamu. Tapi dia tidak mengenalimu. Namun kau juga harus menjelaskan hal tadi padaku.” Jelas Ares, Rios menatap Nea. Dilihatnya manik merah muda milik Nea, yang berbeda dengan milik Nonanya dulu.


“Baiklah, Tapi biarkan aku melakukan satu hal.” Rios berdiri dan mendekati Nea yang ada di belakang Ares dengan perlahan. Saat sampai di hadapan Nea, ia berjongkok dan bertumpu pada satu kaki. Kemudian meraih tangan kanan Nea dan mencium punggung tangannya.


“Aku tak akan melepasmu lagi, My Master.” Ucapnya, Ares langsung menarik kerah kaos yang dipakai Rios. Hingga membuat Rios melepaskan tangan Nea. Nea hanya bingung.


Akhirnya mereka masuk ke dalam mobil dengan Ares yang menyetir, Nea di kursi belakang, sedangkan Rios duduk di depan di kursi samping Ares. Karena menurut Ares, kalau Rios macam-macam. Dia bisa segera menghentikannya.


“Tadi kalian bicara apa sayang?” Tanya Nea memecah keheningan dalam mobil. Ares menatap mata Nea sejenak melalui rear vision mirror.


“Besok akan kuceritakan Xita. Untuk sekarang, kamu butuh istirahat di rumahmu.” Jawab Ares yang kembali fokus ke jalanan. Nea hanya mendengus kesal mendengar jawaban Ares.


“Baiklah.” Balasnya agak cemberut.


Waktu menunjukkan pukul 9 malam saat mereka sampai, Nea langsung disambut oleh Sarah dan Nathan. Adik-adik Nea sudah berada di alam mimpi masing-masing, saat berniat untuk menunggu Kakaknya pulang.


“Mampirlah Nak Ares.” Ajak Sarah pada Ares, saat Ares hendak membuka pintu mobilnya.


“Maaf Tante, saya masih banyak urusan yang harus saya kerjakan.” Jawabnya dengan sopan sembari tersenyum. Sarah hanya mengangguk dan memahami alasan Ares.


“Baiklah, kapan-kapan mampir ya.” Imbuh Sarah saat Ares menyalakan mobilnya.


“Baik Tante, saya pamit dulu.” Jawab Ares sembari melajukan mobilnya meninggalkan rumah Nea. Rios hanya bisa menatap Nea yang terlihat semakin jauh dengan sedih.


Sesampainya di kediaman Ares


Ares yang berekspresi datar sedang menyeret Rios yang tak mau berjalan sendiri. Ada rasa kesal di dalam hatinya. Namun semua ia tahan, karena dia ingin mengetahui sesuatu. Saat sampai di kamar Vartan, Ares langsung membuka pintunya dengan kasar.


“Brak!” Suara pintu yang terbuka. Vartan kaget dan refleks menutupi badannya dengan tangan.


“Heh?! Ngapain?” Ujar Ares melihat tingkah Vartan. Ares lanjut menyeret Rios masuk ke kamar Vartan.


“Hehe .... Nggak papa Bang. Eh? Apa itu Bang?” Tanya Vartan yang penasaran.


“Bersihkan dia dan pakaikan baju. Cepat!” Perintah Ares, Vartan langsung melakukan perintahnya.


Satu jam kemudian ....


Vartan yang telah berhasil membersihkan dan merapikan badan Rios, merasa bangga dengan hasil karyanya. Ares yang melihat, hanya bisa merasa kesal.


“Nih, Bro. Udah selesai.” Ucap Vartan dengan bangga.


“ Hm ...” Jawab Ares dengan dingin. Vartan terkesiap, karena merasakan badai salju datang. Rasa-rasanya Abang sedang badmood “Batin Vartan.”


Rios yang sudah dibersihkan terlihat mencolok. Rambut putihnya yang agak panjang terlihat berkilau. Wajah tampan dengan dagu yang terlihat tegas. Manik merah dengan tatapan tajam. Ares merasa makin murka, tapi dia tetap menahan amarahnya.


“Rios?” Ares menyebut nama yang tadi dipanggil Nea. Rios seketika menatap Ares yang memanggilnya.


“Apa?” Jawab Rios dengan kesal.


“Kau ini apa? Dan kenapa kau tadi menyerang kami?” Ares bertanya dengan menggunakan bahasa yang digunakan oleh Rios.


“Jadi kau menganggap aku berbahaya untuk dia? Asal kau tahu, dia adalah kekasihku. Perempuan yang kusayangi lebih dari diriku sendiri. Yang sudah kutunggu selama 200 tahun ini.” Ares menjelaskan dengan emosi. Rios hanya memiringkan kepalanya menatap Ares.


“Allan!” Seru Ares saat memanggil Vartan. Dengan cepat Vartan sudah berada di samping Ares.


“Iya Bang?” Vartan bertanya dengan bingung.


“Ajari dia bahasa abad ini, dan jelaskan padanya juga. Jika aku bukanlah ancaman untuk Xita!” Perintah Ares pada Vartan. Vartan yang sebenarnya malas, mengiyakan saja. Karena tak mau diamuk oleh Abangnya itu.


Malam itu, Vartan dengan serius menjelaskan segalanya pada Rios. Vartan juga mengajari Rios kehidupan manusia. Rios dengan cepat menghafal dan mengingat itu semua. Dalam semalam, Rios sudah menguasai apa yang diajarkan oleh Vartan.


Di tempat lain ....


Nea yang sedang tertidur pulas, mendapatkan sebuah ingatan. Dirinya yang sedang berjalan menyusuri rak-rak berisi buku-buku kuno milik Kakek buyutnya. Menemukan sebuah buku yang menarik perhatiannya.


Diambilnya buku itu dan Nea melihat sampulnya. Tak ada yang nampak di sampulnya, iapun beralih membuka buku tersebut. Dibacanya halaman pertama yang bertuliskan, Makhluk Panggilan. Nea yang penasaran membuka dan membaca setiap halaman yang ada.


Hingga ia menemukan mantra untuk memanggilnya. Diamati dan dipahaminya mantra tersebut. Di ruangan itu, Nea melihat dirinya yang menyiapkan lingkaran pemanggil dengan darahnya. Iapun bersiap merapalkan mantra tersebut.


''Wahai makhluk yang menghuni dunia sana, aku memanggilmu untuk menjadi fammiliar ku. Datanglah!" Ucap Nea yang fokus pada apa yang dilakukannya. Seketika itu, angin kencang berhembus. Terlihat berputar di lingkaran pemanggil. Nea yang tak bisa melihat karena terpaan angin kencang, berusaha melihat dengan melindungi pandangannya menggunakan kedua tangannya.


Angin berhenti, Nea bisa melihat ada sesuatu yang muncul di atas lingkaran pemanggil yang dibuatnya. Seekor serigala raksasa berwarna putih dengan bola mata berwarna biru, menatapnya dengan ganas.


“Ada perlu apa kau memanggilku, hei manusia?” Noxita yang tersentak, menguatkan dirinya saat mendengar suara makhluk itu di kepalanya.


“Aku ingin kau menjadi temanku.” Jawabnya dengan percaya diri. Serigala tersebut hanya tertawa sembari menaikkan satu alisnya.


“Berteman? Denganmu, manusia yang hidupnya singkat?” Ucapnya mengejek.


“Ya!” Seru Noxita yang tak mau kalah. Terlihat keseriusan di manik merahnya.


“Baiklah, apa yang akan kau tawarkan padaku?” Ucap Serigala itu lagi.


“Ikatan. Ikatan yang tak akan lepas, walau dunia hancur.” Noxita berkata dengan percaya diri.


“Baiklah. Siapa namamu, hei anak manusia?” Serigala itu bertanya dengan penasaran.


“Noxita de Devile Rosaceae. Itulah namaku.” Noxita menjawab dengan lantang.


“Ah ... Ternyata keturunan dia. Baiklah. Aku akan menjadi temanmu. Berikan aku sebuah nama.” Ucap sang serigala.


“Hm ... Ah! Aku tahu!” Noxita langsung memegang kepala serigala tersebut, yang membuat dia harus menunduk. Dan menempelkan keningnya ke kening sang serigala.


“Namamu adalah Rios. Yang berarti Orang yang setia.” Ucap Noxita yang membuat angin kencang berhembus kembali. Noxita yang tak bisa menahan tubuhnya lagi, karena kakinya lemas pun akhirnya limbung.


Saat ia hendak terjatuh, Noxita merasakan ada tangan kokoh yang menahan tubuhnya. Seketika ia melihat siapa itu.


“Hum?” Terlihat sesosok laki-laki berambut putih dengan mata berwarna merah, tersenyum padanya.


“Siapa kau?!” Teriak Noxita sembari menjauh dari lelaki tersebut.


“Haha ... Menarik sekali memang dirimu, hei anak manusia.” Lelaki itu tertawa, Noxita yang mendengar suaranya di dalam kepalanya itu langsung berseru.


“Rios!?” Seru Noxita yang tak percaya. Rios hanya tersenyum.


“Hei! Aku punya nama dan namaku bukan 'hei anak manusia'.” Ucap Noxita dengan kesal.


“Baiklah Nona Noxita.” Rios meraih tangan kanan Noxita dan mengecup punggung tangannya.


Nea mengerjapkan matanya ketika ia bangun. Dia mengingat kembali apa yang telah dilihatnya dalam mimpi.


“Jadi itu pemuda asing kemarin.” Gumamnya yang kemudian bangkit dan bersiap untuk hari ini. Hari ini ia ada janji dengan Ares. Ares berjanji untuk menjelaskan yang ia dan Rios ucapkan kemarin.


Nea masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia kemudian memakai baju lengan pendek berwarna pink dengan celana jeans serta menggunakan Hoodie putih favoritnya.


Setelah ia merapikan diri dan bercermin. Ia merasa cukup, segera ia keluar dan sarapan bersama keluarganya.


“Pagi Ayah, pagi Ibu. Pagi Adik-adikku.” Sapa Nea dengan bahagia. Nea lalu duduk dan mulai memakan sarapannya.


Roti panggang dengan ham dan telur. Tak lupa juga selada segar serta irisan tomat dan timun. Dengan saus tomat, saus sambal dan mayo. Kesukaan Nea. Saat sarapannya habis, terdengar bunyi bel pintu.


Sarah dengan segera membuka pintu dan menyambut orang yang datang. Terlihat manik biru yang cerah yang menatap Nea, saat Nea menghampirinya.


“Ares sudah datang.” Ucap Nea seraya tersenyum. Ares hanya memberikan senyum tipis.


“Nak Ares mau sarapan dulu?” Sarah menawari Ares. Ares hanya menggelengkan kepalanya perlahan.


“Tidak Tante, saya sudah sarapan tadi sebelum kemari.” Tolak Ares secara halus.


“Hum... Baiklah, Nak Ares datang menjemput Nea kah?” Tanya Sarah lagi.


“Iya, Tante. Saya mau mengajak Nea jalan-jalan.” Jawab Ares dengan lembut.


“Baiklah. Hati-hati dijalan ya.” Ucap Sarah. Nea mencium pipi Ibunya dan berpamitan.


“Kami pergi dulu, Bu.” Nea dan Ares keluar rumah dan masuk ke dalam mobil Ares.


~ ☽ ☾ ~


Kembali lagi bersama saya di WTNC


Bagaimana menurut kalian? Jika memang ada mantra pemanggil, apakah kalian akan mencobanya?


Halu dulu dong. 😂


Okay, Terima kasih untuk kalian yang membaca WTNC hingga saat ini. And big thanks buat yang sudah like, Koment, share apalagi vote.


Jangan lupa tinggalkan like, Koment dan vote kalian. Supaya Allen tidak merasa sedih lagi.


Cek Allen, Xita, Allan, dan yang lain hanya di IG @rirymocha1


See you next Chapter~


VR. Stylo