When The Night Come

When The Night Come
Musim Semi



Eropa, 1848


Salju yang meleleh, melahirkan kehidupan baru. Tunas-tunas bunga serta pohon tumbuh menyeruak dari dalam tanah, rerumputan pun terlihat mulai menghijau kembali. Bagaikan hamparan permadani hijau di tanah lapang. Binatang-binatang yang ber-hibernasi, mulai bangkit dari tidur panjangnya dan menyambut musim yang baru.


Anak-anak kecil berlarian, tertawa bahagia menikmati aroma segar datangnya musim semi. Para wanita sibuk melakukan sesuatu di dapur, sedangkan para pria. Mereka pergi ke hutan, untuk berburu awal musim semi.


Desember telah lama berlalu, Noxita yang sudah berumur 14 tahun itu. Kini terlihat semakin mempesona. Pembawaan diri yang anggun, cara berjalan yang elegan, tutur kata yang sopan, wanita yang tegas dan juga kekuatan sihir besar yang ia miliki sejak lahir. Membuatnya selalu menjadi sorotan bangsawan kelas atas.


Untung saja, Noxita sudah memiliki seorang kekasih. Jika tidak, sudah dipastikan permohonan untuk meminang Putri Rosaceae menggunung. Rumor tentang Noxita adalah kekasih Briallen, beredar dengan cepat. Bagaikan nyala api di minyak yang tumpah.


Begitulah cara kerja kehidupan sosial bangsawan kelas atas. Tak ada yang luput dari rumor, entah itu nyata atau hanya rekayasa. Rumor akan sangat laku, dan mendapat sambutan. Terlebih jika tentang kejelekan ataupun kehancuran sebuah keluarga bangsawan.


Apalagi jika yang menjadi topik utama adalah pewaris utama gelar Duke Vangelis itu. Briallen sendiri sudah menjadi sejumlah topik obrolan, karena wajahnya yang rupawan serta prestasi-prestasi yang ia dapatkan di usia mudanya ini.


Noxita yang sedang menikmati secangkir teh di pagi hari dalam kamarnya, diganggu oleh kedatangan adik-adiknya. Terlihat Diego dan Lizzie yang berlarian dengan penuh semangat, diikuti oleh Lily bersama dengan Jane. Pelayan senior yang merawat dan menjaga si Kembar setiap hari.


“Tuan Diego, Nona Lizzie. Tolong jangan berlarian. Nanti anda berdua bisa jatuh,” tegur Jane dengan tegas. Jane adalah seorang pelayan yang tegas, dia sudah mengabdi pada Keluarga Rosaceae sejak Deaf alias Duke yang sekarang masih kecil.


“Diego, Lizzie. Kalau kalian berlari, kalian bisa terjatuh sayang. Hm ...” ucap Noxita setelah meletakkan cangkirnya. Dilihatnya Adik-adiknya menuju ke arahnya.


“Kakak! Kakak,” ucap si Kembar dengan gembira sambil berdiri di hadapan Noxita.


“Ada apa sayang? Lihat ini! Keringat kalian berdua,” Noxita menghela nafas dan menyeka keringat si Kembar dengan saputangan. Si Kembar tertawa bahagia.


“Jadi, ada apa Adik-adikku?” tanya Noxita sambil menatap mereka. Terlihat Diego dan Lizzie yang malu-malu sambil menundukkan kepalanya.


“Hum?” Noxita hanya bisa bertanya-tanya dan menunggu.


“Kami punya hadiah untuk Kakak,” ucap Lizzie mengawali. Noxita tersenyum lembut dan menunggu si Kembar yang sedang mengambil sesuatu dari Jane.


“Ini untuk Kakak kami yang paling cantik,” ucap si Kembar seraya memberikan sebuah mahkota dari berbagai macam bunga yang terlihat baru mekar. Noxita memberikan senyuman manis saat menerima hadiah dari mereka.


“Terima kasih kesayangan Kakak,” Noxita memeluk mereka berdua dan memberikan kecupan di kening Diego serta Lizzie. Lily cemberut melihat itu.


“Lily kenapa?” Noxita menatap adik tertuanya.


“Jadi aku nggak cantik dong? Jadi aku bukan kesayangan Kakak?” jawabnya masih tetap cemberut, Noxita tersenyum tipis.


“Sini sini. Kemarilah Lily kesayangan Kakak yang paling cantik,” Noxita merentangkan tangannya dan menatap Lily, sedangkan sang adik masih cemberut.


“Ayolah sayang. Tangan Kakak sakit nih,” ucap Noxita dengan memohon. Lily akhirnya tersenyum dan segera menghambur ke dalam pelukan kakaknya.


“Ternyata Lily masih kecil ya,” goda Noxita sambil membelai rambut adiknya. Seketika Lily mendongakkan kepalanya dan protes.


“Aku bukan anak kecil lagi Kakak!”


“Hihi ... Iya iya adikku sayang,” Noxita hanya tertawa. Diego dan Lizzie duduk manis sambil memakan kue yang ada di meja.


“Jadi. Apa ada perlu lain, selain memberi Kakak hadiah ini?” tanya sang Kakak yang membuat si Kembar ingat akan tujuan lain mereka dan segera menelan kue yang mereka makan.


“Umph! Kata Ibu kita akan pergi menikmati festival untuk menyambut musim semi bersama di balai kota,” ucap Diego yang kemudian sedikit tersedak, Lily memberikan secangkir teh ke Diego. Setelah ia lepas dari pelukan kakaknya.


“Hum ... Baiklah! Kakak akan bersiap,” ucap Noxita yang kemudian beranjak untuk bersiap. Setelah beberapa saat, Noxita keluar dengan mengenakan gaun panjang berwarna putih bercampur pink dengan mahkota bunga pemberian si Kembar untuk menghias rambutnya.


“Waaah?” si Kembar takjub dengan penampilan kakaknya. Begitu pula dengan Lily.


“Kakak mau pakai mahkota bunga itu? Nanti layu lalu kering lho Kak,” ucap Lily memberitahu Noxita. Sang kakak tersenyum lembut.


“Kakak sudah memberikan sihir pada mahkota bunga ini. Supaya ia bisa tetap segar Lily,” jawabnya.


“Bukankah hadiah itu harus digunakan, supaya yang memberi merasa senang?” imbuhnya lagi. Lily tersenyum dan mengangguk.


“Baiklah. Apa Adik-adikku sudah siap semua?” Noxita memandang adik-adiknya.


Nampak Lily mengenakan gaun panjang berwarna biru muda yang dihiasi ornamen, terlihat seperti sulur tanaman dengan warna putih di tepiannya. Diego mengenakan baju berlengan pendek berwarna hijau muda dengan rompi dan celana selutut berwarna hijau tua. Lizzie mengenakan gaun selutut berwarna senada dengan pakaian Diego.


“Adik-adik Kakak memang yang paling imut,” ucap Noxita dengan bangga. Ia lalu mencoba untuk memeluk mereka secara bersamaan.


“Kakak ... Kita sudah ditunggu oleh Ayah Ibu dan juga Kakak tertua,” ucap Lily sedikit merengek. Noxita tertawa dan berkata.


“Hehe ... Iya iya. Ayo kita segera turun,” ucap Noxita yang kemudian keluar dari kamar bersama adik-adiknya. Diego berjalan paling depan, dia bilang kalau ia akan mengawal saudari-saudarinya. Lizzie, Lily dan Noxita mengikuti di belakangnya sembari tertawa kecil.


Sesampainya di bawah mereka langsung keluar Mansion, kereta kencana nampak sudah menunggu mereka diluar bersama ayah dan Ibu mereka. Merekapun segera naik ke dalam kereta kencana. Si Kembar berada dalam kereta kencana bersama Ayah dan Ibunya, sedangkan Lily bersama Noxita.


“Kakak ...” panggil Lily pada gadis berambut hitam keunguan yang sedang menatap jendela. Iapun langsung menoleh, menatap adiknya.


“Apa sayang?” ucapnya dengan lembut.


“Um ...” Lily mendadak malu-malu.


“Ada apa Lily?” tanya Noxita dengan bingung.


“Kak. Apakah saya bisa mendapatkan seseorang seperti Kak Briallen?” tanyanya dengan polos.


“Um? Bukan, bukan. Maksud saya bukan Kak Briallen juga,” imbuhnya dengan sedikit panik, ia takut jika kakaknya jadi salah paham.


“Fufu ... Adikku terlalu cepat dewasa ini,” ucap Noxita seraya menyeka air mata gaib dengan saputangan. Lily pun merengek.


“Kakaaakkk!?”


“Maaf maaf Lily, tenang saja. Lily pasti bisa mendapatkan seseorang yang sifatnya seperti Briallen,” ucap Noxita mencoba menenangkan adiknya itu. Lily pun berhenti cemberut dan menatap kakaknya dengan mata berbinar.


“Benarkah Kak?”


“Selama Lily tetap menjadi gadis yang baik,” imbuh Noxita. Lily pun kembali bersemangat.


“Pasti Kak,” ucap Lily dengan semangat, merekapun berbincang tentang berbagai hal yang membuat Lily penasaran.


“Kak?”


“Iya sayang?” sahut Noxita.


“Jatuh cinta itu gimana sih Kak rasanya?” tanya Lily dengan polos. Noxita tiba-tiba merasa tersedak oleh pertanyaan Lily.


“Memang kenapa sayang?” tanya kakaknya dengan lembut.


“Saya hanya ingin tahu. Seperti apa yang Kakak rasa,” ucap Lily seraya bermain dengan kedua jari telunjuknya.


“Baiklah, hm ... Yang Kakak rasakan saat itu jantung yang terasa berdebar lebih kencang dari biasanya, hanya karena mendengar suaranya. Bersamanya terasa nyaman dan tak ada yang Kakak khawatirkan,” jelasnya. Lily mendengarkan penjelasan kakaknya dengan seksama.


“Dan saat ia tersenyum, Kakak jadi merasa bahagia. Tapi kalau tidak bertemu dengannya, Kakak merasa sedikit kesepian dan sedih,” imbuh Noxita yang membuat Lily menganggukkan kepalanya.


“Jadi seperti itu ... Baiklah Kak. Terima kasih sudah menjelaskan,” ucap Lily sambil tersenyum.


“Suaranya yang lembut juga bisa menenangkan hati Kakak yang sedang gelisah ataupun emosi,” Noxita menambahkan seraya tertawa kecil, Lily hanya tersenyum.


Akhirnya mereka sampai di balai kota Blood Rosaceae, dilihatnya balai kota tersebut sudah banyak dengan orang. Festival musim semi adalah perayaan yang diadakan untuk menyambut musim baru, setelah musim yang penuh perjuangan untuk bertahan hidup.


Keluarga Rosaceae pun duduk di tempat yang telah disediakan untuk mereka dan mulai menyantap hidangan yang disajikan oleh para penduduk. Setelah mereka selesai menyantap hidangan-hidangan tersebut, Noxita beserta adik-adiknya berkeliling untuk menikmati festival.


Mereka melihat pertunjukan dan stand-stand yang menjajakan dagangannya. Banyak hal yang menarik mereka lihat, Noxita membelikan sate ayam untuk adik-adiknya dan juga dirinya. Mereka makan dengan gembira, mengabaikan etiket sejenak dan berbaur dengan para warga. Noxita dan adik-adiknya kembalikan berkeliling, hingga Lily tertarik untuk melihat stand yang ia tunjuk.


“Kak! Ayo kita lihat stand itu,” pintanya.


“Baiklah. Ayo Adik-adikku,” ucap Noxita sambil mengawasi adik-adiknya.


Saat Noxita bersama adik-adiknya sedang asyik melihat-lihat dan memilih aksesoris yang dijual di stand tersebut, terdengar suara lelaki yang familiar memanggilnya.


“Xita?”


~ ☽ ☾ ~


Hai hai hewoo....


^O^/


Berjumpa lagi dengan kami 🤣


Wah?


Siapakah yang memanggil Xita? 😱


Hm ... Sayapun penasaran 🤔


Adakah yang tau? 😣


Briallen : *diam tak berkomentar


VR. : Nggak dapat jatah tampil. 😂


Sabar ya Bang, masa’ tiap Chapter kalian nempel mulu? ‘3’)/


Kasihanilah para jumblu yang baca Bang. ||^°)/


Briallen : *pergi tak peduli


VR. : Huufft ... Aman. 😭


Ferdinand : Ayo VR.


Ikut saya untuk diperiksa dulu ya.


VR. : Eh? Eh? OAO


*dibawa pergi Ferdinand


VRXNA : *memasang papan kayu bertuliskan


Jangan lupa tinggalkan jejak kehidupan kalian di like, comment, vote dan juga share.


Lily : Intip kami di IG @rirymocha1


VR. Stylo