When The Night Come

When The Night Come
Es Krim



Setelah perjalanan yang memakan waktu dua jam dari rumah Nea, akhirnya terlihat atap biru menara tertinggi di Taman Delphinidin berlatarkan langit yang bermandikan jingga.


Yup, mereka sampai saat senja menjelang malam. Ares segera mengarahkan mobilnya ke tempat parkir, setelah mendapat tempat yang kosong. Ia memarkirkan mobilnya dan keluar, mengajak Nea beserta adik-adiknya dan juga Vartan. Tak lupa juga Rios.


Ares yang telah membeli tiket secara online, hanya tinggal menunjukkan handphone-nya yang menampilkan tujuh tiket masuk untuk tujuh orang. Setelah mereka diberi gelang akses masuk dan juga akses naik semua wahana. Sang pemuda beserta enam orang lainnya bergegas masuk dengan tertib.


Mata si Kembar berbinar melihat berbagai wahana permainan yang nampak di hadapan mereka. Dengan gembira, mereka berdua berlari menuju ke Carousel. Melupakan apa yang dikatakan oleh kakak perempuan tertuanya, setelah turun dari mobil.


“Ingat ya. Jangan pergi berkeliling sendirian, nanti kalian bisa-bisa tersesat ataupun diculik.”


Nea dengan segera mengejar lalu menggandeng lengan kecil si Kembar, seraya berkata.


“Kakak kan sudah bilang. Tidak boleh berkeliling apalagi berlarian tanpa arah sendiri,” ucap Nea yang membuat Ellard dan Liz menundukkan kepalanya.


“Maafkan kami Kakak ....” ucap mereka serempak dengan nada sedih.


“Baiklah. Tapi, jika bersama dengan orang dewasa. Kalian boleh berkeliling.” Imbuh Nea yang membuat si Kembar menatapnya dengan mata yang berbinar bahagia.


“Kami mau bersama Kakak Serigala!” ucap si Kembar serempak, Rios tersentak. Karena Ellard dan Liz memilihnya.


“Baiklah. Kalian bisa bersama Rios,” ucap Nea yang kemudian melepaskan lengan adik-adiknya. Si Kembar dengan cepat menuju tempat Rios berada.


“Nona?” rengek Rios perlahan, dilihatnya Nea yang tersenyum dan berkata.


“Tolong jaga Adik-adikku ya Rios.”


“Baik Nona!” seru Rios dengan semangat. Iapun menggandeng lengan si Kembar. Ellard di kanan dan Liz di kiri.


“Nah, mari kita berkeliling!” seru Nea yang disahuti teriakan semangat oleh si Kembar.


Ella hanya memandangi kakaknya yang nampak antusias. Dia berpikir, mungkin karena kami sibuk beberapa hari terakhir dan membuat kami jarang bermain bersama kakaknya. Jadinya si gadis kecil memahami kalau kakaknya menjadi sangat bersemangat untuk bermain bersama adik-adiknya.


Namun, saat sang gadis kecil sadar. Dia harus bersama pemuda berambut hitam kebiruan yang menyebalkan itu. Ia langsung beranjak dan mendekati Liz.


Sebenarnya mereka tidak berpencar, hanya saja. Ares yang ingin terus menempel dengan Nea. Membuat si Kembar dan juga Ella Vartan merasa tidak mau menjadi obat nyamuk.


Sehingga si Kembar ingin bersama Rios, Vartan harusnya dengan Ella. Namun si gadis kecil malah buru-buru mendekati adiknya.


Vartan mendengus perlahan dan mengikuti mereka. Nea pun mengajak mereka semua untuk naik Carousel. Ares dan Nea naik di tempat duduk yang berbentuk kuda, Ellard, Liz dan Rios duduk di kereta kencana.


Sedangkan Ella dan Vartan, mereka naik di kereta kencana berdua. Sebenarnya Ella tak mau naik satu tempat dengan Vartan. Namun apa boleh buat, karena tempat yang lain sudah ditempati oleh pengunjung yang lainnya. Mau tidak mau, ia harus duduk bersama Vartan.


“Hai Nona. Kenapa kau cemberut terus?” tanya Vartan yang merasa agak canggung dengan suasana di dekatnya.


“Nggak papa,” jawab Ella dengan singkat.


“Kalau jawabannya seperti itu, gimana bisa ngelanjutin?” gerutu Vartan dalam hati.


“Semangat lah bocah!” sahut Erebos yang ada di dalam diri Vartan, sembari tertawa.


“Hm ....” gumam Vartan dengan lemas.


Bagi Erebos, apa yang sedang dialami oleh Vartan adalah hiburan untuknya. Dia menikmati segala apa yang terjadi pada pemuda berambut hitam kebiruan tersebut, layaknya menonton sebuah film.


Dia tak bisa mengambil alih kendali tubuh Vartan ataupun muncul di luar tubuh sang pemuda. Kecuali jika diijinkan oleh si empunya. Namun, menonton apa yang dialami oleh si bocah itu. Menurut Erebos, tidak buruk juga.


Setelah Carousel berhenti, mereka semua turun dan menuju ke wahana berikutnya. Nea ingin naik cangkir berputar, Ares tentu saja menurutinya. Si Kembar juga ingin naik, mau tidak mau Rios mengikuti mereka. Hanya Ella dan Vartan yang tidak menaiki cangkir berputar.


“Kenapa tidak mau naik ini Lily?” Vartan yang keceplosan menyebut nama lama Ella, hanya bisa merutuki kesalahannya.


“Lily? Namaku Ella, bukan Lily! Ella Rozenweits, ingat itu!” seru sang gadis kecil dengan bersungut-sungut.


“Ah ... iya, maaf Ella. Perkenalkan, namaku Vartan. Vartan Centifolia,” ucap sang pemuda itu sembari mengulurkan tangannya. Ella menggenggam tangan Vartan dan melakukan handshake.


“Tangan yang lembut ini, sama sekali tidak berubah ....” benak Vartan mengingat sensasi telapak tangan Lily.


“Sudahkah? Tolong lepaskan tanganku,” tegur Ella.


“Ah! Maafkan aku,” Vartan melepas genggaman tangannya dan membuat tangan Ella bebas.


Merekapun melihat kakak-kakaknya yang tertawa bahagia, ketika cangkir mereka putar. Nea melambaikan tangannya pada Ella dan Vartan yang tidak naik. Mereka berdua pun membalas lambaian secara bersamaan, hingga membuat Nea tertawa kecil.


Lily hanya bisa tersipu malu dan menurunkan tangannya, melihat respon kakaknya itu. Vartan melirik sang gadis sekilas, sebuah senyum tertarik di bibirnya.


“Apa kau mau eskrim, Ella?” tanya sang pemuda tiba-tiba. Ella terkesiap dan menatap wajah Vartan.


“Mau!”


Seperti melupakan kecanggungannya karena sebuah kata ajaib, Ella dengan cepat menjawab tawaran Vartan.


“Baiklah, mari kita beli eskrim.”


Vartan mengajak Ella untuk pergi membeli eskrim, sang gadis dengan senang hati mengikutinya. Tak lupa, pemuda itu mengirim pesan pada abangnya. Bahwa ia mengajak Ella untuk membeli eskrim.


“Hanya mengirim pesan. Jika Tuan Putri kubawa,” ucap Vartan yang membuat pipi Ella merona. Sang pemuda tertawa kecil, melihat responnya.


Ella hanya bergegas untuk menuju ke tempat penjual eskrim berada, Vartan mengikutinya dari belakang.


Sesampainya di sana, Ella lalu melihat-lihat eskrim yang tersedia. Mata Ella berbinar-binar, melihat berbagai macam eskrim yang tersedia.


“Kamu mau apa aja? Pesan semua,” ucap Vartan yang membuat Ella terkejut tak percaya.


“Beneran?” tanya sang gadis kecil, memastikan jika tawaran Vartan bukan bohongan.


Seperti mendapatkan lotere, anggukan sang pemuda membuat Ella kegirangan.


“Hehe ... segitu senangnya dengan eskrim,” sindir sang pemuda yang mendapatkan injakan kaki dari Ella. Vartan hanya bisa meringis, menahan sakit.


“Diamlah! Jangan ganggu kebahagiaanku dulu,” bentak sang gadis yang membuat semua pasang mata tertuju padanya. Seketika itu Ella memesan satu scoop untuk semua rasa eskrim yang ada.


Pemuda bersurai hitam kebiruan itupun hanya menggelengkan kepalanya, melihat Ella membawa semangkuk penuh eskrim dengan berbagai rasa.


...~ ☽ ☾ ~


...


Hai. Hai. ||^°)/


Saya kembali. ><)/


Kalian rindu VR. Tak?


*mengedipkan mata


All : *menatap VR. dengan tajam


VR. : Eh? Eh? Ada apa ya? Apa kalian rindu aku?


All : Tak ....


VR. : Um ... lalu?


All : Kau tidak memberi gaji kami ....


VR. : Eh???


Tapi gaji kalian diurus oleh Allen


Dx


All : *berganti menatap Allen


Briallen : Sudah ku transfer semua, kalian saja yang tak mengeceknya.


*berlalu pergi membawa Xita


VR. : *menatap tajam para anak-anak tidak sopan


Hm ...?


*memberikan senyuman termanis


All(selain Allen dan Xita) : Ampun Mama ....


VR. : ^^


Na : Jangan lupa klik 👍🏻 buat WTNC


Comment


Vote nya jangan lupa


Like dan vote kalian memberi semangat pada kak VR.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


^O^)/


Cek @rirymocha1 untuk apa yang dikerjakan olehnya~


...VR. Stylo


...