
Ella menitikkan air mata, matanya yang merah semerah ruby menjadi gold terang. Setelah meledakkan dimensi ingatan, ia kembali di tempat perempuan sebelumnya berada.
“Selamat datang kembali Aine. Putriku yang cantik,” ucapnya saat melihat Ella telah berubah wujud.
Tanpa bersuara, Aine menghempaskan perempuan tersebut. Hingga ia tak bisa menggerakkan tubuhnya.
“Allan ....”
Aine berucap lirih sembari meneteskan air mata. Dengan tatapannya, ia membuat lubang yang membelah dimensi. Setelah terbuka lubang tersebut, Aine segera memasukinya dan menghilang.
Ares, Vartan, Val serta Aley tersentak, merasakan sebuah kekuatan sihir yang besar tiba-tiba muncul. Mereka yang tadinya tegang karena waspada terhadap serangan yang akan dilancarkan oleh lawannya. Sekarang malah tegang, karena tidak tahu apa gerangan asal kekuatan besar tersebut.
“Apa ini?” Val bertanya dengan bingung.
“Entah,” Aley menjawab tanpa beban.
“Ke–kekuatan ini ....” Briallen berkata dengan terbata-bata karena merasakan sakit.
“Lily!” Briallan berseru merasakan kekuatan sihir yang familiar baginya.
Dengan segera Briallan menerjang Aley dan menguncinya, saat lelaki bermanik hijau tersebut lengah. Dengan raut marah, ia berteriak pada lelaki bersurai silver itu.
“Kembalikan Lily!” seru Briallan yang takut, sesuatu sedang terjadi pada sang gadis kecil.
“Lily? Apa maksudmu gadis itu?” Aley mengarahkan bola matanya ke tempat Nea berada.
“Bukan! Gadis yang agak kecil lagi,” Vartan membentak dengan putus asa.
“Heh?” tersirat ekspresi bingung di wajah Aley.
“Gadis kecil yang kalian kejar sebelumnya!” imbuh Vartan.
“Ah! Maksudmu gadis yang keluar dari toilet itu?” ucap Aley setelah ingat dengan gadis sebelumnya.
“Iya. Dia! Dimana dia sekarang?” Vartan menarik kerah baju Aley dengan kasar, matanya penuh emosi.
“Tidak tau. Karena target asli kami itu dia,” ucapnya dengan enteng sembari mengarahkan Kepalanya ke arah Nea.
“Sialan!” sang pemuda bersurai hitam kebiruan itupun memukul Aley dengan keras, hingga membuatnya tak sadarkan diri.
“Cih!” Vartan geram lalu melepaskan tubuh Aley yang sedari tadi ia kunci itu.
Saat ia hendak beranjak dari tempat Aley berada, kakinya ditahan oleh sebuah tangan gkkkekar milik lelaki bersurai silver itu.
“Kau–?!”
Ucapan pemuda bersurai hitam kebiruan itu terpotong, karena merasakan guncangan di tempat ia berada.
Terlihat sebuah sobekan dimensi yang besar di atas taman bunga Delphinidin, tepatnya di langit.
“?!” semua orang tersentak, ketika melihat seorang gadis berambut gold panjang bercahaya dengan mata berwarna gold terang keluar dari sobekan dimensi tersebut.
“Lily?!” Vartan berseru, saat sudah mengenali sosok tersebut.
Lily yang dikuasai oleh amarah, menyerang segala sesuatu yang ada di hadapannya dengan melancarkan serangan sihir petir. Tak terkecuali mereka. Briallen segera ke tempat Nea berada dan mengeluarkan perisai sihir, untuk menahan serangan yang dikeluarkan oleh Aine.
Ledakan terjadi, hingga hampir menghancurkan taman bunga Delphinidin. Pengunjung yang berada di taman hiburan, berlarian karena panik. Akibat ledakan-ledakan itu.
Vartan terperanjat, menatap Ella yang melayang di udara. Semua serangan sihir itu sama sekali tidak mengenainya. Ia merasa jauh di lubuk hati sang gadis, masih ada dirinya. Hingga dia tak menyerangnya.
Val dan Aley terkena serangan petir dengan telak, tanpa sempat melakukan perlawanan ataupun membuat pertahanan.
Pepohonan terbakar, bunga-bunga layu dan mati. Teriakan panik serta ketakutan menggema.
“Lily! Tenanglah!” Vartan memanggil nama sang gadis kecil, yang sekarang entah berada di bagian mana dari kesadarannya.
“Manusia-manusia hina, kalian telah menghancurkan segalanya. Akan kuhukum kalian dan membersihkan dosa yang kalian perbuat.” suara Ella terdengar asing, ketika ia berucap.
Sang gadis mengarahkan tangan kanannya ke depan dan mengerahkan seluruh kekuatan sihir yang ia miliki pada ujung tangannya. Vartan yang melihat hal tersebut, segera mendekati Lily.
Ketika ia hendak menggapai hadis tersebut, dia merasakan tangannya tersengat sesuatu yang mengakibatkan tangan Vartan terasa terbakar.
“Sepertinya dia melindungi dirinya dengan suatu sihir.” gumamnya yang kemudian kembali mencoba untuk menggapai gadis di hadapannya itu.
Vartan dengan tekad kuat ingin menyelamatkan gadis yang ia cintai, berhasil mendekap tubuhnya dari belakang. Tak peduli dengan rasa sakit ataupun terbakar yang ia terima dari tindakannya untuk menembus pelindung tersebut.
“Lily, Tuan Putriku. Tenanglah, aku ada di sini. Jangan menghancurkan dunia kita.” Ucap Vartan dengan lembut, serta menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
“Tuan Putri, aku sudah berjanji untuk selalu melindungimu. Sekarang akan kubuktikan, jika ucapanku bukanlah omong kosong belaka.”
“Tuan Putri Lily, kau telah menyelamatkanku dari kendali Dewa Naga dan sekarang adalah tugasku untuk menyelamatkanmu.”
“Kembalilah. Kembalilah pada kami, padaku.”
***
Dalam diri Ella, terlihat gadis berambut gold panjang bercahaya sedang mengamuk, sedangkan Ella baru saja siuman. Sang gadis kecil yang mendengar suara Vartan, dengan segera memeluk dan mendekap jiwa Aine yang sedang menangis penuh amarah.
“Tenanglah. Tenang, kita sekarang sudah baik-baik saja. Jangan sedih ataupun marah, Aine.”
Ella mencoba untuk menenangkan jiwa yang ada di hadapannya itu. Nampak Aine yang sudah mulai tenang, gejolak amarah dalam dirinya pun perlahan sirna.
“Mari kita menjaga orang-orang yang kita cintai, Aine.” dengan senyuman manisnya, Ella mengajak Aine untuk menjalani hari-hari bersamanya dan menikmati kebersamaan dengan orang-orang yang mereka cintai.
***
Vartan semakin lemah dan tak kuat untuk menahan semua rasa sakit di sekujur tubuhnya, dengan sisa tenaga yang ia miliki. Pemuda tersebut menggigit leher Ella, hingga membuat sang gadis tersentak.
Dengan kemampuan yang dimiliki oleh Vartan, ia menghisap energi sihir yang hampir meledak dalam tubuh gadis tersebut. Saat bola energi sihir yang dikumpulkan oleh Aine hilang, tubuhnya lemas dan mulai limbung.
Saat sang gadis kehilangan pijakan, ia mulai terjatuh. Setelah menyebut nama pemuda bersurai hitam kebiruan tersebut.
“Allan ....”
Dengan sigap Vartan menyusul Ella yang sedang terjun dari langit secara cepat. Namun sebelum mencapai tanah, sang pemuda telah berhasil mendekap erat tubuh Ella dan menjadikan dirinya sebagai perisai sang gadis dari segala benturan.
Buum
Benturan keras terdengar, debu-debu berterbangan. Hingga tak terlihat apa yang terjadi dengan mereka berdua. Terlihat sang gadis sedang terbaring di atas tubuh sang pemuda yang mendekapnya erat.
“Aah ... lebih baik setelah ini aku izin kerja dulu,” gumam Vartan sembari meringis kesakitan.
Seutas senyuman nampak di wajahnya, ia bersyukur karena telah menyelamatkan gadis yang dicintainya itu.
Wujud Ella sudah kembali seperti semula, rambutnya yang pirang kembali menjadi hitam bercahaya. Sang gadis yang tadi pingsan, sekarang mulai sadar.
Ia menggerakkan tubuhnya, merasakan dirinya berada di atas sesuatu yang keras dan hangat. Saat tangannya meraba-raba, terdengar suara parau yang seketika menghentikan apa yang sedang dilakukan oleh sang gadis.
“Uukhh ... tolong hentikan itu, atau aku bisa lepas kendali.”
Ella terkesiap saat sadar dirinya terbaring di atas tubuh Vartan, wajahnya seketika menjadi seperti kepiting rebus.
Vartan menikmati hal tersebut, sembari memejamkan matanya. Ella merasakan jantungnya yang serasa akan meledak, segera bangkit. Namun dihentikan oleh dekapan sang pemuda.
“Kuat sekali?” batin Ella.
Sang gadis pun akhirnya pasrah berbaring dalam pelukan Vartan. Ia malah menikmati hal tersebut.
... ~ ☽ ☾ ~
...
Halooo. 😭
Maaf up nya jadi molor 😭
Kemarin ada hal gawat yang terjadi. 😭
Briallen : Sabar VR.
Semoga dilancarkan dalam menuntaskan masalahnya.
VR. : 😭😭😭😭
*diseret Rios
Briallan : Kalian belum juga follow @rirymocha1?
Segera follow, supaya bisa tahuu apa yang ia kerjakan.
Lauryn : Jangan lupa like, comment, vote serta share.
VR. : Sampai jumpa di chapter selanjutnya. 🤧
...VR. Stylo
...