
Eropa 2010, menjelang pergantian tahun ....
Vangelis Mansion ....
Ares yang sudah bersiap untuk menjemput Nea beserta adik-adiknya, merasa jika dia akan diganggu ketika berduaan dengan sang gadis oleh adik-adiknya itu.
“Rasa-rasanya nanti aku akan sulit untuk berduaan dengan Xita,” gumamnya setelah selesai menatap dirinya di cermin.
“Bang! Mau kemana?” tanya Vartan yang tiba-tiba membuka pintu kamar Ares, seketika itu ide bagus muncul di pikirannya.
Kediaman Rozenweits ....
Nea bersiap dan menatap dirinya di cermin, membenarkan poninya. Ia memeriksa kembali, dirasa belum cocok. Sang gadis mengenakan bando, masih belum cocok juga.
“Kakak. Kami sudah siap,” ucap Ella yang mendadak muncul, membuat Nea kaget.
“Huh?! Ella toh. Sip, Kakak mau menata rambut Kakak dulu.” Nea masih sibuk mengatur rambutnya.
“Hm ... Biar Ella saja sini Kak, yang mengaturnya.” Ucap Ella sembari memegang sisir, Nea menganggukkan kepalanya dan duduk di depan cermin meja rias.
“Baiklah Ella. Kakak percayakan padamu,” ucap Nea sembari tersenyum.
Ella pun menata rambut kakaknya dengan telaten, rambut Nea yang halus membuat agak sulit untuk ditata. Namun Ella berhasil dan akhirnya rambut Nea dikepang sedemikian rupa olehnya.
“Sudah Kak!” seru Ella dengan senang.
“Wah! Ella hebat. Makasih banyak sayang,” ucap Nea dengan senang.
“Sama-sama Kak. Oh iya, Kak. Aku boleh pinjam coat Kakak yang pink itu?” Ella bertanya dengan malu-malu.
“Hum? Tentu saja boleh sayang,” Nea menatap adiknya seraya tersenyum lembut. Ditatapnya wajah yang merekah kan senyum bahagia itu.
“Terima kasih banyak Kak,” ucap Ella dengan bahagia dan segera mengambil coat pink Nea.
“Sama-sama sayang,” Nea bahagia bisa membuat adiknya tersenyum gembira.
Mereka berdua pun bersiap-siap kembali. Setelah Nea selesai, ia memeriksa si Kembar di kamar mereka, dilihatnya Ellard dan Liz yang sedang bingung memilih baju. Nea hanya bisa tersenyum kecil, melihat tingkah mereka.
“Mau Kakak bantu?” ucap Nea yang sudah tidak tahan untuk membiarkan si Kembar kebingungan.
“Kakak! Kakak!” ucap Ellard dan Liz serempak.
“Baiklah. Hm ... Untuk Liz, sebaiknya warna pink pastel ini. Dan untuk Ellard, lebih bagus mengenakan coat biru muda itu.” Ucap Nea yang disambut oleh dua senyuman mengembang dari si Kembar.
“Terima kasih banyak Kakak!” seru mereka berdua.
“Sama-sama adik-adikku sayang. Nah, segera selesaikan siap-siap nya. Sebentar lagi Kak Ares datang menjemput.” Nea mengingatkan si Kembar dan mereka berdua dengan segera memakai coat yang dipilihkan oleh kakaknya.
“Sudah! Sudah!” seru si Kembar bersamaan.
Ellard dan Liz memang anak yang manis dan imut, senyuman mereka berdua bisa meluluhkan hati orang yang dingin.
“Wah! Adik-adik Kakak memang nomor satu. Nah, jangan lupa untuk memakai topi hangatnya.” Ucap sang kakak mengingatkan adik-adiknya supaya terhindar dari udara yang masih dingin.
“Siap Kakak!” si Kembar segera mengambil dan memakai topi hangatnya.
“Okay. Sip,” ucap Nea dengan bangga.
“Yeeee!” sorak gembira si Kembar yang kemudian mengikuti kakaknya keluar kamar.
Nea keluar dari kamar si Kembar dan bertemu dengan Ella, sang adik memakai baju hangat berwarna putih dengan coat pink muda serta celana panjang putih, sepatu boat pendek warna kopi susu dan ia mengenakan penutup telinga pink dengan hiasan bunga. Rambutnya dibiarkan tergerai.
“Wah! Kak Lily cantik,” puji si Kembar sembari terpukau.
“Hehe ... Terima kasih Ellard dan Liz,” ucap Ella dengan tersipu malu.
“Semua sudah siap?” tanya Nea pada adik-adiknya.
“Siap Kak!” Ella, Ellard dan Liz serempak menjawab.
“Okay. Kita tunggu Kak Ares dulu ya,” ucap Nea yang mendapat anggukan dari mereka bertiga.
Ares yang sedang mengendarai mobil sedang berusaha mengabaikan suara berisik di sekitarnya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, saat tiba di depan rumah Nea. Ia menghentikan mobilnya seketika. Hingga terdengar suara benturan dan keluhan dari belakang.
Ares turun dari mobil dan menuju ke pintu rumah Nea. Ditekannya bel pintu rumah tersebut, tak lama kemudian muncul Sarah. Dengan segera, Ares menyapanya.
“Selamat siang Ma'am. Apa Nea dan adik-adiknya sudah siap?” ucap Ares yang tidak sabar untuk bertemu dengan kekasihnya lagi.
“Mereka semua sudah siap kok Nak Ares. Biar kupanggilkan mereka,” jawab Sarah sembari tersenyum.
“Baiklah Ma’am. Terima kasih,” Ares tersenyum dan menunggu Nea muncul.
Setelah lima menit Ares menunggu, akhirnya sang gadis muncul dengan balutan baju berwarna biru muda serta coat putih, celana panjang warna biru gelap dan sepatu boot putih biru. Tak lupa kepangan rambut yang ditata sedemikian rupa dengan dihiasi ornamen kepingan salju, membuat wajah Nea jelas terlihat.
Nea menatap pemuda di hadapannya itu mengenakan baju putih dengan coat dan celana biru tua serta sepatu putih. Wajah dingin Ares, mengalahkan dinginnya suhu di luar rumah.
“Sepertinya hati Nak Ares dicuri peri musim dingin,” celetuk Sarah yang muncul di belakang Nea. Sang gadis tersentak kaget, mendengar suara sang Ibu.
“Ibu ....” rengeknya. Ares yang sempat terpukau dengan kecantikan Nea, kembali tersadar dan tersenyum tipis.
“Halo Kak Ares,” sapa Ella, Ellard dan Liz secara bergantian. Sang pemuda hanya tersenyum kecil, membalas sapaan mereka.
“Kalian sudah siap?” tanya Ares, yang mendapat anggukan sebagai jawaban.
“Baiklah. Mari kita pergi!” seru Ares membuat si Kembar bersemangat.
“Oh iya Ma’am. Saya juga mau mengajak Nea serta adik-adiknya untuk menginap beberapa hari di kediaman saya. Jika diperbolehkan,” ujar Ares dengan sopan.
“Eeehhh???! Tapi kami tidak membawa pakaian ganti.” protes Nea.
“Tenang saja Nea. Semua sudah kupersiapkan, tidak perlu khawatir,” ucap Ares dengan penuh percaya diri.
“Baiklah, boleh Nak Ares. Ibu titip anak-anak Ibu ya,” Sarah menjawab dengan senyuman lembut.
“Dengan segenap jiwa dan raga. Akan kami jaga mereka,” ucap Ares dengan percaya diri yang mendapat tawa dari adik-adik Nea.
“Anak-anak ....” tegur sang Ibu yang membuat mereka diam.
“Baik Ma’am. Kami permisi dulu,” Ares berpamitan dan segera mengajak Nea beserta adik-adiknya menuju ke mobilnya.
“Baiklah. Nea di depan bersamaku, adik-adik Nea di kursi tengah. Jangan khawatirkan yang ada di belakang,” ucap Ares memberi arahan.
“Baik!” seru si Kembar.
Di kursi belakang, terdapat Vartan dan Rios yang sedari tadi saling cekcok. Yaa ... merekalah yang membuat suara benturan keras tadi dan daritadi Vartan Rios saling dorong mendorong karena merasa tempatnya kurang luas.
“Eh? Lily? Dia beneran Lily? Lily!” batin Vartan ketika Ella masuk ke dalam mobil.
Ella merasa risih dengan tatapan mata yang Vartan berikan. Diapun mengabaikannya seperti yang diinstruksikan oleh Ares. Sang gadis kecil menatap keluar jendela mobil dan melihat pemandangan yang disajikan oleh alam.
Butiran putih nan dingin menumpuk di tepian jalan, atap rumah serta beberapa penanda jalan pun tak luput dari tumpukannya. Langit yang cerah, membuat suasana yang dingin terasa agak hangat.
Vartan terus menatap Ella dengan tatapan antusiasnya. Ia tak menyangka, jika Lily juga bereinkarnasi seperti kakaknya. Sang gadis kecil yang sudah tidak sanggup untuk mengabaikan pandangan mata Vartan pun, akhirnya menegurnya.
“Bisakah kau berhenti menatapku seperti itu?!” ucap Ella dengan kesal sembari menatap Vartan.
“Oh ... Kenapa harus?” goda sang pemuda berambut hitam kebiruan tersebut.
“Kau menggangguku.” Balas sang gadis kecil, Vartan menyeringai dan menjawab.
“Hai Nona ... tahukah Anda jika saya duduk di belakang Anda? Dan kemana saya menatap, jika bukan ke depan?”
Ella yang kesal akhirnya memalingkan wajahnya dan menghadap ke depan kembali. Ares Nea yang mendengar perdebatan kecil adik-adiknya hanya bisa tersenyum kecil dan saling melirik.
Sedangkan Ellard dan Liz, mereka berdua ternyata tertidur.
Sebelum mereka menuju ke tempat tujuan, mereka bertujuh singgah di suatu restoran untuk makan siang. Nea sibuk membangunkan Ellard dan Liz yang tertidur, Ares menunggu kekasihnya.
“Bisa tak kau tidak mengikutiku?!” protes Ella pada pemuda bermanik biru saphire itu.
“Tak mau. Aku juga mau ke restoran ini,” ucap Vartan pada gadis bermata merah tersebut.
“Jangan dekat-dekat! Yang jauh sana!” pekik Ella yang berjalan menjauhi Vartan.
“Tunggu aku Nona ....” ucap Vartan dengan nada yang terdengar merengek. Ella menatap pemuda itu dengan tatapan jijik, Vartan malah tertawa cengengesan.
“Apa-apaan sih dia? Ngikutin terus. Aku bisa gila ....” gerutu Ella dalam hatinya.
“Namun entah perasaan familiar apa ini yang kurasakan?” Ella terhanyut dalam pikirannya, hingga hampir menabrak seorang cowok yang baru keluar dari restoran.
“Ups?!” seru Vartan yang dengan cekatan menarik Ella dan menolongnya sebelum menabrak cowok tadi.
Sang pemuda menarik gadis tersebut dalam dekapannya yang aman. Ella tersentak, jantungnya berdegup kencang. Ia merasakan sensasi nostalgia, ketika berada dalam rengkuhan Vartan.
“Lepaskan aku!” pekik Ella saat ia tersadar dengan apa yang sedang terjadi.
“Baiklah Nona,” ucap Vartan yang kemudian melepaskan pelukannya.
Setelah Nea berhasil membangunkan si Kembar, mereka bertujuh pun masuk ke dalam restoran. Mereka melihat dan memeriksa mana meja yang kosong, karena waktu makan siang membuat restoran menjadi ramai.
“Di situ! Yang di dekat jendela itu kosong Kak!” ucap Ellard dengan semangat.
“Baiklah. Mari kita kesana,” ajak Nea pada yang lain.
Nea dan yang lainnya segera menuju ke meja yang berada di samping jendela. Sesampainya di sana, mereka langsung duduk dan membaca menu yang diberikan oleh pelayan. Mereka terbagi dalam dua meja yang berbeda.
Ares, Nea, Ellard dan Liz berada di satu meja. Sedangkan Ella, Vartan dan Rios mereka di meja yang sama. Setelah membaca menu dengan seksama, Nea pun menanyakan apa yang ingin dimakan oleh si Kembar.
“Ellard dan Liz mau makan apa sayang?” tanya Nea dengan lembut.
“Kami mau menu makan siang anak-anak Kak!” seru si Kembar dengan heboh.
“Baiklah. Baik,” Nea tersenyum kecil melihat tingkah mereka. Saat hendak memanggil pelayan, terdengar bunyi yang keras.
“Pyar!!?”
... ~ ☽ ☾ ~
...
Hai. 😭
Tahu nggak? Hari ini rumah saya didatangi hujan angin bledeg badai lho. 😱
Tapi Alhamdulillah, tempat saya nggak sampai terbang. 🤧
Nah ....
Bagaimana menurut kalian tentang Chapter kali ini? 🤔
Oh iya! O.o
Na mana? OAO
Na????? OAO
Na: *tidur dengan nyenyak di atas VR.
VR. : Naaaaa ....
Dx
Hump?!
*mulut disumpal cookies
Ferdinand : Na tidur di atas Anda, VR.
*ucap Ferdinand sembari memberikan senyuman termanisnya.
VR. : *menganggukkan kepala sembari keringat dingin mengucur
Lauryn : Jangan lupa like, comment, vote dan share ya anak-anak baik.
Briallen : *upload foto Selfi di @rirymocha1
VR. : Sampai jumpa di chapter berikutnya. >
VR. : Saya juga ingin liburan. Dx
...VR. Stylo
...