
Pagi ini, abang Ares sibuk mondar-mandir ke kamar dan ruang pakaian. Entah apa yang ia cari ataupun lakukan. Hingga siang hampir tiba, ia terlihat rapi serta siap untuk pergi.
“Mau kemana, Bang?” tanyaku yang penasaran.
Wajah abang yang tadinya kusut, tiba-tiba cerah. Seperti mendapat pencerahan. Dia lalu menyuruhku untuk memanggil si serigala itu dan mengajak kami untuk ikut bersamanya.
“Panggil Rios, kalian ikut aku sekarang!” perintah abang yang harus kuturuti, kalau tidak ... membayangkannya saja membuatku bergidik ngeri.
Padahal aku mau push rank game yang sedang aku sukai sekarang. Yah, aku tak mau dihukum dan diambil handphone-ku. Jadi aku akan ikut abang saja.
Setelah aku dan serigala itu bersiap, kamipun naik ke mobil abang. Namun sebelum kami naik, abang menyuruh kami untuk duduk di kursi paling belakang.
“Kalian berdua duduk di kursi paling belakang!” serunya.
“Eeeehhh? Kenapa gitu, Bang?” protesku.
“Jangan banyak protes, buruan! Kita sudah terlambat,” ucap abang dengan nada perintahnya.
“Iya iya Bang,” akupun segera duduk di kursi paling belakang bersama serigala putih yang sudah lebih dulu duduk.
“Oke. Jangan banyak macam ya nanti,” ucap abang yang penuh dengan nada peringatan.
“Nggak janji Bang,” ucapku dengan enteng.
Abang pun melirikku dengan tajam, aku hanya nyengir. Menunjukkan deretan gigi putihku. Diapun masuk lalu duduk di kursi pengemudi dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Melaju di atas aspal jalanan yang masih berhias salju di pinggirnya.
Dalam perjalanan, aku termenung menatap pemandangan yang ada di luar jendela. Hingga serigala di sebelahku menyikutku, seolah menantang ku. Akupun balas menyikut dirinya, dia membalas lagi. Kami berakhir sikut-sikutan hingga kepala kami terbentur sandaran kursi di hadapan kami.
“Uughh?! Bang?” protesku ketika merasakan keningku berdenyut, abang malah tak peduli dan lebih memilih untuk segera keluar dari mobil. Menuju ke sebuah rumah.
Kulihat dari dalam mobil, ia menekan bel pintu rumah tersebut kemudian menunggu. Selang berapa lama, seorang wanita yang terlihat berada di usia 40-an membukakan pintu dan abang tersenyum ramah padanya.
“Amazing!” pekikku melihat pemandangan ini, aku yakin serigala di sebelahku menatapku dengan pandangan aneh. Tapi aku tak peduli.
Aku merasa akan ada gempa bumi hebat, jika abang bertingkah tidak seperti biasanya. Aku yakin kalau ini rumah milik keluarga kakak ipar.
“Sepertinya kau akan bertemu lagi dengan Nonamu, Serigala.”
Kulirik Rios yang sedari tadi terlihat antusias, sepertinya dia sudah tahu kalau akan bertemu majikannya. Hanya aku yang sendirian, ha ha ....
“Tenang bocah, masih ada aku di sini.” Si Naga menyahuti pikiranku.
“Diamlah Kadal! Yang kumaksud itu seseorang yang spesial,” balasku dalam hati, yang dijawab tawa oleh Naga tersebut.
“Aku nggak peduli lagi dah, terserah mau menertawakanku atau gimana? Yang jelas sekarang aku merasa hidupku enak,” gumamku yang kemudian menyandarkan punggung ke sandaran kursi.
“Walau tak bertemu dengan Tuan Putrimu?” Erebos menanyakan hal itu dengan nada mengejek.
“Jika bisa bertemu dengan dia kembali, maka hidupku akan terasa sangat sempurna,” kupejamkan mataku dan menunggu abang kembali, penciumanku tergelitik oleh aroma bunga mawar yang manis.
“Nea duduk di kursi depan bersamaku dan kalian bertiga duduk di kursi tengah. Abaikan saja yang ada di kursi belakang,” terdengar suara abang yang memberitahu.
“Baik, Kak.”
“Baik,” aku mendengar dua suara anak kecil dan sebuah suara yang sangat kurindukan.
Dengan segera aku membuka mataku lebar-lebar dan kulihat rupa itu, suara itu. Dua pasang anak kembar masuk dan duduk di kursi yang ada di hadapanku, setelah mereka duduk manis. Barulah seorang gadis masuk dan melirikku sekilas.
“Lily? Dia Lily! Ah ... tatapan mata itu. Sepasang bola mata yang kurindukan. Sekarang aku bisa melihat mereka yang masih hidup,” batinku dalam hati, hingga aku hampir menangis.
“Xi xi xi,” Erebos tertawa dengan nada mengejek.
“Jangan mengganggu momen haru ini Kadal!” bentakku dalam hati pada Erebos.
“Ya ya. Nikmatilah momen pertemuan kembalimu,” si Naga menggoda terus.
“Ya,” aku hanya menjawab dengan malas.
Abang pernah cerita, jika kakak ipar memang kak Noxita. Namun dia tak mengingat kehidupan masa lalunya, jadi aku tak bisa langsung memeluk Lily.
“Aaahh ... kesal!” dengusku dalam hati.
“Tidak semua makhluk reinkarnasi bisa mengingat kehidupan masa lalunya lho,” ucapan Erebos membuatku tersadar akan kenyataan.
“Ya ....” jawabku dengan lemas.
“Haissh. Jangan patah semangat dulu, bukankah dia memiliki kekuatan dunia peri?” ucap Erebos yang membuatku mendapat sebuah harapan.
“Kau benar!”
Akupun akan berjuang untuk membuat dia ingat kembali padaku. Tanpa sadar aku menatapnya terlalu lama, hingga ia menegurku dengan bentakan.
“Bisakah kau berhenti menatapku seperti itu?!” bentaknya dengan suara yang merdu, ah rasanya aku ingin menggodanya.
“Oh ... kenapa harus?” ucapku dengan enteng, namun kegirangan dalam hati.
“Lebay,” celetuk Erebos. Namun aku mengabaikannya.
“Karena kau menggangguku!” Lily membalas lagi, wajah kesalnya sangat imut.
“Hai Nona, tahukah Anda jika saya duduk di belakang Anda. Jadi, jika tak menghadap depan, sekaligus menatap Anda. Kemanakah saya harus menatap?” ucapku sembari menyeringai, gadis itu membuang mukanya dan menatap ke luar jendela lagi.
Terlihat gerak-gerik di kursi depan yang menandakan mereka saling bertukar pandangan dan kemudian tertawa.
Aku mendengus sambil tertawa kecil. Aah ... senang sekali rasanya, tapi sepertinya aku sedikit keterlaluan. Baiklah, cukup menggodanya.
Yah, kami belum juga sampai. Namun perut kakak ipar berbunyi perlahan. Kami mendengarnya sih, kecuali gadis itu. Karena dia masih fokus pada pemandangan di luar sana.
“Bang! Aku lapar,” celetukku yang membuat abang tersenyum kecil sambil melirikku dari center mirror.
“Sebaiknya kita mampir ke restoran di depan dan juga ini waktunya makan siang,” jawab abang yang kemudian melajukan mobilnya menuju restoran bergambar paus dan panda itu.
Sesampainya di parkiran mobil, aku kan turun mengikuti Lily yang sudah turun terlebih dahulu. Abang menunggu kakak ipar yang membangunkan si Kembar. Entah sejak kapan mereka tertidur, aku tak tau. Karena aku fokus pada gadis di depanku.
“Bisakah kau tidak mengikutiku?” ucapnya dengan kesal, tanpa menoleh ke belakang.
“Tak mau! Aku juga mau ke restoran ini,” jawabku tetap mengikutinya.
“Jangan dekat-dekat. Yang jauh sana!” ia membentak ku lagi, betapa manisnya tingkahnya.
Kulihat Lily yang berjalan dengan wajah kesal dan tak melihat ke depan. Dari pintu masuk restoran terlihat seorang cowok baru keluar dari sana, Lily sama sekali tak memperhatikan.
“Ups?!” seruku dengan segera menariknya dalam pelukanku, wajahnya menempel di dadaku. Hembusan nafasnya terasa menggelitik.
“Hampir saja dia menabrak cowok yang akan keluar dari restoran itu,” batinku sembari menghirup aroma mawar yang manis dari dirinya. Belum puas aku menikmati aroma yang kurindukan, dia membentak ku dan mendorong diriku.
“Lepaskan aku!” dia berteriak setelah sadar bahwa dirinya kupeluk.
“Baiklah Nona,” dengan segera aku melepaskan pelukanku dan membiarkan dia masuk terlebih dahulu ke restoran. Telinganya terlihat memerah, aku hanya bisa tersenyum kecil.
Setelah kami semua masuk ke dalam, kamipun bingung mau duduk di mana. Karena kondisi restoran yang cukup ramai di jam makan siang ini. Hingga si kecil Diego berseru dan menunjuk satu tempat.
“Kakak! Di sana, di dekat jendela!” kamipun melihat ke arah yang ditunjuknya dan segera menuju ke meja tersebut.
“Kerja bagus Koala,” batinku dengan bangga.
Tersedia dua meja dengan empat kursi di tiap mejanya. Kamipun menempati tempat duduk yang tersedia.
Abang sudah pasti semeja dengan kakak ipar dan karena si Kembar mau bersama kakak ipar. Mau tidak mau, Lily duduk satu meja denganku. Ah ... bahagianya. Dia duduk di hadapanku. Pelayan yang dipanggil Abang menghampiri kami dan bertanya pesanan kami.
“Dua Kids Meal, satu burger set. Ares mau apa?” kakak ipar menyebutkan pesanannya, setelah bertanya apa yang ingin dimakan oleh si Kembar dan menanyakan abang pesan apa.
“Secangkir black tea saja,” ucap abang dengan dingin. Sepertinya pelayan tersebut mengganggu mood abang.
Kemudian sang pelayan pergi ke meja kami, untuk menanyakan pesanan kami.
“Beef steak dengan saus blackpapper,” si serigala gaya bener, aku jadi tertawa dalam hati.
“Segelas cola ukuran jumbo,” ucapku yang kemudian ia tulis di catatannya dan berlalu ke pintu, sepertinya itu dapurnya.
Aku yang tadi melihat arah perginya pelayan tersebut, kemudian melirik Lily. Kulihat dia menatapku dengan tatapan yang mengatakan bahwa aku orang aneh.
“Pyar!?” terdengar suara kaca yang pecah, seluruh pengunjung yang berada di dalam restoran langsung menoleh dan melihat ke asal suara.
Aku melihat seorang cowok yang memiliki banyak tato di tangannya, memasang wajah kesal dan menatap pelayan perempuan di hadapannya dengan tatapan seperti ingin menelannya bulat-bulat.
Beberapa orang kembali fokus pada makanan mereka, memilih untuk menutup mata dan telinga. Sedangkan yang lain hanya mengamati, tanpa mau bergerak.
Cowok itu membentak perempuan di hadapannya, dia terlihat akan menamparnya. Aku tak bisa tinggal diam, dengan cepat aku berada di samping cowok tersebut dan menangkap lengannya.
“Hey? Apa-apaan kau!? Lepaskan tanganku!” bentaknya padaku, tapi aku tidak takut sama sekali. Karena masih lebih seram kakak ipar dan abang.
“Wah, sayang sekali tangan sekekar ini digunakan untuk menampar pelayan yang tak berdaya itu.” ucapku dengan nada mengejek.
“Tak berdaya? Dia udah nyenggol aku, hingga lenganku nyeri. Dia harus tanggung jawab!” balas cowok berandalan itu seolah dialah korbannya.
“Oh? Tangan mana yang sakit?” tanyaku sembari mencengkeram kuat lengannya.
“Sakit woy!?” rintihnya disela umpatannya.
“Ah ... jadi kau mau menampar pelayan itu dengan tangan yang sakit ini? Hebat sekali,” ejekku yang membuatnya makin marah.
“Kau?!” geramnya hingga mau menabrakkan diri padaku.
“Apa? Kenyataan kan,” aku mendekatinya kemudian berbisik di dekat telinganya.
“Berhentilah berulah dan pergilah, sebelum tanganmu jadi patah,” ucapku yang menggunakan suara menyeramkan milik Erebos, sembari menekan jempolku di tempat nadinya berada.
“Cih!? Kau selamat hari ini!” wajahnya terlihat pucat, saat ia pergi sembari memegangi tangannya.
“T–terima kasih, Tuan,” ucap sang pelayan dengan nada bergetar.
“Senang bisa membantu.” ucapku yang kemudian kembali ke tempat dudukku.
Kulihat wajah Lily, ekspresinya malas dan dia menunjuk suatu arah dengan matanya.
Menyuruhku untuk menatap ke sana. Kulihat abang yang murka dan kakak ipar yang menenangkannya.
“Mati aku.”
Aku hanya bisa menelan ludahku dengan kasar, terasa menyangkut di tenggorokan. Seraya membayangkan hukuman-hukuman yang pernah kurasakan.
Setelah pesanan kami dihidangkan, kami segera memakannya. Aku memandangi Lily yang memakan makanannya, dengan sesekali mengalihkan pandangan dengan cepat. Saat dia melihat ke depan.
Selesai makan, abang segera meminta bill dan menuju ke kasir, kami mengikutinya dari belakang.
Sebelum pergi, kasir tersebut memberi sebuah kotak berisi bermacam-macam cake pada abang. Ia berkata, jika kami tidak memesannya. Namun kasir bilang, jika itu hadiah karena telah menolong mereka.
“Aku gitu,” gumamku dengan bangga. Abang yang masih kesal, mengoper box tersebut padaku. Dan berlalu menuju mobilnya.
Sesampainya di mobil, aku membuka bagasi dan meletakkan box tidak di sana. Saat hendak masuk ke dalam mobil, ada sebuah tangan yang memegang pundak ku. Kemudian meninju pipiku ketika aku hendak melihat pemilik tangan tersebut.
“Lumayan sakit juga,” batinku yang jatuh tersungkur.
Abang dan Rios bersiaga untuk melindungi kakak ipar serta adik-adiknya. Saat aku merasa bisa bernafas lega, aku malah tercekat. Karena Lily mendadak di hadapanku dan menggunakan tubuhnya untuk melindungiku. Dengan kaki yang bergetar, ia membentak dan mengolok berandalan itu.
Sebuah pukulan akan melayang pada Lily, tanpa sadar aku langsung bangkit dan menjadi pelindungnya dari serangan tersebut.
“Jangan berani menyakiti Tuan Putri!” bentakku yang kemudian memberinya sebuah pukulan, hingga ia terpental dan tak sadarkan diri.
Sirine mobil polisi terdengar tak lama kemudian. Mereka segera membekuk berandalan itu dan menggiringnya ke dalam mobil. Para polisi pergi setelah menanyakan beberapa pertanyaan pada kami.
“Bang! Aku hebat kan?” ucapku dengan bangga.
Tanpa berkomentar apapun, Abang mendaratkan satu tinjuan ke atas kepalaku. Rasanya sangat sakit. Sepertinya benjol nih, aku mengusap tempat abang menjitakku.
“Kau kebanyakan gaya, hampir saja Ella terluka karena ulahmu!” bentak abang yang terdengar sangat kesal.
“Maaf Bang,” ucapku sambil menundukkan kepala. Abang tak menjawab, mungkin dia lelah denganku. Karena aku jarang menurutinya.
Setelah kami semua masuk ke dalam mobil dan memasang seatbelt masing-masing, mobil pun melaju menuju ke tempat tujuan awal kami.
... ~ ☽ ☾ ~
...
Yuhuu~
Apa kabar? Semoga kalian sehat selalu. Aamiin.
Allan memakan banyak halaman nih. 👀
Briallan : Mumpung jadi bintangnya. 😎
VR. : Tapi kau bukan Patrick star. 🤔
Briallan : Suka-suka aku dah.
VR. : Seterah kau, Llan.
Hiks ....
Kangen Allen. 😭😭😭🤧🤧
Na: Kakak~
VR. : Apa sayang? :’3
Na : Aku mau makan paus lagi Kak.
VR. : Baiklah Na. 😱
• • •
*pergi ke dapur dan melihat ada orang di sana
VR. : Na, lebih baik kita pergi jalan-jalan aja ya sayang. 😅
Na : Baiklah Kak, tapi belikan aku eskrim dan kue.
VR. : I–iya sayang. 🤧
Dua cowok misterius: Jangan lupa like kalian sangat membantu VR. untuk semangat ngetik.
Follow juga ig nya @rirymocha1
VR. : Kalian siapa?!
*kedua cowok misterius itu menghilang
Na: Kakak kenapa teriak?
VR. : N–nggak ada sayang. Yuk pergi!
*pergi jalan-jalan bersama Na
...VR. Stylo
...