
"?!"
Ares dan Rios tersentak, saat melihat sebuah kereta api lokomotif bergerak menyusuri lembah dan tebing. Terasa aura aneh, mengelilingi kereta tersebut.
"Rios, ekati kereta itu! Bola pelacak mengarah ke sana." Ares memberi perintah pada sang serigala.
"Hum!."
Dengan segera Rios mendekatkan dirinya ke kereta tersebut. Saat Ares hendak melompat ke atas atap kereta tersebut. Rios langsung bertransformasi ke wujud manusianya. Seraya menggendong Ares ala bridal style.
Sang pemuda bersurai hitam keunguan itu melongo dan tersadar ketika mereka berdua sudah mendarat di atas atap lokomotif. Ares meronta-ronta, ingin segera diturunkan.
"Tenanglah sedikit. Kau nanti bisa jatuh, Bocsh!" ucap Rios dengan agak membentak Ares.
Sang pemuda bermanik biru saphire itu kemudian diam, menunggu Rios menurunkan dirinya. Namun si serigala tak kunjung juga menurunkan dia, hingga Ares protes.
"Woy Serigala. Turunkan aku!" bentak Ares yang frustasi karena dia merasa dianggap lemah oleh peliharaan kekasihnya itu.
"Huffth .. Silahkan turun, Tuan." ucap Rios sembari menurunkan Ares dari tangannya.
Ares merasa diejek dan mendarat dengan keras di kaki kanan Rios. Iapun melenggang mengamati keadaan lokomotif itu. Sang serigala hanya bisa menahan amarahnya.
"Lihatlah. Karena kau berisik, para kecoak jadi keluarkan." sindir Rios pada Ares yang dari tadi rewel.
"Cih! Memang kita harus membereskan mereka kan dan kita juga jadi tidak perlu repot mencari mereka." ucap Ares yang kemudian menarik sebilah pedang hitam dare telapak tangannya.
"Kau benar juga, Bocah" Rios menyeringai dan menatap orang-orang berjubah hitam itu.
Tak lama mereka berdua sudah dikepung oleh anggota berjubah hitam. Ares mengedarkan pandangannya, mencoba menghitung lawan yang muncul.
"1 ... 2 ... 3 ... hm ... banyak sekali kecoak yang harus dibasmi."
"Yaaa ... ini pasti akan jadi hal yang melelahkan serta merepotkan."
"Mau bagaimana lagi? Kalau kau masih ingin menyelamatkan Nonamu."
"Tentu saja aku akan ikut. Apapun demi keselamatan Nona!"
Salah seorang berjubah hitam yang memiliki luka ditangannya menerjang ke arah Ares sembari menyebatkan pedangnya. Ares yang sudah siaga, menahan serangan dengan pedang yang ada di tangannya. Ia melirik Rios, dan sang serigala pun sedang menghadapi 5 lawan sekaligus.
***
Erebos masih juga bermain dengan Gale, hingga sekitarnya porak poranda. Sang naga yang sudah mulai bosan meladeni Gale, sampai akhirnya dia tak kuasa lagi untuk bertanya pada Ferdinand. Nampak silelaki berambur panjang keperakan itu sedang sibuk mengaktifkan beberapa sihir.
"Oy! Ular putih! Lama bener?" Tanya Erobos yang merasa batas waktunya sudah mau habis.
"Sebentar lagi!, tunggu aku menyelesaikan ini."
"Hh ...." gumam Erebos kesal.
"Sang naga yang masih menguasai tubuh Vartan, sibuk menghadapi pria berbadan besar nan kekar itu. Ia menepis seluruh serangan dengan tepat, karena ia tidak mau lagi terkena bogem. Si naga tidak mau mendengar rengekan bocah ayam itu.
Tiba-tiba sebuah retakan kecil muncul di langit, semakin lama semakin menyebar. Hingga akhirnya pecah berkeping-keping.
"Ah ... kau datang Auryn ...." ucap Ferdinan sembari membuka kedua matanya.
***
Neve yang membawa Lauryn, dengan cepat menuju tempat yang ditunjuk oleh istri majikannya. Ketika sang wanita berambut putih panjang itu merasa sudah dekat, iapun langsung melakukan teleportasi dan muncul di tempat Ferdinad dan Vartan yang sedang terkapar tak sadarkan diri di atas tanah.
Keduanya menatap para lelaki itu dengan tatapan aneh, karena posisimereka yang seperti sepasang kekasih. Dimana Vartan tidur disamping Ferdinand, sembari meletakkan tangannya di atas dada Ferdindand.
Dengan geram, Lauryn segera turun dari gendongan ala bridal style Nave. Dan menendang badan Vartan, hingga terlempar jauh. Namun ia tak sadar dan tetap tidur.
Lauryn menangkap tubuh Ferdinad, dipeluknya. Air mata menetes dari netranya yang berwarna pink kecoklatan itu. Diusapnya pipi lelaki tersebut secara perlahan, hingga kembali mengkilap.
"Aim ... sepulangnya dari sini, kau harus ku mandikan dengan sangat bersih." ucap Lauryn dengan agak kesal dan sontak ia menggigit leher jenjang Ferdinan.
Taring putih Lauryn menancap dengan dalam dikulit leher pucat milik lelaki berambut panjang keperakan itu. Dengan rakus, sang wanita berambut orange gold menghisap darah sang lelaki yang sedang tidak sadarkan diri itu.
***
Ferdinand membuka matanya, ditatapnya puncak kepala Lauryn. Lelah terpancar dari netra abu-abunya, dengan perlahan ian menggerakkan tangannya dan memeluk wanitanya itu. Sang wanita berambut orange gold itu melepaskan gigitannya, lalu mendongakkan kepalanya.
Wjahnya yang biasanya datar itu, seketika penuh dengan amarah kekhawatiran. Seketika Lauryn mengeluarkan aura hitam pekat, tanah disekelilingnya seketika hancur.
"Takkan kubiarkan dia berani memperdaya dan menyiksa Aim-ku ...." ucap Lauryn dengan naa amarah penuh dengan dendam.
Ferdinand hanya menatap langit, merasa dirinya lemah.Hingga harus memanggil istrinya untuk membebaskan dirinya dari belenggu sihir hipnotis milik Gale.Saat dia telah sadar berada di atas telapak tangan musuhnya.Namun tak mampu untuk menghancurkan sihir yang membelenggu dia dan Vartan.
“Ugh....” erang Ferdinand dengan suara kesal.
Lauryn merasakan peringatan akan suaminya sedang terpuruk dengan segera mencium bibir lelaki berambut panjang keperakan itu.Ferdinand terbelalak, dia merasakan darahnya, perlahan-lahan melalui bibir istrinya, lelaki tersebut mengulum dan mencari darah dari bibir wanita berambut oranye gold itu.
“Hh…” eluhnya saat dirinya melepaskan ciuman mereka.
Ferdinand memandang wajah Lauryn, mata pink itu menatap dengan serius.Pandangan Ferdinand mengarah ke bibir sang istri yang terlihat terluka.Lauryn tertarik untuk memberikan darahnya pada suaminya itu.Ditepuk kedua pipi sang suami dengan keras, menyadarkannya dan tidak terus terpuruk akan kejadian ini.
“Menyelamatkan Baby Lily adalah yang utama, Aim!Aku bersyukur tidak ada hal buruk yang terjadi padamu sayang, tapi kita belum bisa bernafas lega.Selama Baby Lily belum kembali ke sisi kita.”
Perkataan Lauryn menampar kesadaran Ferdinand, baginya Ella sudah seperti putri kandungnya sendiri.Seorang yang amat berharga.
“Kau benar-benar Auryn sayang.Maaf karena aku jadi lemah tadi,” ujar sang lelaki bermanik abu-abu itu.
Ia sekarang menatap ke depan, digenggamnya tangan Lauryn yang terulur.membantunya untuk berdiri.Tatapan matanya yang tajam, penuh amarah.
“Kan kupastikan untuk menyelamatkan Baby Lily kita, apa pun yang terjadi!” ucapnya dengan menggebu.
“Maaf mengganggu Tuan Victor.Tapi apa yang harus saya lakukan pada ini?”sela Neve sembari menenteng Vartan yang belum juga bangun.
“....”
“Byur!?”
Terdengar suara sesuatu yang berat menghantam permukaan air dan seketika tenang.Sebelum....
“Pah!?”
“Kurang terbuka!Ferdinan!Kenapa kau melempar aku ke danau?!”ucap Vartan setelah megap-megap seperti ikan.
"Karena kau tak kunjung juga bangun, jadi kami memabngunkanmu."ucap Neve saat berpose untuk membantu pemuda berambut hitam kebiruan itu keluar dari danau.
"Dih! Apa tak ada cara yang lebih halus?"tanyanya sembari protes, setelah berada di dekat dua orang itu.
Ferdinand dan Lauryn hanya menatap dengan datar yang mengisyaratkan sedang memandang orang aneh.Vartan semakin bersungut-sungut dan akan menyerbu ke arah mereka berdua.Akan tetapi dihentikan oleh Neve, ia menggenggam pundak pemuda tersebut dengan erat.
"Kami sudah mencoba untuk membangunkanmu dengan lembut, tapi tak kunjung bangun juga. Jadi kami memakai cara terakhir."jelas Neve sembari memberikan senyuman termanisnya pada Vartan.
“Glek?!”
Pemuda tersebut langsung diam seribu bahasa, memperhatikan pandangan ke langit. Saat ia menengadah, sesuatu yang jatuh di wajah dan menempel dengan kuat.
“Gaaaah?!Apa ini?”teriaknya histeris sambil menarik paksa sesuatu itu.
Ferdinand dan Lauryn serentak menoleh melihat apa yang terjadi, mereka pun menghampiri Vartan.Menyaksikan pemuda tersebut menepuk keras pada sesuatu yang menempel di wajahnya itu.
“?!”
Dengan ekspresi kaget, mereka berdua menatap Vartan yang mengambil dan mengangkat makhluk itu.Menatapnya lekat, sontak ia terkejut.Ketika Lauryn meninju kepala Vartan.
“Apa yang kau lakukan?!”bentak Ferdinand pada Vartan.
“Aku hanya ingin melepaskan dan melihat apa yang menggangguku.”Jawab Vartan dengan wajah tanpa dosa, sembari mengelus bagian kepalanya yang benjol.
Lauryn mengambil makhluk tersebut, ia meletakkan di atas telapak tangannya dan membawanya ke arah sang suami.
“Bodoh!Dia ini kan…."
...~ ☽ ☾ ~...
Eng ing eng~
Apakah itu? Makhluk apa itu? 😱
Nantikan di … chapter selanjutnya
Assalamu’alaikum
Selamat pagi/siang/sore/malam (sesuai waktu kalian membaca ini)
Maafkan karena lambatnya up cerita.
Terlalu sibuk dengan darah-darah yang banyak itu.
Dan yaaa
Allen akan mendapat pekerjaan berat di cerita selanjutnya.
Briallen : Hm ….
VR. : Semangat Allen. Demi menyelamatkan mereka.
*kabuurrr
Briallen : Hh ….
Na : Terus dukung Kakakku ya.
VR. : *gendong Na
All : Sampai jumpa di Chapter selanjutnya. ^~^/
VR. Stylo♪