When The Night Come

When The Night Come
Panas



Hawa dingin yang terasa menusuk ke dalam pori-pori kulit, sama sekali tidak Nea rasakan. Ia hanya merasa aman dalam temperatur yang minus sekian itu. Nea berjalan perlahan mendekati Ares yang sedang berdiri dengan salju yang turun perlahan di sekelilingnya.


Sang pemuda menatap lembut Nea dengan sepasang manik biru yang berkilau bagai permata. Dada bidang Ares terpampang jelas, begitu juga dengan perutnya yang sixpack. Bajunya yang sobek, belum sempat diganti oleh sang gadis.


“Allen ....” Nea yang sudah sampai di hadapan Ares, seperti tak percaya. Jika sang kekasih telah sadar kembali.


“Xita.”


Rungunya mendengar suara lembut yang sempat ia rindukan, ketika si pemilik dinyatakan tak sadarkan diri. Hingga bisa dibilang koma.


Nea yang merasa lega karena Ares sudah siuman, seketika limbung. Karena kakinya mendadak lemas dan tak mampu untuk menopang tubuhnya. Dengan segera Ares menangkap Nea yang hampir jatuh, kemudian menggendongnya.


“Kau baik-baik saja Ratuku?” tanya Ares pada Nea, sang gadis merasakan pipinya yang memanas.


“A–aku baik-baik saja sayang,” Nea yang tersipu malu hingga terbata-bata, karena hatinya yang terasa campur aduk. Sebulir air bening nan hangat mengalir di pipinya.


Ia yang khawatir serta cemas dengan keadaan sang pemuda. Ia yang ketakutan saat dirinya hampir dibawa oleh penyusup itu, hingga bayangan kematian menerpa ingatannya. Bahagia karena kekasih yang bangun kembali dan menyelamatkannya.


“Jangan menangis Xita. Aku di sini, aku sudah kembali padamu,” ucap Ares dengan lembut sembari mengusap air mata Nea.


Sang gadis menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum lembut. Menatap wajah Ares dengan ekspresi bahagia.


“Aku hanya merasa bahagia sayang. Karena kita tak perlu terpisah lagi.”


Bulir-bulir air mata makin deras mengalir dan terdengar suara isakan dari bibir mungil sang gadis. Ares memeluk erat kekasihnya dan mencoba untuk menenangkannya.


“Sshht ... sudah sayang. Tenanglah, semua akan baik-baik saja.”


“Habislah kalian! Siapa suruh bermain, hingga membangunkan Raja yang sedang tertidur?!” celetuk seorang pemuda yang baru tiba di ruangan Ares.


Sang pemuda bersurai hitam keunguan itu baru sadar, jika Mansion-nya sudah porak-poranda. Dengan cepat matanya menatap tajam adiknya itu, sebuah aura membunuh memancar dari tatapan manik biru saphire tersebut.


“A–h ...?” Vartan langsung memalingkan pandangannya dan berkata.


“Kakak ipar! Aku mau menyusul dan menyelamatkan Lily dulu ya. Tolong tenangkan Raja es,” ucap Vartan yang kemudian menghilang dengan cepat.


“Eh? Apa? Lily kenapa?!” pertanyaan Nea tak terjawab, karena pemuda itu sudah lenyap.


“Tenangkan aku Xita, sebelum aku meledak dan kehilangan kendali atas diriku.” gumam Ares dengan nafas berat, Nea terkesiap.


“Allen kenapa?!” tanya Nea dengan panik.


Dipegangnya kening Ares yang sangat panas, dengan segera ia menuntun Ares ke tempat tidur kembali. Dibaringkannya tubuh Ares perlahan, dan diselimuti. Saat Nea hendak pergi mengambil handuk dan air dingin, tiba-tiba tangannya ditarik. Hingga ia jatuh terduduk ke dalam pelukan Ares.


“Allen?!” Nea tersentak akibat kaget dengan serangan mendadak itu.


Ares yang tadi dibaringkan, ternyata telah duduk dan menarik tangan Nea. Didekapnya sang gadis yang sedang bersungut-sungut karena masih kaget.


“Xita ... jangan tinggalkan aku lagi, aku tak mau kehilanganmu untuk kedua kalinya.”


Ares membenamkan wajahnya di pundak kanan Nea. Sang gadis terdiam, ia merasakan nyeri pada hatinya. Ketika mendengar ucapan pemuda tersebut.


“Akupun tak mau kita terpisah lagi sayang. Aku tak mau Allen menderita lagi.” ucap Nea dengan lirih, dia diam merasakan hembusan nafas sang pemuda menyapu kulitnya. Menembus baju hangat yang ia kenakan.


Hembusan nafas panas Ares terasa menggelitik hasrat terpendam Nea. Hingga ia merasakan suatu gejolak dalam dirinya. Sang gadis memutar tubuhnya.


“Al–llen ....” panggilan Nea membuat Ares menengadahkan kepalanya dan menatap wajah sang gadis yang terlihat memerah dengan nafas yang memburu, Ares tersenyum tipis dan berkata.


“Bantulah aku untuk membuat aliran kekuatan sihirku lancar sayang.” manik biru saphire bertemu dengan manik merah muda jernih, nampak tatapan penuh hasrat terpancar dari sorot mata sang gadis.


Ares memegang rambut Nea yang menghalangi pandangannya dan menyelipkannya di daun telinga sang gadis. Nea terlihat sangat ingin menyantap hidangan lezat di hadapannya. Namun ia teringat akan adiknya yang dirinya tak tau bagaimana ceritanya.


“Ta–tapi bagaimana dengan Lily?” tanya Nea dengan bingung dan berupaya untuk menyembunyikan hasratnya.


“Tenang saja sayang. Ferdinand dan Vartan pasti akan menemukan serta menyelamatkan Lily.” ucap Ares sembari memegang dagu Nea.


Sang gadis merasakan sentuhan panas di dagunya, iapun mulai khawatir akan keadaan kekasihnya itu. Namun sang pemuda malah menarik wajah sang gadis dan mulai mencium bibir Nea dengan lembut.


“?!” ciuman yang terasa panas itu membuat Nea tersentak.


Badan Ares yang sedang demam tinggi, membuat segala yang ia sentuh terasa panas. Nea merasakan gejolaknya makin tak tertahankan. Sang gadis akhirnya mengulum bibir tipis yang nikmat itu.


Dipegangnya dada bidang Ares, Nea pun melepaskan bibir yang sudah nampak basah itu. Iapun beralih untuk mengecup leher pemuda itu, hingga sang pemuda hanya memejamkan mata menikmati setiap apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu.


Menyusuri leher Ares sampai ke bawah, Nea tiba di dada bidangnya. Ia mulai menjilati bagian depan tubuh sang pemuda itu, erangan lirih terdengar dari Ares yang menahan suaranya. Ketika sang gadis menggigit perlahan puncak dada kekasihnya itu.


“Xi–taa ....” eluh sang pemuda yang merasa badannya semakin panas.


Diciumnya bagian tengah dada pemuda bersurai hitam keunguan itu, Ares merasakan jantungnya sakit seperti diremas. Nea yang juga merasakan nyeri pada jantungnya, menggigit bagian tengah dada Ares. Hingga berdarah.


Ares merasakan suatu seperti menggelitik di sekujur tubuhnya, diliriknya Nea yang mengecup bagian tengah dadanya itu. Sang gadis pun menatap wajahnya, sepasang manik merah ruby nampak melihat netra biru saphire dengan lekat.


Ares terkesiap, iapun tak bisa mengendalikan dirinya. Hingga matanya berubah menjadi abu-abu. Nea menyunggingkan senyuman tipis, sebuah taring terlihat mencuat sedikit saat ia tersenyum. Dirabanya tubuh bagian bawah pemuda itu, tapi kemudian ia berhenti.


Nea kemudian turun dari pangkuan Ares dan duduk di tepi tempat tidur. Ia mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu. Ares yang duduk terpaku, saat hasratnya meninggi dan malah dihentikan. Merasa mendapat rangsangan baru.


Sang pemuda menelan ludahnya dengan kasar, melihat kekasihnya tanpa sehelai benang dan bermandikan keringat. Nampak jelas terlihat, jika Nea juga kepanasan.


Ares melihat kulit putih Nea berhiaskan ranting berduri, yang berpusat di punggung tangan kanan sang gadis. Nampak kuncup mawar itu masih setengah terbuka.


Pemuda tersebut merasa tubuhnya seperti dikendalikan, ia berbaring dan sang gadis mulai merangkak di atas tubuhnya. Dada mereka saling bersentuhan, wajah Nea mendekat pada wajah Ares. Kembali diciumnya bibir sang pemuda dengan dalam.


“?!” Ares tersentak saat Nea menggigit bibirnya dan menghisap darah yang keluar.


Ares merasakan tangan lembut Nea menyentuh sesuatu yang sedari tadi mendesak ingin keluar, sentuhan lembut Nea membuat pemuda tersebut tak kuasa lagi untuk menahan hasratnya. Dipeluknya dengan erat tubuh Nea, hingga mereka bertukar posisi.


“Allen ....” ucap Nea dengan suara yang menggoda Ares.


Ares yang kini merasa sudah bisa menguasai kendali tubuhnya, dengan rakus menyusuri tiap lekuk tubuh Nea. Suara sang gadis membuatnya makin lupa diri.


Ia melepaskan celana miliknya, hingga terpampang jelas di manik merah ruby itu, milik Ares yang sudah siap.


Ditatapnya wajah sang gadis yang menatapnya dengan tatapan sayu, dikecupnya pipi Nea. Dengan perlahan, mereka melakukan penyatuan dan bersatu. Tanpa mereka sadari, muncul sesuatu di tengah dada mereka.


***


Vartan yang bingung mau kemana, akhirnya berteleportasi sembari memikirkan Ella. Pemuda berambut hitam kebiruan itu mendarat di tempat yang dikelilingi oleh pepohonan.


“Kau berniat kemana, Bocah?” tegur Erebos yang menatapnya aneh.


“Ke tempat Lily, walau ku tak tau dimana tepatnya,” gerutu Vartan yang seperti menemui jalan buntu.


“....” Erebos tidak bisa berkata apa-apa.


Diedarkan pandangannya ke sekeliling, tiba-tiba ekor matanya menangkap sesuatu di ranting pohon.


...~ ☽ ☾ ~...


Hai hai hai. °^°/


Apa kalian rindu VR? o.o


Sepertinya tidak. 🤧


Maaf karena menghilang. 😭


Here we go


Allen Xita. Kalian ngapain? 👀


Briallen : *datar


Noxita : *menyembunyikan wajah karena malu


VR. : Dasar anak muda 😌


Ferdinand : Mereka hanya sedang menetralkan gejolak kekuatan sihir yang tidak beraturan dalam diri Allen. 🙄


VR. : Hooo


Lanjutkan, Nak. 🤧


Na : *ngintip


VR. : *gendong Na dan bawa pergi


Lauryn : Sampai jumpa di chapter selanjutnya. Jangan lupa like, comment, vote dan share. Biar dia semangat ngetik


*lirik tajam VR.


VR. : *kaburr


...VR. Stylo


...