
Sebulan telah berlalu, Ares masih memburu dalang dibalik serangan mansionnya waktu itu. Walau dengan badan yang terkadang mendadak tak bertenaga, ia tetap mengerahkan seluruh kemampuannya.
Ia juga mengerahkan Rios, walau sang serigala enggan. Tapi demi membantai orang yang mencelakai nonanya, apapun akan ia lakukan.
"Hei Allen! Aku harus kemana?"
"Pergilah ke tempat dimana para sampah berkumpul dan bertransaksi!"
"Hh … baiklah."
Setelah menutup komunikasi mereka, Rios yang mengenakan pakaian serba hitam itu menuju ke kawasan terbengkalai.
Neva, Bagian Selatan Valsea
Pemukiman kumuh yang sama sekali tidak diperhatikan oleh pejabat negara. Tempat itupun menjadi kawasan bebas, dimana segala hal buruk dapat ditemukan di sana.
Rios yang sampai di bagian luar daerah Neva, melihat jalan masuknya hanya muat satu orang.
"Merepotkan sekali, tapi ini semua demi Nona!" gumam Rios perlahan, setelah memandang beberapa orang yang memandangnya sinis, ketika memasuki kawasan tersebut.
***
Ares memandang layar yang ada di hadapannya, nampak tatapan tajam dari para penghuni kawasan Neva. Tapi mereka mundur, membiarkannya lewat. Sambil tetap menatap lekat, hingga ia menjauh.
"Kenapa Abang mengirim si Serigala ke sana?" celetuk Vartan yang sedang duduk bosan di sofa.
"Karena wajah kita sudah sangat dikenali di dunia bawah."
"Oooh …."
"Dan lagipula, bisa-bisa kau main hantam saja. Kalau kau yang pergi, Llan."
"Ehe …."
Vartan langsung diam, ketika abangnya melirik dengan sinis. Ia kembali menatap layar.
***
Rios telah menggunakan perlengkapan komunikasi serta membawa kamera kecil yang dipasang dalam permata hitam sebagai bandul kalung. Alat komunikasi jarak jauhnya berbentuk anting tindik, perangkat tersebut bisa mentransfer suara ke penggunanya dan aman dari kebocoran informasi.
Dan alat itu sangat cocok untuk seorang seperti Rios, karena pendengarannya yang tajam. Ia jadi mudah untuk mendengar gelombang yang dikirim oleh anting tersebut.
Ditambah dengan permata yang menempel di bagian atas bibir Rios, ia berfungsi sebagai pengirim suara ke bagian sana. Layaknya mikrofon. Namun hanya dengan suara kecil atau berbisik saja, tempat Ares bisa menerima suara sang serigala. Tampak seperti piercing bagi orang biasa.
"Lebih maju lagi Rios!" ucap Ares sambil memantau dari layarnya.
Lelaki bersurai perak panjang terurai itu berjalan santai, sambil tetap waspada. Hingga sekelompok orang menghadangnya, mereka terlihat menyeramkan dengan wajah penuh bekas luka.
"Hei … bayar dulu kalau mau lewat!" ucap seorang pria berotot dengan suara parau.
Rios menatap tajam orang itu sembari memasang wajah datar. Ia sama sekali tidak mau meladeni mereka dan berniat untuk terus berjalan.
"Hoi!? Dibilang bayar dulu! Baru boleh jalan. Kau meremehkan kami ya? Dasar sialan!"
Seketika sepuluh orang yang mengelilingi Rios tadi menerjang ke arahnya. Dengan santai dia menghindari serangan pertama dari dua orang, mereka malah saling bertabrakan.
Serangan kedua, ia genggam lengan si penyerang yang membawa belati dan membantingnya ke belakang. Tanpa aba-aba, menggunakan lengannya Rios lalu menahan serangan dari kanan. Hingga semua dilawannya tanpa ampun.
Rios menaklukkan mereka semua, hingga para berandalan itu melarikan diri. Meninggalkan kawannya yang tidak sadarkan diri.
"Kau meninggalkan temanmu lho!" serunya kemudian mengamati orang yang ditinggalkan itu.
"Rios, kembalilah sekarang dan bawa orang itu juga!" titah Ares setelah melihat sesuatu dari orang itu.
"Baik …."
Rios pun mengangkut orang tersebut, bagaikan mengangkat sebuah karung beras dan kemudian ia lompat ke atas atap salah satu, seketika itu dia tidak terlihat lagi.
***
Di kediaman Vangelis, Ares yang sudah menunggu di ruangannya. Rios langsung mendarat di depan mansion dan kemudian masuk ke ruangan pemuda bermanik biru sapphire, melalui jendela.
"Apa yang akan kita lakukan dengan ini?" tanya Rios sembari membuang orang yang ia bawa.
"Dudukkan ia di kursi dan ikat erat."
"Baiklah Bang …."
Vartan pun akhirnya bangkit dari kebosanannya dan segera melakukan apa yang dikatakan oleh Ares. Rios berdiri di hadapan orang itu sambil menatapnya lekat, hingga ia bisa membuat lubang di sana.
"Mau kau apakan dia, Llen?"
"Diinterogasi …."
"Aku aja Bang!"
"Terserah … tapi jangan dibunuh …."
Ares, Rios dan Vartan saling berdiskusi, merekapun menunggu orang tersebut sadar. Hingga 2 jam sudah berlalu, Vartan yang tidak sabar. Akhirnya memaksanya untuk bangun.
"Sampai kapan kau akan pura-pura pingsan seperti itu? Kalau kau masih ingin hidup, bangunlah!" gertak Vartan membuat pria itu tersentak dan ketakutan.
Vartan pun mulai menginterogasinya, hingga sayup-sayup terdengar teriakan kesakitan dari jauh ….
***
Dimana ini? A–apa yang terjadi di sini?
Nampak pemandangan sebuah wilayah yang porak-poranda. Teriakan demi teriakan saling bersahutan, terdengar dari segala arah. Aroma darah, kental tercium. Mual tiba-tiba aku rasakan.
"Rosita! Apa yang kau lakukan? Ayo! Kita harus bergegas maju dan membasmi para monster bawahan Iblis itu." ucap seseorang yang memiliki rambut ikal panjang berwarna merah gelap. Ia memiliki sepasang sayap dan terbang mengarah ke tempat pertempuran.
Rosita? Siapa itu Rosita? Namaku bukan Rosita, tapi ….
Aku melihat diriku yang bangkit dan terbang mengikuti pemuda itu. Sesampainya di sana, aku mulai menebaskan pedang yang kugenggam.
"Monster-monster jelek! Beraninya kalian mengusik dan ingin menguasai Bentala? Kalian tidak pantas berada di sini!" ujar pemuda tersebut dengan nada angkuh.
Aku menebas semua monster yang menghadang, hingga bertatap muka dengan sosok pemimpin mereka. Nampak ekspresi wajah sendu tergambar jelas. Aku menerjang ke arahnya dan langsung menebaskan pedangku pada orang itu.
Ia menahannya menggunakan pedang biru yang dia genggam. Ekspresinya masih nampak sedih.
"Rose …. aku akan tetap mencintaimu, walau apapun yang terjadi." bisiknya ketika orang itu dekat denganku. Suara lelaki itu membuat jantungku berdetak kencang.
Aku bingung, siapa Rose yang ia katakan? Namaku kan bukan Rosita, maupun Rose. Tapi ….
"Diam kau *******, aku tidak akan mendengar ucapanmu itu! Aku adalah utusan Dewa dan kau bangsa iblis mengancam ketentraman Bentala, tidak akan kami biarkan begitu saja!"
Aku mendengar suaraku berteriak dan memaki, terasa jantungku sakit.
"Tahan dia Rosita!"
Dengan cepat pemuda berambut ikal tadi, menusuk lelaki yang ada di hadapanku. Mataku terbelalak, tak percaya dengan apa yang kusaksikan.
Tanganku bergetar hebat, pedang yang kugenggam jatuh tergeletak. Tak percaya dengan apa yang kusaksikan ini. Pemuda berambut ikal itu tertawa terbahak-bahak, dirinya senang telah membunuh pemimpin pasukan musuh.
"Kenapa kau tidak ikut tertawa atas kemenangan kita Rosita?" tanyanya dengan mengernyitkan keningnya.
Aku yang tersadar kembali ke kenyataan, berusaha untuk menyelamatkan dia yang tergeletak bersimbah darah itu dan sampai aku tidak mengindahkan pemuda berambut ikal itu.
" ******, bertahanlah! Aku akan menyelamatkanmu …." teriakku denganl panik dan menangis.
Huh?! Aku menangis?
Tiba-tiba semua menjadi buram, kabut hitam menyelimutiku. Aku panik, gelap! Aku berlari kesana-kemari. Tapi ku tak tau arah.
Tolong! Tolong aku! Seseorang?
***
Dua bulan sudah Nea dalam kondisi koma. Sesosok pria berambut hitam pekat dengan iris pink gelap, menatap sedih melalui kaca yang memisahkan dirinya dengan adik perempuannya.
Ia yang selalu sibuk, tidak pernah lupa akan sang adik, terutama adik sulungnya itu. Hingga ia bertekad untuk melindungi mereka semua, berharap menjadi penebusan kesalahannya yang lalu.
"Tapi aku gagal. Dan Nea terluka lagi …." gumamnya sembari menggertakkan giginya karena kesal.
Nampak lelaki berambut perak panjang berjalan menghampiri pemuda itu. Bagian bawah jubah putihnya melambai di tiap langkah yang ia buat.
"Tenanglah, aku pasti kan menyembuhkannya." ucap Ferdinand dengan tenang.
"Lihatlah ini! Kau membuat Rumah sakitku kotor …."
Ferdinand segera menarik tangan Theo yang sedari tadi ia genggam dengan kuat, hingga darah menetes menodai batu pualam putih di bawah kakinya.
"Ayo ikut!" ucap Ferdinand sambil menyeret Theo, pemuda itupun mengikuti sang dokter.
Sesampainya di ruangan Ferdinand, sang dokter segera mengobati dan membalut luka di telapak tangan Theo. Ditatapnya lekat si dokter yang melingkarkan perban ke lengan hingga punggung tangannya itu.
"Bagaimana perkembangan Nea?"
"Kondisinya masih stabil. Namun belum ada tanda-tanda sadar."
Ferdinand menyelesaikan membalut perbannya ketika dia menjawab pertanyaan Theo.
"Baiklah. Lebih baik kau tetap fokus pada pengobatan Adikku, Victor!" ucap Theo yang kemudian berdiri dan keluar dari ruangan Ferdinand.
"Huh?!"
Ferdinand bergegas menyusul, tapi dia tidak menemukan sosok pemuda itu.
***
Di dalam sebuah ruangan, tanpa cahaya, Ares menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, ia memijat keningnya yang terasa berdenyut. Sesekali ia merasakan sakit. Namun ia tahan, karena ia harus memburu dalang ini.
"Xita … kapan kau akan kembali padaku?" gumam Ares sembari menutup kedua matanya menggunakan lengan kanannya.
Iapun mengingat sebulan yang lalu, ketika Rios telah menangkap seseorang dari gang belakang Neva. Namun nihil, karena orang itu hanyalah pendukung biasa yang mendapat kalung bersimbol Verdammte Tulpen.
"Xita … lama-lama aku bisa menghancurkan negara ini …." gumamnya sambil berdecak dan tertawa terbahak.
Ares sedang diselimuti kesunyian, hingga keheningan itu terpecahkan oleh suara berisik Vartan.
"Abaaaaang … buka pintunya Bang!" ucap Vartan sambil menggedor-gedor pintu ruangan Ares.
"Berisik kau Llan! Aku mau sendiri!" sahut Ares dengan ketus.
"Tapi Bang …."
"Abang udah seharian ini ngunci diri di dalam sana …." imbuh Vartan yang terus mengetuk pintu dengan keras.
Seketika muncul tembok es di depan pintu, membuat gedoran Vartan terhenti. Pemuda berambut hitam kebiruan itu dengan segera mengeluarkan sihir apinya, ia membuat tangannya membara dan mulai memegang dinding es tersebut.
Namun es tersebut sama sekali tidak meleleh ataupun hancur. Sampai ….
"Bang! Kata Ferdi, Kakak Ipar sudah sadar dari komanya!" teriak Vartan yang sudah frustasi untuk mencoba menghancurkan dinding es Ares.
Dengan cepat dinding es itu menghilang dan pintu seketika terbuka. Menampakkan Ares yang nampak lemah dengan kantung mata yang berlipat-lipat.
"Jelek amat dirimu Bang?" celetuk Vartan yang langsung mendapatkan bogeman di kepalanya.
"Aduh Bang … ampun …." ucapnya sembari meringik kesakitan.
"Sejak kapan Xita sadar?" sahut Ares yang mengabaikan keluhan Vartan.
"Sejak 2 jam yang lalu Bang … Abang sih, kuketok pintunya dari tadi nggak dihiraukan."
"Kenapa nggak bilang dari tadi?!"
Ares bergegas menuju RS Rozelle, meninggalkan Vartan yang mengaduh kesakitan akibat bogem kedua dari abangnya itu.
***
Nea yang telah sadar dipindahkan ke kamar pasien. Theo, Ella dan juga Liz Ellard mengelilinginya. Tampak senyumnya yang lemah, menanggapi setiap perkataan saudara-saudaranya itu.
"Kakak … akhirnya Kakak sadar juga …." tangis Liz dan Ellard pecah seketika. Nea langsung menyeka air mata mereka menggunakan tisu secara perlahan, karena ia masih lemah.
"K–kakak … sudah … j–jangan seka air mata kami, kami hanya bahagia. Karena Kakak kembali pada kami …." ucap Ellard terbata.
Theo menggaruk kepalanya dengan bingung. Ella segera menggiring mereka berdua keluar kamar. Sang kakak tertua pun menatap adiknya dengan sedih.
"Kakak kenapa berwajah begitu?" tanya Nea dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Tidak apa Ne. Maaf, karena Kakak tidak bisa melindungimu lagi …." ucap Theo yang diakhiri dengan suara lirih.
Nea memiringkan kepalanya, menatap sang kakak dengan bingung. Hingga ….
"Xi– Nea!" teriakan Ares mengagetkan sang gadis, iapun langsung memegang lengan baju kakaknya dan bersembunyi di baliknya.
"Kakak …." rengek Nea.
Theo segera memblok pandangan adiknya dan berbicara dengan Ares.
"Bisakah kau masuk dengan tenang?" protesnya pada si pemuda bersurai hitam keunguan itu.
"Maafkan saya Kak … saya hanya sangat ingin untuk segera melihat Nea." jawab Ares dengan segera.
Nea melonggarkan genggamannya, Theo segera minggir dan membiarkan sang adik untuk menatap pemuda yang baru datang itu. Nampak jelas di sana rupa Ares yang lemah dan terlihat tidak istirahat berhari-hari. Gadis itu menatap lekat pemuda tersebut, hingga ….
"Siapa kamu?"
Ella tersentak, begitupun Liz dan Ellard. Pupil Ares seketika terbelalak, Vartan yang baru datang segera membopong abangnya yang nampak limbung. Theo memandang datar kedua pemuda yang pergi keluar. Nea masih melihat mereka, sampai tidak terlihat lagi di ambang pintu.
...• TAMAT•...
Yeeee … akhirnya selesai, saatnya pergi.
*mulai mengepak barang
Ibu : Uhum?!
VR. : Eh? Ibu … halo Bu ….
Ibu : Mau kemana V?
VR. : Mau liburan Bu ….
Ibu : Belum saatnya kamu liburan, ayo balik kerja. Masih ada buku 2 dan seterusnya ….
*pegang buntut VR dan menyeretnya
VR. : Ampun Buuuu
Baik. Saya kerja lagi
Dx
Briallan: Hei! Bagaimana ceritanya? Udahan nih? Atau … masih penasaran dengan kelanjutan ceritanya?
Lily : Sabar ….
Akan kami share novel WTNC II selanjutnya di sini!
Healey : Jangan lupa like, Comment, share, fave WTNC ….
ALL : SAMPAI JUMPA LAGI
Na : Follow IG @rirymocha1 atau @n.i_hikari untuk info seputar karya kami
VR.Stylo♪