
Eropa, 1847
Senja yang cerah, dimana burung-burung berterbangan pulang menuju rumahnya. Anak-anak kecil dipanggil Ibunya untuk segera pulang. Para Ayah yang baru pulang dari pekerjaan mereka. Para pelayan di tiap Keluarga, yang sibuk mempersiapkan jamuan makan malam.
3 bulan setelah Briallen mengungkapkan perasaannya pada Noxita. Kini ia sedang berada di kediaman Rosaceae. Dan menghadap pada pasangan Duke dan Duchess Rosaceae. Suasana di ruang tamu ini terasa sangat tegang, tak ada yang berani mengungkapkan sepatah katapun. Hampir satu jam lamanya suasana ini berlangsung. Hingga...
“Tolong berikan putri Anda pada saya Tuan Duke Rosaceae.” Ucap Briallen memecahkan keheningan.
“Apa?! Kau mau merebut putriku dariku?” Ucap Deaf agak berteriak karena kaget. Terlihat Kaila yang hanya diam sembari menyikut Suaminya itu.
“Ah? Bukan begitu Ayah. Tapi Briallen meminta izin supaya kami diperbolehkan untuk menjalin hubungan secara resmi.” Jelas Noxita dengan panik, yang kemudian menundukkan kepalanya.
“Hm... Jadi kenapa kau tidak bilang sendiri?” Ayah Noxita menatap tajam Briallen.
“Maafkan atas ketidakberanian saya sebelumnya. Baiklah Tuan. Akan saya ulangi sekali lagi. Saya, Briallen de Roosevelt Vangelis meminta izin kepada Duke dan Duchess Rosaceae. Agar saya diperbolehkan untuk menjalin hubungan sebagai kekasih putri Anda.” Ucap Briallen dengan percaya diri dan tanpa ragu.
“Baiklah. Kami izinkan.” Ucap Kaila dengan segera. Deaf hanya bengong melihat Istrinya dengan ekspresi penuh tanya.
“Sayang...?” Rengek Deaf.
“Apa sayang?” Kaila menjawab sambil tersenyum.
“Um.. Tidak.” Balas Deaf.
“Oke, kami mengizinkannya. Asal, kau berjanji untuk melindungi putri kami dengan seluruh jiwamu serta menjaga dia dari setiap mara bahaya.” Imbuh Deaf pada Briallen. Terlihat wajah bahagia Briallen.
“Baik. Saya berjanji dengan segenap hati saya.” Briallen menjawab dengan tanpa ragu.
“Dengan ini Briallen de Roosevelt Vangelis resmi menjadi kekasih Noxita de Devile Rosaceae.” Ucap Kaila yang mengabaikan raut sedih Suaminya.
“Tenang sayang. Kalau kau begitu terus, kapan putri kita akan menikah?” Kaila menjelaskan sambil memberikan senyuman termanisnya.
“Iya sayang.” Deaf terlihat agak pundung.
“Terima kasih banyak Duke dan Duchess Rosaceae karena telah mengizinkan kami.” Briallen berkata dengan bahagia.
“Terima kasih banyak Ibunda, Ayahanda. Eh? Ibu, Ayah.” Ucap Noxita sambil memeluk Ibu dan Ayahnya.
“Sudah waktunya makan malam. Nah, Nak Briallen. Kami mengundang kamu untuk ikut makan malam.” Ucap Kaila setelah menenangkan Suaminya.
Makan malam tersaji di meja makan. Berbagai masakan tersedia untuk disantap. Mereka mulai menyantap sup setelah berdoa dan dipersilakan oleh Deaf. Hidangan pembuka adalah chicken soup yang kuah jernihnya terbuat dari kaldu ayam terpilih, aromanya kaya akan rempah-rempah, namun terasa ringan di lidah.
Setelah menghabiskan chicken soup, datanglah hidangan kedua. Yakni main course, berupa beef steak dengan berbagai side dish yang mendampinginya. Daging segar yang dibumbui dengan berbagai rempah serta berbagai bumbu lainnya. Uap yang tetap keluar darinya, menandakan bahwa steak itu baru saja matang dan langsung disajikan.
Terdengar bunyi pelan pisau dan garpu makan yang beradu dengan piring. Terlihat Noxita sedang membantu Adik-adiknya memotong steak mereka.
“Nah. Ini punya Lizzie. Hati-hati, masih panas soalnya.” Noxita memberikan piring berisi steak yang sudah ia potong ke Lizzie.
“Saya, Kak.” Ucap Diego tak mau kalah.
“Saya juga Kak.” Lily pun turut serta.
“Baik. Baik. Gantian ya.” Sebelum Noxita selesai membantu Lily, Diego sudah dibantu Briallen untuk memotong steak nya.
“Hati-hati masih panas, ya.” Ucap Briallen saat memberikan piring ke Diego.
“Terima kasih banyak Kak Briallen.” Jawab Diego dengan senyuman bahagia.
Saat Noxita selesai membantu Lily, Briallen memberikan piring padanya. Dengan steak yang sudah terpotong rapi.
“Ah? Terima kasih, Briallen.” Ucap Noxita agak tersipu. Briallen hanya membalas dengan senyuman.
“Benar-benar gadis impianku.” Batin Briallen saat kembali pada hidangan miliknya. Merekapun makan malam dengan gembira.
“Saya sudah selesai.” Ucap Salvatore seraya beranjak dari tempat duduknya.
“Kakak mau kemana?” Tanya Noxita pada Kakaknya.
“Mau menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk. Kakak duluan ya Noxita.” Jawab Salvatore.
“Baiklah Kak. Jangan tidur larut malam Kak.” Ucap Noxita yang dibalas lambaian tangan oleh Kakaknya.
Noxita pun melanjutkan makannya. Mereka menghabiskan tiap hidangan yang disajikan. Tiba hidangan terakhir alias makanan penutup.
Pie apel disajikan sebagai hidangan penutupnya. Kulit pie yang renyah, bertemu dengan potongan buah apel bercampur caramel manis. Samar-samar tercium aroma kayu manis. Membuat yang memakannya jadi melupakan rasa hidangan utama.
Selesai dengan dessert, merekapun berbincang sebentar.
“Masakan koki Kediaman Rosaceae sangat nikmat. Terima kasih telah mengundang saya untuk makan malam, Madam.” Ucap Briallen seraya tersenyum.
“Sama-sama Nak Briallen.” Jawab Laila.
Tak terasa waktu berlalu, jam menunjukkan pukul 10 malam. Briallen pun pamit pulang, karena jarak Rosaceae dengan Tanzanite yang lumayan jauh. 2 jam perjalanan menggunakan kereta kuda.
“Baiklah Duke dan Duchess Rosaceae, saya mau izin undur diri terlebih dahulu. Terima kasih sekali lagi atas jamuan makan malamnya.” Ucap Briallen dengan sopan.
“Hm. Silakan.” Deaf menjawab.
“Sama-sama.” Kaila tersenyum.
“Ah? Saya akan mengantarkan Briallen ke depan.” Ucap Noxita yang kemudian beranjak dari tempat ia duduk.
“Terima kasih Xita.” Noxita hanya tersipu malu.
Mereka berdua berjalan menuju pintu depan seraya berbincang sedikit.
“Allen tak apa?” Noxita bertanya.
“Hm? Aku baik-baik saja Xita.” Jawab Briallen seraya tersenyum pada kekasihnya itu.
“Baiklah.” Noxita tersenyum bahagia.
Merekapun sampai di pintu depan Mansion. Briallen menghentikan langkahnya dan mendekati Noxita. Iapun mengecup kening Noxita kemudian berkata.
“Besok aku akan menjemputmu jam 10.” Kemudian Briallen berlalu dan naik ke kereta kudanya. Meninggalkan Noxita yang membeku dengan wajah yang sangat memerah. Iapun tersadar saat kudanya bersuara.
“Hati-hati dijalan Allen.” Noxita melambaikan tangannya yang dibalas senyuman oleh Allen.
Keesokan harinya..
Noxita yang sudah siap untuk pergi bersama Allen, sedang menunggu kekasihnya datang menjemput. Dari jam 7 pagi, Noxita sudah bersiap. Ia mengenakan dress berwarna biru muda dengan hiasan mawar putih sebagai bros nya. Tak lupa juga ia mengenakan topi, sebagai penghalau terik matahari. Topi berwarna putih dengan hiasan mawar biru dengan pita yang mengelilinginya.
'Tok tok..’ Suara ketukan pintu.
“Nona. Tuan Vangelis telah tiba.” Suara seorang laki-laki yang merupakan kepala pelayan.
“Terima kasih. Aku kan segera menemuinya.” Noxita segera beranjak keluar ruangannya bergegas menemui Briallen.
Terlihat Briallen sudah menunggu di ruang tamu. Ketika Noxita masuk ke ruang tamu. Briallen langsung berdiri. Terlihat Briallen mengenakan setelan jas berwarna biru yang serasi dengan Noxita. Sang gadis hanya bisa terkejut, saat melihat pakaian yang mereka kenakan berwarna sama. Sedangkan Briallen? Hanya tersenyum melihat ekspresi sang kekasih.
“Mari kita pergi, Xita.” Ucap Briallen seraya mengulurkan tangannya pada Noxita.
“Tentu, Allen.” Noxita menerima uluran tangannya, merekapun keluar menuju kereta kuda.
Dalam perjalanan menuju tempat yang mereka tuju. Briallen terus menggenggam tangan Noxita.
“Kita mau kemana, sayang?” Tanya sang gadis.
“Kita akan pergi ke festival yang ada di Asteri.” Jawabnya.
“Kota dengan sejuta bintang?” Seru Noxita. Briallen mengangguk perlahan.
Asteri yang berarti bintang. Sesuai namanya, kota ini berhias sejuta bintang di langitnya. Konon nama Asteri diambil dari nama Dewi yang menjaga kota tersebut.
Noxita yang hanya bisa menunjukkan sisi kekanakannya dihadapan Briallen itupun selalu merasa bahagia dan bebas jika bersamanya. Tak terasa mereka sudah sampai di kota Asteri. Jalanan kota yang dihiasi dengan berbagai ornamen berbentuk bintang. Bermacam jenis makanan dan barang dijual di hampir sepanjang jalan. Mereka menikmati tiap hiburan serta makanan yang dijual.
“Allen. Disana ada piano, mainkan satu lagu untukku ya.” Noxita memohon pada Briallen.
“Apapun supaya Xita tetap bahagia.” Ucap Briallen yang langsung menuju Piano itu berada dan meminta izin untuk memainkannya.
Sebuah alunan piano yang lembut serta membuat perasaan menjadi nyaman terdengar. Briallen yang dengan piawainya memainkan piano. Membuat semua yang mendengarkan merasa bahagia. Satu persatu jari-jemarinya menekan tuts-tuts hitam putih secara bergantian. Terlihat semua orang menari ataupun berdansa dengan riang. Ketika piano berhenti. Briallen mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari mereka semua. Briallen langsung menghampiri Noxita yang terkagum-kagum dengan penampilannya.
“Bagaimana menurut Anda, Tuan Putri?” Briallen menggoda Noxita. Noxita hanya merangkul lengan Briallen dan mengajaknya untuk berkeliling lagi. Terlihat rona merah di pipinya. Briallen hanya tersenyum.
Saat sedang berkeliling lagi, Noxita melihat patung di tengah kota dan menanyakan hal tersebut pada kekasihnya.
“Allen, itu patung apa?”
“Hum? Oh. Itu patung Goddess of Asteri, Xita.” Jawab Briallen yang berdiri di samping Noxita sambil memandang patung tersebut.
“Ah! Dewi yang lahir dengan berkah sejuta bintang itu?” Ucap Noxita dengan excited.
Briallen hanya mengangguk. Kemudian Noxita terlihat menggenggam kedua tangannya sambil menutup matanya dan mulai berdoa. Briallen hanya menatap sang gadis yang sedang fokus berdoa itu. Kemudian mereka menjelajahi tiap seluk-beluk kota, hingga tak terasa malam pun tiba.
Kota Asteri terlihat sangat indah, ketika siang sudah indah. Namun saat malam terlihat semakin indah. Berjuta bintang terlihat berkelap-kelip di atas kota itu. Nampak berbagai rasi bintang disana. Suasana kota pun makin meriah karena ada pertunjukan tentang Dewi Asteri yang menyelematkan serta melindungi kota dari serangan monster dengan berkah sejuta bintang yang dimilikinya.
“Wah... Pertunjukannya sangat menyentuh.” Noxita terlihat mengusap ujung matanya dengan punggung jarinya.
“Pft...” Briallen hanya tersenyum melihat tingkah Noxita.
“Allen kenapa sih? Daritadi senyum-senyum saja.” Noxita menatap Briallen sambil cemberut.
“Nggak ada apa-apa, Xita. Aku hanya bahagia bisa menghabiskan waktu bersama Xita.” Ucap Briallen sambil memegang pipi Noxita. Noxita hanya bisa tersipu malu dengan perlakuan kekasihnya itu.
Saat menengadah, Noxita melihat satu bintang jatuh. Dan langsung menunjukkannya pada Briallen.
“Allen, lihat! Bintang jatuh. Mari kita buat permohonan.” Ucap Noxita yang lalu menggenggam kedua tangannya dan mulai memohon.
Namun, belum selesai memanjatkan permohonan. Noxita merasakan ada yang melingkar di lehernya. Seketika Noxita langsung menoleh ke belakang dan mendapati kekasihnya telah selesai memasang sesuatu. Noxita meraba sesuatu yang melingkari lehernya itu dan melihatnya.
“Kalung? Dengan bandul berbentuk bintang. Terima kasih banyak Allen.” Noxita berkata dan langsung memeluk Briallen karena terlalu bahagia.
Saat tersadar, Noxita melepas pelukannya dan menunduk karena malu. Tak lama, Briallen memegang dagu Noxita sambil berkata.
“Jangan tundukkan kepalamu, apalagi sampai menyembunyikan wajahmu, Xita. Karena kau lebih indah dari sejuta bintang yang ada.” Briallen mengecup kening sang gadis.
“Kata orang memohonlah jika bertemu bintang jatuh, namun yang kuinginkan hanya dirimu seorang. Briallen de Roosevelt Vangelis. Tiada yang lain.” Ucap Noxita seraya menatap wajah rupawan Briallen yang terlihat akan menangis.
Sang pemuda dengan segera memeluk kekasihnya, berharap untuk menyembunyikan air matanya. Noxita hanya kebingungan karena dipeluk secara tiba-tiba oleh Briallen. Dan hanya bisa diam dengan wajah yang sudah merah padam. Beberapa orang yang lewat, melihat mereka. Hingga...
“Bu lihat, Bu. Ada orang yang sedang berpelukan di tempat umum.” Ucap seorang anak kecil yang mengagetkan Briallen dan membuat wajah Noxita semakin memerah.
Briallen segera melepas pelukannya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil melihat ke arah lain. Noxita menggigil karena udara yang semakin dingin. Dengan cekatan, Briallen melepas jasnya dan menyelimuti pundak Noxita.
“Allen sendiri bagaimana?” Ucap Noxita khawatir jika kekasihnya terkena flu.
“Aku sudah biasa dengan udara dingin, sayang.” Briallen berkata dengan PD.
“Baiklah. Terima kasih sayang.” Noxita tersenyum.
“Xita tunggu disini ya. Aku akan membelikan sesuatu yang bisa menghangatkan tubuh kita.” Ucap Briallen yang segera berlari pergi.
“Ah? Baiklah, Allen.” Noxita pun duduk di bangku yang ada didekatnya. Namun, terlihat beberapa lelaki yang menuju ke arah Noxita. Noxita hanya bisa menunduk dan berharap Briallen segera kembali.
Briallen kembali dengan membawa 2 mangkuk sup panas. Namun ia bergegas ke tempat Noxita menunggu saat melihat kekasihnya dipaksa untuk ikut oleh orang tak dikenal. Briallen langsung menuangkan isi mangkuk yang ia bawa ke kepala lelaki yang memaksa Noxita. Iapun berteriak kepanasan. Kemudian teman lelaki itu hendak meninju Briallen.
“Allen. AWAS!!” Noxita memperingatkannya.
Briallen segera menangkap kepalan tinjunya dan segera membuatnya mencium tanah dengan memiting lengan dan kakinya. Terlihat beberapa ksatria yang bertugas menjaga kota menuju ke tempat Briallen Noxita berada. Ternyata ada warga yang melihat Noxita kesulitan dan segera melapor pada ksatria yang berjaga. Akhirnya para pengganggu itu ditangkap dan dibawa untuk diperiksa.
“Xita. Maafkan aku, karena telah meninggalkanmu sendirian.” Ucap Briallen dengan wajah sedih saat menatap kekasihnya.
“Tak apa Allen, terima kasih sudah segera kembali.” Jawabnya. Terlihat tubuh Noxita yang gemetar ketakutan.
Briallen segera menggenggam tangan Noxita dan mengajaknya untuk membeli ulang sup hangat tadi. Noxita agak tersentak, saat tangan hangat Briallen menggenggam tangannya yang dingin. Noxita tersenyum dan terlihat tidak takut lagi.
Eropa, 2010
Terdengar alunan sedih menggema dari dentingan piano. Seorang laki-laki berambut hitam sepekat malam, memainkan tuts-tuts piano dengan mata tertutup. Saat ia membuka matanya, terlihat sepasang manik berwarna biru saphire menatap sedih sebuah kalung yang melingkar di pegangan pedang. Kalung berbandul bintang berhias saphire itu menatap dingin tanpa suara pada lelaki yang menatapnya.
“Ah... Kenangan yang indah. Dan sekarang aku ingin merengkuhmu, kan ku jaga dan takkan kubiarkan kau pergi dari hidupku yang abadi ini. Karena kau adalah jiwaku.” Ucapnya sambil tetap memainkan lagu sedih itu. Terlihat bulan purnama bergelayut di langit malam yang nampak dari jendela. Rambut lelaki itu berubah menjadi silver dan bola manik matanya menjadi abu-abu. Taring mencuat dari mulutnya.
~♪~