
Setelah Nea mennyimpan bola putih kecil itu dikantongnya, ia kembali duduk sambil celingukan mencari Sylph.
"Kemana Sylph tadi ya? Sepertinya dia menghilang saat ada orang lain mendekat," gumam Nea yang memikirkan hilangnya sang peri angin.
"Nea!" terdengar suara yang familiar yang dicintainya. Neapun menatap pemuda yang mendekati dirinya itu.
Terlihat Ares kembali dengan membawa semangkuk makanan ditangannya dan segera menuju tempat Nea. Sesampainya di hadapan Nea, Ares pun bertanya.
"Xita aman, kan? Tak ada orang aneh yang mengganggumu kan? Apa Xita kesepian? Apa ..." belum sempat Ares melanjutkan pertanyaan bertubi-tubi Nea langsung memotong.
"Aku baik-baik saja sayang, tidak ada orang aneh kok. Kesepian? Cuma sedikit, karena aku merindukanmu," ucap Nea yang membuat Ares tenang.
"Mana mie yang aku minta?" imbuh Nea dengan cemberut. Ares terkisap dan segera memberikan semangkuk makanan yang ia bawa itu.
"Silahkan Tuan Putri dan ini minumannya juga sekalian," Ares meletakkan semangkuk mie dan segelad minuman di atas meja yang ada di hadapan Nea.
"Terima kasih Pangeranku," ucap Nea yang kemudian membuka tutup mangkuk tersebut uap hangat keluar dari dalam. Dihirupnya aroma mie yang terlihat enak itu. Nea pun mulai memasukkan mie yang sudah ia putar pada garpu kedalam mulutnya.
"Eum ..." suara puas Nea akan rasa mienya terdengar dan membuat Ares memandanginya. Nea yang makan dingan lahap, akhirnya melirik Ares.
"Awees mawu?" tanya Nea dengan mulut yang penuh.
"Pfft ..." Ares hanya tertawa kecil dan membersihkan saus yang ada diujung bibir Nea dengan saputangan.
"Makanlah Xita. Habiskan ya," ucap Ares sembari memandangi Nea yang melanjutkan makannya. Nea Cuma menganngukkan kepalanya dan menghabiskan makanan di hadapannya.
Setelah menghabiskan mie, Nea pun meminum minuman hangat yang dibawakan oleh kekasihnya itu. Rasa manis dan asam khas jeruk, serta hangat yang melewati mulut dan tenggorokan Nea. Membuat rasa mie yang tertinggal menghilang.
"Terima kasih banyak sayang. Sekarang aku sudah kenyang," ucap Nea sambil membereskan sisa tempat makanannya.
"Syukurlah Xita," Ares memberikan senyuman yang lembut, saat kekasihnya sudah kenyang.
"Baiklah, mau kemana lagi kita Tuan Putri?" tanya Ares saat mengikuti Nea yang mendekati tempat sampah.
"Um ... melihat pertunjukan malam?" ucap sang gadis, setelah membuang sampahnya.
"Baiklah, mari pergi" ucap Ares seraya mengulurkan tangannya. Nea menerima uluran tangan Ares dan merangkulnya.
Mereka berdua berjalan berdampingan, dengan Nea yang merangkul lengan Ares. Ares dan Nea pun pergi menuju ke gedung teater yang ada di taman hiburan ini. Setelah Ares membeli tiket, mereka menuju ke petugas yang berjaga di pintu masuk gedung.
“Silakan masuk Tuan dan Nona,” ucap sang penjaga mempersilakan mereka.
“Terima kasih,” jawab Nea pada sang penjaga. Sang pemuda hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati.
“Kamu sama sekali tidak pernah berubah Xita.”
Mereka pun masuk dan segera mencari tempat duduk. Teater Delphinidin menampilkan drama tentang kisah cinta yang tragis. Dimana sang gadis jatuh cinta pada seorang pemuda yang mana ternyata dia adalah Vampire, pemuda tersebut juga mencintai sang gadis. Namun, cinta mereka terhalang oleh keluarga sang pemuda.
Yang membuat terpicunya pertengkaran, keluarga pemuda itu akhirnya mengambil keputusan untuk membunuh sang gadis. Sang pemuda pun kemudian dirundung kesedihan, atas kepergian gadis yang dicintainya.
Ketika ia mengetahui bahwa keluarganya yang mengambil kekasihnya. Dengan murka, ia membinasakan seluruh keluarganya dan menjalani kehidupan abadinya dalam kesendirian bersama kenangan saat bersama sang gadis.
Nea menonton drama itu dengan seksama, hingga air mata mengalir tanpa ia sadari. Ares yang terkejut saat tetesan air mendarat di tangannya, langsung melihat kekasihnya.
“Xita?” Ares dengan tenang menggenggam erat tangan Nea dan mengusap air matanya dengan saputangan.
“Maaf sayang. Tanpa sadar aku menangis,” ucap Nea yang kemudian menerima tepukan di kepalanya dari Ares. Iapun tenang kembali.
Teater pun selesai, mereka berdua keluar dalam diam. Ares yang tak terlalu ambil pusing, hanya menunggu hingga kekasihnya bicara. Mereka yang menuju tempat parkir, berniat untuk pulang dari taman hiburan. Nea masih terdiam.
“Masuklah Xita,” ujar Ares saat membukakan pintu mobil untuk Nea, sang gadis masuk tanpa komentar. Setelah menutup pintu, Ares menuju pintu satunya dan segera duduk di kursi pengemudi setelah ia membuka pintu.
Namun saat Ares duduk, Nea tiba-tiba menggigit bibirnya hingga berdarah. Ares yang mencium aroma darah, merasakan gejolak dalam dirinya.
Rasa haus yang ia tahan selama ini bangkit, saat tercium aroma darah yang lezat milik Nea.
Nea yang tetap diam sambil menggigit bibirnya, tak sadar jika Ares mendekatinya. Dengan gerakan cepat, Ares menarik wajah Nea dan mencium bibirnya dengan rakus. Disesapnya darah yang keluar dari bibir Nea. Membuat sang gadis merasakan bibir dingin milik Ares.
Sang pemuda yang telah mabuk karena aroma darah Nea, mulai bertingkah ganas. Tangannya menjelajahi kaki Nea dengan gerakan yang halus, hingga sampai di bagian atas paha sang gadis. Nea yang merasakan suatu perasaan yang belum pernah ia rasakan. Hanya bisa bersuara dan kelabakan.
“Umm ...?” suara panik Nea tak mampu menyadarkan Ares. Malah membuat sang pemuda makin lupa diri.
Ares melepas bibir Nea dan seketika menghujamkan taringnya ke leher jenjang Nea, tepat di bekas gigitannya waktu itu. Nea hanya bisa membelalakkan matanya dan berteriak.
“Allen!?” teriakan Nea pun akhirnya didengar oleh sang pemuda, sang pemuda langsung melepaskan gigitannya dan menatap wajah sang gadis.
“Xita? Ah? Aku lupa diri lagi ...” rutuknya saat melihat gadis di hadapannya setengah sadar.
Setelah Ares memasangkan seatbelt Nea, iapun segera menancap gas dan melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit Rozelle.
“Tetaplah bersamaku Xita. Kita akan segera sampai,” ucap Ares yang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sang gadis sudah tak sadarkan diri di kursi depan samping pengemudi.
Sesampainya di Rumah Sakit Rozelle, Ares langsung turun dan menuju pintu tempat Nea berada. Dibukanya pintu tersebut, dilepaskannya seatbelt yang merangkul Nea dengan aman. Dia langsung menggendong Nea ala bridal style dan menuju ke ruang gawat darurat.
Namun karena ruang gawat darurat sedang ramai dan sibuk. Ares pun langsung menuju ke ruangan milik Dokter Ferdinand. Dokter yang menangani Nea sebelumnya.
Terlintas dibenak Ares. Seorang pria berambut abu-abu silver panjang, berhidung mancung serta memiliki bibir tipis. Berbulu mata lentik dengan bola mata berwarna abu-abu yang teduh. Tatapan matanya yang tajam, membuat Ares takut. Pembawaannya tenang dan kalem. Nama yang tertera di nametag-nya, Prof. Doc. Ferdinand Sp.B.
“Ferdi. Tolong Xita!” seru Ares yang menerobos masuk dengan mengabaikan rasa takutnya pada sang Dokter. Dirasakannya tatapan mata yang menusuk, saat dirinya tidak mengetuk. Membuatnya membeku seketika.
Terlihat Ferdinand yang sedang terduduk di atas meja kerjanya. Diserang oleh wanita berambut orange gold panjang, berbulu mata lentik tipis dengan hidung mancung. Sedang menggigit leher sang dokter. Kancing kemeja bagian atas yang terbuka, memperlihatkan simbol mawar perak yang mekar sempurna di dada kanannya.
“Auryn sudah kan? Kita kedatangan pembuat onar nomor satu,” ucap lembut Ferdinand pada wanita yang menggigitnya. Terlihat manik pink kecoklatan saat ia membuka matanya.
Dilepaskan gigitannya dan ia jilat leher sang lelaki, membuat Ferdinand tak bisa berkutik. Terlihat nametag dengan nama Prof. Doc. Lauryn Sp.F, di jasnya. Setelah ia merapikan kancing kemeja Ferdinand, dia memberikan tatapan dengan hawa pembunuh kepada Ares. Sang pemuda hanya diam membisu.
“Jadi Allen, apa yang membuatmu tidak memiliki sopan santun seperti ini?” ucapan tajam dilontarkan oleh Ferdinand, saat ia sudah rapi kembali. Ares seketika sadar dari kebekuannya dan menjawab.
“Xita! Ia tak sadarkan diri lagi, setelah bertingkah aneh!” seru Ares menjelaskan. Setelah membaringkan Nea di ranjang yang ada di ruangan Ferdinand, Ares pun menceritakan kejadian sebelum Nea bertingkah aneh.
Ferdinand hanya bisa menepuk keningnya, sedikit frustasi. Ia menghembuskan nafas berat dan segera mendekati Nea untuk memeriksanya.
“Detak jantung normal, denyut nadi juga. Respon mata ... Syukurlah baik juga. Suhu tubuh, tidak ada masalah. Dan ...” saat Ferdinand memegang tangan kanan Nea, terlihat simbol mawar yang sedikit membuka.
Mata Ferdinand membelalak saat melihat simbol itu. Teringat jelas di ingatannya, simbol mawar yang masih belum terbuka milik Noxita dulu. Namun belum juga ia mekar, dirinya menyaksikan gadis yang ia anggap seperti anak sendiri itu tergeletak tak bernyawa.
“Baiklah. Aku sudah tahu penyebabnya,” ucap sang Dokter dengan tenang. Ares menatap Ferdinand dengan tatapan cemas, menanti diagnosanya.
“Seperti yang kau ceritakan tadi Allen, kemungkinan besar Xita mengalami shock setelah menonton pertunjukan itu dan membuatnya sedikit mengingat kejadian yang kau bilang belum ia ingat,” ucap sang Dokter.
Ares menundukkan kepalanya dengan frustasi.
“Salah satunya. Jadi apa kau menghisap darahnya hingga ia hampir sekarat lagi?” Ferdinand menatap tajam pemuda bersurai hitam keunguan itu.
“Tidak. Kali ini aku tidak kehilangan akal sehatku seperti sebelumnya,” jawab Ares yang masih menundukkan kepalanya.
“Jadi memang benar, karena efek simbolnya ...” duga Ferdinand yang membuat Ares mendongakkan kepalanya dan menatap sang Dokter.
“Ah? Aku masih ingat, saat dulu Aim merasakan efek simbolnya. Dia sangat tak berdaya. Hingga aku harus melindunginya,” celetuk Lauryn yang daritadi menyimak mereka berdua. Terlihat ekspresi bengis di wajahnya.
“Jadi kapan Xita akan sadar Ferdi?” tanya Ares dengan ekspresi khawatir. Dilihatnya sang gadis yang tergeletak lemas itu.
“Ya ... Saat sudah waktunya,” jawab Ferdinand dengan menaikkan pundaknya, tanda tak tau. Ares hanya bisa menghembuskan nafas berat.
Nea yang masih pingsan, terlihat berada di sebuah ruangan. Ia melihat sekeliling, nampak sesosok gadis yang mirip dengannya.
“Noxita?” ucap Nea saat melihat sepasang manik merah itu mendekatinya. Noxita tersenyum dan berkata.
“Tenanglah Nea. Belum waktunya kamu mengingat kenangan itu, akan kusegel. Hingga tubuhmu kuat untuk segalanya,” Noxita menjentikkan jarinya dan membuat sekelilingnya gelap dan membuat Nea terpental kembali ke dunia nyata.
Ares menemani Nea yang telah dipindahkan ke kamar pasien, ia menunggu dan menjaga kekasihnya sambil tetap duduk di dekatnya dan menggenggam tangan sang gadis. Dua jam telah berlalu, jam 10 nampak di jam dinding. Dengan sabar dan khawatir, Ares menanti. Ia berpikir.
“Selama apapun, aku akan selalu menunggumu sayang. Ratusan tahun saja pernah kulewati.”
Ares sedikit menyunggingkan bibirnya dengan pahit. Dan kembali berucap.
“Andai waktu itu aku bisa melindungimu. Pasti kita kan terus bersama Xita,” gumam Ares yang kemudian merasakan pergerakan di jemari yang ia genggam.
Ares yang terkesiap, menggenggam erat tangan Nea dan mengecupnya. Dilihatnya kelopak mata sang kekasih yang terbuka. Nampak manik abu-abu disana, namun segera berubah menjadi pink muda kembali.
“Al–len ...?” panggil Nea dengan suara serak yang lemah. Ares menggenggam tangannya dan berkata.
“Aku di sini Xita. Jangan khawatir, Xita mau minum?” jawab Ares yang tetap menggenggam tangannya. Nea tersenyum tipis dan mengangguk perlahan.
“Baiklah, Xita tunggu dulu ya. Kuambilkan air putihnya,” Ares melepaskan genggaman tangannya dan segera mengambilkan segelas air putih untuk Nea. Setelah mendapat air putih, tak lama ia kembali pada Nea.
“Minum dengan perlahan sayang,” ucap Ares saat membantu Nea minum.
“Terima kasih sayang,” Nea tersenyum setelah suaranya sudah kembali.
“Istirahatlah lagi Xita, jika sudah membaik. Baru kuantar kamu pulang,” Ares tersenyum seraya membelai rambut sang gadis. Nea pun membiarkan kelopak matanya tertutup kembali.
Setengah jam berlalu, Nea kembali membuka matanya. Ia merasakan badannya yang ringan, dalam pandangan yang masih agak kabur. Dia melihat sesosok laki-laki berambut panjang, tersenyum padanya. Nea pun mengerjapkan matanya berulang kali, hingga pandangannya terlihat jelas.
“Kak Dinand?” ucap Nea saat melihat dengan jelas sosok lelaki di hadapannya itu. Dia terlihat sedang memeriksa kondisi Nea.
“Hai ..., Apa kabar Xita?” wajah tampan yang juga bisa disebut cantik milik Ferdinand dihiasi dengan senyuman lembut dan tatapan mata yang teduh.
“Aku merasa baikan Kak!” seru Nea dengan ceria, dilihatnya sosok di samping Ferdinand.
“Akrab sekali kalian?” ucap Ares dengan nada sedikit tak suka. Nea hanya tertawa kecil, sang pemuda makin cemberut.
“Allen yang dingin. Menghilang jika bersama Xita,” ucap Ferdinand dengan tenang. Setelah selesai mengecek kondisi Nea, sang Dokter kembali bicara.
“Oke, Xita bisa pulang sekarang. Karena kondisinya sudah membaik.”
“Terima kasih Kak Dinand,” ucap Nea yang tersenyum bahagia.
“Jangan biarkan Vampire menggigitmu terlalu sering Xita,” saran Ferdinand seraya menepuk kepala Nea perlahan. Nea hanya bisa terdiam dengan pipi yang merona.
“Akan kuusahakan Kak.”
“Baiklah. Saatnya kita pulang Xita,” ucap Ares yang masih merasa kesal. Setelah Nea duduk dan kembali memakai sepatunya. Iapun digendong ala bridal style oleh Ares dan segera keluar menuju mobil.
“Terima kasih Ferdi,” ucap Ares saat hendak keluar ruangan. Ares yang sudah menyelesaikan semua biaya pengobatan, dengan santai langsung keluar rumah sakit.
Sesampainya di tempat parkir, Ares menekan tombol dan membuka pintu mobil. Segera ia dudukkan Nea dengan perlahan dan memasangkan seatbelt-nya.
“Terima kasih sayang,” ucap Nea yang kemudian mengecup pipi Ares. Sang pemuda tersenyum dan segera memutar, menuju ke kursi pengemudi. Iapun langsung melajukan mobilnya menembus gelapnya malam.
~ ☽ ☾ ~
VR. : Haloo~
Bertemu lagi dengan saya dan juga Allen Xita kesayangan kalian. ♥
Ferdinand & Lauryn : Ehem? Jangan lupakan kami. tersenyum manis
VR. : Yak senyuman mautnya sudah dilancarkan pemirsa. 😭
Lauryn: Hm? ^^
VR. : Ampun Nyonya. 🤧
Mau memperkenalkan diri kah, kalian berdua? 👀
F&L : Boleh
VR. : Benar-benar sehati, jawab aja kompak. 😌
Silakan... 🤣
Ferdinand : Nama saya ....
Lauryn : Stop! Aku sudah lapar Aim ....
Ferdinand : A ... Baiklah Auryn, mari kita pergi.
menggendong Lauryn ala bridal style
VR. : ( ;'△')hanya bisa melongo.
Rios: Jangan lupa like, comment serta vote. Supaya saya bisa bertemu dengan Nonaku lagi 😞
pundung di pojokan dalam wujud serigala kecil
VR. : Intip IG @rirymocha1 untuk melihat rupa mereka semua. OwO)/
See you again
VR. Stylo