
“Pyar?!” terdengar suara kaca yang pecah.
“?!” Para pelanggan yang sedang berada di dalam restoran serempak menoleh untuk melihat apa yang terjadi.
Ternyata seorang pelayan menjatuhkan gelas yang dibawanya, hingga pecah berkeping-keping, dan di sebelahnya ada cowok yang terlihat kesal.
“Kau! Jalan nggak pakai mata ya?!” bentak si cowok tersebut pada pelayan perempuan di hadapannya.
“Ma–maaf tuan. Saya tidak sengaja, lagipula Anda yang menyenggol saya.” jawab pelayan itu.
“Udah salah, berani jawab kau!” cowok tersebut membentak sembari mengangkat tangan kanannya, hendak menampar pelayan tersebut.
Si pelayan perempuan hanya bisa memejamkan matanya dan menunggu tamparan yang diarahkan padanya. Semua pelanggan hanya bisa menyaksikan hal tersebut, lama ia menunggu. Namun tak ada rasa sakit.
“Hey?! Apa-apaan kau? Lepaskan tanganku!” bentak cowok itu pada seseorang yang menangkap tangannya sebelum menampar pelayan itu.
“Wah! Sayang sekali kalau tangan yang kuat seperti ini digunakan untuk menampar perempuan tak berdaya.” Sindir sang pemuda seraya memegangi tangan cowok tersebut.
“Tak berdaya apanya?! Dia sudah menyenggolku, hingga lenganku terasa nyeri,” protesnya merasa jadi korban.
“Oh ... bagian mana yang nyeri?” ucap pemuda tadi sembari mencengkeram kuat lengan cowok itu.
“Sakit woy!?” keluh cowok itu, sang pemuda menyeringai.
“Ah! Jadi kau akan menampar pelayan perempuan tersebut dengan tangan yang sakit ini? Wah ... hebat sekali,” ucap pemuda berambut hitam kebiruan itu dengan nada mengejek.
“Kau?” ucap sang cowok dengan geram.
“Apa? Kan kenyataan,” ejek pemuda itu sembari mendekatkan dirinya ke cowok tersebut dan berbisik.
“Cih! K–kau selamat hari ini!” cowok itupun pergi setelah membentak pelayan perempuan yang menunduk ketakutan.
“Sudah. Kau aman sekarang,” ucap sang pemuda dengan lembut.
“T–terima kasih,” pelayan tersebut segera membersihkan pecahan gelas yang berserakan, setelah mengucapkan terima kasih.
“Tidak masalah, senang bisa menolong.” balas sang pemuda sembari nyengir dan kembali ke tempat duduknya di hadapan Lily, sang gadis kecil menatapnya dengan aneh. Ada suatu perasaan kesal yang mengganjal. Namun ia tak tau, perasaan apa yang sedang dialaminya.
“Kenapa?” tanya Vartan sambil mendengus. Lily hanya menjawab dengan kode mata, untuk melihat ke arah yang dituju oleh matanya.
Terlihat Ares yang sedang menahan amarahnya serta Nea yang memenangkan lelaki di hadapannya itu. Vartan hanya menelan ludahnya dengan kasar, sembari membatin.
“Mati aku,” ucap Vartan dalam hati sambil membayangkan hukuman apa saja yang pernah Abangnya berikan.
“Ha ha ha ... kebanyakan gaya sih kau, Bocah,” terdengar suara parau menyeramkan menggema di kepala Vartan.
“Diamlah kau Erebos!” balasnya dalam hati, yang dijawab tawa oleh sang Dewa Naga.
Ketika Vartan menghalau cowok pengacau tadi ....
“Ini anak kebanyakan gaya ....” gumam Ares dengan kesal.
Ares menatap tajam adiknya yang sedang sok jagoan di sana, Nea menenangkan lelaki tersebut. Lily malas untuk menyaksikan aksi Vartan. Ellard dan Liz menatap keluar jendela, melihat pemandangan. Rios hanya menatap Nonanya.
Kembali ke waktu setelah kejadian ....
Setelah sepuluh menit menunggu, akhirnya pesanan mereka datang. Menu Kids Meal untuk Ellard dan Liz. Sedangkan Ella, dia memesan sebuah sandwich serta salad buah.
Sebuah hamburger serta French Fries tersaji di hadapan Nea, Ares hanya memesan secangkir black tea. Vartan menikmati segelas cola-nya, Rios memakan medium beef steak dengan saus lada hitam.
Mereka bertujuh menikmati hidangan masing-masing. Nea memegang hamburger-nya dan langsung menggigit tanpa sungkan di hadapan Ares. Sang pemuda hanya memperhatikan gadis di hadapannya itu mengunyah dan menggigit.
“Ah ... aku ingin merasakan gigitanmu lagi Xita.” Batin Ares sembari terpaku sembari sedikit membuka mulutnya.
Nea yang tadi sibuk menikmati hamburger-nya, kini menatap lelaki di hadapannya itu. Dilihatnya Ares yang seperti ingin sesuatu, Nea pun menawarkan hamburger miliknya yang sudah setengah dimakan.
“Awwen mawu?” tanya Nea dengan mulut yang masih penuh, sang lelaki hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
“Tidak Xita. Aku sudah kenyang, hanya dengan melihatmu makan.” tolak Ares dengan lembut.
“Aku yang makan, kau yang kenyang? Ajaib sekali,” gumam Nea dalam kunyahannya, sang pemuda tertawa.
Ellard dan Liz melirik Ares sejenak dan kembali fokus pada omelette rice milik mereka. NeaNea menyuapkan sebuah French Fries ke mulut Ares yang sedikit terbuka.
“Makan, Sayang,” ucap Nea sembari memberikan senyuman termanisnya, Ares hanya bisa mengangguk dan mengunyah French Fries yang berada dalam mulutnya.
“Xita tetap menyeramkan kalau marah ....” batin sang pemuda berambut hitam keunguan itu.
“Enak, Sayang?” tanya Nea dengan penasaran. Karena selama ini ketika dia makan, Ares hanya menonton dirinya menghabiskan makanannya. Tanpa ikut makan bersamanya.
“Enak sih. Tapi ada yang lebih enak lagi dari ini,” ucap Ares dengan wajah yang mengandung banyak arti.
“Apa itu?” Nea bertanya sebelum menggigit hamburger-nya lagi.
“Darah Xita,” bisik Ares namun masih terdengar oleh Nea, hingga ia tersedak hamburger yang digigitnya barusan.
Ellard dan Liz menoleh, bingung kenapa kakaknya bisa tersedak. Si gadis kecil Liz dengan sigap memberi segelas air putih pada Nea.
“Uhuk?! Uhuk!? Terima kasih Liz,” ucap Nea disela batuknya sembari menerima gelas yang diberikan oleh Liz.
“Sama-sama Kakak. Makanya, Kak Nea jangan buru-buru makannya,” ucap Liz dengan gaya seorang ibu, yang membuat Nea tersenyum.
“Iya sayang, maaf ya. Terima kasih untuk airnya,” Nea tersenyum sembari mengusap rambut Liz. Namun si adik menahan tangan kakaknya.
“Ah?! Iya. Maaf sayang,” Nea urung mengusap rambut adiknya dan meneruskan untuk menghabiskan makanan miliknya, begitu juga Liz.
Setelah mereka selesai menghabiskan makanan yang mereka pesan, Ares segera memanggil pelayan. Untuk meminta bill. Salah satu pelayan segera menghampirinya dan memberikan bill.
Setelah Ares membayarnya di kasir, mereka hendak pergi. Sebelum ....
“Maaf. Silakan ini bingkisannya,” ucap kasir yang memberikan sebuah kotak berisi bermacam-macam cake pada Ares.
“Tapi kami tidak ada yang memesan ini.” Sanggah Ares yang kebingungan.
“Ini tanda terima kasih kami, karena telah membantu menghentikan orang tadi.” Jelas sang kasir.
“Hm ... baiklah. Terima kasih,” ucap Ares dengan datar.
Mereka bertujuh keluar dari restoran dan menuju mobil Ares. Sebelum keluar. Box berisi cake tadi, ia oper ke tangan Vartan.
Ketika Vartan hendak masuk ke dalam mobil, ia dihentikan oleh sebuah tangan kekar yang memegang pundaknya. Pemuda berambut hitam kebiruan itu langsung menoleh dan menerima sebuah tinjuan tepat di wajahnya, hingga ia jatuh tersungkur.
“Rasakan kau! Berani-beraninya menggangguku.” cowok dengan lengan bertato yang tadi membuat keributan di dalam restoran mengumpat dan meninju Vartan.
Ares dan Rios langsung bersiaga sembari melindungi Nea beserta adik-adiknya di belakang mereka. Sang gadis memeluk si Kembar dan menutup kedua telinga mereka. Ella gemetaran, melihat Vartan terluka. Iapun sontak menantang cowok berandalan tersebut.
“Hei! Cowok berandalan, beraninya main kasar. Dasar nggak punya sopan santun,” umpat Ella yang sudah berdiri di hadapan Vartan dengan kaki bergetar. Cowok tersebut melayangkan sebuah pukulan ke arah sang gadis.
“Lily ....” gumam Vartan yang langsung bangkit dan berdiri di hadapan Ella sembari melindungi sang gadis dari pukulan yang datang.
“Jangan berani menyakiti Tuan Putriku.” Ucap Vartan dengan suara yang menggeram.
Ella tersentak ketika pemuda bersurai hitam kebiruan itu menjadi pelindungnya. Dia juga merasakan debaran jantung yang cepat, saat mendengar dirinya disebut Tuan Putri. Sang gadis merasa jika wajahnya sangat panas, hingga memerah.
Vartan memberikan sebuah pukulan pada cowok berandalan itu dan dengan sekali pukul, cowok itu tumbang. Terdengar suara sirine polisi yang mendekat, sepertinya ada yang memanggil petugas keamanan.
Cowok berandalan itu segera dibekuk dan digiring ke dalam mobil polisi. Setelah memberikan sedikit keterangan, mereka bertujuh pun meninggalkan tempat tersebut.
Di dalam mobil, Vartan mengusap-usap kepalanya yang terasa benjol. Sebelum masuk ke mobil, kakaknya memberikan sebuah pukulan keras tepat di atas kepalanya. Karena ulahnya yang membuat adik kekasihnya hampir terluka.
Ella yang termenung mengingat kejadian tadi, hanya menatap keluar jendela dengan pipi yang bersemu merah. Makan siangnya terasa penuh getaran, bagaikan MSG yang memberikan rasa-rasa nikmat pada masakan. Namun yang ia rasakan justru rasa berdebar, ketika terbayang sosok gagah pemuda di belakangnya itu.
...~ ☽ ☾ ~
...
Hai hai hai. >w
Ehem!?
*lirik-lirik Briallan
Uhum! Ada yang sok keren nih. 😏
Briallan : Diamlah VR.
VR. : Tak mau. XP
*diseret Na
Na: Jangan ganggu dia, Kakak. Lebih baik Kakak main sama aku.
VR. : Baiklah Na. Main apa kita?
Na: Main masak paus! 😋
*memegang teflon dan spatula
VR. : Ampun. 😱
• • • •
Na: Kakak ... kenapa WTNC, up nya sering saat malam?
VR. : Namanya juga When The Night Comes, yaaa upload nya pas malam dong. Saat makhluk-makhluk lain keluar. 👀
*membuat pancake berbentuk paus
• • • •
Rios : *memasang papan kayu bertuliskan
“Tinggalkan jempol kalian, jangan lupa vote juga.”
Briallen : Follow dan like foto selfie ku yang ada di @rirymocha1
All : Sampai jumpa di chapter selanjutnya ♥
...VR. Stylo
...