When The Night Come

When The Night Come
Kegaduhan



Ella yang telah kembali normal, tersadar jika dirinya terbaring di atas tubuh Vartan. Ia segera bangun dan memaki sang pemuda.


“Eh? Kau! Lagi-lagi pegang-pegang tubuhku saat aku tidak sadarkan diri!” ucapnya yang membuat pemuda tersebut membuka matanya.


“Ah? Pagi Tuan Putri,” sebuah senyuman maut ditampilkan oleh Vartan, Ella merasa jantungnya terkena anak panah seketika.


Namun ia tersadar, jika dirinya harus membuat perhitungan dengan cowok di hadapannya itu.


“Kenapa kau pegang-pegang tubuhku saat aku tidak sadarkan diri?” hardik Ella pada pemuda yang masih terbaring tersebut.


“Ah ... Tuan Putri, jangan banyak ber–gerak ....” protes Vartan yang menahan gejolak dalam dirinya ketika sang gadis duduk di atas bagian pinggulnya.


Ella yang tersadar akan posisinya dan merasakan sesuatu menyundul bagian bawahnya, segera beranjak dari tempatnya berada. Namun Vartan menahannya dengan menarik lengannya dan memeluk sang gadis dalam dekapannya, kembali berbaring di atas tubuhnya.


Sang gadis kecil hanya bisa pasrah, karena ia tak mampu melepaskan dirinya dari dekapan pemuda tersebut. Dengan wajah yang sangat merah, ia merasakan kehangatan, serta debaran jantung.


Entah debaran jantung miliknya atau milik sang pemuda, ia tidak tahu lagi. Karena ia sedang menikmati situasi yang sekarang dia alami.


***


Ares yang mengerahkan seluruh kekuatan untuk membuat pelindung kuat, akhirnya tumbang. Tak sadarkan diri. Pada saat itu, Nea membuka matanya dan melihat kekasihnya jatuh karena pingsan.


Seketika amarah menguasai hati sang gadis, dalam benaknya. Teringat Ares yang terluka akibat cakaran manusia serigala tadi.


“Al–llen ....”


Sang gadis menundukkan kepalanya. Air mata menetes di pipinya, suaranya terdengar bergetar ketika mengucapkan nama sang kekasih. Terlihat aura merah pekat menguar di sekeliling tubuh Nea.


“?!”


Semua yang berada di taman bunga Delphinidin tersentak, kecuali Ares yang pingsan. Tubuh mereka gemetaran, merasakan sebuah intimidasi kuat dari kekuatan yang baru muncul ini.


Vartan yang tadinya memejamkan mata, menikmati kehangatan tubuh Ella. Segera membelalakkan matanya dan bangkit, dengan posisi masih memeluk sang gadis. Ia segera menatap ke arah asal kekuatan besar tersebut.


“Kakak ipar? Abang!?”


Sang pemuda berambut hitam kebiruan terkesiap, melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Ia juga melihat ke arah dua manusia serigala yang berusaha berdiri, namun tak bisa. Karena mereka tidak sanggup menahan tekanan dari kekuatan yang gadis itu keluarkan.


Vartan melihat rambut hitam keunguan Nea yang berubah menjadi abu-abu, sedangkan matanya. Berwarna merah ruby.


Vartan juga menyaksikan ada sesuatu yang mencuat keluar dari punggung gadis itu. Ketika sesuatu itu merentang, barulah pemuda tersebut tahu. Jika ternyata itu adalah sepasang sayap berwarna putih dengan darah yang menetes di ujungnya.


Nea mendadak menatap ke depan, dengan tatapan mata tajam yang penuh dengan amarah serta kebencian. Air mata masih menetes di pipinya.


“Hei bocah!” Erebos memanggil Vartan.


Hm ...?


“Aku tidak yakin bisa melawannya.”


Hah?! Sang Dewa Naga takut?


“Bukan takut. Lebih tepatnya mundur untuk menyelamatkan diri.”


Heleh. Alasan mulu, bilang aja takut.


“Kekuatan yang gadis itu miliki sanggup untuk menghancurkan semua kehidupan.”


?!


Vartan tersentak mendengar perkataan Erebos, mereka berbicara dalam pikiran sang pemuda itu. Ella hanya memasang wajah bingung, memandangi ekspresinya yang berubah-ubah dalam sekejap.


Nea menatap Vartan dengan tajam, nampak dalam penglihatannya. Ella, sang adik. Sedang berada dalam dekapan pemuda di hadapannya itu.


“Lepaskan tanganmu dari dia!”


Sebuah serangan berwarna merah pekat menyerang Vartan. Nea yang sedang dalam mode mengamuk, menganggap pemuda itu sebagai musuh yang hendak melukai adiknya.


Val dan Aley pun tak terhindar dari serangan yang Nea lancarkan, merekapun pingsan kembali. Vartan menghindari setiap serangan sembari tetap memeluk Ella.


“Lepaskan aku Allan!” teriak sang gadis dalam dekapannya. Namun Vartan tak mengindahkan ucapannya dan tetap fokus menghindar.


Nea terus menyerang dengan sihir yang ia keluarkan itu. Setiap benda yang terkena serangan sihirnya, seketika mati ataupun rusak. Vartan yang menyaksikan hal tersebut, langsung menelan ludahnya dengan kasar.


“Kakak ipar, tenanglah! Ini aku Allan!” seru Vartan yang tak didengarkan oleh Nea.


Sang gadis berambut abu-abu itu terus menyerang apapun dengan membabi buta, sang pemuda semakin bingung akan apa yang harus dilakukan untuk membuat perempuan tersebut tenang.


Ia berpikir sambil terus menghindari setiap serangan yang menuju padanya. Sembari tetap menggendong Ella ala Princess. Hingga ia berhenti di dekat tempat Ares tak sadarkan diri.


“Bang! Abang! Bangun Bang! Kakak ipar ngamuk!” Vartan mencolek tubuh abangnya dengan ujung sepatunya.


Ella yang mendengar omongan pemuda bersurai hitam kebiruan itu, langsung protes dan berdebat.


“Hah? Kakak ipar? Kapan Kak Nea nikah sama Kak Ares?” tegur Ella.


“Um ... 2 abad lalu,” jawab Vartan dengan enteng.


“Tapi sekarang belum. Jadi jangan memanggil-manggilnya dengan sebutan 'Kakak ipar'.” imbuh sang gadis kecil.


“Ta–tapi kan ....” Vartan mencoba untuk membantah.


“Tidak ada tapi-tapian!” seru Ella yang kemudian membuat pemuda tersebut bungkam.


Vartan yang tadi menunduk, melindungi Ella dengan menggunakan tubuhnya. Segera terduduk dan mundur perlahan, hingga dia terhenti oleh pohon yang tinggal setengah itu.


Mereka berdua terpojok, Ella yang masih berada dalam dekapan sang pemuda. Melihat sang kakak yang nampak aneh, saat Nea hendak melakukan serangan kembali. Ella segera beranjak dari pelukan Vartan yang longgar dan berdiri tepat di hadapan sang pemuda serta kakaknya.


“Lily ....” suara Nea terdengar bergetar penuh dengan kesedihan serta parau, air mata kembali mengalir di pipi putihnya.


Nea dalam wujud itu, ingin memeluk Ella. Ia maju selangkah demi selangkah mendekati mereka. Jalan yang dilalui menjadi gersang, Vartan bergidik menyaksikan rerumputan yang menjadi kering seketika. Namun ia berusaha berdiri dan berniat untuk melindungi sang gadis kecil lagi.


“Kakak. Tenanglah ... aku baik-baik saja sekarang, kita semua dalam keadaan baik sekarang. Kakak jangan marah lagi ya,” ucapan Ella membuat Nea berhenti bergerak.


Ditatapnya kedua tangan miliknya, yang mana tangan tersebut berwarna pucat dan berkuku panjang nan tajam. Terlintas sebuah ingatan pemandangan berdarah yang terjadi ketika pesta ulang tahun Lily.


Nea histeris sembari memegang wajahnya, pipinya tergores kuku yang tajam tersebut. Darah segar mengalir dari pipinya. Ia menangis, berteriak dan menyalahkan dirinya sendiri.


“Karena aku, kalian semua jadi meninggal. Karena aku yang seorang monster,” ucapannya penuh dengan keputusasaan, kesedihan mendalam nampak dalam suaranya yang begitu pilu.


“Xi ... ta ....”


Terasa sepasang tangan besar mendekap erat tubuh Nea dari belakang, sang gadis tersentak setelah mendengar namanya dipanggil.


“Al–llen ....”


Mata Nea membelalak tak percaya, ia yang tadinya mengira jika kekasihnya sudah tak bernyawa. Karena tak terdengar detak jantungnya, kini berangsur tenang dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.


“Al–llen ... A–“ ucapan Nea terbata-bata, suaranya tercekat. Hingga ia tak tau harus berkata apa.


“Sshht ... tenanglah sayang. Aku ada di sini, jangan sedih lagi ya.”


Suara lembut sang pemuda mulai membuat tenang amarah yang sebelumnya menguasai sang gadis. Sepasang sayap putih milik Nea, seketika menghilang. Gadis itu menundukkan kepalanya. Air mata bercampur darah menghiasi pipinya. Sang gadis merasa bersyukur, ternyata kekasihnya masih hidup.


Vartan menghela nafas berat, setelah melihat gadis itu tenang kembali. Ella seketika terduduk lemas, sang pemuda bersurai hitam kebiruan itu segera mendekati sang gadis kecil dan membantunya untuk berdiri. Hening tiba-tiba menguasai tempat tersebut.


“Apa yang sudah terjadi di sini?” suara lembut nan merdu milik lelaki berambut abu-abu keperakan memecah keheningan.


Semua mata menoleh dan menatap wajah cantik nan rupawan yang menatap mereka dengan tajam disertai sebuah senyuman termanis, menuntut sebuah penjelasan.


Mereka semua bergidik ngeri, karena dalam pandangan mereka. Terlihat bayangan ular raksasa yang siap menerkam, ketika melihat Ferdinand.


Namun semua itu terpecah ketika teriakan serta tangisan Nea terdengar.


“Allen?!” Nea terduduk sembari merengkuh kepala sang kekasih, yang nampak tak sadarkan diri kembali.


... ~ ☽ ☾ ~


...


Hai


Kembali lagi bersama kami, di WTNC.


Sebelum itu ....


Kalian ....


Berani-beraninya ngerusak taman bermain Delphinidin kuuu?


*ikat mereka semua jadi satu


All : Ampun Mama .... 😭


VR . : Nggak mau tahu, kalian harus perbaiki kerusakan itu semua!


All : Baik Ma~


VR. : Nah. Sampai mana kita tadi?


Oh iya


Maaf atas keterlambatan up lagi. 😐😭


Dan mohon untuk dukungannya lagi dengan cara Like, comment, vote dan share.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


Ferdinand & Lauryn : Kenapa kami juga?


VR. : Karena kalian nggak jaga mereka dengan benar.


*angkut Na, Ellard dan Liz di punggung


Dah, benerin yang rapi ya!


All : Iya Ma ....


VR. : *pergi bersama anak-anak kecil


...VR. Stylo


...