
Saat Ares dengan jelas melihat wajah lelaki yang sebelumnya membaca buku, ia merasa geram. Amarah bergejolak di hatinya, namun ia mencoba menahan dan menenangkan dirinya sendiri.
“Dia ...” batin Ares dengan amarah. Nea yang tidak merasakan suatu hal yang aneh, memperkenalkan Kakaknya pada Ares.
“Ares, perkenalkan! Dia Kakak laki-lakiku,” ucap Nea seraya menunjukkan Kakaknya.
“Perkenalkan! Aku Theo Rozenweits Kakaknya Nea,” kakak Nea mengulurkan tangannya pada Ares.
“Ares Centifolia kekasih Nea,” jawabnya dengan datar sambil menerima jabatan tangan Theo. Setelah Ares berjabat tangan, ia langsung bangkit dari duduknya dan berpamitan.
“Maaf Madam. Saya baru ingat jika ada urusan yang sangat penting. Karena itu saya mohon undur diri terlebih dahulu,” ucap Ares dengan sopan pada Sarah.
“Baiklah nak Ares. Terima kasih sudah mau mampir dan hati-hati dijalan,” balas Sarah. Dengan tenang, Ares keluar dari rumah Nea. Nea yang merasa aneh dengan kondisi kekasihnya, mencoba memanggilnya.
“Ares? Tunggu!” seru Nea yang mengejar Ares, karena merasa ada yang aneh pada kekasihnya. Seluruh anggota keluarga Nea hanya melongo, saat Nea pergi mengejar pemuda itu. Theo hanya menatap tajam ke arah pintu.
Nea yang meninggalkan keluarganya untuk mengejar Ares, berteriak memanggil sang pemuda. Hingga ia berhenti saat di dekat mobil.
“Allen! Kamu kenapa sayang?” ucap Nea saat sudah berada di dekat Ares. Ia membelakangi Nea, kemudian bicara.
“Aku tak apa-apa Xita,” terbersit sebuah pemandangan buruk yang menghantui Ares sslama berabad-abad ini. Nampak diingatannya, tubuh kaku Noxita dalam pelukannya.
Terdengar suara Bass Ares yang bergetar, menandakan bahwa dia tidak baik-baik saja. Nea mendekati kekasihnya, diputarnya badan Ares dan dipeluknya dengan erat. Ares tersentak sebentar, namun saat ia merasakan suhu tubuh Nea yang memeluknya. Akhirnya dia bisa sedikit agak tenang. Gejolak amarah yang sebelumnya ia rasakan, sekarang perlahan memudar.
“Allen kalau ada masalah, jangan dipendam sendiri. Ceritalah sayang. Mungkin aku bisa membantu,” ucap lembut Nea semakin membuat Ares tenang. Ares pun menundukkan kepalanya dan membenamkannya di pundak Nea.
“Aku tak apa Xita. Aku hanya butuh dirimu untuk menenangkan ku. Maukah kau menemaniku sebentar?” ucap Ares yang mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Nea. Manik biru bertemu dengan manik merah.
Sang pemilik manik merah muda itupun tersenyum lembut dan mengangguk. Nea yang memilih untuk menemani Ares, tanpa memaksanya untuk bercerita hanya tersenyum. Ares kembali membenamkan wajahnya di pundak sang gadis, surai hitamnya membuat Nea sedikit merasa geli. Namun ia tahan dan memilih untuk menepuk-nepuk punggung Ares.
“Tenanglah sayang. Ada aku di sini, jangan khawatir. Aku akan selalu menemani Allen,” ujar Nea sembari tetap menepuk-nepuk punggung Ares.
Sang pemuda memeluk sang gadis dengan erat, ia seperti takut untuk kehilangan dirinya lagi. Nea yang tak tau apa yang dipikirkan oleh kekasihnya itu, hanya bisa diam dan menemaninya sampai ia tenang. Sepasang manik merah muda gelap, melihat mereka dari jendela lantai atas.
15 menit sudah mereka bertahan di posisi itu, Nea yang mulai merasa lelah berdiri pun bicara.
“Pangeranku. Apa kamu sudah tenang sayang?” suara lembut namun sedikit bergetar dikeluarkan Nea.
“Ah? Maaf sayang,” Ares terkesiap mendengar suara Nea yang bergetar. Ia langsung melepaskan pelukannya dan berdiri tegak. Memberi kecupan di kening Nea dan berucap.
“Terima kasih karena sudah menemaniku sayang. Kamu adalah hartaku yang paling berharga di dunia ini,” terdengar kesedihan di suara lembut sang pemuda. Nea mengusap pipi kiri Ares, mencoba untuk menenangkannya kembali.
“Huufftt ...” hela nafas membuat Nea tersenyum. Dikecupnya kening sang pemuda, Ares pun tersenyum.
“Okay. Aku pulang dulu ya Tuan Putri,” ucap Ares setelah kemelut di hatinya hilang. Senyum lembut dengan tatapan penuh kasih, ia berikan pada Nea. Sang gadis mengangguk seraya berkata.
“Hati-hati dijalan sayang.”
Ares pun masuk ke dalam mobil dan melajukannya, setelah membalas lambaian tangan Nea. Sang gadis akhirnya kembali masuk ke dalam rumahnya.
Saat Ares dalam perjalanan pulang, ia masih memikirkan hal tersebut.
“Nggak salah lagi, dia Salvatore. Tapi sepertinya dia tidak seperti dirinya yang dulu. Jangan tenang dulu Allen, kau harus tetap waspada. Apapun yang akan terjadi, kalau lengah bisa berbahaya. Lebih baik besok aku tanyakan pada Xita,” ucap Ares pada dirinya sendiri.
Saat ia akan menambah kecepatan laju mobilnya. Dia malah refleks menginjak rem, kalau terlihat sekelebat bayangan melintas di depannya. Namun ketika Ares melihat sekitar, tidak nampak apa-apa di sana. Iapun kembali melaju kembali, mengabaikan sepasang mata berwarna merah yang menatapnya di kegelapan.
Keesokan paginya, Nea yang bangun saat pagi Natal. Segera beranjak dari tempat tidur dan merapikannya. Lalu ia mulai bersiap untuk menjalani kegiatan hari ini. Ia berencana untuk menghabiskan liburannya bersama keluarganya.
Keluar dari kamar, ia bergegas ke kamar Adik-adiknya. Namun dilihatnya kamar mereka sudah kosong dan rapi. Nea pun turun dan menuju ruang makan. Terlihat Ibunya yang sibuk menyiapkan sarapan, Ayahnya yang duduk menunggu bersama Ellard dan Liz. Ella yang membantu menata peralatan makan. Dan Theo yang sibuk membaca buku lagi.
Nea memutar bola matanya malas, akan kebiasaan Kakaknya itu. Iapun beranjak mendekati Sarah untuk membantunya meletakkan hidangan ke meja makan.
“Hm ... Sarapan istimewa sudah siap!” seru Nea saat membawa sepiring penuh Gingerbread Pancake ke meja makan. Ia langsung membagikan pancake itu satu persatu ke piring yang tersedia.
“Ini untuk Ellard dan Liz, ini untuk Ella. Ini untuk Ayah dan yang ini untuk Kakak,” ucap Nea seraya meletakkan pancake ke piring mereka.
“Terima kasih Kak,” ucap Ella, Ellard dan Liz serempak.
“Terima kasih sayang,” ujar Nathan. Sedangkan Theo masih fokus membaca buku. Nea yang tak tahan lagi, langsung merampas buku yang dipegang oleh Kakaknya itu.
“Ah? Terima kasih Ne,” ucap Theo yang kemudian menuangkan Maple sirup ke atas pancake-nya. Ella menambahkan selai strawberry ke pancake-nya, sedangkan Ellard dan Liz menambahkan selai coklat. Untuk Nathan, cukup dengan butter.
Setelah Sarah duduk di kursinya dan mereka berdoa bersama, Nea sekeluarga akhirnya memakan pancake mereka. Nea yang menambahkan madu untuk toping pancake-nya, mulai memakannya dengan lahap.
“Pancake buatan Ibu, memang nomor satu!” seru Ellard dengan mulut belepotan coklat. Meja makan itupun langsung riuh oleh gelak tawa.
“Terima kasih Ellard sayang,” ucap Sarah sembari membersihkan coklat yang menghiasi bibir Anaknya dengan tisu. Mereka pun menghabiskan sarapannya dengan sukacita.
Selesai sarapan, Nea membantu merapikan piring dan gelas kotor. Kemudian mencucinya di tempat cuci piring. Ella membantunya dengan mengeringkan peralatan makan yang telah dicuci Nea.
“Terima kasih sudah bantu Kakak, Ella”
Mereka pun berkumpul di ruang keluarga dan duduk bersama di sofa. Theo yang baru saja kembali dari kamarnya, mulai membagikan hadiah-hadiah yang ia bawa dari kamar.
“Ini untuk Liz, Ellard, Ella, Ayah, Ibu.”
Nea yang sudah menunggu hadiahnya, hanya bisa bengong sambil menengadahkan tangannya ke depan.
“Ya ampun, maaf. Hadiah Nea tertinggal di kamar Kakak,” ucap Theo sambil meringis. Nea yang sudah mengharapkan hadiahnya, langsung cemberut.
“Maaf Ne. Nea mau ikut Kakak ambil hadiah milik Nea?” ajak Theo pada Nea.
“Huuuh! Baiklah,” ucap Nea seraya beranjak dan menuju kamar Kakaknya, Theo mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di kamar Kakaknya, Nea langsung clingukan untuk mencari keberadaan hadiah miliknya. Theo yang baru masuk, langsung mengunci pintu kamarnya. Nea tersentak dan heran dengan apa yang dilakukan oleh Kakaknya.
“Kenapa pintunya dikunci Kak?” tanya Nea dengan bingung.
“Kakak mau bicara empat mata denganmu,” jawabnya. Nea pun duduk di atas tempat tidur Theo. Dilihatnya sang Kakak yang berdiri menatap Nea.
“Kakak mau bicara apa?” ucap Nea dengan ketus.
“Kenapa memang kalau aku dekat dia?” tanya Nea menantang, ditatapnya sang Kakak dengan tatapan penuh amarah.
“Karena dia orang yang berbahaya. Dia menggunakan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya,” lanjut Theo dengan raut wajah serius. Nea yang tak percaya dengan ucapannya, memilih untuk beranjak.
“Tau apa Kakak tentang dia? Aku sudah mengenalnya sejak lama, sebelum kalian berkenalan semalam.”
Theo menggenggam tangan Nea dan menahannya. Nea yang tak mau lagi mendengar perkataan Kakaknya itu, meronta dan memukul tangan Theo hingga dilepaskan.
“Jangan bicara jelek tentangnya!” seru Nea seraya membuka pintu, kemudian berlalu.
Theo yang mendengar perkataan Nea, hanya bisa berdiam saat melihat kepergiannya. Dihirupnya tangan yang tadi menggenggam tangan Nea.
“Ah ... Kau milikku.”
Nea langsung kembali ke kamarnya, ia menutup pintu dan menguncinya. Dengan kesal, Nea merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Diambilnya handphone yang ada di atas nakas, ia melihat ada 1 pesan dari Ares. Setelah mengusap layar handphone-nya, Nea langsung membuka pesan itu.
“Hai cantik. Selamat Natal ya sayang,” isi pesan dari Ares, berhasil membuat Nea tersenyum kembali. Dibalasnya pesan itu segera.
“Hai tampan. Selamat Natal juga sayang,” Nea menekan tombol send. Dan tak berselang lama, handphone Nea berbunyi.
“Bagaimana kabar Alba-ku pagi ini?” tanyanya dalam chat itu.
“Bisa dibilang buruk sih sayang 😞,” balas Nea dengan menambahkan emoji sedih.
“Siapa yang mengganggu kekasihku di pagi hari?!” balasan Ares datang seketika. Nea hanya bisa tertawa kecil, saat membaca balasan itu.
“Tak ada sayang. Aku hanya merindukanmu,” Nea mengirim balasan yang membuat Ares terdiam, karena pesan balasannya belum juga kunjung datang. Setelah 5 menit berlalu, akhirnya handphone Nea berbunyi lagi.
“Maukah nanti sore kita bertemu dan berjalan-jalan?” isi pesan Ares membuat Nea bersemangat kembali.
“Tentu saja mau! Kan aku rindu Mawar Hitamku,” dengan segera Nea mengirim balasannya.
“Baiklah. Aku jemput jam 3 sore ya sayang.”
“Oke sayang. Aku tunggu,” Nea kembali ceria, saat memikirkan dia akan bertemu dengan kekasihnya.
Di Mansion Vangelis ....
Terlihat pemuda bersurai hitam keunguan sedang tersenyum sambil melihat handphone-nya. Ia duduk sembari memandang jendela, terlihat langit biru yang cerah.
“Wah! Abangku jadi gila,” celetuk Vartan yang muncul entah dari mana. Ares langsung menatap tajam pada Adiknya itu.
“Sudahkah kau menemukan dalang yang menyerang Xita?” tanya Ares dengan datar pada pemuda berambut navy di hadapannya itu.
“Maaf Bang, aku belum berhasil menemukannya. Saat aku hampir menangkap ekornya dia lenyap tak meninggalkan jejak,” ucap Vartan menerangkan, manik birunya menatap Ares dengan sedikit takut.
“Hh ... Ya sudah. Lanjutkan penyelidikanmu! Aku tidak mau dia terus mengganggu dan melukainya,” ucap Ares dengan tatapan penuh amarah. Vartan yang merasakan situasi yang tidak kondusif di hadapannya ini, berniat untuk segera pergi.
“Baik Bang. Aku mau melanjutkan pelacakan ku,” dengan langkah besar, Vartan pergi dari ruangan Ares. Dipandangnya pintu tempat Adiknya menghilang. Ares pun menghembuskan nafas berat.
“Akan kupastikan tidak ada kemalangan yang mendekatimu Xita,” ucap lirih sang pemilik manik biru saphire itu.
...~ ☽ ☾ ~
...
VR. : Hai hai hai~
Chapter kali ini saya sendirian. Karena Allen sedang sibuk memikirkan 'sesuatu', sedangkan Xita sedang sibuk memilih baju untuk ketemu Allen.
Rios : *hanya memandangi VR. Dalam diam
VR. : Um ....
Baiklah, Terima kasih atas dukungan kalian semua. ♥
Jangan lupa tinggalkan jejak kehidupan kalian di like, comment serta vote.
(/OwO)/
Share juga, jika berkenan. Supaya teman, keluarga, pacar, adik, atau guru kalian juga membaca. 🤣
Rios : *mengangkat VR. Di kerah bajunya
VR. : Bisakah digendong dengan baik?
Rios : *menggendong di pundak ala karung berisi kentang
VR. : ••••••
Ya sudahlah, dia tidak akan baik kecuali ke Nonanya. 🙄
Penasaran dengan kelanjutan cerita mereka?
😏
Pastikan untuk selalu mendukung WTNC dan tunggu update chapter selanjutnya.
>w<
'kay. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
Intip IG @rirymocha1 untuk melihat rupa para pemeran WTNC
...VR. Stylo
...