When The Night Come

When The Night Come
Saat di Mansion



Ferdinand segera menuju tempat Nea berada dan memeriksa kondisi Ares. Manik abu-abu dengan bulu mata lentik itu meneliti serta melihat dengan seksama tubuh pemuda bersurai hitam keunguan itu.


“Ka–k Dinand ... bagaimana?” Nea bertanya dengan terisak.


“Sebaiknya kita kembali dulu ke Mansion Vangelis,” ucap Ferdinand setelah memeriksa kondisi Ares.


“Baiklah Kak,” sebuah ekspresi cemas dan sedih, nampak di wajah Nea yang berhiaskan darah serta air mata.


Terlihat Rios muncul sembari mengangkat dua orang werewolf yang tak sadarkan diri itu, Vartan masih saja menggendong Ella ala bridal style. Nea berniat untuk membopong tubuh Ares, namun ia tak sanggup. Karena Ares yang tinggi serta berbadan besar itu sedang tidak sadarkan diri.


Ketika sang gadis tak kuat untuk membawa tubuh sang kekasih, hingga ia dan Ares hampir terjatuh. Sepasang tangan lembut mengambil alih dan mengangkat badan Ares. Gadis berambut hitam keunguan menatap Ferdinand dengan tatapan takjub.


“Ayo Nea. Kita harus segera kembali!” ajak Ferdinand yang mendapat anggukan sebagai jawaban.


Nea segera menstabilkan pijakannya dan berjalan mengikuti lelaki berambut abu-abu keperakan itu. Mereka berempat beserta Ella yang digendong, Ares yang diangkut dan dua orang werewolf yang tak kunjung juga sadar. Berkumpul berdekatan. Dalam sebuah kedipan mata, mereka semua hilang.


***


Mansion Vangelis


Ferdinand, Nea, Rios, Vartan beserta empat orang yang dibawa muncul di aula besar Mansion Vangelis. Lauryn yang merasakan kedatangan mereka, segera datang menghampiri Ferdinand.


“Kenapa Aim? Kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Lauryn dengan nada khawatir, Vartan yang baru pertama kali melihat ekspresi lain wanita tersebut hanya bisa melongo.


Ella yang masih berada digenggaman pemuda bersurai hitam kebiruan itu menowel pipinya menggunakan tangan kanan, hingga membuat kepalanya menoleh dengan keras.


Vartan yang tersentak, seketika menatap wajah Ella yang sedang kesal. Pemuda tersebut tersenyum tipis dengan sebutir keringat di dahinya.


“Tenanglah Tuan Putri. Hatiku hanya untukmu, dan aku tidak akan mungkin melirik apalagi suka dengan perempuan semacam dia.” Ucapnya mencoba untuk membuat Ella percaya padanya.


Namun ketika sang gadis hendak mengatakan sesuatu, sepasang tangan mengangkat tubuhnya turun dari gendongan Vartan. Dengan cepat ia didudukkan pada sebuah sofa yang berada di dekat situ. Dalam kedipan mata, meja yang berada di hadapan Ella penuh dengan makanan manis kesukaannya.


“Lily makan ya,” ucap Lauryn yang memberikan sebuah senyuman kecil pada sang gadis. Ella mengangguk sembari memakan sebuah macaron.


Dengan cepat Lauryn menyeret Vartan ke suatu tempat, Ella yang memakan dessert di hadapannya dengan senang. Sudah lupa akan keberadaan Vartan yang entah bagaimana nasibnya.


“Aaaaa ....” sebuah teriakan terdengar memecah kesunyian Mansion.


Namun tidak ada yang peduli, karena tahu si empunya suara adalah tukang onar nomor dua yang berasal dari keluarga Vangelis.


***


Ferdinand yang membawa Ares ke kamar milik sang pemuda, segera membaringkan tubuh tersebut ke atas ranjang dan mulai memeriksa kondisinya.


Nea yang sedari tadi mengekor sang dokter, merasa cemas serta khawatir akan hal-hal buruk yang sedang dialami oleh kekasihnya. Nampak raut sedih di wajahnya.


Sang gadis mengamati setiap hal yang dilakukan oleh Ferdinand. Lelaki tersebut mengeluarkan sebuah lingkaran sihir di telapak tangannya, yang ia gunakan untuk memeriksa tubuh Ares hingga ke bagian dalam.


“Aliran kekuatan sihirnya tak beraturan. Sepertinya Allen akan begini, hingga aliran mana-nya normal kembali,” jelas Ferdinand yang memberikan dugaan sementaranya.


Terlihat wajah Nea yang semakin kalut, ia menundukkan kepalanya sembari menggigit bibirnya. Berbagai pikiran buruk menghampiri kepalanya, hingga bibirnya berdarah. Ferdinand yang menghirup aroma darah, segera menoleh kearah Nea.


Didekatinya sang gadis, ditatapnya puncak kepala berwarna hitam keunguan itu. Ferdinand memegang dagu Nea, ditatapnya lekat bibir sang gadis. Nea menatap wajah cantik seorang Ferdinand yang berekspresi sendu.


“Jangan gigit bibirmu Xita, lihatlah! Kau jadi terluka kan,” ucap Ferdinand yang kemudian membersihkan darah yang ada di bibir Nea dengan sebuah saputangan dan segera menyembuhkan luka tersebut dengan sihir penyembuhan.


“Ah? Maaf Kak. Aku tanpa sadar menggigit bibirku.” Nea menatap Ares yang terbaring tak berdaya.


“Apa ada yang bisa kulakukan, supaya Allen bisa segera sembuh Kak?” Nea kembali menatap Ferdinand dengan pandangan yang penuh harap.


Ferdinand menghela nafasnya dengan berat sembari menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Lalu ia menatap kembali Nea dengan tatapan serius.


“Sebenarnya ada, dan yaaa memang hal ini berkaitan erat dengan kalian berdua.” terang Ferdinand dengan bertele-tele.


“Apa itu Kak? Akan kulakukan apapun, supaya Allen kembali sadar,” Nea menatap sang dokter dengan mata yang berapi-api.


“Xita harus memiliki dan menguasai kekuatan yang Noxita punya terlebih dahulu.” dengan berat Ferdinand memberi tahu Nea.


“Aku pasti bisa Kak!” Nea dengan kepercayaan diri yang tinggi berucap lantang.


“Namun, harus menguasai kekuatanmu secara 100%. Tanpa hilang kendali, seperti yang terjadi malam tadi.”


Sindiran Ferdinand membuat semangat Nea seketika lenyap. Iapun bingung, kenapa dirinya bisa hilang kendali seperti itu? Tanpa ia sadari lagi, Nea sedang menggigit bibirnya kembali.


“Haduuh!” Ferdinand menepuk keningnya, merasa sedikit frustasi dengan anak-anak ini.


***


“Dih, dasar wanita tu–,” Vartan berhenti berucap, dengan sebutir keringat di dahinya. Ia membenarkan ucapannya sendiri.


“Nggak, nggak. Salah. Dasar Lauryn, ganggu orang yang sedang melepas rindu saja. Malah nyeret aku dan buat aku bungee jumping saat dini hari, kukira aku akan mati tadi.”


Sesampainya ia di ruangan tempat Ella menikmati dessert-nya, pemuda tersebut melongo. Karena ia tak mendapati dimana pun sang gadis kecil berada. Setelah puas celingukan serta mencari di setiap sudut ruangan, Vartan keluar dari tempat tersebut dan mulai mencari Tuan Putrinya.


***


Di suatu ruangan ....


Rios menatap tajam dua orang werewolf yang diikat dengan kuat serta dimasukkan dalam sebuah kandang, akhirnya melihat sebuah pergerakan dari mereka yang mulai tersadar.


Saat Val dan Aley membuka matanya, mereka langsung menatap Rios dengan mata berbinar-binar. Karena melihat sosok yang mereka puja, ada di hadapannya. Namun perasaan senang itu akhirnya hancur, ketika tampak dalam pandangan mereka. Ekspresi wajah yang ingin membunuh, di depan mata mereka.


“A–ampun, Yang Mulia Kurios.”


“Kami sadar, kami telah salah. Maaf, kami khilaf.”


Rios yang sedari tadi memegang sebuah tongkat, mencengkeramnya hingga patah menjadi dua. Val dan Aley bergidik ngeri dengan apa yang terjadi pada tongkat tersebut dan membayangkan jika mereka akan seperti itu. Jika permohonan maaf mereka tak kunjung diterima oleh Rios.


Mereka berdua pun segera menyembah-nyembah Rios dengan keadaan yang masih terikat. Sang serigala tak mempedulikan mereka dan melemparkan tongkat yang ia patahkan tadi ke dalam perapian.


“?!” Val dan Aley makin ketakutan dengan apa yang mereka bayangkan sendiri.


***


Ferdinand yang memegang rambutnya dengan sedikit frustasi, karena melihat Nea yang kebingungan dan nampak ragu-ragu. Akhirnya terkesiap mendengar seruan.


“Aku mau Kak!”


...~ ☽ ☾ ~...


Haloooo. ^O^/


Wah! Akhirnya sampai di Bab 40. 😱


Yeeee. (*-*)


Ferdinand : Yuk, Syukuran.


Briallan : Setuju tuh


Briallen : Pastinya


Noxita : Sepertinya menyenangkan


Lily : Mau ikut


Lauryn : *menatap Ferdinand dengan intens


Rios : *mengamati


VR. : Baiklah baik. Syukuran dengan apa kita?


Lauryn : Bakar-bakar


VR. : Wah. Sepertinya enak


Emang apa yang dibakar?


Val & Aley : Paus


VR. : Apaaaa?! 😱


Anak-anak durhaka. 😱


*seruduk mereka semua


Na : Jangan lupa like, comment, vote serta share. 🐼


Sampai jumpa di chapter selanjutnya. ^~^//


...VR. Stylo


...