When The Night Come

When The Night Come
Sesuatu



Nea terpaku dan membeku, nampak dengan jelas di netranya. Sepasang mata raksasa berwarna emas menatapnya. Ia yang masih mengaktifkan vision-nya, merasakan jika tempat dimana batu raksasa yang ia lihat tadi sudah kosong sekarang.


“Berarti bukan batu yang kulihat tadi,” gumamnya lirih yang kemudian menelan ludah.


Nea terkesiap ketika makhluk tersebut membuka mulutnya lebar-lebar.


***


Vartan langsung bertukar kendali dengan Erebos, mereka berdua pun mendarat agak jauh dari tempat yang dihantam oleh serangan dadakan itu. Dengan segera Erebos menghalau serangan yang datang ke arah mereka, sedangkan Ferdinand melancarkan serangan sihir listrik yang langsung meledak ketika menghantam sesuatu.


Beberapa pohon tumbang dan hancur, tanah yang mereka pijak pun nampak tak beraturan. Ferdinand dan Erebos menatap tajam lelaki kekar yang sama sekali tidak mengeluarkan keringat. Walau telah menyerang mereka berdua bertubi-tubi.


“Sial! Dia susah untuk ditumbangkan,” gerutu Erebos sambil terengah-engah.


“Yaaa ... karena dia salah satu Vampire leluhur yang masih hidup,” jelas Ferdinand dengan ekspresi yang nampak lelah.


“Sesuatu yang menyebalkan muncul ternyata.” ejek Erebos sembari menyunggingkan senyuman.


“Yaaah begitulah,” sahut Ferdinand yang kemudian melancarkan serangan sihir listrik lagi pada lelaki itu.


***


Ares menatap langit, dimana matahari sudah menguasai. Sang pemuda yang menunggangi punggung Rios, menatap tangannya dan mulai mengalirkan kekuatan sihirnya pada bola kecil yang ia genggam. Seketika ia mendapatkan petunjuk arah dimana bola satunya berada.


“Kita lurus ke tenggara menuju hutan kegelapan!” ucap Ares dengan suara yang lemah.


“Oke,” sahut Rios yang kemudian menggunakan teleportasi untuk segera sampai di sana.


Neve yang ditatap oleh Lauryn, mengangguk dan segera menggendong istri dari Tuannya itu dan melakukan teleportasi. Val dan Aley tak mau ketinggalan, mereka dengan segera berlari menuju hutan kegelapan dalam wujud werewolf-nya.


***


Ferdinand terlihat kacau dan berantakan, wajahnya mengalami beberapa goresan yang pasti akan membuat istrinya marah. Ia berdiri di samping pohon, mengamati Erebos dan lelaki besar itu saling melancarkan serangan.


“Seperti ada sesuatu yang janggal sedang terjadi ....” gerutu Ferdinand yang kemudian sadar akan suatu hal.


“Bagaimana bisa kami kembali ke hutan lagi?” Ferdinand termangu, menganalisis segala kemungkinan.


Diapun tiba-tiba teringat saat mereka berdua memasuki pintu depan kastil. Sebuah bangunan mencurigakan yang terletak dalam hutan, dengan sedikit penjaga yang berjaga di depan.


“Bukankah aku dan Erebos sebelumnya telah masuk ke dalam kastil? Namun, setelah itu kami seperti berjalan kembali menyusuri hutan dan bertemu dengan Gale ....” gumam Ferdinand meneliti segalanya.


“!?” tiba-tiba sang lelaki berambut abu-abu keperakan itu tersentak dan mulai paham dengan keadaan yang sedang mereka alami sekarang.


“Erebos! Sedari tadi kita ternyata berada dalam pengaruh ilusi yang orang itu lancarkan,” ucap Ferdinand melalui telepati pada Erebos.


“Pantas rasanya aneh sejak awal. Ternyata kita sudah terjebak.” Jawab sang naga.


“Tolong ulur waktu dan urus dia dahulu. Aku akan melakukan sesuatu, untuk mematahkan ilusinya.” Imbuh Ferdinand sembari melirik


“Yaaa. Tak ada salahnya untuk melemaskan otot-otot kakuku.” jawab Erebos dengan senyum menyungging di bibirnya.


Sang naga kembali menyerang dan membuat sibuk lelaki tersebut, segala cara ia gunakan untuk menghalau serta memberikan serangan pada orang yang disebut vampire leluhur itu.


***


“Hai Peri kecil ... aku datang untuk bermain denganmu~” ucap wanita berambut violet dengan tawa gilanya, saat memasuki ruangan yang ia hancurkan pintunya.


Ella bersembunyi di pojokan yang gelap sembari memegang erat tongkat besi tersebut. Ia menahan nafasnya, mencoba untuk tak bersuara.


Ketika wanita itu memindai ruangan dari ujung kanan ke ujung kiri. Saat sampai di ujung kiri, Ella dengan cepat menyerangnya menggunakan tongkat besi. Berusaha untuk memukulkan senjata itu ke wanita di hadapannya.


Dengan santai, wanita tersebut menangkap dan menahan tongkat besi yang digunakan oleh Ella untuk menyerang.


“Oh! Peri kecil. Apa kau pikir tongkat besi seperti ini bisa menyakitiku?” ejeknya sembari tertawa cekikikan.


Wanita itu merebut dan melemparkan tongkat besi milik Ella ke sembarang arah. Dengan ketakutan, sang gadis kecil mundur hingga terhimpit oleh dinding di belakangnya. Sedangkan dari depan, wajah dengan senyum lebar mengerikan mendekatinya.


Aroma Kematian kental menyeruak dari dirinya. Ella nampak terpaku, ia panik. Namun tak tau harus bagaimana.


***


“Kita ke arah sana, Rios!” ucap Ares dengan nada yang terdengar sedikit khawatir, sembari menunjuk ke arah kanan.


“Hm!” jawab Rios mengikuti arahan pemuda bersurai hitam kebiruan tersebut.


Rios berlari di atas hutan, menghindari setiap makhluk kegelapan yang nampak seperti tidur di naungan bayangan pepohonan. Sang serigala agak terheran dengan kondisi hutan yang dihuni oleh beberapa makhluk yang seharusnya tidak berkelompok. Namun ia menepis keheranannya dan kembali fokus menuju tempat nonanya berada.


***


Nea menatap sepasang bola mata itu dengan tenang, mencoba untuk tidak takut ataupun panik. Ia berdiri tak bergeming, saat makhluk itu memutari sekeliling tubuh sang gadis. Seperti sedang melihat serta menilai manusia di hadapannya itu.


Ekspresi serius ia tampilkan di wajahnya, mengamati setiap inci tubuh Nea. Dan kemudian ia menyentuh bagian tengah dada sang gadis.


“Ah?!” teriak Nea yang jatuh ke belakang, karena ia tersandung ekor makhluk itu.


Nea yang bersiap merasakan sakit, malah merasa sesuatu yang dingin serta bersisik lembut menjadi penyelamatnya. Ternyata makhluk itu dengan cekatan memasang badannya untuk menghindarkan gadis itu dari benturan.


“Huh?!”


Sontak Nea menoleh dan menemukan dirinya menimpa tubuh makhluk yang bersisik itu. Walau dingin terasa di permukaan kulitnya, tapi Nea merasa aman. Seperti saat berada dalam ruang sihir kekasihnya.


“Allen ....” gumam Nea saat mengingat sang pemuda bermanik biru saphire.


Gumaman Nea mendapatkan respon dari makhluk itu. Ia langsung melingkari snag gadis, seolah memeluk dan menempelkan kepalanya di dada sang gadis. Nea terperanjat, namun ia kembali tenang dan pasrah. Mengingat dirinya dalam rengkuhan makhluk besar ini.


Saat Nea hendak mendorong kepala makhluk itu, ia merasakan bagian tengah dadanya menghangat serta sedikit bersinar. Dengan segera makhluk itu sedikit memundurkan tubuhnya dan melihat sang gadis membuka bagian depan bajunya, sampai tengah dadanya nampak.


“Huh?!”


Nea terkejut melihat mawar hitam mekar menghiasi bagian tengah dadanya, dengan sulur berduri yang tersambung ke punggung tangan kanannya. Dimana simbol kuncup mawar putihnya berada.


“Mawar hitam ini pasti Allen, dia terasa dekat. Apa dia sedang menuju kesini?” ucap Nea yang kemudian membuat makhluk itu seperti bahagia dan segera menaikkan sang gadis ke atas punggungnya.


Nea memeluk leher makhluk itu, karena ia tiba-tiba bergerak dengan cepat dan menuju ke arah cahaya. Dimana pintu keluar berada.


“Hah?! Ternyata selama ini aku salah arah,” celetuknya sambil sedikit tertawa.


“Eh?” Nea menatap ke depan dan melihat jurang, dengan ketakutan iapun berteriak.


“Aaaakkkhhhh!? Mau kemana kau? Apa kau mau menjatuhkan diri!?” teriak Nea dengan histeris.


Tanpa mempedulikan bentakan gadis yang berada di atas punggungnya, makhluk itu malah makin menambah kecepatan dan terus mengarah ke ujung tebing.


“Aaaaahhhhh?!”


...~ ☽ ☾ ~...


Hai~


>


Kalian kangen saya tak? 🤣


Kalau tak, juga tak apa sih. 😌


Biar saya saja yang kangen kalian. 🤧


Gimana liburan kalian? °^°


Yaaa. Semoga menyenangkan. 😌


Semangat ayo ssemangat.


Karena sudah harus kembali beraktivitas. (9>∆<)9


Gimana nasib Xita selanjutnya ya? o.o


Nantikan di chapter selanjutnya. 😋


Na: Kakak~


Cookies Na abis .... 😟


VR. : Baik sayang. Akan Kakak buatkan. Na mau bentuk apa?


Na : Na mau bentuk Naga. Rooaarrr. (^O^)/


VR. : Baik sayang. Na main sama Rios dulu ya. :3


*pergi ke dapur


Briallen : Like, Comment, vote dan share. Biar saya segera bertemu kembali dengan istri saya.


VR. : Istri konon. 🙄


Briallen : *tatap tajam VR.


Sialan. Xita dipertemukan dengan dia ....


Briallan : Mari kita biarkan Abang menggerutu sendirian dan silakan follow @rirymocha1 untuk mengetahui apa yang ia kerjakan.


All : Sampai jumpa di Chapter selanjutnya.


...VR. Stylo...