
Nea tersadar dan berusaha untuk duduk, dengan kesakitan iapun memegangi kepalanya. Sang gadis terkesiap, ketika hidungnya menghirup udara yang lembab. Ia melihat sekeliling. Nampak di netra beningnya, stalaktit dan stalagmit yang menguasai bagian atas dan sekelilingnya.
“Ukh?! Dimana ini? Kenapa aku bisa ada di sini?” Nea memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Sebuah ingatan terbersit dibenaknya, ia ingat jika dirinya terjatuh dan meluncur ke bawah dengan bebas. Namun ada seseorang yang menyelamatkannya.
“Ukh ... siapa itu?” gumamnya.
Nea yang merasakan sakit memilih untuk tidak terlalu memikirkan siapa yang menolongnya tadi.
Ia berusaha untuk berdiri, tapi kakinya terasa lemas. Berulang kali ia mencoba untuk berdiri, tetap belum jua berhasil. Hingga ....
“Ka–kak ....”
“Lily?!” terdengar suara Ella yang memanggilnya dengan ketakutan.
Nea dengan tekad kuat memaksakan dirinya untuk berdiri dan segera keluar dari dalam goa tersebut. Namun bukannya keluar, tapi Nea semakin masuk ke dalam.
***
Ares yang sudah selesai bersiap, segera menatap tajam kedua orang werewolf itu. Entah kenapa mereka sedari tadi duduk bersimpuh sembari menatap lantai dengan ketakutan.
“Hm ....” Ares mengamati mereka berdua lalu menatap Rios.
“Hm?” Rios bertanya kenapa dia menatapnya.
“Jadi gimana kita bisa tau tempat Nea berada?” tanya Ares pada Rios yang kemudian menatap kedua werewolf itu.
“Dengan bantuan mereka berdua,” ucap Rios sembari menunjuk mereka berdua dengan pandangannya.
“How?” tanya pemuda itu dengan bingung.
“Kenapa kalian diam saja?” ucap Rios dengan geram.
Mereka berdua masih tetap diam, tak bergeming apalagi berucap untuk menjawab pertanyaan sang serigala besar.
“....”
“Hei!?” bentak Rios sembari menyenggol Valdis. Kedua pemuda tersebut langsung terjatuh dan terdengar suara dengkuran berasal dari mereka.
“....”
Ares yang sudah geram dengan segera membekukan area sekitar Valdis dan Healey berada. Pemuda werewolf itu tersentak dan seketika bangun, sembari menggigil kedinginan.
Val dan Aley melirik Rios sekilas, tersirat pandangan kecewa dari sang serigala yang nampak di netra mereka. Mereka berdua langsung sedih, karena mereka pikir orang yang dikagumi oleh mereka telah kecewa pada diri mereka.
“Maaf Tuan Kurios. Maafkan kami. Kami akan melakukan apapun, demi Tuan tidak membuang kami.” Ucap Val dan Aley serempak dengan berderai air mata.
“Cepat jelaskan cara untuk menemukan tempat Nona berada sekarang!” ucap Rios yang penuh dengan nada perintah.
“Baik, Tuan!” seru Val yang kemudian menjelaskan pada Ares dan Rios cara menemukan tempat Nea berada sekarang.
“Nah! Jadi begitu caranya,” jelas Val sembari menunjukkan bola sihir kecil berwarna putih dari dalam kantong bajunya.
Ares dengan cepat merebut bola tersebut dan mengajak Rios untuk segera berangkat.
“Ayo Rios! Kita pergi menjemput Tuan Putri.”
“Tak perlu kau beritahu pun, aku akan menyelamatkan Nonaku.” jawab Rios dengan senyuman mengejek.
Setelah Rios berubah ke wujud serigalanya, merekapun segera bergegas untuk berangkat.
Dipandu oleh bola sihir yang berfungsi seperti alat pelacak itu. Ares yang menaiki punggung Rios, menuntun mereka ke lokasi Ella berada.
***
Aroma anyir darah dimana-mana, tawa gila menggema di sepanjang dinding berdiri. Nafas yang tersengal-sengal dan memburu, linangan air mata serta isakan keputusasaan sayup-sayup terdengar menyayat jiwa.
“Hahahaha ... Kau takkan bisa kabur, Peri kecil.”
Derap langkah penuh ketakutan dengan sedikit terseok, Ella mengedarkan pandangannya secara panik. Mencari tempat untuk bersembunyi.
“?!”
Sang gadis yang panik, akhirnya membuka sebuah pintu yang terlihat sangat tua. Hingga seperti akan hancur, jika disentuh oleh ujung jari. Ella membukanya, dan segera masuk ke ruangan di balik pintu itu.
Pintu pun ia tutup, sembari berdoa dengan sangat. Ia memejamkan mata dan berharap. Jika orang gila itu tidak menemukannya.
“Khu khu khu ... dimana kamu, Peri kecil?” ucapnya dengan nada yang mengerikan. Suara heels yang beradu dengan lantai, menggema di seluruh penjuru lorong.
“Apa di sini?” terdengar suara dinding yang hancur.
Ella ketakutan, hingga ia mengingat saat pertama kali dirinya menatap wajah orang gila itu. Rambut panjang berwarna violet dengan dua bola mata yang merah semerah darah. Nampak senyuman menyeringai menghiasi wajahnya.
“Aku menemukan seorang Peri kecil. Kau bisa menjadi sebuah hidangan pembuka yang manis.” Ucap wanita tersebut yang membuat sekujur tubuh Ella ketakutan.
Iapun segera melarikan diri. Namun pipinya tergores kuku tajam milik wanita berambut violet itu.
“Mau kemana kau, Peri kecil?” dengan cepat ia mengeluarkan sebuah cambuk yang terbuat dari sihir, dan dihantamkannya ke arah sang gadis. Cambuk tersebut langsung menggores kaki Ella. Hingga terluka dan berdarah.
Ella yang tiba-tiba mengingat hal tersebut langsung menepis ingatan itu dan kembali berharap agar dia segera pergi.
“Di-Si-Ni Kau ru-pa-nya, Pe-ri ke-cil....”
Ella yang mendengar suara wanita itu langsung merinding dan pintu ruangan tempat Ella bersembunyi hancur seketika.
***
Ferdinand dan Erebos menapaki jalan yang membimbing mereka untuk semakin masuk ke dalam hutan, entah kenapa Ferdinand merasakan hawa yang aneh.
“Entah kenapa hawa di sini sama sekali tak mengenakkan?” celetuk Erebos dengan heran.
“Kau benar. Hutan ini terasa sangat berbeda dengan hutan lain pada umumnya.” Sahut Ferdinand yang kemudian mengedarkan pandangannya dan seketika membeku.
“Ferdy?” tanya Vartan yang telah kembali mengendalikan tubuhnya.
Dia dengan bingung melihat Ferdinand yang membeku dan menampakkan ekspresi marah serta kengerian di wajahnya. Vartan semakin bingung dan melihat ke arah pandangan lelaki itu tertuju.
“Hum?” gumam Vartan sembari memicingkan matanya.
Dalam gelapnya bayangan pepohonan, ia melihat siluet lelaki bertubuh besar, dengan aroma darah yang sangat kental menyeruak dan memenuhi udara di sekitarnya. Sosoknya tertutupi oleh bayangan pepohonan.
Dalam keheningan yang mencekam itu, Vartan berbisik pada sang lelaki bermanik abu-abu yang masih membeku tak bergerak.
“Aku merasakan aura berbahaya darinya.” gumam Vartan pada Ferdinand.
Namun Ferdinand tak bergeming, seolah dia benar-benar mematung. Vartan makin heran. Namun intuisinya berkata untuk segera pergi dari tempat itu.
***
“Berisiknya si pembuat onar nomor dua ini,” batin Ferdinand ketika ia terus melangkahkan kakinya menuju tengah hutan.
Ferdinand berhenti saat netranya menangkap sebuah sosok yang berdiam dalam kegelapan bayangan pepohonan. Ia memfokuskan penglihatannya, seketika matanya terbelalak.
Iapun shock dan mematung.
Masih segar dalam ingatannya, sosok itu, wajah itu. Seseorang yang telah menghancurkan kebahagiaannya 2 abad lalu. Ia geram, tapi ia tak bisa melakukan apa-apa.
Ferdinand merasakan perbedaan kekuatan yang sangat besar dengannya, hingga ia tak bisa untuk menggerakkan satu jari pun.
Lelaki tersebut terkesiap ketika Vartan menarik tangannya dan mengajaknya untuk berlari menjauh. Saat itu juga ia kembali pada kesadarannya dan melihat sebuah harapan pada pemuda pembuat onar ini.
***
Tanpa pikir panjang, Vartan menarik tangan lelaki bersurai abu-abu keperakan itu. Hingga ia kembali pada akal sehatnya, dan segera menjauh dari tempat itu.
“Ferdy, apa yang terjadi? Siapa sosok itu? Hingga kau seperti tadi,” tanya Vartan disela pelariannya.
“Apa kau sudah lup– ah. Lupakan! Yang jelas, dia adalah sosok berbahaya. Tidakkah kau mencium aroma kematian darinya?” ucap Ferdinand yang terdengar kesal atas panggilan Vartan untuknya.
“Aku menciumnya. Dan aroma itu sangat kental tercium dari arahnya.” Ujar Vartan menjawab perkataan lelaki berambut panjang itu.
“Lebih baik kita segera menjauh dari sin–!?” ucapan Ferdinand terpenggal, karena sebuah serangan menghantam tanah di depan mereka.
Mereka berdua melompat menghindari serangan dadakan yang membuat tanah di hadapan mereka ambles dan debu berterbangan kemana-mana.
Ferdinand dan Vartan tersusul oleh sosok misterius yang tadi mereka lihat.
***
Nea yang terus berjalan memasuki goa, merasa jika keadaan semakin gelap dan segalanya tak bisa ia lihat. Iapun segera menajamkan indranya sembari mengaktifkan vision dan merasakan sekelilingnya.
Nampak dalam vision-nya keadaan goa yang luas dan nampak sesuatu di sudut bagian terdalam.
“Sebongkah batu raksasa?” gumam Nea.
Ketika Nea hendak beranjak dari tempat itu, benda yang Nea anggap bongkahan batu raksasa itu bergerak dan mengguncang tanah tempat Nea berpijak. Hingga beberapa stalaktit jatuh.
Nea terperanjat ketika ia membuka matanya dan tepat di depannya, sepasang mata raksasa berwarna emas menatapnya.
“?!”
...~ ☽ ☾ ~
...
Hai hai hai. >
Gimana puasa kalian? OwO)/
Selamat Hari Raya Idul Fitri
Mohon maaf lahir dan batin (>/<)
All : Maaa uang Raya Maaaa
VR. : 🙄
Briallen : *pergi mudik bersama Xita
Na : Jangan lupa like, Comment, vote, share.
Follow juga @rirymocha1
All : Sampai jumpa di Chapter selanjutnya~
...VR. Stylo
...