
Erebos yang berhasil membungkam Briallan, sekarang dia dengan bebas menggunakan tubuhnya. Diapun menuju tempat Lily berada, tanpa ada yang bisa menghentikannya. Briallen, Noxita dan yang lain hanya bisa diam terpaku karena tubuhnya berat. Seolah mendapat beban yang tak terlihat.
“Uh? A–ku ... tak bisa ... menggerakkan tubuhku,” ucap Briallen dengan memaksakan diri untuk bergerak.
“Aku juga Allen,” sahut Noxita yang masih berada dalam pelukan Briallan.
“Bagaimana Xita bisa bergerak? Kalau masih kau peluk seperti itu?” celetuk datar Lauryn.
“Ini sihir gravitasi ... dia menambah berat gravitasi tubuh kita ....” ucap Ferdinand dengan sedikit terengah-engah.
“Aim ... jangan begitu ....” ucap Lauryn.
“Heh?” tanya sang lelaki dengan bingung.
“Jangan membuatku tergoda begitu ....” jawab Lauryn malu-malu.
“Ini bukan saatnya untuk memikirkan itu Auryn. Lihatlah Baby Lily kita,” ucap Ferdinand yang sudah bisa berdiri.
“My Baby Lily dalam bahaya,” Lauryn dengan segera menerjang ke arah Erebos, namun dipentalkan kembali dengan sihir angin.
“Jangan aneh-aneh kau,” ucap sang Naga memperingatkan.
Erebos dengan santai mendekati Lily, diangkatnya tubuh sang gadis dengan sihir.
Hingga melayang dan berada di hadapan sang Naga yang memakai tubuh Briallan.
“Kau milikku,” ucapnya seraya menatap sang gadis kecil dengan tatapan penuh nafsu.
Di suatu tempat ....
“ne ... Aine ....” terdengar suara lembut yang memanggil manggil sebuah nama.
“Um ...?” gerutu Lily seraya membuka kedua kelopak matanya.
Dipandangnya langit-langit tempat ia sadar, langit biru dengan awan yang berjalan berarak-arakan.
“Akhirnya kau siuman juga Aine,” suara lembut yang sayup-sayup didengar oleh Lily tadi, sekarang berbicara padanya.
“Aine? Saya Lily, bukan Aine,” sanggahnya yang merasa tidak memiliki nama yang disebutkan itu.
Lily bangun dan merasa jika tubuhnya sangat ringan. Ia heran, karena selama ini dirinya selalu merasakan jika badannya terlalu lemah. Walau hanya digunakan untuk berjalan sebentar.
“Apa yang terjadi padaku?” tanyanya dengan bingung.
“Kau sekarang sudah menjadi Aine yang sebenarnya,” jawab suara itu lagi.
“Aine itu siapa? Saya bukan Aine yang kau maksud!” serunya dengan nada kesal.
“Aine anakku. Kau jangan bingung, karena dirimu sudah kembali kemari,” ucapnya lagi. Seorang wanita dengan kulit putih berkilau, rambut gold panjang yang bersinar dan bola mata berwarna emas muncul dengan berjalan perlahan ke arah Lily.
“Siapa Anda?” tanya Lily dengan waspada.
“Aku ibumu Aine. Kau adalah putriku ... Maksudnya, kau adalah titisan dari putriku Aine,” jelasnya.
“Saya? Saya bukan Aine,” sangkalnya lagi sembari menjauh dari wanita tersebut.
“Jika kau tak percaya. Lihat saja di permukaan air itu!” ucap wanita tadi seraya menunjuk ke arah danau.
Lily yang penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang dialami olehnya, segera pergi ke tepi danau dan menatap pantulan yang ada di permukaannya.
“Hah?” nampak sesosok gadis cantik dengan rambut gold panjang bercahaya, berkulit putih berkilau dan bola mata berwarna emas menatapnya.
“Siapa itu?!” pekiknya seraya menunjuk pantulan yang ada di permukaan air, ia terperanjat saat pantulan tersebut juga melakukan hal yang sama dengannya.
“Kau adalah Aine. Putriku yang akan menjadi penerus ku,” ucap wanita tadi sembari menjelaskan segalanya, jika ia sudah meninggalkan tubuh manusianya dan sebagainya.
“Tidak! Aku tidak mau. Aku adalah Lily, bukan Aine! Kembalikan aku!” bentak Lily yang tidak mau menuruti kehendak wanita yang baru ditemuinya.
“Tapi tubuh manusiamu sudah dingin, dengan seluruh kekuatanku pun aku tak bisa mengembalikanmu.” ucapnya dengan nada sedih.
“Tapi aku belum bisa meninggalkan tempat itu.” sanggah Lily yang tetap tidak mau untuk tinggal.
“Lily!” terdengar suara familiar sang kakak yang sangat ia sayangi memanggilnya.
“Aku harus kembali sekarang!” Lily dengan segenap keinginannya mengerahkan kekuatan yang baru dimilikinya.
“Aine ... kekuatan itu ....” ucap wanita tadi dengan terpukau.
“Aku akan kembali, tak peduli dengan apapun. Karena waktuku di sana belum selesai,” Lily mengeluarkan cahaya keemasan yang menyilaukan dan menghilang dari hadapan wanita berambut gold panjang itu.
“Baiklah Aine. Aku akan tetap mengawasi putriku.” ucapnya pasrah dengan keputusan sang gadis kecil.
Di tempat Noxita dan yang lainnya ....
“Lily!” teriak Noxita yang segera mengeluarkan sepasang sayap keperakan, setelah berhasil melepaskan diri dari pelukan Briallen. Dan dengan cepat menuju tempat Lily.
“Eits!” ucap Erebos yang kemudian membawa Lily ke atas langit, dengan posisi sang gadis kecil masih melayang.
Sesampainya di udara, Erebos yang merasa telah berhasil mendapatkan yang ia inginkan. Mencoba untuk melahap tubuh Lily dengan membuka mulutnya lebar-lebar dan menghisap udara sekitar beserta Lily.
“Lily!” teriak Noxita yang terperanjat tak berdaya.
Tiba-tiba, jantung sang gadis kecil berdetak kembali. Kulitnya yang semula putih pucat, terlihat berkilau kembali. Tubuhnya pun mengeluarkan cahaya yang menyilaukan, hingga membuat Erebos berhenti melakukan apa yang ia lakukan sebelumnya.
“Ukh?!” pekik sang Naga sembari melindungi kedua matanya.
Di dalam pikiran tubuh Briallan ....
“Kembalikan tubuhku!” Briallan masih berusaha untuk merebut kembali kesadaran tubuhnya.
“Tidak akan,” ucap Erebos dengan enteng.
“Jika kau tak mengembalikannya dengan sukarela. Maka aku akan membuatmu menjadi Fammiliar-nya.” Ucap Lily yang tiba-tiba muncul dengan sosoknya yang bercahaya.
“?!” Briallan terperangah, sedangkan Erebos terperanjat takut.
“Tidak ada jawaban? Maka bersiaplah!” Lily melayang dan mengeluarkan cahaya yang menyilaukan, muncul lingkaran sihir di bawah Erebos dan Briallan.
Dengan sekali jentikan jarinya, Lily membuatkan kontrak jiwa untuk mereka berdua. Jiwa Erebos pun terikat dengan milik Briallan. Namun tanpa persetujuan sang bocah, sang Naga tak akan bisa mengambil alih kendali tubuh Briallan.
Briallan dengan sigap menangkap tubuh Lily yang tiba-tiba terjatuh dengan perlahan, dan menggendongnya ala bridal style.
“Memang cantik,” gumam Briallan dengan entengnya menggendong Lily.
Di istana Fay yang kacau ....
Terlihat Briallan yang turun perlahan sembari menggendong Lily ala Princess, semua orang menyaksikan saat wujud sang gadis kecil kembali seperti semula.
Rambutnya kembali hitam namun bercahaya. Kulitnya yang putih berkilau, sekarang menjadi putih bersih. Bola matanya ... tertutup kembali.
“Lily?!” seru Noxita, Ferdinand dan Lauryn serempak.
“Allan!?” Briallen pun memanggil nama adiknya dengan wajah penuh kekhawatiran.
Briallan menatap mereka sambil nyengir. Sang pemuda memberikan sebuah jeweran di telinga kanan adiknya. Tubuh Lily diambil alih oleh Ferdinand untuk diperiksa kembali.
“Aduh? Aduh Kak! Sakit ....” rengek Briallan yang telinganya ditarik oleh sang kakak.
“Syukurlah kau baik-baik saja Allan,” Briallen memeluk erat adiknya.
“Tenang saja Kak. Aku kan kuat,” ucap Briallan dengan sombongnya, Briallen menarik telinganya lagi.
“Auch?!” ringisnya merasakan sakit karena telinga dijewer.
“Ah? Iya! Bagaimana dengan gadis itu?” tanya sang bocah mengingat Lily.
“Si lelaki berambut panjang sedang memeriksanya,” ucap Briallen seraya mengarahkan bola matanya ke tempat Ferdinand berada.
“Hoo ... Semoga dia baik-baik saja,” ucap sang bocah dengan penuh harap.
Briallen melirik ekspresi adiknya, terlihat jelas bahwa itu adalah ekspresi cinta. Sang kakak hanya bisa tersenyum tipis.
“Hah?!” Ferdinand terperanjat, teriakannya mengalihkan perhatian semua orang.
“Ada apa Kak Dinand?” tanya Noxita dengan cemas, Briallen siaga berdiri di belakang sang gadis. Briallan pun ikut memperhatikan.
“Tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya terkejut karena penyakit yang diderita oleh Baby Lily hilang tak berbekas, dan malah tubuh Lily seperti tidak pernah menderita suatu penyakit sama sekali.” terang sang lelaki yang telah selesai memeriksa kondisi Lily.
“Hah?! Syukurlah,” ucap Noxita yang kemudian berlinang air mata.
“Sekarang Lily bisa menjalani hari-harinya, tanpa harus merasakan sakit lagi.” Imbuh Ferdinand.
“Uhm ... Kakak?” suara lemah sang gadis kecil membuat semua pasang mata tertuju padanya, Noxita langsung memeluk adiknya.
“Ada apa Kak Xita? Kenapa semua berkumpul di sini? Di mana ini?” tanya Lily bertubi-tubi dengan bingung.
“Tak apa sayang. Mari kita pulang,” ucap Noxita seraya mengulurkan tangannya pada Lily.
“Baik Kak!” seru Lily dengan gembira, seakan dia sudah lama tidak pulang dan sangat ingin untuk kembali. Bertemu dengan keluarganya lagi.
Setelah semua selesai, mereka menuju ke pintu keluar istana. Meninggalkan para Fay yang tak sadarkan diri. Mereka bertujuh keluar dari hutan dengan aman. Noxita memakai jas milik Briallen, karena gaunnya sedikit rusak.
“Lily! Xita! Syukurlah kalian berdua baik-baik saja,” ucap sang ayah penuh dengan kecemasan. Duke Rosaceae yang sudah menunggu, dengan segera menghampiri kedua putrinya dan memeluk mereka berdua.
Mereka semua kembali pulang ketika matahari di atas kepala, bersama menuju wilayah Rosaceae.
***
Ferdinand menatap jendela dan melihat taman bunga mawar di luar, ia sedang menunggu Lauryn yang pergi ke ruangan sebelah.
“Hm ....” gumamnya sembari memejamkan mata, bulu mata yang lentik itu terlihat tegas.
Ferdinand membuka matanya ketika mendengar suara pintu terbuka. Dilihatnya sang istri masuk sembari membawa sebuah pakaian ala Prince.
“Aim~♥” suara lembut nan manja Lauryn terdengar menggoda di telinganya.
“Iya Auryn. Aku milikmu,” Ferdinand pasrah ketika didandani ala Prince oleh istrinya.
“Aim~ Aim tadi mikir apa?” tanya sang wanita berambut orange gold itu.
“Hum? Ah, hanya mengingat kejadian saat Baby Lily menjadi gadis yang sehat.” Ucap Ferdinand sembari memainkan jarinya di pinggul Lauryn.
“Bukankah itu suatu kejadian yang menyenangkan? Walau sebelumnya kita sempat dibuat terpuruk,” ucap wanita bermanik coklat itu sembari memakaikan pakaian ala Prince kepada suaminya.
“Yaa ... tapi syukurlah setelah itu kita jadi bisa bermain dengan Baby Lily, tanpa khawatir dengan kondisinya yang tiba-tiba memburuk.” sahut Ferdinand yang disambut oleh anggukan dari istrinya.
“Ah! Pangeran Aim ku~” puja Lauryn setelah selesai mendandani suaminya.
“Sekarang aku lapar Auryn,” dengan cepat Ferdinand menerjang Lauryn dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
“Ah! Aim nakal,” Lauryn tertawa cekikikan menerima setiap serangan Ferdinand.
... ~ ☽ ☾ ~
...
Hei hooo~
>o
Welcome back to my channel (/*-*)/
Yak. VR. di sini. Mengabarkan jika weekend ini sepertinya akan cerah
Bagi mereka berdua
*lirik Ferdinand dan Lauryn
F & L : ^^
VR. : Mari kita kembali ke WTNC
Hm ....
Wah. Syukurlah Lily bisa sembuh secara ajaib.
Akhirnya mereka pulang juga
Tiana : Yaaa ... Mereka semua pulang.
VR. : Jangan khawatir, pasti ada saja manusia yang tersesat kan?
Tiana : Hi hi hi ....
VR. : *merinding dan akhirnya kaburr
Na : Terima kasih atas dukungan kalian
Mohon dukungannya lagi untuk Kakak tetap semangat ngetik.
VR. : Wah!
Adikku ketinggalan
*balik lalu angkut Na dan kabur lagi
Na : Bisa-bisanya panda segemoy aku ditinggalin (´-ω-`)
VR. : Maaf
Na : Iya~
VRXNA : Jangan lupa like, comments, shere, dan votenya teman-teman.
...ʕ•ᴥ•ʔ ʕ•ᴥ•ʔ ʕ•ᴥ•ʔ ʕ•ᴥ•ʔ ʕ•ᴥ•ʔ...
... b💜d b💛d b🖤d b💙d b❤️d ...
...VR. Stylo
...