When The Night Come

When The Night Come
Aine



Ella mendadak merasakan sesak di dadanya, jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit. Ditatapnya lekat gadis yang masih menunduk melihat saputangan bercorak darah segar itu.


Gadis yang berusia sekitar 7 tahun itu memiliki rambut hitam panjang yang lembut, serta tubuh lemah dibalut gaun mewah. Meremas kuat saputangan tersebut dan terdengar Isak tangis lirih darinya.


Pintu kamarnya terbuka, seseorang dengan cepat segera menghambur dan memeluk erat gadis kecil tersebut.


Ella tersentak, dilihatnya siluet tubuh perempuan yang memeluk gadis kecil di hadapannya itu. Rambut hitam keunguan, proporsi badan yang familiar.


“Kak Nea?” gumamnya tak percaya.


Ella melihat perempuan tersebut membelai rambut hitam gadis yang lebih kecil darinya itu, seketika dia berasumsi jika mereka adalah kakak beradik.


“Um ... Kak Nea?” Ella berusaha memegang lengan perempuan tersebut. Namun tangannya menembus lengan itu.


Sang gadis kecil terkejut, melihat tangannya menembus sosok yang ia kira kakaknya itu. Dicubitlah pipinya sendiri dengan keras, berakhir dengan meringis kesakitan.


“Aku bukan hantu kok,” ucapnya meyakinkan dirinya sendiri, jika dia bukan hantu ataupun sedang bermimpi.


Dia memperhatikan mereka berdua, nampak wajah perempuan tersebut jelas seperti kakaknya Nea. Namun bola mata mereka berbeda.


“Merah ruby, sepertiku?” gumamnya setelah menatap wajah tersebut. Mengingat jika pupil kakaknya berwarna merah muda cerah, beda dengan dirinya.


“Lily, kamu tidak apa-apa? Kakak tadi mendengar suara batuk yang sangat keras.” tanya perempuan itu pada gadis di hadapannya.


“Saya baik-baik saja Kak. Kak Xita jangan khawatir,” jawab gadis tersebut.


Suara mereka terdengar familiar di telinga Ella, iapun mendekat dan melihat wajah sang gadis kecil tersebut. Ella seketika terkejut, karena gadis itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan dirinya.


“Aku?” ucapnya tak percaya.


Ella tetap menyaksikan apa yang kedua kakak beradik itu lakukan. Sang kakak yang dipanggil Xita oleh adiknya Lily, sedang memberikan segelas air putih pada gadis kecil itu.


“Terima kasih Kak Xita,” ucap Lily ketika menerima gelas dari Noxita.


“Jangan sedih ya sayang. Kakak percaya, kelak kita akan bisa menyembuhkan penyakit yang kamu derita.” ucap lembut perempuan yang lebih besar dari Lily, membuat dirinya merekahkan sedikit senyuman dengan setitik air mata di ujung pelupuk.


“Sudah. Mari kita sarapan bersama,” ajak Noxita setelah menghapus air mata adiknya.


Lily menganggukkan kepalanya dan beranjak mengikuti kakaknya menuju ruang makan.


***


Nampak gadis kecil itu sedang bermain bersama seorang laki-laki dan wanita, di dekat danau dengan kondisi cuaca yang berawan. Ella mengamati wajah lelaki serta wanita tersebut. Terasa familiar menurutnya.


“Hm ... wajahnya seperti tak asing. Tapi siapa ya?” ia mencoba untuk mengingat-ingat sembari meletakkan jari telunjuk dan jempol di dagunya, mode berpikir.


Dilihatnya sekali lagi lelaki itu. Manik abu-abu, rambut abu-abu keperakan yang panjang, bulu mata lentik, wajah cantik walau dia seorang pria, suara lembut yang merdu. Seketika Ella membelalakkan matanya dan berteriak.


“Ferdinand si penyanyi terkenal itu!?” tepat saat sang gadis kecil itu berseru, lelaki yang diamatinya tersenyum lembut.


Ella mengedipkan matanya berulang kali dan sesekali menguceknya. Merasa jika yang dilihatnya benar atau tidak. Kesekian kalinya ia mengutak-atik kedua matanya, tetap saja yang ia lihat seorang laki-laki yang memiliki wajah seperti penyanyi terkenal dunia yang ia kagumi itu.


Namun dalam versi lebih muda.


“Apa ini semua?” Ella semakin bingung dan berpikir. Namun semua itu buyar, ketika ia mendengar seruan dari suara panik laki-laki tersebut.


“Lily!? Bertahanlah! Jangan panik.”


Ucap lelaki itu seraya berusaha memberikan pertolongan pertama pada Lily yang terlihat menggenggam erat gaun di bagian dadanya seraya menampilkan ekspresi kesakitan, serta nafas yang tersengal-sengal. Seperti susah untuk mengambil oksigen yang cukup.


“Duduk dengan postur tegap, tenangkan dirimu My Baby Lily, jangan panik. Tarik nafas dalam dan panjang,” ucap Ferdinand dengan sigap dan tenang, supaya gadis di hadapannya itu tidak semakin panik.


Lily mencoba untuk menenangkan dirinya, ia mengikuti segala arahan dari sang lelaki berambut abu-abu keperakan itu. Gadis kecil yang mulai berangsur tenang dan tidak sesak lagi, segera dibawa ke bawah naungan pohon rindang menjauh dari tempat yang menyebabkan asmanya kambuh.


Semua orang nampak bernafas lega, ketika raut wajah sang gadis kecil sudah membaik begitu juga dengan air muka yang tak lagi pucat.


Ella yang menyaksikan hal tersebut, langsung merasakan sesak yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Tenggorokannya pun terasa tercekat, hingga ia sulit untuk mengambil nafas.


“Kenapa aku? Kenapa tiba-tiba terasa sesak? Padahal selama ini aku tidak memiliki riwayat sesak nafas ....” sang gadis terheran-heran.


“Itu karena kau dulu merasakan sakit itu.”


Suara perempuan yang Ella temui di Istana tadi terdengar di telinganya, ia celingukan mencari keberadaan asal suara tersebut.


Ella semakin bingung dengan penjelasan singkat perempuan tersebut, ia menuntut penjelasan lebih lengkap.


“Jangan menjelaskan dengan sedikit-sedikit seperti itu! Jelaskan dengan detail!”


“Baiklah, baik. Lebih baik kita melihat lebih jauh lagi,” terdengar suara jentikan jari, seketika scene berganti.


Ella sedikit takjub, saat melihat suasana musim semi serta ramainya kota bernama Blood Rosaceae itu. Persiapan festival untuk menyambut musim semi dikerjakan secara gotong royong oleh para warga.


Nampak Lily, Noxita beserta dua adik kembarnya turun dari kereta kencana. Ella membelalakkan matanya dan menatap lekat dua anak kecil yang berumur sekitar 5 tahun itu.


“Ellard dan Liz?”


Sepasang anak kembar itu menatap sekitarnya dengan mata yang berbinar penuh keingintahuan, mereka tersenyum lebar seraya bereaksi terhadap segala yang ada. Tingkah mereka berdua sangatlah lucu.


“Diego, Lizzie. Jangan lari-lari sayang!” ucap Noxita memperingatkan kedua adik kecilnya itu.


“Iya Kakak.”


Ella tersenyum kecil, melihat tingkah dua anak kembar tersebut. Fokusnya kembali pada Noxita, gadis berambut hitam keunguan itu mengarah pada suatu tempat. Lily mengekor di belakangnya.


Sang gadis seketika membelalakkan matanya, saat melihat bahwa Noxita pergi ke sepasang suami istri yang wajahnya sangat mirip dengan kedua orang tuanya.


“Ayah ... ibu ....”


Ella menatap wajah yang setiap hari ia lihat, ketika di rumah. Ella semakin bingung, dengan potongan-potongan penglihatan yang ia lihat ini. Dan kenapa wajah mereka sangat mirip dengan keluarganya?


***


Lily yang mencoba melepaskan ikatan yang membelit tangannya, merasa bahwa kereta barang itu berhenti dengan suara benturan yang keras. Lily yang sudah berhasil melepaskan ikatannya, tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk melarikan diri.


Ia melompat turun dari kereta yang berhenti, gadis kecil tersebut lalu berlari hingga masuk ke dalam hutan. Tanpa sadar, dia sudah menembus dinding pelindung serta memasuki dunia ilusi para peri. Bertemu dengan Ratu Peri, diberi sebuah buah kecil berwarna merah yang bentuknya seperti Cherry.


Lalu ia tak sadarkan diri dan dibaringkan di sebuah tempat tidur, yang berhiaskan bunga-bunga segar di sekelilingnya.


“Aine. Karena kau berbuat suatu kesalahan, maka Tuhan menghukum mu dengan menjadikanmu manusia.” terang perempuan tersebut, Ella mendengarkan sembari menatap dirinya yang terbaring di atas tempat tidur bunga.


“Namun lihatlah, tubuh yang kau miliki tak mampu menahan kekuatan besar milikmu. Hingga banyak penyakit yang ia derita,” imbuhnya yang membuat Ella kesal.


“Kenapa kau bilang begitu? Aku sekarang sehat. Tidak sering sakit seperti itu, ini semua pasti hanya karanganmu kan.”


Ella yang marah, mengepalkan tangannya dengan kuat. Namun belum sempat ia mengamuk, ia melihat seorang bocah yang mirip dengan Vartan sedang berusaha menyelamatkan dirinya dari terjangan kadal raksasa.


...~ ☽ ☾ ~...


Halooo


Gimana kabar kalian semua reader tercinta? ^~^/


Semoga kalian sehat selalu ya. :3


Saya Alhamdulillah lumayan baik.😅


Okay


Jangan lupa like, comment, vote, share.😭


Jangan tanya mereka kemana


Soalnya saya kurang tahu sih. 🤔


Okay


See you on the next Chapter. 😘


*tepar again


*diseret anak-anak


...VR. Stylo


...