
Pukul 2.30
Ares yang memakai baju dan celana berwarna hitam serta coat hitam panjang, sudah siap untuk menemui Nea. Dipastikannya sekali lagi, bahwa tidak ada yang ketinggalan.
“Hm ...” Ares melihat pantulan dirinya di cermin. Merasa puas, iapun lalu keluar menuju mobilnya berada.
“Ciee yang mau ketemu Kakak ipar,” goda Vartan, saat melihat Kakaknya mau keluar. Ares tidak mempedulikan omongan sang adik dan bergegas menuju mobilnya.
“Iya deh iya ..., Haaah! Andaikan aku juga bertemu kembali dengan Lily. Pasti akan lebih menyenangkan,” gerutu Vartan yang kemudian merebahkan dirinya di sofa.
Setelah masuk ke dalam mobil, Ares segera melajukannya ke jalanan. Menuju rumah Nea. Ares sudah tidak sabar untuk bertemu lagi dengan kekasihnya. Tangan Ares yang memegang tempat tanda dari Nea kemarin, membuatnya teringat akan betapa nakalnya gadis penguasa hatinya saat itu.
“Hm ...” Ares tersenyum saat membayangkannya, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tak terasa Ares sudah sampai di depan rumah Nea. Ares langsung turun dan menuju pintu rumahnya. Ditekannya bel pintu rumah Nea, pintu pun terbuka. Menampakkan Sarah dengan senyuman lembutnya.
“Halo Ma'am,” sapa Ares pada Ibu Nea.
“Oh? Nak Ares! Ada apa?” tanya sang Ibu, dilihatnya penampilan pemuda di hadapannya yang nampak cocok dengan pakaian serba hitam yang ia pakai. Iapun bertanya.
“Mau mengajak Nea?”
Belum sempat ia menjawab, Sarah sudah berlalu untuk memanggil Nea. Sang gadis pujaannya muncul, dengan mengenakan pakaian yang terlihat feminim. Baju putih selutut, dipadu dengan celana ketat berwarna krem. Serta sepatu boots berwarna coklat muda, tak lupa topi kupluk dan Coat berwarna pink muda.
Outfit yang dikenakannya, menambah cantik penampilan sang gadis. Hingga sang pemuda tak bisa berkata-kata dan hanya menatapnya dengan takjub.
“..res? Ares!” panggil Nea agak keras, karena sang manik biru saphire itu tak menimpalinya.
“Hum? Iya Nea,” jawab sang pemuda, saat sadar kembali.
Setelah Ares meminta izin pada Sarah, mereka segera berpamitan dan masuk ke dalam mobil.
Ares yang duduk di belakang kemudi, tak bisa fokus ke jalanan. Karena sesekali dia melirik gadis yang duduk di kursi depan samping pengemudi tersebut. Nea yang menyadari lirikan Ares pun bertanya.
“Allen kenapa?”
“Nggak papa Xita,” jawabnya sambil tetap melirik Nea.
“Kalau tidak apa-apa, kenapa tak fokus melihat depan sayang?” tanya Nea dengan heran.
“Karena aku belum puas untuk melihat kekasihku yang berpenampilan sangat cantik ini,” ucapnya yang berhasil membuat sang gadis tersipu malu.
“Tapi kalau menyetir, fokus lihat depan sayang. Kalau ada yang tiba-tiba muncul, gimana?” ujar Nea mulai cemas.
“Huuft ... Baiklah Tuan Putri,” Ares menuruti perkataan Nea dan mulai fokus menatap jalanan.
Nea pun bernafas lega, saat kekasihnya mendengarkan perkataannya. Dilihatnya pemandangan jalanan yang lengang, sepi oleh kendaraan. Hanya ada 3-4 kendaraan yang melewati mereka.
“Ya ... Pasti mereka menghabiskan Natal bersama keluarga mereka,” batin Nea yang kemudian mendengus kesal. Ares yang heran mendengar dengusan Nea pun bertanya.
“Xita kenapa? Kok tiba-tiba kesal?”
“Hum? Aku baik-baik saja kok sayang,” jawab Nea sembari tersenyum.
“Oh iya! Kita mau kemana Allen?” tanya Nea dengan penasaran.
“Ke taman hiburan Delphinidin,” ucap Ares dengan lembut. Dia menambah kecepatan laju mobilnya.
“Ah?! Kenapa nggak bilang?” pekik Nea yang kemudian cemberut.
“Hm? Memang kenapa Xita?” tanya Ares dengan bingung.
“Aku kan bisa mengajak Adik-adikku,” Nea pun cemberut dan menggembungkan pipinya. Ares yang mendengar perkataan Nea, hanya bisa tersenyum canggung.
“Biarlah. Hari ini biar aku bersama Xita duluan yang ke taman hiburan, besok-besok kita bisa mengajak adik-adik Xita. Jadi jangan cemberut begitu sayang,” ucap Ares mencoba untuk menenangkan Nea.
“Benarkah?” Nea meminta Ares untuk memberinya kepastian. Ares pun menghentikan mobilnya tepat saat lampu merah dan menatap manik merah muda Nea.
“Iya Tuan Putri. Bagaimana kalau saat akhir tahun, kita kesana dan Xita mengajak adik-adik Xita?” Ares memberi saran pada Nea.
“Ide bagus!” seru Nea dengan gembira.
“Oke. Berarti sudah ditetapkan,” ucap Ares yang menginjak pedal gas lagi saat lampu sudah hijau.
Ares lega saat melihat kekasihnya semangat kembali. Iapun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dalam lengangnya jalanan. 30 menit berlalu, mereka akhirnya sampai di Taman Hiburan Delphinidin.
Terlihat warna biru yang dominan menghiasi taman hiburan ini, sesuai dengan namanya. Delphinidin yang berasal dari kata Delphinium. Yang berarti pigmen biru. Maka dari itu, warna yang mendominasi adalah biru. Mulai dari biru muda hingga biru tua. Juga biru-biru lainnya.
Setelah Ares memberikan tiket masuk pada petugas yang berjaga, mereka berdua masuk ke taman hiburan. Mata Nea yang indah, terlihat membulat karena takjub akan taman hiburan yang luas dan penuh dengan wahana permainan yang kelihatannya seru.
“Ares, ayo kita naik itu!” seru Nea menunjuk wahana Carousel yang sedang bergerak itu, sambil menarik tangan Ares yang ia genggam. Ares hanya bisa tersenyum dan pasrah, saat ditarik Nea dengan sangat bersemangat.
Setelah mereka menunggu sebentar, hingga Carousel berhenti. Nea pun duduk di tempat yang berbentuk Kereta kencana, begitupun Ares. Carousel mulai berputar, Nea tertawa senang. Ares memandanginya, tanpa berkedip. Diambilnya handphone miliknya dan memotret Nea.
“Allen?” rajuk Nea yang mengetahui Ares memotret dirinya.
“Ppfft ... Biar aku punya foto kekasihku,” ucap Ares saat melihat respon sang gadis.
“Baiklah. Kalau begitu, kita harus foto berdua,” Nea yang tadinya cemberut, langsung memberikan Ares tatapan mata penuh harap.
“Baik ... Baik. Kita akan berfoto bersama seharian ini,” Ares yang tak sanggup melawan tatapan mata penuh harap milik kekasihnya, hanya bisa mengiyakan.
“Yeeee. Terima kasih sayang,” ujar Nea dengan gembira.
“Apapun demi Tuan Putri bahagia,” imbuh Ares yang senang melihat senyuman sang gadis.
“Hehe ...” pipi Nea merona merah, iapun merasa bahagia sekaligus malu.
Carousel berhenti, Ares yang sudah turun terlebih dahulu langsung mengulurkan tangannya pada Nea. Sebagai pegangan untuk dia turun.
“Terima kasih sayang,” Nea menerima uluran tangan Ares dan turun dengan aman. Para gadis yang melihat pemandangan itu, jadi histeris sendiri.
Ares Nea hanya berlalu mengabaikan mereka. Satu persatu wahana permainan mereka nikmati. Saat Nea merasa lelah, ia minta untuk istirahat sejenak dan duduk di kursi.
“Sayang, aku capek. Kita istirahat dan duduk sebentar di situ yuk,” ajak Nea seraya menunjuk satu kursi panjang.
“Silakan sayang,” ucap Ares mempersilahkan Nea duduk, setelah kursinya ia bersihkan dan ia letakkan selembar sapu tangan untuk Nea duduk.
“Terima kasih banyak kekasihku yang sangat perhatian,” hati Nea merasa sangat bahagia, karena dirinya yang diperhatikan dan dimanjakan oleh Ares.
Langit biru berganti warna, lautan jingga bercampur pink mulai menguasai langit. Menghalau gelap, taman hiburan mulai dihiasi oleh kelap-kelip lampu. Gemerlap cahaya taman hiburan, menghilangkan lelah yang dirasakan Nea. Iapun beranjak dari tempat duduknya dan menarik Ares supaya mengikutinya lagi.
Nea mengajak Ares untuk menaiki Bianglala dan melihat pemandangan malam hari. Setelah mereka selesai menunggu giliran untuk naik, akhirnya tiba saatnya mereka untuk masuk ke dalam bianglala. Mereka berdua duduk berhadap-hadapan. Bianglala yang berputar perlahan, membuat mereka berdua menikmati setiap detik yang ada. Ares menatap jendela, melihat sekeliling dengan bertopang dagu.
Nea memandang Ares, langit senja yang mulai menjadi gelap adalah latar belakang Ares berada. Membuat Nea terpesona melihat sang kekasih, pose Ares terlihat sangat menawan. Sang pemuda yang merasa dipandangi dengan tatapan panas, menoleh dan menatap lawannya.
“Menikmati yang kau lihat Xita?” goda Ares dengan senyuman mematikan.
Nea yang merasa hatinya dihujam ribuan panah cinta, seketika memalingkan wajahnya dan menatap langit yang mulai berubah menjadi gelap. Ares tersenyum tipis saat melihat telinga Nea yang memerah.
“Pfftt...”
Nea merasa jika wajahnya terasa sangat panas. Terlihat seperti kepiting rebus, dipantulan kaca bianglala. Bianglala yang ditempati mereka berdua berhenti, tepat di puncak. Ares memajukan badannya dan memegang kedua pipi Nea.
“Jangan palingkan pandanganmu dariku Xita. Karena aku mau memandang wajah indahmu,” ucap Ares yang kemudian memotret sang gadis, Nea mengerjapkan matanya dan sadar jika sang kekasih mengambil foto dirinya yang sedang blushing parah.
“Allen!?” rengeknya yang hanya membuat sang pemuda tertawa. Tawa bahagia Ares, membuat Nea juga ikut bahagia. Dia pun membiarkan Ares melakukan apa yang dia mau.
“Ah ... Rasanya aku ingin memakanmu sayang,” Nea membelalakkan matanya saat mendengar ucapan Ares yang tak sengaja terucap.
“Aku bukan makanan sayang,” ucap Nea dengan kesal dan mencoba memukul-mukul Ares.
Namun bianglala tempat mereka berada tiba-tiba bergoyang, karenanya. Ares pun hanya mengecup kening Nea dan kembali duduk dengan tenang.
“Dasar Allen,” gerutu sang gadis. Kemudian hening mendera, hingga bianglala berhenti dan petugas membuka pintu tempat Ares dan Nea berada.
Ares yang turun terlebih dahulu, berniat untuk mengulurkan tangannya. Namun sang gadis telah turun, tanpa sempat Ares mengulurkan tangannya. Nea sudah berjalan berlalu meninggalkan Ares. Sang pemuda hanya bisa tersenyum tipis, melihat tingkah gemas sang kekasih. Diapun dengan segera mengejar langkah Nea.
“Maafkan hamba Tuan Putri. Jika memang hamba salah, karena sudah membuat Tuan Putri marah. Hamba siap dihukum,” bujuk Ares dengan lembut. Nea berhenti dan menatap wajah Ares. Dia tersenyum kemudian berkata.
“Aku mau makan mie yang paling enak dan aku akan menunggu di situ,” ucap Nea seraya menunjuk sebuah pondok kecil, yang berada di sebuah taman bunga didalam taman hiburan ini.
“Baiklah Xita. Tunggu di situ ya. Jangan kemana-mana,” ucap Ares yang segera pergi membelikan permintaan Nea.
Sebenarnya Ares tidak mau meninggalkan Nea sendirian, namun apa daya jika sang gadis yang menyuruhnya. Lagipula taman hiburan ini pun lumayan ramai pengunjung. Diapun memutuskan untuk segera mendapatkan pesanan Nea dan kembali secepat mungkin.
Nea yang duduk di dalam pondok kecil dan melihat Ares yang pergi untuk membeli pesanannya, mencoba untuk menenangkan detak jantungnya. Iapun memanggil Sylph untuk menemaninya.
Masih teringat jelas di ingatan Nea, jika Delphinidin adalah nama taman tempat Allen menyatakan cintanya dan memintanya untuk menjadi kekasihnya, Nea tersenyum saat mengingat hal itu. Taman yang penuh kenangan, ia jadi bertanya-tanya. Apakah ini adalah taman itu?
Saat Nea berada dalam pikirannya, tiba-tiba ada sebuah suara pemuda yang mengusiknya.
“–si ... Permisi?” Nea langsung tersentak saat di hadapannya terlihat dua orang pemuda yang memiliki kulit eksotis, yaitu coklat. Dengan perawakan yang tinggi. Berambut agak panjang dan memiliki tatapan mata yang tajam.
“Eh? Iya. Ada apa?” sahut Nea dengan ramah.
“Kami mau menanyakan arah,” ucap salah satu pemuda yang memiliki bola mata berwarna hijau. Sedangkan pemuda dengan mata berwarna amber itu hanya menganggukkan kepalanya.
“Ya? Mau bertanya arah kemana?” Nea bertanya lagi.
“Kemana arah tempat penjual makanan berada?” tanyanya kembali.
“Oh! Itu mudah. Kalian tinggal kembali ke jalan itu, lalu ambil arah kanan. Terus aja sampai terlihat wahana roller coaster. Nah di sampingnya itu food court,” Nea menjelaskan dengan detail. Mereka berdua mendengarkan dengan seksama dan menganggukkan kepalanya.
“Baik. Terima kasih atas penjelasannya dan ini hadiah untuk Anda,” belum sempat Nea menolak, sang pemuda bermanik hijau itu memberikan sesuatu ke tangan Nea dan pergi berlalu.
“Ah? Terima kasih banyak,” ucap Nea yang melihat hadiah yang mereka berikan.
“Apa ini?” Nea tak tau benda yang berbentuk bulat dan berwarna putih itu apa, dia hanya tak terlalu memikirkannya dan memasukkannya ke dalam kantong coat-nya.
~ ☽ ☾ ~
Hai~
Jumpa lagi dengan saya, VR. Disini.
Wah, Xita mendapatkan sesuatu. Apa itu...?
Gimana pendapat anda Bang Allen?
Briallen : *krikk krikk...
VR. : Oh iya, dia belum balik. Semoga segera balik dah, jangan sampai jadi Bang Toyib. 🤣
Briallen : *berada di belakang VR dan mengangkat kerah bajunya.
VR. : Eh? Eh? 😰
Ampuuun.
Dx
*dibawa entah kemana
Briallan : Tolong dukung kami terus ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kehidupan kalian di like, comment, serta vote.
*mengedipkan mata
Rios : *menatap Allan dengan tajam.
Briallan : Sampai jumpa di chapter selanjutnya...
*diseret Rios entah kemana
Dua pemuda misterius : Intip kami di IG @rirymocha1
VR. Stylo