
Rios yang menemukan sosok Ares sedang linglung, menjadi panik dan mengguncang-guncangkan tubuh pemuda itu hingga ia akhirnya sadar dan menatap Rios si serigala.
"Xita?!" serunya yang kemudian hendak segera berdiri. Namun tubuhnya limbung, dengan segera Rios menangkapnya.
“Haissh ....” gumam sang serigala, sembari membantu Ares duduk kembali.
“Xita! Dia menghilang.” ucap Ares penuh dengan kepanikan.
“Yaaa ....” sang serigala menggerutu sembari menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
“Aku harus segera ke tempat Xita!” ucap Ares yang terdengar panik.
“Lihatlah kondisimu sekarang! Berdiri saja tak mampu.” ucapan Rios menyadarkan sang pemuda.
“Tapi Xita juga sekarang dalam kondisi yang tidak stabil!” bentak Ares yang membuat Rios terbelalak.
“Aku tahu, karena aku merasakannya. Ini bukan perasaanku ataupun pikiranku saja, aku hanya merasakan pikiran dan perasaan yang penuh dengan kemelut,” jelas Ares dengan ekspresi khawatir.
Rios menatap setiap raut wajah yang dibuat oleh Ares, tiada kebohongan dalam tiap perkataannya. Iapun menghela nafas.
“Yaaa, aku percaya. Kau akan ku angkut di atas punggungku. Tapi jika kau jatuh, aku tidak akan menyelamatkanmu.” Ucap Rios dengan suara yang agak berat.
Mendengar ucapan sang serigala, mata yang sempat terlihat sedih itu, langsung nampak cerah kembali.
“Terima kasih, Rios. Aku akan menjaga diriku sendiri kok.” jawabnya percaya diri.
“Hm ... tapi bagaimana kita tahu kemana Nona?” Rios berkata sembari berpikir.
“Dari yang kurasakan, dia menuju arah tenggara.” ucap Ares yang kemudian disahut oleh suara seorang wanita.
“Itu juga arah perginya Aim,” jelas Lauryn yang tiba-tiba memasuki ruangan. Ia berjalan perlahan dengan didampingi oleh seorang perempuan berambut putih panjang.
“Berarti Xita pergi untuk menyelamatkan Lily juga.” Ares menyimpulkan sembari merasakan sakit kepala yang tiba-tiba melanda dirinya.
“Ukh?!” erang Ares sembari memegangi kepalanya.
“Kau kenapa Allen?” tanya Lauryn dengan datar.
“Aku hanya sedang merasakan apa yang dirasakan oleh Xita sekarang.” jawabnya.
“Kita harus segera pergi untuk menyelamatkan mereka.” ujar wanita berambut gold orange itu.
“Tapi ... kemana kita harus pergi?” Neve menyela pembicaraan.
Seketika Ares dan Rios menatap tajam ke arah Valdis dan Healey yang sedang bengong. Si pemuda berambut pirang itu langsung merinding dan panik ketika ditatap oleh mereka berdua.
“....” Lauryn diam mengamati.
***
Nea keluar melalui jendela di ruangan Ares yang berada pada lantai 5, segera merentangkan kedua sayapnya itu. Sedang terbang di atas hamparan pepohonan wilayah hutan kegelapan. Nampak di bawah sana, beberapa makhluk kegelapan ia temui.
“Banyak sekali makhluk kegelapan di hutan ini? Dan mereka kenapa berkelompok?” gumam sang gadis yang tiba-tiba merasakan sakit kepala yang hebat.
“?!”
Nea kehilangan keseimbangannya, seketika kedua sayapnya menghilang dan ia terjun bebas tak sadarkan diri. Jatuh menuju tanah. Namun saat ia hampir menghantam tanah, sekelebat bayangan nampak melompat dan menangkap tubuh Nea.
Sang gadis yang merasa dirinya ditangkap oleh seseorang, menatap sekilas lelaki berambut hitam dan kemudian kembali tak sadarkan diri.
***
Ella perlahan membuka kedua matanya, lama ia beradaptasi dengan tempatnya berada. Matanya memicing, karena tempat itu minim pencahayaan. Samar-samar ia mencium aroma darah, mual mendadak ia rasa. Namun tak ada suatu apapun yang bisa ia muntahkan.
“Ukh?! Bau darah yang menyengat!” gerutu Ella yang menutup hidung dan mulutnya menggunakan tangannya.
“Hm ... hm~” terdengar suara senandung yang merdu, namun menyeramkan.
Ella seketika merasakan ketakutan yang hebat, tubuhnya bergetar. Ia meringkuk di pojokan ruangan, sambil menutup kedua telinganya dan menahan nafasnya.
“Kakak ....” sebut Ella perlahan, sembari meringkuk ketakutan.
***
Ferdinand terus berjalan, wajahnya yang bersih nan cantik nampak jelas terlihat walau dalam gelapnya hutan. Vartan mengikutinya dari belakang, ia tampak sangat kelelahan serta sangat kucel. Seperti sudah tidak mandi selama berabad-abad.
“Sebuah Kastil?” ucap Ferdinand ketika melihat penampakan kastil yang suram.
“Hei Ferdy! Kau sama sekali tidak melakukan apapun. Dan selalu mengumpankan aku untuk melawan mereka! Kenapa aku selalu jadi umpan? Dan harus menghabisi mereka semua sendirian?” protes pemuda bersurai hitam kebiruan itu.
“Hm ...?” sahut Ferdinand acuh tanpa mengalihkan pandangan dari kastil.
Vartan memutar kembali ingatannya, ketika dirinya mengekor di belakang Ferdinand dan sesekali mengumpankan dirinya ke makhluk kegelapan yang menghadang.
“Hey! Ferdin–!?” seru Vartan yang kemudian dengan cepat dibungkam mulutnya menggunakan sihir oleh Ferdinand.
“Karena kau masih muda, jadi patuh dan lakukan apa yang harus kau lakukan.”
Vartan bergidik, ketika Ferdinand memberikan dia senyuman termanisnya. Disertai dengan bayangan ular yang menyeramkan di benak ayam itu. Seketika Vartan membayangkan ayam yang dipeluk erat oleh seekor ular dengan tatapan mata yang tajam.
Vartan yang melihat hal tersebut merasa ketakutan, keringat dingin mengucur dengan deras. Hingga ia pingsan.
“Bodohnya dia,” sebuah suara berat terdengar setelah Vartan pingsan. Erebos segera mengambil alih kendali tubuh Vartan yang pingsan.
“Lebih baik kau yang mengendalikan tubuhnya, Erebos.” Usul Ferdinand yang kemudian kembali menatap kastil mencurigakan itu.
“Yaa ....” Erebos yang tak mau berdebat dengan Ferdinand, dengan cepat mengiyakan. Erebos jongkok dan mengambil sesuatu.
“Hanya ada dua orang penjaga di depan. Dan sama sekali tidak terlihat penjaga lain,” ucap lirih Ferdinand menganalisa keadaan kastil.
“Kalau begitu mudah saja kita untuk menyusup dari pintu depan.” Jawab Erebos dengan senyum percaya diri.
“Hum?” Ferdinand memasang ekspresi bingung sembari menatap pemuda yang sekarang bermanik biru gelap itu.
Erebos menjentikkan jarinya, dengan seketika mereka berdua diselimuti oleh sihir yang menutupi keberadaan mereka berdua.
“Oke. Ide bagus!” ucap Ferdinand dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.
Dengan perlahan mereka berdua mendekati kastil tersebut dan tanpa terlihat oleh penjaga. Karena Erebos menggunakan kekuatannya untuk menutupi keberadaan mereka, hingga mereka dengan leluasa berjalan masuk melalui pintu depan.
Setelah Erebos melemparkan batu yang ia bawa ke semak-semak yang agak jauh. Hingga membuat penjaga mendekati semak-semak itu. Mereka melenggang masuk dari pintu depan.
***
“Hum hum hum~♪” terdengar suara seorang wanita yang sedang bersenandung riang.
Ella yang sedari tadi meringkuk, makin memojokkan dirinya ke pojokan ruangan. Aroma kematian mendekat ke arahnya. Ia begitu ketakutan, takut jika dirinya tak bisa kembali dan bertemu dengan orang-orang yang ia sayangi.
Suara heels menggema di lorong luar tempat Ella berada. Menggema, namun semakin menjauh.
Hingga suara tersebut menghilang dan sang gadis kecil tak mendengarnya lagi. Ella merasa dirinya sudah aman, sehingga ia hendak membuka kedua matanya. Ketika ia membuka matanya dan menatap ke depan. Nampak sepasang mata lebar semerah darah yang terlihat menakutkan dan gila. Menatapnya tajam dengan sebuah senyuman yang menyeramkan.
“Drip drip drop ... Look! What i've found. Some delicious food? This lil' Appetizer. Let’s start the Feast~♪” wanita di hadapannya mulai menyenandungkan lagu yang menyeramkan.
Ella ketakutan, hingga ia terpojok.
“Ka–kak ....” gumamnya sambil menitikkan air mata.
... ~ ☽ ☾ ~
...
Hae hae. >
Sahuuur sahuur
Eh?
Semangat terus ibadahnya. 🤣
Saya mau kabur. Karena mereka menyeramkan 😭
*gendong Na dan menghilang
Briallen : Woy! Balikin Xita!
VR. : Selametin sono bini lu *plak
Dah
Jangan lupa like, Comment, vote, share. °^°/
Sampai jumpa di Chapter selanjutnya. 😭
Musuh baru, rasa lama. Menyeramkan sangat. 😭
...VR. Stylo
...