When The Night Come

When The Night Come
Tersadar



Ferdinand yang menemukan istrinya dalam keadaan babak belur dan tak sadarkan diri, segera mengangkat dan mendudukkannya di atas pangkuannya. Dengan lembut lelaki tersebut mengusap pipi Lauryn, mencoba untuk membersihkan debu yang mengotori wajah cantiknya itu.


Tapi usapan lembut sang lelaki membuat wanita di pangkuannya itu meringis kesakitan. Ferdinand yang tak tega melihat istrinya merasakan sakit, akhirnya mencium bibir tipis yang merah ranum itu. Cahaya lembut nan hangat seketika menyelimuti tubuh Lauryn.


Seketika Lauryn membuka matanya perlahan dan menggigit bibir lelaki itu, hingga berdarah. Dengan rakus wanita tersebut menghisap serta mengulum bibir tipis nan dingin. Sampai ia merasa dirinya pulih.


“Ah ... Aim ... Lily ....” ucap wanita bermanik coklat menatap Ferdinand dengan nanar, terlihat hampir menangis.


Lelaki berambut abu-abu keperakan itu meletakkan tangannya di belakang kepala Lauryn dan mendekapnya. Dengan tatapan mata yang penuh amarah, Ferdinand berkata.


“Tenanglah Ryn, kita pasti akan menyelamatkan Baby Lily. Aku juga tidak akan memaafkan orang yang telah membuatmu sedih. Tenang dan pulihkan tenagamu, Sayang,” ucapnya dengan suara lembut namun menyeramkan. Lauryn tertidur dalam dekapan suaminya.


***


Erebos akhirnya berhasil menumbangkan semua musuhnya, walau dia harus mengerahkan serangan nafas naganya. Namun karena ia sudah lama tak menggunakannya, arah serangan pun jadi tak beraturan. Hingga beberapa bagian luar Mansion hancur tak bersisa.


“Kadal bodoh, kau menghancurkan Mansion-ku?! Mati aku. Bisa-bisa Abang ngamuk ....” Vartan membayangkan rupa Ares, saat ia tahu kekacauan ini. “Katamu ini Mansion-mu, kenapa jadi takut sama dia?” sindir Erebos.


“Um ... maksudku Mansion Abang Allen. Aaah! Kalau ini semua beres, aku harus membereskannya. Sebelum Abang siuman,” ucap Vartan dengan panik.


“Yaah sudahlah. Yang penting sekarang buruan pergi ke tempat Tuan Putri!” perkataan Erebos membuat Vartan ingat kembali akan tujuan awalnya. Iapun bergegas menuju tempat Ella berada.


***


“Hah?! Kalian juga memberitahu orang misterius yang tiba-tiba muncul itu cara menggunakan bola sihir tersebut?” nampak ekspresi Rios yang shock, karena werewolf muda anak dari Ketua Klan Neoma begitu bodoh.


“Entah mereka ini bodoh atau polos sih?” gumam Rios dengan suara yang hampir tak terdengar. Kedua werewolf muda itu hanya memiringkan kepalanya menatap makhluk yang mereka puja itu.


***


“Lily!?”


Vartan yang melihat letak rumah kaca yang sudah tak ada bangunannya itu, dengan panik menambah kecepatan larinya untuk segera sampai.


Sesampainya ia di sana, netra biru saphire itu menangkap kondisi rumah kaca yang sudah porak-poranda. Di tengah-tengah nampak Ferdinand yang sedang dimakan oleh Lauryn. Vartan menyaksikan hal tersebut bagaikan menonton sebuah film.


“Bisa dijadikan referensi nih,” batin Vartan sembari terus menonton.


Saat Ferdinand mendekap kepala wanita berambut orange gold itu dan menatap dirinya dengan tatapan penuh amarah. Vartan langsung menelan ludahnya dengan kasar, hingga terasa seperti tercekat.


“Mati aku!” batin Vartan yang kemudian memalingkan pandangannya ke sekeliling, seolah mencari sosok Ella.


“Kenapa kau di sini Allan?” tanya sang dokter dengan nada tenang. Namun menyeramkan.


“Uhm ... mau mencari Lily.” jawabnya dengan canggung.


“Lebih baik kau ke tempat Allen sekarang!” titah Ferdinand dengan nada yang agak meninggi.


“Tapi ....”


“Tidak ada tapi-tapian! Aku khawatir mereka juga diserang,” imbuh lelaki itu dengan nada khawatir.


“Bukankah Kakak ipar punya Serigala itu?” jawab Vartan dengan enteng.


“Apa kau lupa? Kalau Rios sedang berada di tempat yang memiliki batu penghalang sihir ataupun komunikasi di dalamnya?!” bentak Ferdinand yang kesal karena Vartan tak kunjung melakukan apa yang ia katakan.


“Benar juga! Gawat nih. Abangku satu-satunya!” Vartan dengan panik berlari kembali ke dalam Mansion.


“Oy Ayam! Kenapa kau tak pakai teleportasi saja!?” teriak Ferdinand yang terdengar kesal.


“Eh?” Vartan baru ingat, jika dirinya bisa menggunakan sihir teleportasi.


“Ehe ....” ia tersenyum sok imut dan segera menghilang.


***


“Dasar bocah satu itu,” gerutu Ferdinand setelah melihat Vartan menghilang.


“Neve.”


Seketika muncul ular putih raksasa di belakang Ferdinand. Dalam sekejap ular tersebut mengubah wujudnya menjadi manusia. Sesosok wanita berambut putih dengan manik perak, iris mata ala reptil menghiasi bagian tengah matanya.


Wajahnya yang nampak seperti seorang laki-laki, membuat seperti majikannya. Namun versi cewek dengan wajah tampan.


“Ada apa, Tuan Victor?” tanyanya dengan tenang.


“Tolong jaga dan rawat Ryn! Aku harus segera mengejar serta menyelamatkan Lily.” titah Ferdinand kepada Neve.


“Baik Tuan. Saya akan melaksanakan perintah Anda.” ucap Neve dengan patuh dan segera membawa Lauryn ke salah satu ruangan yang terlihat masih utuh.


Ferdinand memejamkan mata dan berkonsentrasi untuk menemukan arah kemana Ella dibawa. Saat ia menemukan arahnya, diapun menghilang.


***


“Cih! Padahal aku mau ngejar Lily aja! Tapi susah juga, kalau Kakak ipar belum bangkit dan belum tentu Serigala itu respon panggilan Kakak ipar. Haissh. Susah,” gerutu Vartan sembari bergegas ke kamar Ares.


Entah kenapa Vartan tidak bisa mendarat di ruangan Ares langsung, malah kesasar di atas atap sayap selatan. Sedangkan ruangan Ares ada di sayap utara. Jadi ia terpaksa berlari menuju tempat Ares Nea berada.


“Sudahlah, buruan saja kesana!” ucap Erebos sedikit mengejek.


“Diamlah Kadal!” bentak Vartan yang membuat ekspresi kesal, khawatir, panik serta bingung.


“Ya ya.” Erebos pun diam dan menyaksikan.


***


Nea yang mendengar suara kesakitan Ares, nampak terkejut, panik dan sedih. Ia bingung, apa yang harus ia lakukan. Dalam keadaan seperti itu, Nea merasakan kepalanya yang sangat sakit. Iapun terduduk lemas dengan tatapan mata yang kosong.


Saat ia membuka matanya, terlihat di hadapannya Noxita yang tersenyum dengan manis. Gadis itu mendekati Nea yang masih saja merasa takjub melihatnya.


“Aku adalah kamu, kamu adalah aku. Kita adalah satu, jangan biarkan orang yang kita cintai tersiksa karena kita. Terimalah masa laluku dan kan kuterima masa kinimu. Jangan biarkan masa depan kita menjadi gelap, tanpa ada dirinya.” Noxita mengucapkan kata-kata yang bagaikan mantra.


Sembari menggenggam sekuntum mawar merah yang penuh duri, gadis yang berasal dari masa lalu itu menempelkan keningnya pada kening Nea. Serta memberikan bunga tersebut padanya.


“Kan kuterima masa lalumu dan jaga masa kini kita. Mari kita jalani masa depan bersama semua yang kita sayangi. Takkan kubiarkan kita kehilangan orang yang kita cintai untuk kedua kalinya.”


Nea menerima dan menggenggam erat sekuntum bunga mawar tersebut. Seketika, kelopak yang tadinya berwarna merah menjadi putih. Mata Nea yang tadinya pink jernih jadi abu-abu, begitu juga dengan rambutnya yang hitam keunguan berubah menjadi silver.


“Dengan ini kita sudah menjadi satu. Lakukanlah apa yang harus kau lakukan masa kiniku.”


Noxita menghilang setelah mengucapkan kata-kata itu, Nea memejamkan matanya dan merasakan jika dirinya telah utuh. Tidak seperti sebelumnya, yang sering merasa seperti ada yang hilang.


“Baiklah masa laluku. Akan kulindungi masa kini kita, agar masa depan bisa kita jalani bersama.”


Nea pun membuka kedua matanya. Namun, ia telah ditangkap oleh salah seorang penyusup itu dan dengan cepat dia disihir dengan sihir penidur. Nea yang memberontak, berteriak memanggil sang kekasih.


“Allen ... A–aku sudah mengingat semuanya, semua kenangan kita. Saat kita berjalan-jalan, saat kau mengajakku untuk menjadi kekasihmu, saat kau melamarku, ketika hari pernikahan tiba. Hingga saat aku meninggalkanmu sendiri.” Suara Nea terdengar bergetar, karena mencoba melawan efek dari sihir penidur itu.


“Maafkan aku Allen. Saat itu aku begitu lemah, sekarang pun tak ada bedanya sih. Tapi jika kau tak segera bangun dan melindungiku sekarang. Maka kau akan kehilangan diriku lagi, mungkin untuk selamanya.” setetes air mata mengalir di pipinya.


“Allen. Bangunlah! Bangun dan selamatkan aku! Kau bilang kau akan melindungiku. Aku tak ingin kita berpisah lagi. Briallen! Mawar Hitamku Allen!” Nea berseru dengan tenaganya yang tersisa.


Mendadak salah satu orang yang memegangi Nea, terpental menabrak dinding. Udara di ruangan tersebut terasa sangat dingin, hingga lantai pun membeku. Terlihat penyusup yang masih memegangi Nea, menggigil kedinginan. Iapun membeku seketika lalu hancur berkeping-keping.


Walau udara terasa membeku. Nea sama sekali tidak merasakan dingin, malah ia merasakan kehangatan saat itu. Nea terkesiap, menatap dengan tatapan tak percaya. Mata pink jernih Nea mulai berkaca-kaca.


“Berani sekali kalian menyentuh Ratuku dengan tangan yang kotor itu!?” ucapan penuh amarah serta dingin, terdengar dari suara berat milik pemuda bermanik biru saphire itu.


... ~ ☽ ☾ ~


...


Heyhooo


Okay


Karena sudah malam


Saya hanya mau bilang.


Jangan lupa like, comment, vote, share ya.


Love you all. 😘


Semangat puasanya, bagi yang menjalankan. ^O^/


...VR. Stylo...