When The Night Come

When The Night Come
Si Kembar



Hm ....


Apa tidak ada yang mencari keberadaan si Kembar? Mari kita tengok keberadaan mereka.


***


“Kita akan bermain di taman hiburan lho, Ellard!”


“Iya. Aku sudah tidak sabar.”


Sepasang anak kembar, Ellard dan Liz sedang kegirangan dan merasa sangat antusias akan acara yang akan mereka lakukan bersama kedua kakak perempuannya.


“Kita pakai baju apa ya?”


“Enaknya apa ya?”


Mereka berdua mondar-mandir dan membuat berantakan isi lemari. Hingga sebuah suara sedikit mengagetkan mereka.


“Apa ada yang bisa Kakak bantu?” Nea berdiri di depan pintu yang terbuka dan melihat kekacauan yang telah dibuat oleh si kembar.


“Kakak!” seru mereka bersamaan ketika melihat kakaknya masuk ke dalam kamar.


Nea pun membantu Ellard dan Liz untuk memilih baju yang akan dipakai. Ia mencari di tumpukan baju dalam lemari, serta di tumpukan yang berantakan itu. Hingga ia bertemu dengan apa yang dirinya cari.


“Ini untuk Ellard.”


“Dan yang ini untuk Liz,” ucap Nea sembari memberikan baju yang ia temukan pada adik-adiknya.


“Terima kasih banyak Kakak!” seru mereka bersamaan setelah menerima baju yang dipilihkan oleh Nea.


“Sama-sama sayang. Sudah. Segera ganti! Kak Ares sebentar lagi datang lho,” ucap Nea yang kemudian keluar dari kamar si Kembar.


“Kakak kita memang seperti Pahlawan!” seru Ellard yang kemudian mendapat cubitan kecil di punggung tangannya.


“Bukan 'seperti', tapi memang Pahlawan!” ucap pelaku pencubitan membenarkan.


“Iya iya. Ampun Liz,” ujar Ellard memohon pengampunan.


“Hum!” seru Liz yang beranjak untuk ganti baju.


***


Ellard dan Liz yang sudah berganti baju serta siap, segera keluar dan menuju ruang tamu. Mereka duduk di sofa, menunggu jemputan datang. Saat mereka sedang menunggu, Sarah memberitahu mereka beberapa hal yang harus dipatuhi.


“Ingat ya sayang. Tidak boleh nakal, apalagi sampai merepotkan. Jika ingin ke toilet, harus ijin Kakak terlebih dahulu. Jangan jalan sendirian, nanti ketemu orang jahat. Gimana? Pokoknya kalian jangan jauh-jauh dari Kakak-kakak kalian ya.”


Sarah memberikan himbauan pada si kembar. Mereka mendengarkan dan mengangguk secara bersamaan. Terdengar suara bel pintu berbunyi.


Sang Ibu segera beranjak dan melihat siapa yang datang.


“Oh? Nak Ares akhirnya datang. Masuk dulu Nak,” ujar Sarah ketika melihat pemuda yang ditunggu telah datang.


“Siang Ma'am. Apa Nea dan adik-adiknya sudah siap?” tanya Ares dengan sopan.


“Mereka sudah menunggu dari tadi dengan tak sabar.” Ucap Sarah melirik ke arah si kembar. Namun yang ditangkap oleh Ares adalah Nea yang salah tingkah. Sang pemuda hanya tersenyum kecil.


“Baik Ma’am. Kami langsung saja berangkat, supaya sampai di sana tepat waktu,” ucap Ares yang kemudian mendapat anggukan lembut dari Sarah.


“Oke. Ibu panggilkan mereka dulu ya,” ujar Sarah yang kemudian berlalu masuk dan tak lama Nea beserta adik-adiknya muncul.


“Oh iya Ma’am, Nea dan adik-adiknya akan saya ajak untuk menginap di kediaman saya, untuk ganti beberapa hari. Bolehkah?” tanya Ares dengan sopan.


Sarah sedikit terkesiap, namun segera tenang dan memberikan ijin.


“Baiklah. Tolong jaga anak-anak Ibu ya, Nak Ares.”


Ares yang bagai mendapat lampu hijau, dengan tegap berdiri dan berkata.


“Dengan segenap jiwa dan raga. Mereka akan saya jaga,” ucap Ares dengan penuh percaya diri. Si kembar tertawa karena geli.


***


“Kau lihat itu Ellard?” tanya Liz yang menatap kakak kembarnya.


“Hum hum!” seru Ellard mengangguk.


“Ada serigala besar di dalam mobil,” ucap mereka berdua bersamaan.


Ellard dan Liz memandang Rios dengan mata berbinar-binar, sang serigala hanya menatap mereka dengan bingung.


“Nea duduk di depan denganku dan kalian, adik-adiknya duduk di kursi tengah. Abaikan saja yang di belakang!” perintah Ares saat membagi tempat duduk.


“Lihatlah Liz! Kak Ella menekuk wajahnya. Sepertinya ia tidak suka dengan tatapan Ayam yang di belakang,” Ellard memberitahu Liz yang kemudian mereka berdua melihat kakaknya lalu ke belakang.


“Kau benar Ell. Liburan ini sepertinya akan seru!” jawab Liz dengan senyuman melengkung di wajahnya.


Merekapun menikmati perjalanan sembari melihat pemandangan yang tersaji di luar jendela, hingga mereka mengantuk.


Mereka membuka matanya, nampak jelas di hadapan mereka. Hamparan rumput nan hijau dengan beberapa bunga yang bermekaran. Ellard memandang ke sekeliling hingga matanya sampai pada Liz.


“Liz?!” ucap Ellard terkejut.


“Hah?! Apa?” tanya Liz dengan bingung.


Ellard tetap memandang Liz, sembari menunjuk ke arah atas kepalanya sendiri. Liz pun terkejut dan berseru.


“Ellard! Telinga apa yang tumbuh di atas kepalamu?” tanya Liz bingung.


“Eh? Aku? Liz tuh yang bertelinga.” jawab Ellard bersungut-sungut.


“Tapi aku melihat kamu tumbuh telinga.” Sangkal Liz lagi.


Merekapun memegang kepala mereka masing-masing. Ellard merasakan sepasang benda setengah lingkaran yang lembut ada di atas kepalanya. Sedangkan Liz, ia memegang sesuatu yang panjang dan lembut. Terasa hangat serta berbulu.


“?!” mereka berdua terkesiap dan seketika berlari menuju ke danau dan segera melihat pantulan permukaan air yang jernih tersebut. Sepasang telinga koala berada di atas kepala Ellard, sedangkan untuk Liz. Ia memiliki sepasang telinga kelinci.


“Kita memiliki telinga binatang.” ucap mereka dengan antusias, seraya saling berpandangan.


Ketika mereka sedang gembira karena memiliki telinga binatang. Hingga mereka tidak menyadari adanya bayangan gelap yang menutupi badan mereka berdua, saat mereka sadar bayangan besar itu mengangkat tangan kanannya dan menyerang si kembar.


“Ah?!” teriak mereka berdua sembari meringkuk dan memegangi kepalanya.


Namun ketika bayangan itu hendak menyerang si kembar, sekelebat bayangan nampak melompat dan menendang bayangan yang akan menyerang mereka.


“Gah!?” terdengar suara lelaki yang berat sedang kesakitan.


“Kau berani menyerang adik-adikku!?” suara perempuan itu lantang dan berani.


Si kembar pun membuka matanya dan melihat kakaknya Nea telah menaklukkan seorang beruang. Ellard dan Liz dengan cepat berlari mendekati Nea.


“Kakak ....” ucap mereka yang kemudian merangkul kaki Nea.


“Tenang sayang. Kalian sudah aman sekarang,” ucap Nea menenangkan adik-adiknya sembari mengusap kepala mereka satu persatu.


“Ampun Nea. Aku hanya mau bermain bersama mereka berdua.” Ucap beruang itu.


Si kembar melihat seorang lelaki berambut hitam dengan sepasang telinga beruang di atas kepalanya.


“Huh?!” Nea menatap tajam ke arah si beruang.


“Kan bisa mengajak mereka dengan tenang.


Bukan malah menakuti mereka. Haduuuh,” ujar Nea sedikit frustasi.


“Bermainlah lebih tenang dan lembut sama mereka berdua.” Lirikan tajam Nea membuat Ares bergidik.


“Maaf Nea ... aku akan bermain bersama mereka secara lembut kok.” Ujar Ares dengan sedih.


“Ellard, Liz. Apa kalian mau bermain bersama Ares?” tanya Nea sembari menatap kedua adiknya itu.


“Kami mau kok Kak,” jawab Liz yang diikuti oleh anggukan kepala dari Ellard.


“Baiklah. Tuh, mereka mau.”


Nea pun membantu Ares untuk berdiri, diulurkannya tangan Nea pada Ares. Sang lelaki meraihnya dan segera berdiri. Merekapun mulai bermain bersama.


Ketika mereka sedang asyik bermain bersama, tiba-tiba terdengar teriakan dan tangisan.


“Abaaaanggg ....” teriak pemuda yang memiliki jengger di atas kepalanya. SiSi kembar melongo, kemudian menahan tawanya.


“Abang jahat. Aku ditinggal ....” rengek si ayam.


Ares hanya memandang sekilas ayam dan kembali bermain bersama Ellard dan Liz. Nea mendekati ayam dan menepuk-nepuk pundaknya.


“Sabar ya Vartan,” ucap Nea, Vartan mengangguk.


“?!” Nea terkesiap ketika dirinya terangkat ke atas. AresAres mengangkat Nea.


“Ares ... turunkan aku!” ucap Nea dengan wajah yang memerah.


Ares sama sekali tak mendengarkan dan membawanya ke bawah pohon yang rindang.


Diturunkannya si gadis dan disuruhnya untuk duduk saja.


“Nea di sini saja, biar aku yang bermain dengan mereka.” Ucap Ares dengan datar.


“Um ... baiklah Ares,” jawabnya sembari memegang salah satu telinga kelincinya.


Ellard dan Liz hanya menyaksikan wajah kakaknya yang merah padam. Hingga semak-semak yang ada di dekat pohon tempat Nea berteduh bergemerisik. Muncul sepasang telinga panda dari semak-semak.


“Kakak ....” ucap panda tersebut setelah keluar dari semak-semak dan menghampiri Nea.


“Ella, lihatlah dirimu. Penuh dengan daun dan goresan di sana sini. Kakak kan sudah bilang, jangan suka masuk semak-semak!” ujar Nea sembari membersihkan adiknya dari dedaunan yang menempel.


“Ehehe ....” Ella hanya tertawa kecil.


“Aaaahhhh!?” suara teriakan terdengar menggema dari dalam hutan.


“!?” Nea, Ares, dan adik-adiknya terkesiap.


“Ella, Ellard, Liz. Kalian pulang dulu ya. Kakak dan Ares mau mengecek apa yang terjadi.” ucap Nea dengan lembut. Namun ekspresi khawatir yang ia dapat pada wajah adik-adiknya.


“Tenang ya sayang. Kakak akan baik-baik saja kok, karena Kakak bersama Ares.” Nea tersenyum supaya adik-adiknya tidak khawatir lagi.


“Janji ya Kak. Kalau Kakak akan kembali dengan selamat,” Ella berkata dengan nada khawatir.


“Iya sayang,” Nea tersenyum sembari mengangguk.


Ella, Ellard, Liz dan Vartan kembali pulang ke rumah mereka. Nea dan Ares berjalan menuju ke arah teriakan tersebut datang. Mereka memasuki hutan dan mulai menyusurinya. Dengan waspada, Ares dan Nea mengamati sekitar.


Hutan yang biasanya ramai dengan suara-suara binatang yang menghuninya, tiba-tiba sunyi. Seperti tak berpenghuni, atau ada sesuatu yang berbahaya. Hingga membuat mereka takut untuk menunjukkan tempat persembunyiannya.


Telinga kelinci Nea bergerak, seolah menangkap suatu suara. Iapun fokus untuk mengetahui arah asal suara tersebut. Saat sudah ketemu asalnya, sang gadis menatap ke arah itu.


“Ares ... di sana!” panggil Nea dengan berbisik.


Ares mengangguk dan menatap arah yang Nea tunjuk. Iapun segera berjalan perlahan dengan diikuti oleh sang gadis dari belakang.


Setibanya di tempat yang Nea tunjuk, mereka berhenti dan melongok ke balik pohon. Untuk melihat ada apa di situ.


“?!” mereka berdua terkejut, ketika melihat seorang pria dengan beberapa sisik ular di pipinya sedang mencekik seorang laki-laki bertelinga serigala.


“Kak Dinand, hentikan!” seru Nea yang langsung meloncat, mencoba menghentikan apa yang sedang Ferdinand lakukan.


“Kenapa harus Nea?” tanya Ferdinand dengan dingin.


“Serigala itu temanku, Kak. Dia kemari pasti mencari ku.” Jelas Nea saat Ferdinand menatapnya, kemudian melirik sang serigala yang sedang berada di genggamannya itu.


“Baiklah Nea,” ucap Ferdinand yang kemudian melepaskan genggamannya.


Lelaki serigala itu langsung terbatuk-batuk dan mengatur nafasnya. Setelah stabil, ia menatap Nea dan berkata.


“Terima kasih banyak sudah menolongku Nona! Mulai sekarang aku akan mengabdikan diriku padamu.” ucapnya dengan penuh antusias.


Namun Ares yang menyaksikan hal tersebut, segera menarik Nea dan memeluknya. Menatap tajam serigala itu hingga muncul bayangan beruang yang marah di belakangnya.


“....” Nea hanya bisa memasang wajah datar, dalam pelukan Ares.


Sang gadis lalu melepaskan pelukan Ares, kemudian menghadap serigala itu.


“Terima kasih atas niatanmu. Namun lebih baik kita menjadi teman saja ya. Karena teman selalu saling membantu dan menemani, dalam suka maupun duka!” ucap Nea sembari tersenyum.


“Baiklah Nona.” Jawab serigala itu.


“Namaku Nea. Panggil aku Nea, namamu siapa?” ucap Nea sembari mengulurkan tangannya.


“Aku Rios. Baiklah Nona Nea!” Rios mengulurkan tangannya hendak menyambut uluran tangan Nea.


Namun Ares menghadang dan menjabat tangan serigala itu.


Nea hanya bisa tersenyum dengan sebutir keringat di keningnya. Kemudian mereka kembali ke desa dan mulai memperkenalkan Rios pada penduduk.


***


“Ellard ... Liz ... ayo bangun, Sayang!” ucap lembut Nea sembari menepuk perlahan lengan si kembar.


“Um ... Kakak ... mana telinga kelincimu?” gumam Ellard ketika membuka matanya sembari menatap kakaknya.


“Heh?” Nea yang bingung hanya bisa tersenyum kecil.


“Telinga kelinci Kakak sedang Kakak sembunyikan. Karena kita sedang berada di tempat dimana jarang orang mempunyai telinga binatang, Sayang.” jelas Nea yang kemudian mendapat anggukan kepala dari Ellard.


“Sudah. Ayo kita makan siang dahulu!” Nea membantu si kembar untuk turun dari mobil.


Merekapun berjalan bersama memasuki restoran tempat pemberhentian mereka untuk makan siang.


~ ☽ ☾ ~


Hai. >


Maaf. Beribu maaf untuk para reader tersayang. 😭


Saya akan berusaha untuk lebih rajin lagi. 😭


Saya usahakan. 🤧


Jangan lupa like, Comment, vote, share. >


Follow juga @rirymocha1 untuk melihat apa yang VR kerjakan. °∆°/


Sampai jumpa di Chapter selanjutnya. >


VR. Stylo