
Ferdinand tersenyum tipis sembari menatap wajah Nea yang penuh keyakinan untuk melakukan apa yang harus ia lakukan. Ketika lelaki tersebut hendak memegang pipi gadis itu, tiba-tiba ....
“Lily!?” suara pintu yang terbuka dengan kasar serta teriakan Vartan membuat dua orang tersebut berhenti dan menoleh ke arah sang pembuat bising.
Mereka melihat ekspresi wajah yang terkejut dengan mata membelalak, seolah sedang memergoki suatu hal yang sangat mengejutkan.
“Apa yang akan kau lakukan pada Kakak ipar? Apa kau mau ngembat dia?” tuduh Vartan penuh drama.
Dengan elegan sebuah buku tebal yang memiliki pinggiran keras, mendarat sempurna di dahi pemuda itu. Nampak sang gadis kesal dengan tangan mengarah ke depan, seperti telah melempar sesuatu.
“Kau berisik Allan! Dan kenapa dengan ekspresimu itu? Seperti memergoki orang yang sedang selingkuh. Dan apa pula perkataanmu yang tidak sopan begitu?!” Nea langsung mencecar Vartan dengan banyak pertanyaan yang membuatnya menciut.
Kakak ipar yang sekarang kok menyeramkan ya?
Batin Vartan yang kemudian teringat akan tujuannya kesini.
“Ah? Maaf Kakak ipar, tadi aku cuma memeragakan adegan yang pernah aku tonton dalam suatu film. Oh iya, ngomong-ngomong Kak. Lihat Lily tak?” ucap Vartan sembari mengelus keningnya yang berdenyut-denyut dan benjol.
“Bukankah Lily bersamamu?” sahut Nea ketus, dengan tatapan tajam pada pemuda bersurai hitam kebiruan itu.
“I–iya sih, Kak. Tapi tadi Lily digondol Lauryn, lalu ....” Vartan mulai menceritakan apa yang terjadi tadi, hingga ia tak menemukan gadis itu di ruangan tersebut.
Nea menepuk keningnya merasa sedikit frustasi, Vartan menunduk dan memainkan kedua telunjuk jarinya. Hingga ....
“Tenang Xita, Baby Lily sedang bersama Ryn. Mereka berada di taman yang ada di rumah kaca.” Ucap Ferdinand yang membuat Nea sedikit lega.
“Bagaimana Kak Dinand bisa mengetahuinya? Sedangkan Kakak sama sekali tidak mengeluarkan handphone atau apapun daritadi.”
Tanya Nea dengan bingung sembari memiringkan kepalanya sedikit saat menatap Ferdinand.
“Kita bangsa Vampire jika sudah menemukan setengah jiwanya, maka kita menjadi Vampire yang sempurna. Kita pun bisa mengetahui dimana pasangan kita atau bisa jadi apa yang ia rasakan.” terang Ferdinand yang ditanggapi anggukan dari Nea.
“Jadi ... karena kami sudah satu, Allen jadi menghisap kekuatanku yang meluap itu Kak?” tanya sang gadis dengan sorot mata yang sedih sembari menatap Ares yang terbaring.
“Seperti itu Xita. Maka dari itu kamu harus berusaha keras untuk mengontrol kekuatanmu itu.” ucap Ferdinand yang membuat Nea terlihat agak semangat.
“Baik Kak. Terima kasih,” jawab gadis itu yang kemudian menatap tajam Vartan dan berkata.
“Sudah sana. Jaga Lily! Jangan berisik di sini!”
“Baik Kakak ipar,” dengan segera Vartan menghilang, setelah berkata demikian.
Nea yang tadi kesal, karena seolah dituduh selingkuh dengan Ferdinand oleh Vartan. Merasa sedikit canggung, saat hanya tinggal mereka berdua. Walaupun Ares juga ada di ruangan itu, dalam kondisi sedang tak sadarkan diri.
“Hm ... baiklah. Aku akan ke perpustakaan Vangelis, untuk mencari cara memulihkan Allen.” ucap Ferdinand memecah keheningan.
Nea terkesiap, namun dengan segera ia menjawab.
“Baik Kak, aku akan tetap di sini menemani Allen.”
Ferdinand mengangguk. Kemudian berlalu keluar kamar sembari menutup pintu dengan perlahan, ketika Nea mulai berjalan mendekati tempat Ares terbaring.
Sang gadis duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur. Dengan ekspresi yang kalut, ia menatap wajah rupawan Ares yang tampak damai dalam tidurnya.
Nea menunduk, hingga wajahnya tertutupi oleh rambutnya. Rambut yang sebelumnya ditata sedemikian rupa oleh Ella, sekarang sudah tergerai tanpa halangan.
***
Vartan yang menuju ke rumah kaca, memasang wajah masam. Karena harus berhadapan dengan Lauryn lagi. Yang pastinya ia akan kalah dan berakhir seperti sebelum-sebelumnya.
Saat ia menggerutu dalam perjalanannya, dia merasa ada sesuatu yang lewat di belakangnya. Dengan cepat Vartan berbalik dan menemukan tak ada suatu apapun di sana.
***
Lauryn yang telah melempar pemuda bersurai hitam kebiruan itu dari atas menara tertinggi, segera pergi ke tempat Ella berada. Sesampainya di sana, wanita tersebut memeluk erat gadis kecil itu. Hingga sang gadis terkejut, karena aksi mendadak sang wanita berambut orange gold panjang itu.
“Baby Lily!” seru Lauryn ketika melancarkan serangan pelukan pada Ella.
Ella yang sedang memegang sebuah biskuit, langsung tersentak. Hingga cemilan yang ia pegang lompat kembali ke piring saji.
“Eh? Copot! Copot!” ucap Ella yang kaget, sang gadis lalu menatap puncak kepala berwarna orange gold itu.
“Kak Ryn. Kalau mau peluk, jangan mendadak ya Kak. Bisa copot jantung Lily,” tegur Ella dengan lembut, yang mendapat jawaban sebuah ekspresi manis dengan sepasang mata berkaca-kaca.
Lauryn yang biasanya datar terhadap apapun, akan memiliki banyak ekspresi jika berhadapan dengan Ferdinand dan Lily. Setelah Ella tersenyum manis, mereka berdua mulai bercakap-cakap. Menceritakan segala hal yang selama ini dilalui oleh sang gadis, saat di kehidupan keduanya.
Lauryn mendengarkan dengan tatapan penuh kasih sayang, seperti seorang ibu menatap anaknya. Sangat jelas terlihat pada sorotan matanya, rasa rindu dan cinta kasih yang mendalam pada gadis kecil di hadapannya itu.
“Diminum juga tehnya Lily sayang,” ujar Lauryn ketika dilihatnya cangkir yang belum juga berkurang isinya itu.
Ella tertawa canggung sembari menatap cangkir teh tersebut. Ia yang enggan meminumnya, karena menurutnya rasa teh itu sepet dan bisa dibilang pahit. Namun tatapan berbinar di sampingnya itu membuatnya memaksakan diri menyesap sedikit cairan berwarna coklat jernih itu.
“?!”
Mata Ella membelalak dan sekali lagi ia menyesap teh tersebut agak banyak. Seakan tak percaya dengan apa yang ia rasakan. Iapun meminum teh tersebut sedikit demi sedikit, hingga habis. Lauryn tersenyum lembut menyaksikan aksi Ella.
“Seingatku teh itu rasanya pahit, tapi yang ini tidak. Rasanya segar, ada sedikit manis serta asam dengan aroma strawberry dan jeruk. Enak!” seru Ella dengan bahagia.
“Syukurlah kalau Lily menyukainya.” Ucap Lauryn seraya mengisi cangkir Ella kembali.
Mereka berdua mulai bercerita, bersenda gurau serta saling bertukar tawa. Tanpa mengetahui tentang apa yang akan terjadi.
***
Kepala Valdis serta Healey nampak benjol, akibat apa yang mereka katakan. Hingga mendapat jitakan telak nan keras dari sang Serigala.
Mereka berdua menundukkan kepalanya seraya duduk bersimpuh, sedikit menyesali perbuatannya. Rios telah mencecar mereka dengan sangat detail, hingga mereka mendapatkan hadiah benjol di kepala karenanya.
“Maaf Yang Mulia Kurios, kami hanya ingin Anda untuk bebas dan tidak terbelenggu. Apalagi menjadi seorang Fammiliar.” ucap Valdis sembari mendongakkan kepalanya, menatap manik merah ruby dengan lekat.
Nampak sorotan mata yang ingin menyudahi hidup dua orang werewolf muda di hadapannya itu. Namun ia bukanlah dirinya yang dulu, makhluk berhati dingin yang pernah kehilangan nonanya.
“Hm ... Darimana kalian dapat ide seperti itu, ide tentang cara membebaskan kontrak Fammiliar?” lirikan tajam Rios, sudah membuat mereka berdua ciut. Namun Aley dengan berani memberikan jawaban yang diminta oleh Rios.
“Kami diberitahu oleh seorang lelaki yang memiliki mata merah menyala dengan rambut hitam legam sepekat malam tak berbintang. Yang tiba-tiba muncul, ketika kami kesal Anda meninggalkan klan kami.”
Rios merasa sedikit frustasi, ia akui jika mereka berdua masih terhitung muda. Jika dibandingkan dengan dirinya. Namun harusnya mereka tak segampang itu percaya dengan seseorang yang tiba-tiba muncul seperti itu.
“Kalian ....” geram Rios yang tak bisa lagi menahan emosi.
***
“Apa lagi ini?” gumam lelaki berambut abu-abu keperakan itu.
“Ah ... kebersihan Mansion Vangelis sepertinya perlu dipertanyakan. Bisa-bisanya beberapa ekor serangga masuk kesini?” ucapnya sedikit frustasi.
“Hebat juga kalian. Karena sudah menembus pelindung Vangelis serta pelindung yang kubuat,” ucap Ferdinand yang kemudian membuat keadaan di sekitarnya terasa sangat berat serta dingin.
“Kalau kalian dengan berani masuk kandang musuh. Berarti kalian sudah sangat siap untuk dibunuh,” sebuah senyuman termanis milik Ferdinand berhasil menggoyahkan keberanian yang sebelumnya mereka miliki.
***
Nea yang menundukkan kepalanya, terkesiap dan seketika menatap Ares yang menampakkan ekspresi kesakitan pada wajahnya. Sang gadis bingung, hingga hampir menangis. Seketika itu juga ia menggenggam tangan sang pemuda dan berharap hal tersebut bisa mengurangi rasa sakitnya sedikit.
Samar Nea merasakan rasa nyeri di beberapa bagian tubuhnya, ia bingung. Karena dirinya sama sekali tidak terluka. Apalagi yang ia rasakan adalah sakit di bagian dalam. Seketika ia teringat apa yang tadi dijelaskan oleh Ferdinand.
“Allen, maafkan aku. Karena aku, kau menjadi seperti ini. Mungkin aku hanya merasakan sedikit dari rasa sakitmu yang sebenarnya sangat sakit.
Karena yang kurasakan ada hampir di sekujur tubuhku.” Nea menempelkan tangan Ares yang ia genggam pada wajahnya.
“Jangan tinggalkan aku sayang, kita baru bertemu kembali sebentar. Akan kulakukan apapun. Agar dirimu kembali padaku Allen,” ucap Nea yang seakan menahan isak tangisnya, hingga suaranya terdengar bergetar.
“Allen. Kau belum menceritakan apa saja yang kamu lalui saat kepergianku, walau sedih. Tapi aku penasaran dengan apa saja yang terjadi padamu selama itu sayang.”
Mata Nea nampak sembab, setetes bulir bening mengalir di pipinya. Dan jatuh ke atas punggung tangan Ares yang digenggam Nea.
"Berapa banyak orang yang sudah kau temui? Ada berapa wanita yang dekat denganmu selama itu?” Nea berhenti sejenak, merasakan nafasnya yang tercekat
“Apakah mereka semua cantik-cantik? Pasti banyak yang mendekatimu kan. Tak heran sih, dengan wajahmu yang seperti ini sayang," imbuh Nea sembari tersenyum getir. Sambil tetap menggenggam tangannya, ia memandangi wajah Ares yang nampak tenang.
Ia yang terlalu fokus pada Ares, tak menyadarinya jika ada empat buah bayangan yang memasuki ruangan tempat ia dan Ares berada.
***
Lauryn bersiaga, ia sedang melindungi Ella di belakangnya. Wanita tersebut mengedarkan pandangannya, menatap satu persatu lawan yang mengepung mereka dari setiap arah.
“1 2 ... 9?” gumamnya sembari menghitung.
Dengan sigap Lauryn mengeluarkan Deathscythe miliknya. Setelah memasang kuda-kuda, ia bersiaga dan menunggu serangan.
***
Vartan yang dalam mode bertarungnya, membiarkan Erebos menguasai kendali tubuhnya. Rambutnya yang hitam kebiruan, menjadi biru gelap. Matanya pun menjadi sewarna dengan rambut miliknya. Dengan iris mata yang menyerupai naga.
“Beraninya keroyokan. Siapa takut?” tantang Erebos yang siap tempur.
... ~ ☽ ☾ ~
...
Uwaaah 😣
Na : Kenapa Kakak?
*mendekati VR.
VR. : Kakak nggak papa Na Cuu
*peluk Na
Eh? Pitamu kemana sayang? o.o
Na: Hum?
*meraba kepala
Eh? Kemana ya?
*celingukan melihat sekitar
Ah! Di sana Kak!
*menunjuk ke arah pita yang ada di sebuah ranting pohon
VR. : Baiklah. Akan Kakak ambilkan
Na : Nggak usah Ka–k ....
VR. : *menarik pita tersebut
Hum?
*menoleh pada Na
Na : Terlambat sudah ....
VR. : *diserang ribuan pixie
Ampuuun
Dx
Naaaaa
-∆-
All : Like, comment, vote dan share ya
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
Follow juga @rirymocha1 untuk setiap rupa kami
...VR. Stylo
...