
“Dia ini kan Peri angin! Bisa-bisanya kau memukulnya seperti menepuk seekor nyamuk?!” hardik Ferdinand pada Vartan.
Vartan malah memasang wajah 'bodo amat' dan membiarkan mereka untuk mengurusi makhluk itu. Diapun duduk dan terdiam, memandang langit yang telah merubah warnanya menjadi biru cerah dengan matahari yang bersinar terik. Ia memicingkan mata dan dalam tubuhnya pemuda tersebut sedang berdebat dengan sang naga.
“Hey Bocah!”
“Hum?”
“Kenapa kau tepuk dia seperti itu?”
“Karena aku tak suka ada yang menempati wajahku, selain ciuman Lily.”
“....”
Erebos terdiam, tak bisa berkata-kata untuk menimpali perkataan pemuda itu. Dengan geram, sang naga menjatuhkan Vartan menggunakan ekornya.
“Kenapa sih!?”
“Kau bodoh. Apa kau tak ingat? Jika peri kecil adalah pembawa pesan sang Ratu?”
Vartan membelalakkan matanya, Erebos hanya mendengus. Pemuda itupun seketika mengingat kejadian beberapa abad lalu, ketika dirinya masih kecil.
Valsea Eropa Selatan, 1852
Akademi Aeterna
Sebuah akademi pendidikan yang dibangun dan dikelola langsung dibawah naungan keluarga kerajaan. Tempat dimana para anak bangsawan menimba ilmu dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan sosial serta politik.
Briallan de Roosevelt Vangelis, pemuda yang sekarang berusia 13 tahun dari keluarga Vangelis itu telah berada di Akademi Aeterna selama setahun ini.
Pemuda yang memiliki wajah rupawan dan mirip dengan kakak tertuanya itu, sering disebut sebagai Briallen 2. Hingga ia merasa muak, karena bayang-bayang nama sang kakak selalu mengikutinya kemanapun ia pergi. Briallan sebenarnya ingin hidup bebas, semaunya. Namun semua berubah, setelah ia lebih mengenal Lily.
Briallan sedang membenamkan wajahnya di atas permukaan meja yang datar, dalam sebuah ruangan berisi tempat tidur, rak buku, lemari, serta beberapa barang pribadi miliknya. Ia merasa kehidupannya di akademi ini sangat sulit.
“Hh ....”
“Kenapa kau menghela nafas berat begitu Bocah?”
“Ini semua salahmu Naga bodoh! Sudah kubilang berulang kali, kalau kita sedang di luar sana.
Jangan ajak bicara aku!”
“Aku kan tidak mengajakmu bicara, aku hanya mengomentari mereka.”
“Iya. Tapi itu semua membuatku terganggu, apalagi hanya aku yang mendengarmu.”
Briallan menggerutu sembari bersungut-sungut karena marah. Ia sekarang menghadap depan sembari menempelkan dagunya di atas meja.
Mendadak angin kencang menabrak jendela kamarnya, hingga terbuka dan membuat semua kertas yang ada di kamar Briallan berserakan. Semakin dongkol hati pemuda itu, iapun berteriak
“Kenapa angin bisa berhembus sangat kencang seperti ini??!”
Ketika ia menyelesaikan ucapannya, sesuatu menabrak wajahnya dan menempel. Briallan yang histeris, takut wajahnya ketempelan benda asing. Dengan segera menarik paksa sesuatu itu.
“Erebos! Apa ini yang menempel di wajahku?”
“Mana kutahu. Aku kan melihat apa yang kau lihat. Jadi kalau dirimu melihat tembok, aku juga melihat tembok.”
“Tapi ini susah untuk dilepaskan.”
Briallan masih menarik paksa sesuatu yang menempel di wajahnya itu. Lama ia berusaha, akhirnya dia menyerah dan berjalan menuju cermin.
“Jadi ... apa ini Erebos?”
“Yaaa ... setahuku itu peri angin Sylph.”
“Jadi dia yang membuat angin kencang tadi!”
Sylph makin erat berpegangan pada pipi Briallan. Sang naga hanya menghela nafas, merasa lelah dengan tingkah pemuda yang menjadi tempat inang jiwanya bernaung itu. Iapun diam dan tak berkomentar lagi.
“Huufft ... baiklah. Aku tidak akan memaksa lagi. Kalau mau lepas, silakan saja!” ucap Briallan yang kemudian duduk di atas tempat tidurnya.
Sylph agak melonggarkan cengkeramannya. Namun ia masih takut untuk menampakkan dirinya di hadapan pemuda tersebut.
“Sepertinya ia takut denganmu, Bocah.” ucap Erebos yang terdengar seperti mengejek.
“Diam kau Naga jelek! Paling juga dia takut karena auramu yang menyeramkan itu.” bentaknya pada naga di dalam dirinya, disertai dengan ejekan balasan.
“Tapi yang terlihat memiliki 'aura yang menyeramkan' itu adalah kau.” balas sang naga dengan penekanan yang membuat Briallan tak bisa membalas ucapannya.
Sylph kembali mencengkram pipi Briallan yang membuat pemuda itu kesakitan dan kelabakan.
“A–a ... maksudku bukan kamu kok peri kecil.”
“Halah! Sok bernada lembut dan merayu.”
Briallan menahan dirinya dan berusaha untuk tidak membalas ucapan Erebos. Ia mengabaikan sang naga dan kembali memikirkan strategi untuk membuat peri kecil tersebut lepas dari pipinya.
“Hm ....”
“Ah!”
Briallan yang sepertinya mendapatkan sebuah ide. Kemudian berjalan menuju sebuah meja dan membuka lacinya. Ia mengambil sesuatu dan juga sebuah piring.
“Kamu pasti lapar ya. Ini makanlah peri kecil! Kudengar dari Lily, jika kalian suka kudapan manis.”
Briallan meletakkan beberapa kue kering simpanannya, dengan berat hati ia mengeluarkan cemilan tengah malamnya itu dan memberikannya pada sang peri kecil.
Sylph melirik piring yang berisi cookies lezat itu. Tapi terbayang wajah murka pemuda yang ditempelinya itu. Ia semakin erat dan membenamkan wajahnya di pipi Briallan. Sebelum ....
“Kruyukk ....”
Suara perut keroncongan menggema di ruangan yang mendadak sunyi tersebut. Sylph terkejut dan dengan cepat ia melepas genggamannya. Lalu ia melesat ke pojokan rak buku dan bersembunyi di antara dinding rak dan buku. Menutupi wajahnya karena malu.
Briallan hanya menghela nafas panjang, ia perlahan mendekati rak buku yang dituju oleh si peri kecil. Diintipnya sang peri yang meringkuk, menutupi wajahnya tersebut.
“Peri kecil ... um, bukan. Sylph ... kemarilah. Ini kue untukmu, jangan takut.”
Dengan hati-hati Briallan menyodorkan kue di ujung tempat Sylph berada. Peri kecil yang berada di pojokan rak buku, merangkak perlahan dan menarik kue itu masuk. Terdengar suara seseorang yang makan dengan lahap, Sang pemuda pun menunggu.
Hingga suara tersebut berhenti, selang beberapa menit kemudian. Sylph terlihat keluar dari tempatnya sembunyi dan menatap pemuda berambut hitam kebiruan itu. Sang pemuda hanya tersenyum seraya menyodorkan telapak tangannya ke arah Sylph dan mengajak peri tersebut ke meja belajarnya, kemudian memberi kue lainnya pada si peri.
10 menit pun berlalu, sekarang Sylph sudah kenyang dan tenang. Ia tak lagi merasa takut pada pemuda yang memiliki kekuatan naga itu. Iapun ingat tujuannya menemui pemuda ini, dengan sigap Sylph merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sepucuk surat dengan segel lilin berwarna pink bersimbol mawar dengan sayap yang melengkung ke depan.
“Huh?! Surat? Eh!? Dari Lily?” ucap Briallan kaget, Sylph hanya mengangguk. Ia melihat simbol keluarga Rosaceae beserta warna khas milik Lily dengan mata berbinar. Sang peri hanya memutar matanya.
“....”
Erebos hanya memasang ekspresi seperti orang yang sedang melihat pemandangan aneh, dia hanya diam. Walau merasa geregetan atas tingkah bocah tersebut. Sylph pun memasang ekspresi yang sama dengan Erebos di dalam sana.
“Ini dari Lily!” serunya kegirangan, dua makhluk yang menyaksikannya hanya bisa menatap pemandangan dengan ekspresi aneh.
“Senangnya ... oh Lily-ku. Mari kita baca!” ucapnya seolah mengajak yang lain untuk ikut mendengarkan.
Dear Allan.
Apa kabarmu di Akademi? Kuharap engkau baik-baik saja dan tidak menantang ataupun menghajar guru atau murid lain di sana.
Wajah Briallan seketika pucat, mengingat kalau beberapa waktu lalu ia meninju seseorang yang meledek dia ayam. Iapun lanjut membaca goresan demi goresan.
Jangan asal menggunakan tinjumu untuk membuat seseorang babak belur, pergunakanlah itu ketika kau melindungi orang lain atau membela diri. Tapi ingat, jika hal sepele seperti dihina. Lantas kau melayangkan sebuah pukulan, itu semua hanya akan berakhir runyam.
Pemuda tersebut tiba-tiba merasa lemas.
Jika dihina, maka balas mereka dengan perkataan yang membuat mereka tidak bisa membalas lagi.
Briallan spontan menganggukkan kepalanya.
Aku di sini sedang mempersiapkan diriku untuk ujian yang akan datang. Apa keseharianmu berat, Allan? Jangan lupa untuk belajar! Ingat impianmu! Kau kan ingin melampaui Kak Briallen. Supaya kamu tidak dianggap replikanya lagi, kan? Jadi jangan membuat masalah. Tetap semangat ya Allan, mari kita berjuang untuk membuat nyata impian kita.
Salam sayang dari
Lily de Diamond Rosaceae.
Pemuda bersurai hitam kebiruan itu mendadak sangat bersemangat dan iapun melompat kegirangan. Dia berputar-putar sembari memegang kertas tersebut dengan kedua tangannya, layaknya seseorang yang sedang berdansa. Saat sampai di dekat tempat tidur, ia langsung menjatuhkan dirinya dan memeluk surat itu.
“Ah ... Lily ... terima kasih sudah mengingatkanku kembali.” gumamnya dengan hati yang kembali segar.
Ia tak lagi merasa suntuk, lelah, kesal, jengkel apalagi perasaan-perasaan negatif yang mengerumuni dia beberapa bulan ini. Briallan bergegas bangun dan mendekati Sylph yang memandangnya dari atas meja belajar dari tadi.
“Peri kecil. Tolong bantulah aku ....” ucap Briallan dengan nada memohon.
Sylph menatap pemuda itu dan ia bersedekap dada, kemudian memegang dagunya. Seolah berpikir.
“Ayolah Peri kecil. Aku akan memberikan manisan yang lain, setiap kamu kembali kesini.” Ujarnya meyakinkan Sylph.
Sylph masih dalam pose berpikirnya, sesekali diliriknya si pemuda itu. Hanya tatapan memelas yang terlihat di sana.
“Baiklah. Akan kutambah dengan olesan madu di atasnya.” imbuh pemuda tersebut.
Sylph seketika memandang Briallan dan menganggukkan kepalanya, tanda setuju. Sang pemuda tersenyum lebar, terlihat sangat bahagia.
“Jelek amat ekspresimu, Bocah!” celetuk Erebos membuyarkan kebahagiaan Briallan.
“Diamlah Kadal! Kau merusak suasana saja.” hardiknya pada Erebos di dalam tubuhnya, sang naga hanya tertawa.
Namun bentakan itu terdengar oleh Sylph, hingga ia sedikit gemetar ketakutan. Briallan menoleh dan menatap peri kecil tersebut.
“Maafkan aku Sylph, tapi bukan kamu yang kubentak ... arghh ....” ucap Briallan yang diakhiri dengan teriakan lirih yang frustasi.
Erebos makin tertawa terbahak-bahak. Pemuda tersebut menggaruk kepalanya, ia memandang peri angin itu dengan lekat. Iapun kembali duduk di kursi yang ada di dekat meja belajar, menatap Sylph yang sedang memundurkan tubuhnya perlahan. Ada sedikit ekspresi takut di wajahnya.
“Maafkan saya Sylph. Saya tidak bermaksud untuk membentakmu, tapi ada suara yang sangat mengganggu dalam kepalaku.” jelas pemuda tersebut dengan suara lembut serta nada yang terdengar bingung.
Briallan melihat tubuh si peri angin kecil tersebut dengan tatapan yang penuh penyesalan. Sylph yang sedari tadi melirik diam-diam, akhirnya memutar badannya dan menghadap ke pemuda bersurai hitam kebiruan itu.
“Hei Bocah! Dia sedang menatapmu tuh.”
“Iya, aku sudah tau.”
Setelah menjawab perkataan Erebos secara perlahan pemuda itu menatap si peri. Sambil memandangnya dengan tatapan penuh harap.
Sylph mengacungkan dua jarinya, pertanda ia ingin cemilannya 2 kali lipat. Briallan yang melihatnya langsung melongo. Namun ia segera mengiyakan, saat Sylph hendak memutar badannya kembali.
Mereka berdua pun menyetujui kesepakatan itu, sembari menggenggam telunjuk Briallan. Sylph tersenyum senang. Pemuda tersebut pun langsung menulis sebuah surat, dengan ekspresi serius. Ia memikirkan apa yang ia tulis di atas secarik kertas tersebut. Sang peri asyik memakan cemilan baru, yang beberapa menit lalu dikeluarkan oleh pemuda itu.
“Selesai!” seru Briallan, setelah berkutat dengan pena dan tinta serta lembaran-lembaran kertas yang sekarang ada di dalam amplop bersegel lilin putih.
“Ah!? Aku lupa menandainya.”
Briallan meletakkan surat tersebut dengan segel liliu mengahadap atas, iapun konsentrasi dan memfokuskan kekuatan sihirnya ke segel lilin tersebut. Hingga berubah menjadi navy.
“Ini baru beres. Tolong bantuannya Sylph.”
Sang pemuda memberikan surat itu pada peti kecil yang sudah menghabiskan cemilannya. Dengan segera, ia masukkan ke tas kecilnya dan bersiap pergi. Kembali pada sang ratu.
Sejak saat itu mereka berdua saling bertukar surat dan berkat dukungan serta omelan Lily.
Briallan berhasil lulus dari Akademi Aeterna dengan nilai yang tinggi. Iapun menyelesaikan pendidikannya hanya dalam waktu 3 tahun, yang mana pendidikan penuh harusnya dilalui selama 4-5 tahun.
***
Seketika Vartan tersentak, keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuhnya. Dengan kaku ia menolehkan kepalanya ke tempat Ferdinand dan Lauryn mengurus Sylph.
“Gawat ....”
...~ ☽ ☾ ~...
Catatan VR. Stylo ....
Dengan menginfuskan energi sihir pada segel lilin yang ada di surat, bisa membuatnya menjadi sesuai dengan warna energi sihir milik pengirim. Dan yang menggunakan cara itu hanya 5 orang.
Sylph adalah salah satu peri yang di-summon oleh Lily sebagai pengantar pesannya. Dan masih ada peri-peri lain yang dipanggil oleh Lily untuk membantunya dalam mengurus sesuatu.
***
Halo ....
||^’)/
VR kembali .... 😭😭😭😭
Dan sekarang mau kabur lagi.
(._.|||
Sampai jumpa di Chapter selanjutnya. Maafkan saya. 😭😭😭😭
VR. Stylo