When The Night Come

When The Night Come
Kekuatan



Rios yang bergegas menuju tempat asal suara ledakan bersama Briallen, sampai di sana ketika Noxita terlihat mengamuk dan menyerang segalanya dengan membabi buta.


“Xita?” ucap Briallen seraya turun dari punggung Rios.


Ia menghindari setiap serangan yang dilancarkan tanpa arah oleh Noxita. Namun pipinya tergores serpihan batu yang tajam, hingga berdarah. Noxita mendadak berhenti dan menoleh ke arah Briallen.


“Xita? Kamu kenapa sayang?” tanya Briallen dengan lembut, ketika sang gadis mendekatinya.


Manik abu-abu keperakan itu menatap Briallen dengan tatapan sendu, tangan kanannya yang berhias simbol kuncup mawar mengusap wajah sang pemuda. Dipeluknya pemuda bersurai hitam itu, diendus leher Briallen. Hingga membuat sang pemuda kelabakan.


“Xi–Xita? Kita belum boleh melakukan hal itu,” ucapnya seraya mencoba melepaskan diri dari sang gadis, namun kekuatan Noxita sekarang lebih kuat dari lelaki biasa.


Dijilat perlahan leher Briallen, hingga membuat manik biru saphire itu bergetar menerima serangan sang gadis. Dikecupnya berulang kali leher jenjang sang pemuda dari bawah ke atas, yang mana menimbulkan gejolak dalam diri Briallen. Terutama saat Noxita mengecup jakunnya berulang kali.


Saat sang pemilik manik biru saphire itu pasrah akan apapun yang dilakukan oleh kekasihnya, karena ia sedang menahan gejolak hasrat yang akan meledak dengan sekuat tenaga. Setelah mengecup leher Briallen, dengan cepat Noxita menggigit leher Briallen. Menancapkan kedua pasang taringnya pada leher sang pemuda.


Briallen terperanjat, saat merasakan lehernya ditembus oleh dua pasang taring. Sang gadis memeluk erat Briallen, hingga ia merasa sesak tak bisa bernafas. Aroma manis yang dimiliki oleh darah Briallen, membuat Noxita semakin lupa diri. Dihisapnya darah segar yang mengalir dari bekas gigitannya. Rasa panas yang sedari tadi Noxita rasakan di tenggorokannya, kini pudar ketika ia meminum darah kekasihnya itu.


Briallen yang merasa tubuhnya semakin lemas, mencoba untuk menyadarkan sang gadis kembali. Ia memanggil-manggil nama Noxita dengan keras, namun tak ada respon. Hingga seseorang menutup kedua mata sang gadis dengan telapak tangan kanannya.


“Tenanglah Xita...”


“Jangan dilanjutkan nanti orang yang kau cintai akan meninggal,” ucap sebuah suara seorang lelaki dengan lembut.


Lelaki berambut abu-abu keperakan panjang itu merangkul tubuh sang gadis dari belakang, seraya mengeluarkan cahaya lembut di telapak tangannya.


“Tenanglah Xita, yang kau lihat tadi hanyalah ilusi. Tipuan yang dibuat oleh para Fay,” ucapnya lagi membuatnya melepaskan sang pemuda yang langsung jatuh tersungkur, namun Briallen ditangkap dan ditolong oleh wanita berambut orange gold panjang.


Noxita akhirnya tenang dan air mata pun mengalir deras di pipinya, tubuhnya bergetar karena sadar akan apa yang telah dilakukannya.


“Xi–ta ....” sang pemuda memanggil Noxita dengan suara yang lemas, sang gadis pun terkesiap mendengar suara Briallen yang tadi dilihatnya tak bernyawa di ilusi.


“Al–len? Allen!” sang gadis yang sudah kembali menjadi manusia itu segera mendekati kekasihnya, dipandangnya tubuh lemas Briallen.


“A ... Karena aku .... Aku yang menyebabkan Briallen seperti ini. Aku ...” sang gadis menangis terisak dan mulai menyalahkan dirinya.


Noxita terkesiap saat Briallen menggenggam erat tangannya dan berusaha untuk mengatakan sesuatu.


“Xit–ta .... Jangan menyalahkan dirimu sa–yang ....” ucapnya dengan terbata-bata dan lemah.


“Allen kumohon jangan memaksakan diri untuk berbicara sayang,” sahut Noxita di sela isakan tangisnya. Sang pemuda hanya tersenyum dan berucap kembali.


“Senyumlah Xita, jangan khawatir. Aku Cuma tidur sebentar kok,” ucapnya mencoba menenangkan kekasihnya. Noxita pun tersenyum sedikit, Briallen akhirnya tertidur setelah melihat sang gadis tersenyum.


“Allen? Allen!” Noxita memanggil-manggil nama sang pemuda sambil menggoncang-goncangkan tubuhnya.


“Sudah Xita, dia hanya tertidur kok. Jangan khawatir ya,” ucap lembut lelaki berambut abu-abu keperakan itu, yang akhirnya bisa menarik perhatian sang gadis.


“Benar kan Kak Dinand? Allen hanya tertidur?” tanya Noxita memastikan. Ferdinand menganggukkan kepalanya, begitu juga dengan Lauryn.


“Syukurlah .... Syukurlah,” ucap Noxita dengan berurai air mata.


Briallen diberi pertolongan pertama oleh Lauryn, ia memberi suatu ramuan yang akan membuat Briallen bugar kembali. Walau darahnya banyak dihisap, namun sang pemuda harus istirahat penuh untuk membuat ramuan itu bekerja dengan maksimal.


“Oh Xita. Apa yang terjadi denganmu?” tanya Lauryn dengan penuh perhatian seraya memegang wajah Noxita.


“Apa yang saya lihat tadi sangat menyeramkan Kak Laury ....” ucap Noxita dengan tubuh gemetaran. Lauryn pun hanya memeluk sang gadis seraya menenangkannya.


“Sudah ... sudah ... Semua itu hanya mimpi sayang,” ucapnya dengan nada datar, namun terasa perhatian.


“Baiklah Kak. Aku percaya,” Noxita pun mencoba menenangkan dirinya.


“Tapi Kak. Apa yang sebenarnya terjadi pada saya?” imbuhnya menanyakan perasaan aneh yang ia rasakan ketika murka tadi.


“Xita tahu kan. Kalau Xita anak spesial?” tanya pemilik manik coklat jernih itu, yang dijawab sebuah anggukan oleh Noxita.


“Nah. Tadi Xita marah hingga mengeluarkan kekuatan spesial yang Xita pendam,” terang Lauryn yang membuat Noxita berwajah sedih.


“Tapi saya tak mau, jika kekuatan spesial milik saya ini membuat orang-orang yang saya cintai jadi menderita” ucap Noxita dengan tatapan nanar.


“Tenang saja sayang. Kita akan membuat Xita bisa mengendalikan kekuatan spesial milik Xita nanti, setelah masalah sekarang selesai.”


Ucapan Ferdinand mendapatkan anggukan dari Lauryn serta Noxita. Rios dalam wujud serigalanya, tiba-tiba muncul dan menempel pada Nonanya.


“Rios!” sorak Noxita seraya mengusap kepala sang serigala.


“Nona, apakah Nona baik-baik saja?” tanya Rios dengan khawatir.


“Iya Rios, aku tak apa. Bagaimana denganmu?” tanya Noxita.


“Saat Nona marah, aku juga merasa marah. Namun saat itu aku lebih memilih untuk kembali ke dimensi sana. Karena akan berbahaya jika aku tetap di sini tadi,” terang Rios yang kemudian mendapat pujian dari Nonanya.


“Syukurlah, Rios ku memang pintar. Maaf ya membuat kalian kesakitan.”


“Tidak kok Nona. Selama Nona selamat, apapun tak apa kok.”


“Tak bisa begitu juga!” ucap Noxita.


Setelah selesai memeriksa dan merawat luka yang dimiliki Briallen, Ferdinand pun memeriksa kondisi Noxita juga.


“Apa yang kau rasakan tadi Xita?” tanya Ferdinand dengan perlahan.


“Perasaan menakutkan, amarah menggebu-gebu, dan yang kulihat hanyalah kegelapan,” terang Noxita mencoba mengingat.


“Sudahlah Aim. Xita kan baru tenang,” Lauryn mencegah Ferdinand meneruskan pertanyaannya.


“Hm ... Baiklah. Xita istirahat dulu ya,” ucap Ferdinand yang mendapat anggukan sebagai jawaban dari sang gadis.


Dengan senang hati, Lauryn mengeluarkan sebuah keranjang berisi makanan. Iya kemudian memberikan sandwich pada Noxita dan menyuruhnya untuk memakan roti lapis tersebut. Noxita menggigit sandwich tersebut, dan mulai menikmatinya.


Sang gadis sudah menghabiskan sepuluh sandwich buatan Lauryn, Lauryn hanya bertepuk tangan dengan wajah datarnya. Noxita tersipu malu saat diberi tepukan tangan, sadar akan dirinya memakan banyak sandwich.


“Um ... Maaf Kak,” celetuk Noxita.


“Untuk?” tanya Lauryn dengan datar.


“Memakan banyak sandwich buatan Kak Laury,” jawab Noxita seraya menunduk dan memainkan kedua jari telunjuknya.


“Tak apa sayang. Kakak memang membuat dan membawakannya untuk kalian,” wajah datar Lauryn memancarkan aura hangat. Yaa, Lauryn dan Ferdian memang menyukai keluarga Rosaceae, terutama Lily.


Mereka bertiga berbincang-bincang tentang segala hal, hingga sang gadis menanyakan bagaimana cara mereka masuk ke hutan Emerald ini.


“Bagaimana cara kalian berdua masuk ke hutan ini Kak Dinand dan Kak Laury?” tanya Noxita penasaran.


“Kami punya caranya sayang dan itu hanya kami yang bisa melakukannya,” Ferdinand menjawab dan membuatnya seolah misterius.


“Baiklah Kak,” Noxita hanya mengangguk dan menatap wajah Briallen yang masih tertidur.


“Xita istirahat juga saja. Kami akan menjaga kalian,” ucap Ferdinand setelah melihat wajah lelah Noxita.


“Makasih banyak Kak,” Noxita merebahkan tubuhnya di samping Briallen. Dia langsung terlelap karena merasa nyaman berada di sisi orang yang ia cintai.


Lauryn menyelimuti tubuh mereka berdua dan memberikan tanda anggukan pada Ferdinand. Sang pria pun membalas anggukan wanita itu dengan senyuman, membuat pemilik manik coklat tersipu malu.


~ ☽ ☾ ~


Heyooo


>w


Welcome back to my channel. 🤣


UniPau di sini, Wassap yo?


Hehe. OwO


Bagaimana menurut kalian tanduk baru saya? x3


Tanduknya tumbuh dalam sekejap lho. 😱


Becanda kok. 😂 Saya cuma sedang cosplay. 🤣


Wah ... Xita menghancurkan rumah orang. 😱


Briallen payah ih. 😒


Briallan gimana nasibnya ya? 😱


Lily? 😱


Yaaa, nantikan di chapter selanjutnya~ 🤣


Terima kasih atas dukungan kalian. >


Mohon dukungannya lagi. >w<


Briallen : Jangan lupa like, comment, vote, share.


*bicara dengan dingin


VR. : Dingin amat Bang?


*diseret Briallen


Tidaaaakkkk. Jangan jadikan aku sup ikan paus. Dx



Na: Cek IG @rirymocha1 untuk bertemu dengan dengan anak-anak kesayangan VR. 🐼


VR. Stylo