When The Night Come

When The Night Come
The Begins Chapter 2



Saat Nea mengamati sosok pemuda itu, dia langsung menoleh dan mata mereka saling bertemu. Pemuda itu langsung mendekati Nea dengan perlahan. Saat mendekat, rambut pemuda itu terlihat berwarna hitam keunguan.


“Xita, bagaimana keadaanmu sekarang?” Tanya sang pemuda sambil menggenggam tangan Nea.


“...!?” Nea menepis tangan sang pemuda kemudian duduk menjauh dari pemuda itu dan meringkuk ketakutan.


“Siapa kau? Pergi!” Ucap Nea yang tetap meringkuk.


“Ini aku Xita, aku Allen mu.” Ujar pemuda itu dengan nada pelan dan sedih.


“Tidak ... Kau adalah Ares. Kenapa bisa kau jadi Allen? Dan namaku bukan Xita, aku Nea.” Nea masih tetap pada posisinya.


“Baiklah, Nea. Akan aku ceritakan semuanya.”


Ares pun mulai bercerita tentang 2 Abad lalu.


Saat dia pertama kali bertemu dengan Nea yang waktu itu bernama Noxita de Devile Rosaceae.


Sedangkan ia adalah Briallen de Roosevelt Vangelis. Ia juga menceritakan bahwa mereka menjadi sepasang kekasih, serta akan menikah di beberapa tahun kemudian.


“Jika benar kau adalah orang jaman dahulu. Kenapa kau masih hidup? Dan kenapa juga kau masih muda?” Nea menatapnya dengan pandangan tidak percaya.


“Karena aku menjadi seorang Vampire, demi bisa tetap bersamamu.” Jelasnya dengan raut wajah sedih.


“Tidak. Semua ini tak nyata.” Nea menolak pernyataan Ares.


“Jika tidak nyata, kenapa waktu itu kau memanggilku ‘Allen'?” Tanya sang pemuda bersurai hitam keunguan itu.


“Aku ... Aku tak tau. Hanya nama itu yang terpikirkan saat aku ketakutan.” Ucap Nea.


Ares hanya menghela nafas dan beranjak dari tempatnya berada.


“Hum ... Baiklah. Istirahatlah Nea. Kamu lelah.” Ujar sang pemuda sambil keluar ruangan.


“Oh iya, tenang saja. Aku sudah memberitahu keluargamu. Kalau kau pingsan di kampus dan sekarang di rawat di RS Rozelle.” Imbuhnya sebelum sang pemuda benar-benar keluar dari ruangan.


18 Desember


Keesokan paginya, nampak kedua orang tua Nea beserta Adik-adiknya melihatnya dengan cemas. Nea hanya tersenyum, saat membuka mata dan melihat keluarganya di situ.


“Nea, kamu baik-baik saja sayang?” Tanya Ibunya dengan cemas.


“Kok bisa sayang? Jangan sampai lupa waktu, kalau mengerjakan sesuatu.” Ayahnya pun juga cemas.


“Kakak.” “Kakak.” “Kakak.” Ella, Ellard dan Liz juga hadir.


“Semoga lekas sembuh Kakak.” Ucap mereka serentak. Nea hanya bisa tersenyum melihat tingkah gemas mereka.


“Terima kasih Adik-adikku. Kakak sayang kalian.” Nea berkata sembari mengusap pipi adik-adiknya satu persatu.


“Aku nggak papa kok semuanya. Aku Cuma kecapekan karena banyak tugas.” Ujar Nea sambil nyengir. Mereka cuma bisa menggelengkan kepala.


Siang itu Nea pun keluar dari RS dan kembali ke rumah. Saat dia menuju ke mobil, ia merasakan angin memainkan rambutnya. Hingga rambut Nea menjadi tak tertata.


“Anginnya kencang ya.” Seru Nea.


“Hum?” Kedua orang tuanya serta Adik-adik Nea hanya heran, karena tak ada angin yang berhembus.


“Tak ada angin kok, Kak.” Ucap Liz yang bingung saat melihat rambut Kakaknya yang acak-acakan.


Nea langsung menggunakan Hoodie nya untuk menutupi rambutnya. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil. Nathaniel sudah siap untuk melajukan mobilnya. Dia menghadap ke belakang dan melihat anak-anaknya, kemudian bertanya.


“Sudah siap semuanya?” Tanyanya.


“Siap Ayah!” Seru mereka serempak.


“Okay. Jangan lupa pasang sabuk pengamannya.” Imbuh Sarah.


“Beres, Bu.” Jawab Nea yang sudah memasangkan sabuk pengaman Ellard, sedangkan Liz dibantu Ella untuk memasangkan sabuk pengamannya.


Mobil pun mulai melaju, memecah jalanan yang kosong. Hanya nampak beberapa orang yang berjalan di tepi. Nea terdiam, dia merenung dan memikirkan kejadian kemarin. Ia juga terbayang ucapan Ares padanya.


“Oh iya. Mobilku ketinggalan di kampus, Yah.” Ucap Nea saat teringat mobilnya.


“Tenang sayang. Kemarin ada seorang pemuda yang mengantarkan mobilmu ke rumah dan memberitahu kami, bahwa kamu pingsan saat usai kelas terakhir.” Jawab Sarah.


“Apa dia pacar Kakak?” Ella bertanya.


“Uhuk?!” Nea tersedak air saat dia ditanya Adiknya.


“Pacar Kakak tampan, deh.” Imbuhnya.


“Bu ... Bukan. Dia cuma teman sekelas Kakak.” Jawab Nea agak panik.


“Ah! Yang bener Kak?” Ella menggodanya lagi.


“Sudah, jangan digoda terus Kakaknya.” Sahut Sarah.


Ella hanya tertawa cekikikan sedangkan Nea, dia kembali terdiam dan memikirkan yang sudah terjadi selama ini. Hingga sampai di rumah. Mereka segera turun.


“Ibu Ayah, aku istirahat dulu ya. Aku masih merasa lelah.” Nea langsung menuju ke kamarnya.


“Istirahatlah sayang.” Ucap Sarah yang kemudian tersenyum.


Sesampainya di kamar, Nea langsung merebahkan tubuhnya. Dia termenung sambil memandang langit-langit kamarnya. Sebuah bayangan terlintas kembali.


Langit biru yang indah, aroma rumput dan bunga segar. Angin sepoi-sepoi yang membuat ngantuk. Burung-burung berkicauan, Kupu-kupu terbang kesana kemari. Terdengar suara gelak tawa anak-anak kecil. Nea merasakan itu semua.


“Xita, duduklah. Kita makan kue yang kau bawa dulu, ya.” Ucap lembut suara pemuda.


Dilihatnya pemuda itu, wajahnya yang rupawan. Membuatnya terlihat seperti sosok dalam lukisan.


“Iya, Allen.” Jawab sang gadis. Nea merasa mulutnya ikut berucap.


Nea kembali ke kenyataan, nampak bingung dan masih belum percaya. Ia bangun kemudian menuju ke cermin. Dipandanginya wajah yang nampak di cermin bukan dirinya. Nea memegang pipinya sendiri, begitupun dengan bayangan di cermin.


Paras yang cantik, rambut hitam keunguan yang panjang. Mata berwarna merah berbinar layaknya langit dihiasi bintang. Kulit putih pucat, bibir merah merona. Sosok di cermin tersenyum pada Nea, namun ia tidak takut.


“Perkenalkan. Aku Noxita de Devile Rosaceae.”


Ucap sosok itu. Nea mendengar suaranya di dalam pikirannya. Suara lembut nan anggun, seperti suara gadis yang ada di mimpi-mimpinya selama ini.


“Ah? Jangan takut, aku memakai sihir telepati. Agar bisa bicara denganmu. Dengan diriku di masa depan.” Imbuhnya lagi.


“Aku yang kau maksud?” Nea bertanya dengan bingung.


“Iya. Tentu saja kamu, Nea Rozenweits. Kamu adalah aku. Kita adalah satu. Aku yang di jaman itu sudah tiada dan menjadi kamu di jaman ini.” Ucap Noxita.


“Apa semua ini nyata? Apa bukan karena aku gila saja?” Nea mulai membantah ucapan sosok di cermin.


“Tentu tidak, apa kau sudah lupa? Saat dirimu berada di Aelius?” Noxita bertanya.


Seketika itu Nea mengingat perasaan familiar terhadap tempat itu. Rasa rindu, senang, sedih, dan juga amarah.


“Kau mengingatnya ternyata. Baiklah, akan kuberikan semua ingatanku padamu. Karena kita itu sama. Namun pada saat yang bersamaan, kita juga berbeda.”Noxita melambaikan tangannya ke arah Nea.


Seketika itu juga, Nea merasa kepalanya sangat sakit. Banyak kenangan yang masuk secara bersamaan. Hingga ia berteriak karena tak kuat menahannya.


“AAAAAHHHH!!? Nea berteriak, kedua orang tuanya langsung masuk ke kamar Nea dan mendapati Anaknya tidak sadarkan diri di lantai.


Saat Nea terlelap dalam tidur, muncul gambar kuncup mawar di punggung tangan kanannya. Dan terlihat kelap-kelip mengelilinginya. Malam itu, Nea tidur nyenyak. Tanpa gangguan apapun.


Di tempat lain ....


Ares yang mengernyitkan keningnya mendengar laporan Vartan. Ada rasa tak puas, tergambar di wajahnya.


“Yang benar saja, Allan?!” Ares membentak karena tak puas dengan hasil penyelidikan Vartan.


“Iya Bang, Aku cuma bisa dapat informasi segini.” Vartan merasa dirinya menciut saat Ares membentak.


“Masalahnya itu Hellhound lho. Bukan sembarang anjing biasa. Tapi anjing yang menjaga neraka. Mereka buas dan tak bisa dijinakkan. Penguasa neraka saja mengabaikan mereka. Dan pertanyaannya juga, kenapa dia menyerang Noxita?” Ares hanya memijat keningnya.


“Oke Bang, aku akan menyelidikinya lagi. Akan kutemukan dalangnya.” Ucap Vartan sambil pergi keluar.


“Begitulah Bang Allen, jika ada yang mengganggu kekasihnya. Sejak dulu sih.” Batin Vartan alias Allan.


Pemuda tersebut langsung berubah menjadi kabut hitam dan menghilang entah kemana.


19 Desember


Keesokan paginya ....


Nea merasa dirinya aneh, ia melihat banyak makhluk kecil berterbangan di sekelilingnya. Nea tak tau makhluk apa itu, dia hanya bisa membiarkan mereka. Tapi Nea akan tetap waspada.


Ada satu makhluk mungil berwarna putih, yang mengeluarkan angin dan membuat kertas-kertas yang ada di mejanya berterbangan. Nea hanya bisa menatap itu semua. Dengan kesal, ia mulai memunguti kertasnya.


Ada juga makhluk mungil berwarna biru transparan. Dia muncul dari gelas minum milik Nea. Saat ia mengelilingi Nea, Nea merasakan dingin dan basah.


“Air?” Tanya Nea.


Satu lagi makhluk mungil berwarna jingga. Makhluk itu membuat Nea merasa hangat. Tapi saat Nea ingin menyentuhnya, Nea merasa tangannya terbakar.


“Auch? Panas.” Nea segera berdiri menuju wastafel untuk mendinginkan jarinya. Si makhluk mungil biru pun membantu Nea dengan mendinginkan air dari kran. Nea tersenyum melihatnya.


Ada lagi makhluk mungil berwarna coklat. Warnanya mengingatkan Nea pada warna tanah. Dan yang terakhir, makhluk mungil berwarna hijau. Dia membawa setangkai mawar putih untuk Nea.


“Terima kasih.” Ucap Nea saat menerima bunga tersebut.


“Jadi, kalian ini apa? Kenapa ada disini?” Mereka terlihat berpikir.


“Apa kalian ini peri?” Imbuh Nea. Dan mereka menganggukkan kepalanya serempak. Nea tersenyum melihat mereka.


Saat Nea melihat jam di mejanya. Nea langsung bergegas, karena sudah jam 6.30. Dia dengan cepat merapikan tempat tidur dan dirinya. Dan segera turun untuk sarapan.


“Pagi sayang, kok sudah bangun?” Sapa Sarah saat melihat putrinya muncul.


“Pagi Ibu, Ayah. Aku sudah baik-baik saja kok.” Jawabnya sambil tersenyum.


“Baiklah, jangan memaksakan diri lho sayang. Kalau nggak kuat pulang saja.” Ucap Sarah dengan cemas.


“Atau izin saja dari sekarang, Nea.” Celetuk Nathan.


“Aku sudah baik-baik saja Ibu, Ayah.” Jawabnya.


“Aku berangkat dulu ya Ibu, Ayah.” Nea bergegas berangkat setelah mencium pipi Ibu dan Ayahnya.


Sesampainya di kampus, Nea langsung mencari


Ares. Namun ia tak nampak dimanapun. Banyak hal yang ingin Nea katakan. Tapi semua itu harus menunggu. Ia melihat sapu tangan Ares yang masih belum ia kembalikan.


“Aku ingat. Ini adalah hadiah dariku. Tapi, kenapa masih bagus seperti dulu. Kecuali mawar merah yang hilang sih.” Gumam sang gadis.


Pelajaran dimulai, Nea fokus mengikuti pelajaran. Saat materi telah selesai, Nea pergi ke perpustakaan. Ia mau mengerjakan tugasnya.


Nea yang mengerjakan tugas dengan serius, tak sadar jika hari menjelang malam. Iapun sampai diingatkan oleh penjaga perpustakaan.


“Nea, ini sudah jam 9 malam. Kami mau tutup.” Ujarnya setelah menepuk pundak Nea.


“Ah?! Aku lupa waktu lagi.” Nea bergegas membereskan peralatan dan mengembalikan buku yang ia pakai.


Nea segera ke tempat parkir. Dia melihat ada seseorang di dekat mobilnya. Orang itu membawa 3 ekor anjing. Orang itupun menghilang, dan saat dilihat dengan seksama. Anjing-anjing itu menjadi besar. Tingginya setinggi rumah 1 lantai. Dan mereka sebesar mobil Van.


“Ah!? Apa itu?” Nea mulai ketakutan. Diapun berlari menjauh dari situ. Namun ketiga anjing tersebut mengejarnya.


Ketika anjing-anjing itu berlari, tanah disekitarnya berguncang dan meninggalkan bekas. Para peri mungil datang dan membantu Nea. Namun, mereka bukan tandingan untuk anjing-anjing tersebut. Nea hanya bisa melihat satu persatu peri yang membantunya menghilang.


Nea sekarang terpojok, dia sudah dikepung oleh anjing-anjing yang menggeram ke arahnya. Nea menangis, diapun berteriak minta tolong.


“Allen tolong aku!!!” Nea menutup matanya saat angin berhembus kencang dan kabut hitam muncul dihadapannya.


“Xi ... Nea kau tak apa?” Pemuda bersurai silver itu bertanya pada Nea.


“Aku tak apa. Tapi aku takut, Allen ... “ Terdengar suara Nea yang bergetar. Pemuda itu mencium aroma darah. Saat dilihatnya sumber aroma tersebut. Terlihat pipi Nea yang tergores.


Pemuda tersebut seketika murka dan mulai menyerang anjing-anjing itu dengan membabi buta. Allen menghajar anjing yang di kiri dan mengarahkan anjing itu ke kanan. Hingga mereka saling bertabrakan. Seketika itu juga, mereka lenyap.


Pemuda itu dengan segera menghampiri Nea yang terduduk karena lututnya lemas. Dia langsung melepas jasnya dan menyelimutkan jas itu ke pundak Nea.


“Allen, kau datang.” Ucap Nea yang suaranya masih bergetar.


“Xita?” Allen menatap wajah Nea.


“Iya Allen. Ini aku Xita mu. Aku sudah ingat tentang memory kala itu.” Nea tersenyum memandang manik abu-abu Allen. Allen membeku saat mendengarnya.


“Sejauh mana kamu ingat?” Tanya Allen.


“Sampai saat kita akan menikah. Walau aku belum bisa mengingat banyak kenangan.” Tiba-tiba ekspresi Nea berubah sedih.


“Tak apa sayang. Aku akan membantumu untuk mendapatkan semua kenangan itu.” Jawab Allen yang kemudian menjilat pipi Nea yang berdarah.


Seketika itu pula Allen jadi lupa diri, karena ia telah lama tidak minum darah. Allen langsung menancapkan taringnya di leher Nea. Ia tersentak, saat merasakan bibir dingin Allen di lehernya. Nea mulai merasakan darahnya mengalir ketika dihisap. Nea mulai merasa lemas.


“Al ... len ...” Suara lemah Nea membuat Allen kembali ke kenyataan.


“Maafkan aku Nea.” Ucapnya merasa bersalah.


Nea hanya tersenyum, kemudian tak sadarkan diri lagi. Allen tanpa pikir panjang, langsung menggendong Nea dan membawanya ke RS lagi.


Di Tempat Lain ....


Di sebuah istana yang gelap tak ada cahaya. Nampak pohon-pohon mati di sekelilingnya. Udara yang beracun, tiada makhluk hidup yang bisa tinggal di sana.


Dalam istana di sebuah ruangan yang luas, terlihat sesosok wanita yang duduk di singgasana dengan angkuhnya. Ia memelototi laki-laki yang ada di hadapannya itu.


“Maaf Yang Mulia. Hamba gagal lagi untuk memusnahkan benih itu.” Ucap laki-laki tersebut.


“Hm ...” Seketika lelaki tersebut lenyap tak berbekas.


“Cepat hancurkan benih itu, atau kalian yang akan hancur!” Wanita itu segera memerintahkan mereka untuk pergi.


“Siap laksanakan Yang Mulia.” Mereka tunduk dan patuh pada wanita tersebut.


“Takkan kubiarkan kau mekar dengan indah. Hahaha...” Wanita itu kemudian tertawa jahat. Tawanya menggema di ruangan tempatnya berada.


~♪~