When The Night Come

When The Night Come
The Begins Chapter 1



Eropa, 1 Desember 2010


Rabu pagi yang cerah, nampak lalu lalang kendaraan di jalan raya. Nea yang sedang menuju ke kampusnya, sekarang menunggu lampu berwarna hijau. Terlihat banyak orang menyeberang jalan lewat Zebra cross saat lampu merah. Nea yang melihat mereka, tiba-tiba merasa agak pusing.


“Allen, aku sudah menunggumu.” Suara lembut seorang gadis terdengar saat seorang pemuda mendekatinya.


“Maaf membuatmu lama menunggu Xita.” Ucap sang pemuda yang memiliki surai hitam yang indah.


Nea merasakan sakit kepalanya mereda, saat ....


“TIIN TIIN!!” Mobil di belakangnya membunyikan klakson karena lampu sudah hijau. Nea segera melajukan mobilnya kembali.


“Apa itu tadi, yang kulihat?” Batinnya.


“Seperti sebuah kenangan. Tapi, kenangan siapa?” Nea hanya bisa bingung dan terus melajukan mobilnya.


Sesampainya di kampus, Nea memarkirkan mobilnya di tempat parkir dan merasa ada yang mengawasinya. Iapun melihat sekitar, namun tak ada siapapun di sana. Nea segera pergi ke kelasnya. Saat tiba di kelas. Nea hanya mendapati beberapa orang saja di sana.


“Terlalu pagi. Hm ... Ya sudahlah. Kurang 10 menit lagi juga.” Ucapnya sambil duduk di bangku tengah. Iapun mengambil sebuah buku dan mulai membacanya. Buku berjudul 'Sejarah Eropa Selatan”.


Sebulan telah berlalu, sejak Nea ke Istana Aelius. Dan sudah sebulan juga Michael tak nampak lagi di kampus. Nea merasa hidupnya menjadi damai.


10 menit berlalu, Nea tak sadar jika kelasnya sudah penuh orang dan kelas juga dimulai. Dia tetap fokus, hingga teman di sampingnya menegurnya.


“Hei, Ne ... Kelas udah mulai lho.” Ucapnya sambil menyikut lengan Nea.


“Eh?” Balas Nea. Dia mulai fokus dan mengikuti pelajaran. Tanpa menghiraukan pandangan seseorang di belakangnya.


Kelas selesai, semua berjalan lancar kecuali tugas segunungnya. Karena masih jam 11 siang, iapun pergi ke perpustakaan kampus. Ruang perpustakaan yang luas, terlihat banyak buku di tiap rak yang berjejer. Di sana ada beberapa meja dan kursi, sebagai tempat duduk dan mengerjakan tugas. Dilihatnya beberapa meja sudah terisi, hingga ia mencari di bagian dalam. Ada meja yang hanya diisi seorang laki-laki. Cowok itu fokus membaca buku yang dipegangnya.


“Permisi, boleh duduk di sini?” Tanya Nea, cowok itu Cuma menganggukkan kepalanya saja.


“Entah kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh dari cowok ini ..., Ah! Perasaan doang.” saat dia duduk di samping cowok itu.


Nea mulai mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen. Ia menulis serta mencari jawaban di berbagai buku yang telah diambilnya Sebelum duduk. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Nea bergegas merapikan barang-barangnya dan mengembalikan semua buku yang ia ambil ke tempatnya semula.


Nea segera menuju tempat parkir, suasana terlihat sepi. Hanya ada mobil Nea di situ. Saat hendak mendekati mobilnya. Tiba-tiba ...


“Xita ...” Terdengar sebuah suara yang familiar baginya. Saat ia menoleh dan melihat sekeliling. Tidak ada siapapun yang nampak.


Langit jingga membara, membuatnya sadar untuk segera pulang. Nea langsung masuk ke mobilnya dan segera melajukannya. Angin yang berhembus membawa aroma tak sedap. Sekejap terlihat seorang pria di balik pohon. Yang kemudian, hanya nampak daun yang terbawa angin.


2 Desember ....


Kamis pukul 07.00. Nea sudah berada di kelas. Di sana ada beberapa orang. Dan ada satu orang yang belum dikenalnya. Seorang laki-laki yang duduk tepat di belakangnya. Nea yang merasa harus mengenal setiap teman sekelasnya itupun langsung mengajak cowok itu mengobrol.


“Hai.” Sapa Nea.


“Hum.” Sahutnya.


“Kenalin, aku Nea Rozenweits.” Ucapnya sambil mengulurkan tangan.


“Ares Centifolia.” Jawabnya sembari menjabat tangan Nea.


Nea merasakan suatu perasaan aneh saat mendengar suara cowok tersebut. Hingga ia meneteskan air mata. Sang cowok terkejut dan segera memberikan sapu tangan ke Nea.


“Ah? Maaf. Aku tak apa.” Ucap Nea yang tiba-tiba merasa canggung.


“Tak apa, pakai saja. Daripada bekas air matanya dilihat yang lain.” Kata laki-laki itu sambil menyodorkan sapu tangannya.


“Uhm... Makasih.” Nea menerima sapu tangan itu dan mulai mengusap jejak air mata di pipi.


“Baiklah. Aku pinjam dulu ya. Besok akan kukembalikan dalam keadaan bersih.” Ucap Nea yang kemudian kembali ke tempat duduknya.


Saat duduk, Nea agak heran. Karena merasa seperti pernah bertemu dengannya. Iapun menanyakan hal itu pada temannya.


“Eh! Anggi. Tau cowok itu gak?” Ucap Nea berbisik sambil menunjuk Ares dengan matanya.


“Eh?! Lu nggak tau dia, Ne?” Sahutnya. Dan Nea hanya menggelengkan kepalanya.


“Dia itu Ares Centifolia, pemuda sukses yang menjadi CEO di usia muda. Dan perusahaannya menjadi perusahaan nomor 1 di Eropa. Ya ... Walau aku tak tau, kenapa dia sekarang kuliah di sini?” Terang Anggi panjang lebar, tanpa memelankan suaranya.


“Mungkin karena dia Sultan? Sultan kan bebas.” Imbuhnya lagi sambil cekikikan.


“Terima kasih infonya, gi.” Ucap Nea yang agak malu kemudian menghadap depan karena dosen sudah datang.


Saat dosen menjelaskan materi tentang peradaban kerajaan Aeterna. Nea yang fokus mendengarkan penjelasan dosen, merasa kalau dirinya diperhatikan oleh seseorang. Namun ia mengabaikannya untuk saat ini.


Kelas telah selesai, saat ia mau menanyakan sesuatu ke cowok yang duduk di belakangnya. Dia sudah tidak ada. Terlihat ia sudah berada di pintu dan hendak keluar kelas. Dengan segera dia merapikan barang-barangnya dan pergi keluar. Ketika sampai diluar, Nea tak menemukan Ares. Di tempat parkir pun juga. Nea hanya bisa masuk ke mobilnya dan pulang.


6 Desember


Hari Senin, hari dimana orang-orang kembali beraktivitas setelah berakhir pekan. Jalanan tampak ramai oleh kendaraan.


“Huufft ... Libur akhir pekan terasa kurang.” Gerutu Nea dibalik setir mobilnya.


“Yah. Tapi sebentar lagi liburan akhir tahun sih. Kakak pulang nggak ya?” Ucapnya yang kembali semangat.


Saat menunggu lampu hijau, Nea mendadak merasakan sakit kepala. Iapun memegang kepalanya, berharap rasa sakitnya mereda.


Terlihat pemandangan kota yang sudah tertutupi oleh salju. Semua orang terlihat bahagia. Sepasang kaki terlihat berjalan di atas jalan yang putih. Di sampingnya nampak seorang pemuda tampan bermata biru saphire tengah tersenyum padanya. Mereka berjalan bergandengan tangan, menyusuri jalanan kota.


“Allen, ini adalah hari yang paling bahagia bagiku. Bisa menghabiskan waktu seharian bersama Allen. Rasanya sangat bahagia.” Terdengar suara lembut seorang gadis.


“Akupun merasakannya Xita ku. Hari-hari mencintaimu adalah hari-hari bahagiaku.” Pemuda itu mengatakan hal yang membuat Nea bergidik.


“TIIN TIIN!!” Suara klakson mobil yang berada di belakang Nea, memecahkan bayangan yang ia lihat. Nea dengan segera melajukan mobilnya, sebelum lampu kembali merah.


“Apa yang terjadi denganku sih? Aku semakin sering melihat hal-hal aneh. Apalagi kata-kata yang diucapkan cowok itu ...” Nea hanya menepis itu semua dan fokus ke jalanan.


Saat sampai di kelas, ia langsung mencari Ares. Diedarkan pandangannya, Nea tak menemukannya di mana pun. Hingga usai kelas, Ares tak nampak. Gagal lah rencananya untuk mengembalikan sapu tangan yang ia pinjam.


“Mungkin besok dia masuk.” Batin Nea saat menuju mobilnya.


Yah ... Nea bukan gadis biasa, tapi seorang gadis tomboi yang tak mau merepotkan orang di sekitarnya. Setelah beres mengganti ban, iapun segera membereskan peralatan yang ia gunakan ke bagasi. Dan segera pulang ke rumah.


13 Desember


Seminggu telah berlalu, Ares sama sekali tak nampak masuk kelas. Nea yang merasa aneh, hanya bisa cemas. Walaupun banyak kejadian aneh yang ia alami selama seminggu itu juga. Tapi Nea khawatir kalau ia tak bisa mengembalikan sapu tangan yang ia pinjam. Nea terdiam dan memperhatikan sapu tangan yang ada ditangannya. Ia melihat sebuah inisial "Noxita" di ujung tepi sapu tangan. Ia merasa aneh saat melihatnya, karena seperti ada yang kurang di situ.


“Di samping nama harusnya ada simbol mawar merah kecil.” Nea yang tersentak sendiri, dengan perkataannya.


“Apa yang tadi terlintas di pikiranku?” Nea frustasi dengan bayangan-bayangan aneh yang sering melintas di pikirannya. Menurutnya bayangan-bayangan itu terasa familiar, namun sekaligus terasa asing baginya.


Kelas dimulai, Nea hanya mendengarkan namun pikirannya kemana-mana. Memikirkan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Hingga usai kelas, dia masih memikirkan hal tersebut.


14 Desember


Jam menunjukkan pukul 3, terlihat Nea yang masih terlelap dalam tidurnya. Nampak ia gelisah sambil memejamkan matanya.


“Allen ... Allen dimana ...? Kenapa aku sendirian?” Terdengar suara frustasi sang gadis.


“Di sini gelap ... Aku takut ... Allen...” Sang gadis masih berusaha untuk memanggil-manggil. Namun hanya desir angin yang menjawabnya.


Di sekelilingnya nampak banyak pepohonan. Namun karena malam, sang gadis tak bisa melihat sekelilingnya. Saat mendengar ada suara mendekat. Dia langsung panik dan mulai berlari tak tentu arah. Hingga ia terjatuh, tersandung akar pohon.


“Hiks ... Allen ...” Sang gadis hanya bisa meringkuk kesakitan saat suara itu semakin mendekat.


Nea terbangun karena suara jam weker yang berisik. Nafasnya memburu, matanya terasa sembab dan pipinya basah. Dia langsung duduk dan mengatur nafas. Setelah agak tenang, Nea meminum segelas air yang ada di atas meja samping tempat tidurnya. Dan mulai bersiap karena waktu menunjukkan pukul 5 pagi.


Hari-hari Nea berlangsung seperti biasanya. Kecuali saat ia hendak pulang dari kampus dan melihat mobilnya sudah penuh dengan telur yang hampir mengering. Nea hanya bisa melihat semua itu dan segera masuk ke dalam mobilnya. Nea menyalakan wiper mobil dan memberinya air. Setelah agak bersih, Nea melajukan mobilnya ke tempat cuci mobil terdekat. Ia tidak mau kedua orang tuanya khawatir tentangnya.


Rabu, 15 Desember


Pagi ini Nea merasakan perasaan tidak nyaman, entah akan ada apa yang terjadi atau apa itu. Dia tak tau. Namun dia tetap melakukan kegiatan sehari-harinya. Tanpa tahu tentang apa yang akan terjadi.


“Pagi Ibu, Ayah. Pagi Adik-adikku.” Sapa Nea pada keluarganya.


“Pagi sayang.” Ibu dan Ayahnya menjawab.


“Pagi juga Kakak.” Jawab Ella, Ellard dan Liz serempak.


Dia kemudian duduk dan sarapan bersama keluarganya. Nea merasa hari ini akan menyenangkan. Setelah selesai sarapan, ia langsung mengantarkan Adik-adiknya ke sekolah.


Setelah menurunkan Ella di sekolahnya, Nea langsung menuju kampusnya. Saat sampai di kampus, Nea bingung. Ada yang berbeda dengan hari ini. Biasanya dia mendapatkan bayangan-bayangan aneh, namun hari ini tidak sama sekali. Tapi ia tak terlalu memikirkannya. Kelas berjalan seperti biasa. Dan sampai sekarang Ares belum juga masuk.


“Hm ... Mungkin dia sibuk dengan perusahaannya.” Batin Nea.


Kelas selesai, saat Nea hendak keluar kelas. Dosen memanggilnya untuk membantunya membawa barang-barang yang digunakan untuk pelajaran tadi ke ruangannya. Nea pun membantu dosennya. Saat Nea masuk ke ruangannya dan meletakkan barang-barang tersebut. Pintu tiba-tiba tertutup dan terkunci dari luar.


“Eh?! Pak. Buka pintunya. Jangan becanda Pak.” Nea menggedor-gedor pintu tersebut, namun tiada respon dari balik pintu.


Sudah lama Nea menggedor pintu, dilihat arlojinya. Pukul 11 malam. Nea merasa takut, sejak kecil dia tak suka dengan kesepian. Dan juga kegelapan. Saat ia sedang meringkuk ketakutan. Sayup-sayup terdengar suara langkah kaki dari kejauhan.


Namun sebelum ia bisa berteriak minta tolong. Nea merasa tubuhnya diselimuti oleh angin. Nea tak bisa melihat, apa yang sedang terjadi. Nea hanya bisa menutup matanya rapat-rapat. Saat ia merasa sudah tak ada angin di sekeliling tubuhnya. Nea membuka matanya. Nea hanya bisa kaget, saat melihat pepohonan disekitarnya. Namun kegelapan ini membuatnya takut.


“Hiks ... Tolong aku ... Siapapun tolong aku ....” Nea mulai menangis dan panik. Dia tak suka dengan kegelapan pekat yang mengelilinginya ini.


Nea merasa dirinya diawasi di kegelapan itu. Angin dingin berhembus, membuat tubuhnya menggigil. Kemudian terdengar suara daun yang bergesekan. Nea semakin takut. Dan bingung. Apa itu serigala? Atau hewan buas lainnya? Nea tak bisa berpikir lagi. Tanpa sadar Nea berteriak.


“TOLONG AKU ALLEN!!” Nea berteriak dengan keras. Namun hanya kesunyian yang menyambutnya.


“Ah ... Aku hanya sendirian di sini.” Ucapnya sambil mulai menangis.


Saat ia menangis, ia seperti melihat sesosok makhluk seperti anjing yang muncul dan menggeram ke arahnya. Nea makin takut dan berjalan mundur perlahan, hingga ia terpojok dan menempel pohon.


“Jangan mendekat. Pergi.” Ucap Nea. Namun bukannya pergi anjing itu malah lompat dan menyerangnya.


Belum sampai anjing itu menggigitnya. Nea menyaksikan kabut hitam datang dan berhenti di hadapannya. Kemudian menjadi seorang pemuda yang sosoknya ia kenal. Ia menghalau dan menghempaskan anjing itu hingga jauh.


Nea yang shock, merasa kakinya lemas dan tak bisa berdiri. Pemuda tersebut kemudian menahan tubuh Nea yang hendak terjatuh.


“Allen .... Akhirnya kau datang juga.” Ucap Nea yang kemudian tersenyum dan merangkul tubuh pemuda tersebut.


Sang pemuda hanya bisa membeku. Namun tak lama ia bisa menjawab perkataan Nea.


“Tenanglah Xita. Aku akan selalu melindungi dan menjagamu.” Ucap sang pemuda dengan lembut. Nea lalu tak sadarkan diri.


“Allan.” Setelah dia memanggil sebuah nama, muncullah seorang pemuda lain.


“Segera selidiki siapa yang ada dibalik kejadian ini.” Perintahnya.


“A ...” Belum juga Allan protes, dia menambahkan lagi.


“Tidak ada protes, cepat laksanakan.” Ucapnya.


“Oke, bang.” Gerutu Allan yang kemudian menghilang.


“Xita. Sekarang kau aman. Jangan takut lagi ya. Dan jangan khawatir.” Pemuda itu menggendong Nea ala Princess dan membawanya ke suatu tempat.


Pukul 00.00, 16 Desember


Nea yang berulang tahun di tanggal itu merasakan suatu hal yang aneh pada dirinya. Dan ia melihat suatu gambaran lagi.


“Selamat ulang tahun Xita. Aku akan selalu melindungi dan menjagamu.” Ucap pemuda bermanik biru saphire itu.


“Terima kasih banyak Allen.” Ucap suara lembut sang gadis.


Nea sedikit tersadar, jika gadis itu adalah dirinya. Namun Nea masih ragu. Apakah semua itu nyata?


Keesokan malamnya, Nea tersadar dirinya terbaring di sebuah ruangan putih. Dengan tangan yang terinfus. Nampak sesosok laki-laki sedang menatap jendela dan melihat sang Dewi malam. Rambutnya yang berwarna silver, terlihat indah diterpa cahaya bulan.


~♪~