
Dengan yakin, Erebos meninju wajah Gale sembari menyunggingkan senyum pertanda dirinya merasa menang. Lelaki tersebut kembali terpental hingga menghancurkan pepohonan yang masih berdiri kokoh.
“Hah! Rasakan itu!” teriak sang naga setelah membuat lawannya melayang kembali.
“Hei, Ular Putih. Belum selesai juga?” Erebos menoleh dan melihat ke tempat Ferdinand berada.
“Sedikit lagi,” jawab Ferdinand yang masih berkutat dengan mantra sihir.
“Hh ... baiklah, mari kita terus bermain.” Ucap Erebos sembari mengepalkan tangannya hingga berbunyi.
***
Seraya membawa Nea di atas punggungnya, makhluk besar itu berlari dengan cepat. Tidak mengindahkan teriakan Nea yang memohon dirinya untuk berhenti.
“Mau kemana kau?! Ah!? Berhenti!! Berhenti! Kalau kau mau mati, jangan bawa aku! Aku masih harus menyelamatkan Adikku!” teriak Nea sembari menarik-narik surai makhluk tersebut.
Nea melihat jurang yang semakin dekat, iapun berusaha untuk mengeluarkan sayapnya. Namun, gagal dan malah membuat dirinya makin lemah. Saat sudah di ujung jurang, Nea pun pasrah dan memeluk erat leher makhluk tersebut sembari memejamkan mata.
“Aaaaaaahhhhhhh!!!?”
***
Kereta api mulai mendesis, asap hitam keluar dari cerobongnya. Guncangan kecil terasa membuat tubuh Ella yang tak berdaya, deru mesin sama sekali tidak membuat sang gadis bergerak.
“Keretanya sudah mulai bergerak.” ucap si pendek.
“Yaaa ....” sahut si gembul menatap pemandangan yang bergerak melalui jendela kecil tersebut.
“Aku bosan nih.”
“Yuk kita bermain dengan itu.” si gembul mengarahkan ekor matanya ke arah Ella berada.
Sebuah seringai menghiasi bibir si pendek, dengan ekspresi wajah yang menjijikkan. Dia menatap tubuh Ella yang sedang tak berdaya itu.
***
Ares dengan perasaan was-was meminta Rios untuk segera menambah kecepatannya. Tatkala ia sedang melihat arah artifak satunya sedang bergerak, dia semakin menjadi khawatir.
“Rios, tambahkan kecepatanmu!” ujar Ares memerintah.
“Hum ... kenapa kau terdengar panik seperti itu?” tanya Rios dengan heran.
“Pusaka milik para Serigala itu menunjukkan bahwa Xita sedang bergerak menjauh dari Hutan Kegelapan ini.” Jelas sang pemuda terlihat kekhawatiran pada wajahnya.
“Baiklah. Akan kutambah kecepatanku, pegangan yang erat! Tapi jangan jambak rambutku,” ucap Rios memperingatkan dengan lirikan tajam.
“Baik ....” Ares mengiyakan.
Artifak atau pusaka itulah benda yang digunakan oleh Valdis dan Healey untuk menangkap Nea.
Benda pusaka milik Clan Neoma, yang memiliki kemampuan untuk mengetahui keberadaan orang yang membawa bagian satunya. Semacam alat pelacak, kalau di zaman modern ini menyebutnya.
Artifak ini bernama “Bola yang mengetahui keberadaanmu”. Ares mengingat ketika dirinya dijelaskan oleh Val dan Aley, beserta ekspresi heran Rios. Saat mereka berdua menyebutkan nama artifak tersebut.
“Hanya tinggal menyalurkan mana, maka bola ini akan menunjukkan dimana keberadaan bola pasangannya itu.” jelas si serigala bersurai emas.
Ares menghela nafasnya dengan berat, ia merasa frustasi. Karena dirinya yang tidak berdaya dan tak bisa segera ke tempat kekasihnya berada. Rios hanya melirik pada pemuda yang sedang berada di punggungnya itu.
“Tenanglah Bocah. Nonaku baik-baik saja, simpan tenagamu untuk menghadapi apa yang sedang menunggu kita di sana.” ujar Rios dengan tenang.
“Karena kau sendiri bisa merasakannya, walau aku tidak mengatakannya. Jadi tenanglah!” imbuhnya.
“Ah ... benar juga apa yang kau bilang. Tapi tetap kita harus segera ke tempat Xita!” perintah Ares setelah ia memikirkan sejenak perkataan Rios tadi. Sang serigala hanya bisa menghela nafas panjang.
“Iya iya ....” dengan segera Rios melesat dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia.
Tanpa menyadari jika dua orang wanita yang mengikuti mereka sudah tidak ada. Begitu juga dengan dua werewolf itu. Mereka berdua fokus untuk segera sampai.
***
Pupil merah muda itupun membelalak takjub menatap pemandangan matahari terbit yang menyilaukan. Seketika itu juga Nea merasakan kulitnya tersengat dan terbakar.
“Akh?!” Nea tersentak dengan rasa panas yang tiba-tiba membakar kulitnya. Kulit putihnya menjadi kemerahan, rasa perih ia rasakan. Baru dari gelang yang diberikan oleh Ares bersinar. Tak berselang lama, sekelilingnya terasa dingin dan seperti dilindungi oleh sebuah tirai penyekat transparan.
“Hum?” Nea merasa tidak kesakitan lagi, ia lalu melihat sekelilingnya. Nampak tirai pelindung tipis di hadapannya.
Sang gadis pun ingat, jika dulu sewaktu kecil dirinya juga pernah merasakan rasa sakit terbakar oleh sinar matahari, dan setelah itu dia diajari cara untuk membuat serta mengaktifkan tabir pelindung yang terbuat dari mana. Mereka membutuhkan tirai pelindung tersebut, ketika cuaca sedang cerah. Tempat mereka tinggal sering berkabut tipis, hingga matahari tak bisa menampakkan dirinya.
“Aku melupakan fakta, jika aku telah kembali menjadi seorang Vampire. Hidup selama 23 tahun dalam wujud manusia, membuatku lupa akan kenyataan jika Vampire rentan terhadap cahaya matahari.” Nea bergumam.
Makhluk berwarna biru itu sedang menuju ke arah timur, tempat dimana matahari terbit. Nea memicingkan matanya seraya melindungi pandangannya dengan mengarahkan tangan kanannya ke depan matanya. Berharap sinar matahari tak menyilaukan dirinya.
“Hey! Makhluk biru. Mau kau bawa aku kemana?” tanya Nea dengan kesal, karena sudah membuat dirinya ketakutan hampir mati.
Makhluk itu menolehkan kepalanya pada sang gadis, setelah tersenyum imut dia kembali fokus pada tujuannya. Iapun menuju timur dengan kecepatan normal.
“Andai aku tidak lemah begini, maka aku sudah terbang dengan sayapku sendiri.” gerutu Nea yang tak terima dirinya diculik oleh makhluk besar berwarna biru ini.
Tapi ... entah kenapa makhluk ini auranya mengingatkanku pada Allen ....
“Semoga dia baik-baik saja,” gumam Nea setelah berbicara dalam hatinya. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran, tapi ia harus menyelamatkan adiknya. Apapun yang terjadi.
Nea berpegangan pada rambut makhluk yang ditungganginya itu, tanpa ragu. Ia pasrah pada makhluk tersebut. Entah dirinya akan dibawa kemana.
***
Neve membawa istri majikannya ke arah yang ditunjuk oleh wanita tersebut. Dia bilang, dirinya merasakan keberadaan suaminya dari arah sana.
“Neve, kita ke arah kanan saja! Aku merasakan keberadaan Aim di sana.” ucap Lauryn ketika sudah berada di tengah-tengah hutan.
“Bagaimana dengan rencana menyelamatkan Nona Lily, Nyonya?” tanya Neve dengan sedikit tersentak.
“Mereka berdua pun sudah bisa menghadapi semua lawan.” ucap Lauryn dengan wajah datar.
“Baik Nyonya,” jawab Neve setelah yakin dan setuju dengan ucapan istri Tuannya itu.
Mereka berdua pun segera mengambil arah kanan dan dengan cepat menuju tempat Ferdinand dan Vartan berada.
***
“Di sana Rios!” seru Ares sembari menunjuk sebuah tebing.
“Hum ....” sahut Rios dengan cepat mengarah ke balik tebing.
“?!”
...~ ☽ ☾ ~...
Selamat datang kembali ....
VR memohon maaf karena telah menghilang lamaaaaaaaa sekali. VR menghilang karena mengikuti lomba cerpen. Yaaaa, saya tau ini tidak bisa dijadikan alasan. Tapi VR tidak terlalu bisa mengerjakan 2 cerita sekaligus.
Dan Alhamdulillah.
Karena menghilang tersebut, VR mendapatkan juara 3 dalam lomba cerpen itu.
Sekali lagi VR mohon maaf, dan VR akan berusaha untuk memberikan cerita yang lebih baik lagi serta lebih seru.
Nantikan ya...
Terima kasih sudah membaca WTNC, VR akan lebih senang lagi dengan dukungan kalian yang berupa like, vote, share dan Comment.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya. ^~^)/
...VR. Stylo...