
Ah! Diapun juga ada?
Ella berkata dalam hati, ketika ia melihat bocah yang seumur gadis kecil itu. Dipandangnya surai hitam pekat serta pupil biru jernih, menampakkan ekspresi serius saat memeluk erat tubuh Lily dan menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng untuk melindungi sang gadis kecil dari serangan kadal raksasa itu.
Ella seketika merasakan panas di wajahnya, pipinya merona. Jantungnya berdegup kencang. Namun ia juga merasa kesal.
“Kurang ajar! Pegang-pegang tubuh orang lain, saat dirinya sedang tidak sadarkan diri.”
Ella menggerutu dengan jengkel. Namun jauh di lubuk hatinya, ia merasakan sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan. Dadanya terasa hangat. Dan ia juga merasakan sesak serta sedih ketika bocah itu sedikit tergores, karena terjatuh.
Nafas Ella tercekat, saat ia menyaksikan Allan yang hendak diterkam bersama dirinya. Dia langsung limbung, ketika wanita yang sebelumnya bermain bersamanya menahan kadal raksasa itu. Dan menyelamatkan mereka berdua.
Ella menyaksikan setiap apa yang terjadi kala itu, hingga ia melihat bocah tersebut dirasuki oleh sesuatu dan mulai menggila. Seketika dia merasa jika dirinya harus melakukan sesuatu, gadis itu berpikir dan terbersit sebuah ide di kepalanya.
Iapun mendekati tubuh Lily yang belum juga sadar, dipandanginya wajah yang sangat mirip dengan miliknya itu. Kulit putih bersih, rambut hitam bercahaya, memandangnya bagaikan melihat sebuah lukisan. Hingga Ella sedikit tak percaya, jika itu adalah dirinya dulu.
“Hey! Bangunlah! Kau mau dia menjadi tak terkendali? Dia sudah melindungimu lho.
Melindungi kita,” ucap Ella pada gadis kecil di hadapannya. Namun ia tak menunjukkan tanda apapun.
Ella yang semakin merasa panik. Karena melihat bocah tersebut menyerang semua orang, termasuk kakaknya. Iapun kembali berbicara pada Lily, mencoba untuk membangunkan dia.
“Bangunlah! Kau pasti bisa melakukan sesuatu kan. Kak Nea ... maksudku Kak Xita juga dalam bahaya, bangunlah Lily!” suara putus asa Ella terdengar pilu, hingga setetes air mata menetes dan jatuh ke pipi Lily.
Tubuh Ella jatuh terduduk, ketika Allan mendekati Lily dan membawanya ke langit. Gadis yang terduduk itu merasa air matanya bersinar, ia kembali menyaksikan apa yang akan terjadi.
Ia melihat jika tubuh Lily mulai mengeluarkan cahaya keemasan, seketika rambutnya pun berubah menjadi berwarna gold panjang bercahaya, kulitnya juga berkilau.
Ella yang saat itu melihat gadis itu berubah, mengingat kejadian saat ia bertemu dengan perempuan yang memanggil dirinya sebelumnya. Langit biru yang cerah, danau jernih nan indah. Udara segar yang kaya akan oksigen, bunga-bunga bermekaran. Ia melihat saat Lily dan perempuan itu berdebat.
Ah ... jadi begitu ....
Ella akhirnya menerima jika semua ini adalah ingatan masa lampaunya. Ia kembali menyaksikan ketika Lily menyegel jiwa naga tersebut dan mengikatnya dalam tubuh Allan. Hingga ia tak sadarkan diri kembali.
Gadis berambut hitam yang sedari tadi menyaksikan semua yang terjadi, kembali kesal. Saat bocah tersebut menangkap tubuhnya yang tak sadarkan diri itu dan turun dengan perlahan, kembali menapak tanah.
“Lagi-lagi ambil kesempatan, pegang-pegang tubuhku!”
Gerutu Ella sembari mengingat untuk buat perhitungan dengan bocah tersebut. Walau dalam hatinya, ia lega karena mereka semua selamat. Terutama ... seketika pipinya merona merah, saat ia melirik Allan.
Ella terus menyaksikan semua ingatan itu, hingga ia sampai di ingatan ketika perayaan ulang tahun Lily yang Ke-17. Banyak keluarga bangsawan yang akan datang pada acara tersebut, begitupun dengan hadiah-hadiah yang telah terlebih dahulu dikirimkan ke kediaman Rosaceae. Sebagai ucapan selamat atas dirinya yang beranjak dewasa.
Ia menatap Lily yang didandani sejak pagi tadi, walau bukan Ella sendiri yang mengalaminya. Namun ia merasa sudah sangat lelah atas kegiatan persiapan sebelum pergi ke pesta tersebut.
Matahari tenggelam, membuat langit berhiaskan lautan jingga berpadu dengan pink, nampak di ufuk barat. Para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Puluhan makanan mewah disajikan di atas meja, berbagai macam kue-kue kecil dengan kue tart besar pun dihidangkan.
Berbagai jenis minuman pun dihidangkan dalam gelas-gelas kaca yang berkilau indah. Sungguh membuat mata Ella berbinar-binar dengan antusias. Ia melirik sekilas jendela, nampak bulan purnama berbentuk bulat sempurna bermandikan darah.
Ia kembali melihat Lily di dalam kamarnya, suara ketukan pintu menggema di telinganya.
“Lily. Apa kau sudah siap?” suara Allan terdengar dari balik sana.
“Sebentar. Tinggal sentuhan terakhir,” ucap Lily dengan suara riang. Karena sudah tak sabar untuk menikmati acara pesta kedewasaannya bersama Briallan.
Sang gadis yang sudah selesai berdandan, segera keluar dari kamar untuk menemui pemuda yang menunggunya di luar.
“Apa kau sudah menunggu lama Allan?” suara lembut terdengar menyapa telinga pemuda bersurai hitam kebiruan itu.
Netranya yang biru bagai saphire membelalakkan, tercengang akan rupa cantik sang gadis yang menjadi bintang utama pesta malam ini.
“Apa ada yang aneh di wajahku? Apa tampilan ku tak cocok? Apa—“ ucapan Lily terhenti saat Briallan menempelkan telunjuknya di bibir sang gadis. Pipi sang gadis seketika bersemu pink.
“Sshht ... kamu sangat cantik malam ini My Lady,” ucapnya yang membuat pipi gadis tersebut semakin merona merah.
Lagi? Lagi-lagi dia menyentuhku seenaknya!
Ella bersungut-sungut dan bergumam jika dia akan meminta pertanggungjawaban.
“Apa Anda baik-baik saja, My Lady? Muka Anda seperti tomat rebus, apa Anda sakit?” ucap Briallan dengan bingung serta khawatir, Lily hanya menggelengkan kepalanya dan berkata.
“Saya baik-baik saja Allan. Lebih baik kita segera menuju tempat pesta, semua orang telah menunggu.”
Briallan yang belum puas menikmati keindahan dari Lily, dengan senyum yang sedikit terpaksa ia mengulurkan tangannya pada sang gadis.
“Mari Nona, malam ini saya adalah pengawal Anda. Dan mari kita masuk ke ruang pesta bersama-sama,” ajak Briallan dengan percaya diri, ia yang mengenakan setelan jas berwarna putih dengan Bros berlambang Vangelis menghiasi bagian depan dadanya. Terlihat gagah.
Lily yang mengenakan gaun berwarna putih dengan renda merah menghias tepiannya, terlihat sangat anggun. Ketika berjalan berdampingan dengan putra kedua keluarga Vangelis itu. Ketika mereka akan memasuki ruangan pesta, penjaga pintu mengumumkan bahwa mereka berdua akan masuk.
“Tuan Putri Lily de Diamond Rosaceae dan Tuan Muda Briallan de Roosevelt Vangelis memasuki ruangan.”
Seluruh tamu undangan menepi dan memberikan jalan untuk dua remaja tersebut masuk. Semua mata tertuju pada putri kedua dari Duke Rosaceae itu, langkah yang anggun. Wajah cantik jelita, kulit putih berkilau, gaun yang ia kenakan bagaikan menyatu dengan dirinya. Sedangkan rambutnya yang hitam bercahaya, membuatnya mudah untuk menjadi pusat perhatian.
“Pasti mereka melihat padamu Allan.” Lily berbisik pelan, menyindir pemuda berambut hitam kebiruan itu. Sang pemuda hanya tersenyum kecil dan berkata.
“Bukankah mereka tertuju pada Tuan Putri? Karena Anda begitu mempesona malam ini.” ucapnya seraya mengecup punggung tangan kanan sang gadis, yang seketika membuatnya merah padam. Begitupun dengan Ella yang menyaksikan hal tersebut.
“Ehem!?” sebuah deheman terdengar dari belakang mereka, Briallan dan Lily seketika menoleh untuk melihat siapa gerangan.
Terlihat Deaf dan Kaila, Duke serta Duchess Rosaceae yang merupakan orang tua dari Lily, membuat suara deheman tersebut. Briallan seketika sedikit salah tingkah. Namun dengan sigap ia kembali membenarkan postur tubuhnya dan mengembalikan Tuan Putri pada Ayahnya.
“Terima kasih atas semua tamu undangan yang telah hadir dan untuk Putriku. Selamat ulang tahun yang Ke-17,” ucap Deaf di hadapan para bangsawan. “Selamat ulang tahun Lady Lily!” para tamu undangan mengucapkan selamat serentak.
“Silakan nikmati pesta yang sudah kami persiapkan,” ucap Deaf mempersilahkan para tamu undangan.
Ella menyaksikan dirinya dan Briallan berdansa lagu pertama, ia takjub akan tarian yang mereka lakukan. Semua tamu undangan menatap dansa yang mereka lakukan, saat lagu selesai. Tepukan tangan terdengar dari seluruh bangsawan yang hadir.
Briallan dan Lily menepi dari lantai dansa, tepat saat itu Noxita mendekati mereka. Sang gadis berambut hitam keunguan langsung memeluk dan mengucapkan selamat pada adiknya itu.
Noxita menggoda Lily, sang adik hanya bisa tersenyum malu. Karena kakaknya itu. Merekapun berbincang berbagai hal, hingga akhirnya sang ayah menanyakan sesuatu.
“Mana Suamimu, Xita?”
“Dia ada urusan dengan kekaisaran, Ayah.”
Sang ayah hanya mengangguk dan kemudian meminta perhatian para tamu undangan.
“Para hadirin, mari kita bersulang untuk Putriku yang sudah beranjak dewasa!”
Deaf mengangkat gelas berisi wine dan mengucapkan.
“Selamat ulang tahun ke-17 Putriku Lily,” Duke Rosaceae mengangkat gelas tersebut tinggi dan segera meminumnya setelah para tamu undangan juga ikut mengucapkan selamat.
“Selamat Putri.”
“Selamat Lady Lily.” Ella terkesiap, ketika salah seorang tamu yang sudah meminum wine tersebut sekali teguk. Terkapar dengan darah keluar dari mulut, hidung dan telinganya.
“Ayah! Jangan diminum!” seru Noxita yang memperingatkan ayahnya. Namun sayang, sang kepala keluarga Rosaceae sudah terduduk tanpa tenaga di kakinya. Ia hanya mengecap sedikit wine di gelasnya.
Tubuh Ella bergetar, matanya membelalak. Satu persatu tamu undangan jatuh terkapar tak bernyawa. Dengan darah yang mengalir dari mulut, hidung dan telinganya.
Beberapa tamu undangan yang belum sempat meminum minuman itu panik dan segera menuju pintu keluar. Namun mereka tak bisa membuka pintunya, karena pintu tersebut dikunci oleh sihir.
Ella tersentak, saat seorang lelaki tua diterkam oleh anjing yang tingginya setinggi lelaki dewasa itu. Kakinya lemas, menyaksikan pembantaian di depan matanya. Saat Noxita hendak diserang oleh makhluk tersebut, sang gadis berteriak. Berusaha untuk memperingatkan kakaknya.
“Kakak awas!!?”
Namun teriakannya tidak terdengar oleh sang gadis bermanik merah tersebut. Ella tercekat melihat anjing itu semakin dekat dengan kakaknya. Ia terduduk lemas dan menutup matanya dengan rapat.
“Xita!” teriakan seseorang membuat Ella membuka matanya kembali dan melihat Ferdinand yang menghalau serangan makhluk itu.
“Ah? Kak Dinand! Terima kasih banyak Kakak,” Noxita yang terkejut dengan serangan dadakan tadi, mulai bersiaga pada sekelilingnya.
“Syukurlah Kakak selamat.”
Ella berusaha berdiri lagi, ia kembali menyaksikan Noxita, Briallan, Ferdinand, Lauryn serta beberapa ksatria berusaha untuk memusnahkan makhluk-makhluk yang muncul dari bayangan itu dan menyelamatkan tamu undangan yang masih hidup.
Tiba-tiba muncul seorang lelaki yang mengenakan topeng serta jubah, menyeret pedang. Saat ia melihat Noxita, pria tersebut seketika menghunuskan pedangnya pada gadis tersebut.
“Xita!?” terdengar teriakan Ferdinand. Noxita menoleh dan menyaksikan lelaki berambut abu-abu keperakan itu telah menjadi tameng pelindung dirinya dan tertusuk tepat di dada kirinya.
Noxita geram dan marah. Matanya berkilat merah, berubah menjadi abu-abu dengan tatapan penuh amarah. Rambut yang juga senada dengan warna netranya, menjadikan ia dalam mode Vampire-nya.
“Ha ha ha. Akhirnya kau menampakkan wujudmu, Monster!”
Ucapan pria tersebut dipotong oleh serangan sihir dari Noxita. Ia menyerang pria bertopeng dengan berbagai macam sihir yang ia kuasai. Namun semua serangan dipentalkan olehnya dan beberapa menghilang sebelum menyentuh barang sehelai rambut pun.
Noxita terperanjat, ia sedikit bingung dan tetap menyerang lelaki itu dengan segala kemampuannya.
Ella tersentak ketika mendengar suara teriakan dirinya yang pilu, disaksikannya Briallan yang sudah terkapar terkena serangan salah satu serigala bayangan itu.
Ia kembali melihat pada kakaknya saat terdengar suara sang gadis tercekat. Jantung Noxita telah ditusuk dan ia seketika kembali pada wujud manusianya. Gaunnya yang putih, telah berubah menjadi merah pekat. Matanya yang indah, kini telah kehilangan warnanya.
“Ka–kak ....”
Ella yang sudah tak sanggup lagi menahan gejolak amarahnya, seketika menghancurkan dimensi ingatan tersebut dengan kekuatan sihir miliknya. Rambut dan matanya berubah menjadi gold, dengan cahaya yang memancar dari tubuhnya. Ia membuat segalanya menghilang.
“Akhirnya kau bangkit, Aine.”
Suara perempuan yang mengaku sebagai ibunya itu terdengar puas, saat merasakan kekuatan cahaya yang besar telah bangkit.
... ~ ☽ ☾ ~
...
Malam. °^°/
Akhirnya saya bisa ngetik banyak. 😭
Walau sempat stuck, dan sebagainya. 🤧
Yah. Kembali lagi bersama saya di WTNC. >~
Gimana gimana?
Oh iya. Na ku belum pulang. 😱
Naaaaaaa. Dx
Briallen : *membawa Na dan meletakkan dia di atas VR.
VR. : 😒
Ferdinand : Jangan lupa like, comment, vote, share ya. Biar besok saya bisa konser.
Noxita : Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
Briallen : Saksikan permainan piano saya di @rirymocha1
All : Happy Weekend. o(^O^)o
...VR. Stylo
...