When The Night Come

When The Night Come
M-emburu



 "Kau sudah menemukan mereka, Llan?"


 "Belum Bang. Mereka sangat susah untuk dilacak apalagi dicari, kita pun kayak nyari rumput kering di tumpukan jerami."


 "Lanjutkan!"


 "Iya Bang …."


 Dua hari telah berlalu, setelah dirinya pulih. Ares mulai mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mencari kelompok yang membuat kekasihnya menderita. 


 Crak!


 Lagi … kaca yang ada di dekat mereka retak, berulang kali kejadian itu terjadi. Akibat amarah yang mereka berdua tahan, hingga terkadang tanpa sadar kekuatannya mempengaruhi sekitar.


 Ares yang memiliki kekuatan dingin sedari lahir, merupakan pewaris serta penerus keluarga Roosevelt Vangelis. Tanda seorang Duke Roosevelt Vangelis selanjutnya adalah rambut yang berwarna silver ketika ia lahir. Penanda bahwa ia adalah pemegang sihir es. Dan Briallen Roosevelt Vangelis adalah pemilik sihir es terkuat dalam sejarah keluarganya.


 Sedangkan Vartan adalah sebuah pengecualian. Karena ia memiliki sihir api yang kuat, akibat jiwa naga yang disegel oleh Lily pada saat itu.


 "Hh …."


 Vartan menghela nafas untuk kesekian kalinya. Ia begitu frustasi, karena tak bisa menemui Ella. 


 Ares mengerahkan seluruh orangnya untuk mencari informasi yang bisa didapatkan. Sejauh ini mereka hanya bisa mendapatkan nama dari kelompok tersebut. 


 Verdammte Tulpen disebut juga Bloody Tulips. Kelompok sesat yang menguasai bayangan, memiliki simbol bunga tulip tertusuk pedang. Dengan tujuan … yang belum diketahui oleh mereka.


 Ares yang mempunyai peran dan kuasa di dunia bawah, hanya mengetahui sedikit tentang mereka. Sekedar nama tanpa tahu tujuan dan niatan mereka. 


 Ares semakin pusing, karena ia tak bisa menemui Nea. Gadisnya itu sekarang dinyatakan sedang dalam kondisi koma. Mendengar ucapan Ferdinand, membuat dirinya merasa dunianya telah hancur. 


 Melihat kekasihnya tidur tidak berdaya dan tak tahu kapan akan bangun, membuatnya merasakan kehancuran untuk kedua kalinya.


 Ferdinand juga mengatakan jika penyebab Nea koma belum diketahui. Dia juga bingung akan apa yang terjadi. Hingga dia memutuskan untuk libur dari pekerjaannya sebagai penyanyi di luar Valsea dan memfokuskan diri untuk menyembuhkan Nea. Sedangkan Ella, Liz dan Ellard, mereka sadar setelah sehari dirawat secara intens. 


 Ares menghela nafasnya dengan berat. Ia teringat, ketika menceritakan tentang keadaan Nea pada keluarganya.


 "Maafkan saya Ma'am. Nea mengalami kecelakaan, ketika kami bermain di tepian sungai. Dia tercebur …." terang Ares ketika mengantarkan adik-adik Nea pulang.


 Sarah,  ibu Nea langsung menangis. Sedangkan Nathan, ayahnya meninju wajah sang pemuda. Dia geram, karena Ares mengajak anak-anaknya bermain di tepian sungai. Dalam kondisi.musim dingin begini. Namun sebelum senakin menjadi, si kembar langsung bercerita untuk membela Ares.


 "Ayah. Jangan! Kak Ares menyelamatkan kami. Kami yang nakal, karena tidak mendengarkan perkataan Kakak …." ucap si kembar bersamaan, kemudian disusul oleh tangisan sedu mereka. 


 Nathan hanya bisa mengepalkan tangannya dan menahan air mata. Kemudian memeluk si kembar, mencoba menenangkannya.


 "Sudah sudah … Ayah tidak menyalahkan kalian. Mari kita berdoa, supaya Kakak kalian segera sadar." ucapan Nathan membuat si kembar makin menjadi.


 Kemudian Ares berjanji akan menyembuhkan Nea, apapun yang harus ia lakukan. Maka dari itu, Nea dirawat intensif di RS Rozelle. Dan semua biaya ia tanggung.


 Ares mengerahkan orang-orangnya untuk mendapatkan informasi lebih. Diapun menyuruh mereka untuk menangkapnya, saat ketemu.


 "Hh … Xita …."


 ***


 Dimana ini? Gelap ….


 Siapapun … tolong aku!


 Tolong ….


 Ares terbangun seketika, keringat dingin membasahi tubuh polosnya. Dia terduduk sambil menelungkupkan kedua telapak tangannya pada wajahnya. Pikiran-pikiran aneh menyerangnya, ia semakin tenggelam dalam keputusasaan. Iapun bangkit dan mengenakan jubah tipis untuk menutupi badannya.


 Pemuda bermanik biru sapphire itu berjalan menuju suatu tempat. Dia membuka pintu metalik, menutupnya dan kembali duduk di kursi. Ditatapnya lekat layar laptop yang menampilkan seseorang sedang terbaring dengan beberapa peralatan medis terhubung padanya.


 "Xita …." gumam Ares yang kemudian menatap lekat wajah kekasihnya itu.


 Ares melihat sesuatu menguar dari tubuh Nea, asap hitam pekat. Iapun terlonjak dan buru-buru menuju ke RS Rozelle menggunakan teleportasi. 


 Ares yang mendarat di ruangan tempat Nea terbaring, segera memeriksa keadaan sekeliling kamar itu. Namun ia tak menemukan apapun.


 Pemuda tersebut kemudian berdiri di dekat sang gadis, ia menatapnya dengan tatapan penuh kasih. Namun sedetik kemudian berubah menjadi ekspresi sendu. Dipegangnya rambut Nea yang terlihat rapuh itu dan ia cium rambutnya.


 "Xita … segeralah kembali padaku. Aku rasa diriku tak bisa menunggu seperti dahulu …." ucap Ares dengan nada sedih dan suara yang bergetar.


 Ares mengeluarkan pedang hitamnya dan mengaktifkan auror. Dengan cepat ia menebaskannya di sekeliling Nea, tanpa menggores peralatan medis yang ada. Dia berniat menghilangkan benang-benang transparan, jika ada ….


 "Ternyata tidak ada …." gumam Ares yang kemudian mengembalikan pedangnya. 


 Ares kembali melakukan hal tadi, padahal dia sudah melakukannya dua kali setelah Nea dinyatakan koma tanpa sebab yang jelas. Hingga Ferdinand mengancamnya.


 "Jika kau melakukan hal itu lagi, kujamin kau tidak akan bisa menjenguk Xita saat di sini!"  


 Ucapan Ferdinand terngiang di benaknya. Tapi ia tak mempedulikan peringatan lelaki tersebut, karena keamanan Nea adalah nomor satu. Setelah puas memandang Nea, ia berniat kembali. 


 "Cepatlah sembuh atau terbebas dari apapun itu sayang. Aku akan selalu menjagamu." ucap Ares lembut yang diakhiri dengan kecupan di kening Nea.


 ***


 Pemuda bersurai hitam keunguan itu keluar dari kamar rawat Nea dan segera memasang pelindung di sekeliling kamar tersebut. Selesai memasang pelindung, ia bergegas menggunakan teleportasi untuk pergi ke atap rumah sakit.


 Diedarkan pandangannya ke sepenjuru sekitar rumah sakit. Sepi … itulah yang ia tangkap. Jam menunjukkan pukul 00.00, gelap dan sunyi sejauh mata memandang. Ares mendongakkan kepalanya, tidak terlihat sang dewi malam. 


 "Fase bulan baru … Bulan yang sedang kehilangan perhatian Matahari, akibat Bumi menghalanginya." gumamnya yang kemudian menghilang.


 Walau dirinya masih merasa ada yang janggal, tapi dia masih tetap harus melanjutkan perburuan itu.


 ***


 "Kenapa jadi begini …?" gerutunya. 


 Ia berdiri di atas sebuah gedung, dari kejauhan terlihat bangunan RS Rozelle. Matanya berkilat merah dan dalam sekejap mata sosoknya menghilang ditelan kegelapan malam. 


***


 Di tempat yang sangat jauh dari kota, tampak sebuah mansion megah. Namun tak terawat. Terlihat beberapa orang berkumpul dan saling berbisik. Hingga seorang lelaki berambut hitam  panjang memasuki ruangan tersebut dan berdiri di depan.


 "Puja Penguasa Kegelapan yang akan menguasai dunia, demi Verdammte Tulpen menghiasi dunia kotor ini dengan keindahan suci." 


 Para anggota berjubah hitam mengucapkan puja mereka secara bersamaan, ketika lelaki tadi berdiri di hadapannya.


 "Oh Tuan. Bagaimana pemulihan Anda?" tanya si kepala kelompok.


 Lelaki itu hanya menatapnya tajam, tanpa berkedip. Sesaat kepala kelompok tersebut merasakan jantungnya berhenti dan kembali normal.


 "Akh? Uhuk!?" 


 Kepala kelompok yang kesakitan terduduk sembari memegangi bagian dadanya.


 "Tak ada perubahan sama sekali." ucap pelan lelaki tersebut.


 "Kalian bodoh! Melakukan misi itu saja tidak becus!?" hardik seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari belakang pria berambut hitam itu pada kepala kelompok.


 "Ma …. maafkan saya Nona, saya berjanji akan melakukan misi selanjutnya dengan baik." ujar sang kepala kelompok.


 Tanpa ia sangka, dirinya telah dibalut oleh benang halus laba-laba. Anggota Verdammte Tulpen yang berada di dekatnya, segera mundur mengambil jarak aman sambil bergidik ngeri.


 "Yah … kau pasti akan melakukan misi selanjutnya dengan baik. Yaitu … menjadi makanan anak-anakku. Hahahaha …." 


 Ucapan wanita itu bagaikan tanda, ratusan laba-laba menyeruak masuk dan menghampiri dia yang sudah dibalut benang halus laba-laba. Satu persatu dari mereka mulai menggigiti tubuh lelaki tersebut.


 Matanya terbelalak, ia tak percaya. Jika pengabdiannya dibalas seperti ini. Dia berteriak histeris. Merasakan tiap tusukan dan gigitan dari ratusan makhluk bermata delapan itu.


 "Hahaha!!"


 Teriakannya tertutupi oleh tawa jahat si wanita. Ia menatap bengis ke arah anggota yang lain. 


 "Lakukan apa yang harus dilakukan dengan benar! Jangan sampai gagal lagi! Mereka semua masih hidup, bagaimana bisa Yang Mulia penguasa kegelapan akan bisa bangkit? Jika kalian tak ada yang becus!"


 Hardik si wanita pada semua orang. Ia kemudian menatap lelaki berambut hitam panjang itu dan merangkul lehernya.


 "Tuan … apa masih ada yang ingin Tuan sampaikan pada mereka?" 


 Pertanyaan wanita itu hanya dijawab dengan lirikan mata tajam, tanpa berkata apa-apa ia lalu kembali ke ruangannya.


... ~  ☽ ☾  ~...


 I'm back. >∆


 Yuhuuu


 (~'o')~


 Villain-nya muncul. 😱


Saya takut ditumbalkan nanti. ||∆°)


 Na : Lalalala ~


 *menyeret sesuatu


 VR. : Na bawa apa sayang?


 *bingung


 Na : Na bawa ini Kak. Tadi Na nemu di tepi sungai tuh.


*ucap Na polos, sembari menunjukkan anggota Kelompok Verdammte Tulpen yang sekarat


 VR. : Naaaaaaaaa?! 😱


 Ayo kita segera kabuuur! \=∆\=


 *gendong Na dan segera pergi dari tempat ini


 Na : Kenapa kita pergi Kak? Kita mau kemana?


 VR. : Kita mau pergi jalan-jalan.


 *keringat VR. mengucur deras


 Rios : *berdiri dalam human form sambil membawa papan bertuliskan


 Jangan lupa like, Comment, fave, follow dan share


 Terima kasih telah mampir


 Serigala tampan siap menemani kalian ~


 All : Sampai jumpa di chapter selanjutnya ~❤︎


...VR.Stylo♪...